NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

"Apa, kamu mau nikah?"

Ulang Bu Wiwik, kaget mendengar ucapan putri bungsunya. Sebagai orang yang sangat mempercayai mitos, ia tentu langsung menggelengkan cepat, tak setuju.

"Enggak, gak bisa." Bu Wiwik yang berdiri di dekat TV, mendekati Naina. "Kamu gak boleh ngelangkahin Nisa."

"Mbak Nisa aja gak keberatan kok Bu, aku langkahin. Aku udah tanya sama dia." Naina mendengus kesal. Seperti dugaanya, ibunya pasti menolak.

"Ini bukan perkara keberatan atau gak keberatan, tapi gak boleh. Ibu tetap gak setuju. Nisa harus nikah duluan. Pamali, Nai. Perempuan yang dilangkahi adik perempuannya, bisa sulit jodoh."

Nisa hanya diam, mendengarkan dua orang yang sedang berdebat itu.

"Itu cuma mitos, Bu." Naina menatap Ibuku kesal. "Zaman sekarang gak usah percaya yang gitu-gitu."

"Tapi tetep aja, bagaimana kalau sampai kejadian. Kamu mau, Mbak mu jadi perawan tua?"

"Halah, itu cuma mitos."

"Ibu tetep gak setuju." Bu Wiwik menatap Naina tajam dengan nafas naik turun. Selama ini, ia selalu menuruti permintaan Naina, tapi kalau soal ini, dia tak setuju.

"Emang sudah ada calonnya, Nai?" tanya Pak Bambang.

"Udah, Yah." Naina tertunduk, memainkan jemarinya.

"Rafli? Katanya kalian sudah putus?"

"Bukan," Naina menggeleng. "Orang lain, nanti aku kenalkan."

"Bagini saja." Pak Bambang mencoba mencari solusi. Ia tak ingin Nisa dilangkahi