NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:559k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 - Perangkap yang Terlalu Rapi

Arga tidak tidur malam itu.

Setelah mengantar Nadira pulang, ia kembali ke kantor Bima yang sementara dijadikan ruang koordinasi. Polisi sudah mengambil keterangan Laras. Keluarga Bayu membawa Kendra ke rumah mereka. Vania belum bisa disentuh langsung karena bukti penculikan belum mengarah padanya, tapi jejak percakapan antara Vania dan Laras mulai terkumpul.

Bima meletakkan tiga berkas di meja.

"Ini transaksi e-wallet untuk dua pria yang menyerang Dokter Nadira. Ini pembayaran ke orang yang membawa Kendra. Dan ini nomor yang menghubungi Laras sehari sebelum kejadian."

Arga membaca cepat.

"Nomor terakhir?"

"Nomor prabayar. Tapi pola lokasinya sering muncul di sekitar rumah keluarga Hartono."

"Vania."

"Kemungkinan besar."

Arga menutup berkas. "Kemungkinan tidak cukup."

Bima mengangguk. "Saya tahu. Kita butuh sesuatu yang membuat Laras bicara."

Arga menatap jendela. Di luar, langit Jakarta mulai gelap menuju subuh.

"Laras akan bicara kalau dia sadar Vania meninggalkannya."

"Vania memang meninggalkannya?"

"Pasti."

Ponsel Bima berbunyi. Ia membaca pesan, lalu tersenyum tipis.

"Komandan benar. Kuasa hukum keluarga Hartono mengeluarkan pernyataan internal. Mereka menyebut Vania tidak ada hubungan dengan tindakan pribadi Laras."

Arga tertawa dingin. "Cepat sekali cuci tangan."

"Kevin?"

"Kevin mungkin tidak tahu semuanya. Tapi Vania akan memakai nama keluarga selama bisa, lalu keluarga akan membuangnya kalau terlalu berisiko."

Bima duduk. "Lalu kita tunggu Laras pecah?"

"Tidak. Kita bantu dia melihat kenyataan."

Pagi itu, Laras duduk di ruang pemeriksaan Polres dengan wajah kosong. Matanya bengkak, rambutnya berantakan. Ia belum ditahan resmi, tapi statusnya sudah berat. Keluarga Bayu mengajukan permintaan perlindungan sementara untuk Kendra.

Saat Arga masuk bersama Bima dan kuasa hukum, Laras langsung berdiri.

"Mas Arga, aku mau ketemu Kendra."

"Kendra sedang aman."

"Aku ibunya."

"Untuk sementara, kamu juga orang yang membuatnya tidak aman."

Laras seperti kehilangan tenaga dan duduk kembali.

Arga meletakkan ponsel di meja. Di layar ada pernyataan keluarga Hartono.

Laras membaca. Wajahnya berubah.

"Tidak. Vania janji akan bantu."

"Dia menyebut semua itu keputusan pribadimu."

"Bohong. Dia yang memberi ide. Dia yang bilang kalau Kendra hilang sebentar, kamu akan kembali merasa bertanggung jawab."

Bima menyalakan perekam dengan izin penyidik.

Arga tetap tenang. "Ceritakan."

Laras menatapnya. "Kalau aku cerita, kamu akan bantu aku?"

"Aku akan memastikan keteranganmu dicatat benar. Itu saja."

"Kendra?"

"Kendra tetap diprioritaskan."

Laras menangis lagi. Tapi kali ini tangisnya tidak lagi seperti senjata. Ia tampak benar-benar hancur karena menyadari tidak ada orang berdiri di belakangnya.

"Vania menghubungiku setelah gala amal. Dia bilang Nadira harus dibuat terlihat buruk. Dia bilang kamu hanya kasihan pada Nadira karena dia korban. Kalau ada korban lain, kamu akan terbagi."

"Serangan pada Nadira?"

"Aku tidak tahu detailnya. Aku hanya tahu Vania marah karena Nadira masih terlihat baik setelah klarifikasi kamu. Dia bilang orang seperti Nadira harus dibuat takut keluar sendiri."

Arga menggenggam tangan di bawah meja.

Bima bertanya, "Penculikan Kendra?"

Laras menutup wajah. "Aku tidak mau menyakiti Kendra. Aku hanya... aku ingin Mas Arga datang. Vania bilang pilih orang yang bisa dipercaya, tempat yang dekat, jangan buat anak luka. Aku bodoh. Aku tahu aku bodoh."

"Siapa orangnya?"

Laras menyebut nama.

Bima langsung mencatat. Nama itu cocok dengan pria yang tertangkap.

Penyidik meminta Laras menandatangani berita acara tambahan. Setelah itu, Arga berdiri.

Laras memanggilnya. "Mas."

Arga berhenti.

"Kamu benar-benar tidak pernah mencintaiku?"

Pertanyaan itu terdengar kecil.

Arga tidak berbalik penuh. "Aku kasihan. Aku merasa bersalah. Aku menghormati Bayu. Aku sayang Kendra. Tapi aku tidak pernah mencintaimu sebagai perempuan."

Laras menangis tanpa suara.

"Kalau dari awal kamu bilang begitu..."

"Aku seharusnya bilang lebih jelas."

"Sekarang terlambat."

Arga menatapnya. "Iya."

Ia keluar.

Di luar, Bima menghela napas. "Komandan baik-baik saja?"

"Tidak."

"Mau ke mana?"

"Ke rumah sakit."

"Kontrol luka?"

"Itu alasan yang bisa diterima."

Bima tersenyum sedikit. "Padahal mau lihat Dokter Nadira."

"Dua-duanya."

Di Rumah Sakit Cakra Medika, Nadira sedang memeriksa pasien anak ketika Arga datang. Ia menunggu di luar sampai Nadira selesai. Tidak masuk. Tidak mengganggu. Hanya berdiri dengan map kontrol di tangan.

Santi yang melihatnya berbisik pada Nadira, "Dok, Mayor Arga menunggu."

"Dokter Rendra ada?"

"Ada, tapi Mayor bilang mau lapor kondisi ke dokter yang menyuruhnya tidak bodoh."

Nadira menutup mata sebentar. "Dia bilang begitu?"

Santi menahan senyum. "Kurang lebih."

Nadira keluar.

Arga berdiri tegak. "Dokter Nadira."

"Mayor Arga."

"Saya kontrol luka."

"Dokter Rendra di ruang sebelah."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Aku juga ingin memberi kabar. Laras sudah memberi keterangan tambahan. Vania terlibat dalam serangan dan penculikan Kendra, tapi kami masih butuh bukti kuat untuk menyeretnya."

Wajah Nadira menegang. "Jadi benar Laras..."

"Iya."

Nadira melihat ke arah bangsal anak, teringat Kendra.

"Anak itu bagaimana?"

"Di rumah keluarga Bayu. Psikolog anak akan mendampingi."

"Bagus."

Arga memperhatikan wajahnya. "Kamu marah?"

"Tentu."

"Tapi kamu terlihat sedih."

Nadira menatapnya. "Dua hal bisa ada bersamaan, ingat?"

Arga terdiam, lalu mengangguk.

Ia ingat Fadli pernah mengatakan hal seperti itu. Nadira boleh marah dan masih peduli.

"Aku tidak akan membiarkan Vania lolos," kata Arga.

"Jangan untuk aku saja. Untuk Kendra juga."

"Iya."

Nadira menatap map di tangannya. "Sekarang kontrol luka. Kalau jahitan Mas rusak karena bolak-balik jadi pahlawan, aku akan marah sebagai dokter."

"Sebagai apa lagi?"

Nadira mengangkat alis.

Arga langsung berkata, "Maaf. Terlalu cepat."

Nadira menahan senyum sangat tipis. "Setidaknya Mas sadar."

Pemeriksaan dilakukan di ruang tindakan kecil. Nadira memakai sarung tangan dan membuka perban Arga. Luka itu memerah di pinggir, tapi belum infeksi.

"Mas kurang istirahat."

"Ada banyak urusan."

"Tubuh Mas tidak peduli urusan."

"Aku akan istirahat setelah ini."

"Janji?"

Arga menatapnya.

Nadira sadar kata itu keluar terlalu alami.

Ia mengalihkan pandangan. "Maksud saya sebagai pasien."

"Aku janji sebagai pasien."

Ruangan menjadi terlalu hening.

Nadira membersihkan luka dengan hati-hati. Arga tidak mengeluh. Ia justru menatap wajah Nadira, tapi tidak dengan cara menelan. Lebih seperti seseorang yang sedang mengingat agar tidak lupa lagi.

"Jangan menatap terlalu lama," kata Nadira.

"Maaf."

"Mas minta maaf terus."

"Stok dosaku banyak."

Nadira hampir tertawa. Hampir.

Setelah perban selesai, Nadira melepas sarung tangan.

"Kontrol tiga hari lagi. Minum antibiotik sampai habis. Jangan banyak bergerak."

"Baik."

"Dan jangan datang ke apartemen tanpa kabar."

"Baik."

"Jangan kirim makanan terlalu banyak. Kulkasku penuh."

"Itu Mama."

"Mas yang mengantar."

"Baik. Aku kurangi."

Nadira menatapnya. "Kenapa Mas patuh sekali hari ini?"

Arga berdiri pelan.

"Karena aku sedang belajar bahwa mencintai kamu bukan berarti membuatmu kewalahan."

Nadira diam.

Kalimat itu sederhana, tapi kali ini tidak terdengar seperti rayuan. Terdengar seperti keputusan yang ia buat setelah banyak salah.

Sebelum Nadira bisa menjawab, ponsel Arga berbunyi.

Bima.

Arga mengangkat.

Wajahnya berubah setelah beberapa detik.

"Kapan?"

Nadira langsung tahu ada sesuatu.

Arga menatapnya.

"Vania menghilang dari rumah Hartono. Kevin baru sadar dia membawa paspor dan beberapa dokumen."

Nadira menghela napas.

Perangkap malam gala, serangan, Kendra, semuanya belum selesai.

Vania baru saja mulai bergerak sendiri.

Arga mematikan telepon.

"Aku harus pergi."

Nadira mengangguk. "Pergi."

Arga tampak ragu.

"Apa?"

"Aku ingin bilang kamu harus hati-hati, tapi aku tahu kamu akan bilang itu terdengar seperti perintah."

Nadira mengambil plester dari meja dan menempelkannya ke ujung map kontrol Arga yang terbuka.

"Kalau begitu bilang dengan cara lain."

Arga menatapnya.

"Tolong jaga dirimu."

Nadira menunduk sebentar, lalu berkata, "Mas juga."

Arga keluar dari ruang tindakan dengan langkah cepat.

Nadira berdiri di tempat, mendengar suara langkah itu menjauh.

Ia tahu ini baru awal.

Laras sudah jatuh, tapi Vania belum. Dan di balik Vania, ada keluarga Hartono yang terlalu besar untuk bergerak tanpa meninggalkan bayangan.

Nadira kembali memakai jas dokter.

Pasien berikutnya sudah menunggu.

Hidupnya belum memberi waktu untuk runtuh.

Tapi kali ini, ia tidak merasa benar-benar sendiri.

1
MarS3
Ko aku nangis baca BAB 3 ini
/Sob//Sob/
Diana Bellusi
bagus ceritanya...
q suka bau² detektif/Casual/
niktut ugis
bukan istri bukan anak tapi membiarkan memanggil seperti keluarga.. cuil otak kamu hai prajurit Arga 😡
Izlyn Izlyn
meleret-leret ceritanya..percerainya seakan tengelam.!
Izlyn Izlyn
as if the story is not axis with the title..
Siti M Akil
Subang mana nih 👍
Royanah
ada ya mikah kayak gitu,maksain bgt
Dewa Nara
wah, keluarga Siska matre parah🤭
Dewa Nara
kasian Kendra
Dewa Nara
Laras sudah gilaaa
Erni Kusumawati
ada aja siluman yg jahat yaa...
Dewa Nara
kok Laras gak punya malu🤭
Dewa Nara
Thor, nama tokoh2nya mirip dengan nama2 tokoh di cerita "behind the tragedy." Begitu juga gaya bahasanya. Apakah authornya sama? Saya salah satu penggemar behind the tragedy 👍👍😄
Dewa Nara
nah, benar kan, Laras bukan istri Arga
Dewa Nara
jangan2 Arga dan Laras bukan suami istri
eneng Heryani
kata temanku wajah ku wajah antagonis tapi aku baca cerita ini ko mewek 😭😭
Erni Kusumawati
cemburu yg sudah tidak ada gunanya lagi🤬
eneng Heryani
kenapa hati ku ikut sakit entah untuk siapa
eneng Heryani
ingin tahu cepat sadar gimana reaksi nya lihat istrinya yg asli
eneng Heryani
di awal sangat menyentuh hati
semoga selanjutnya makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!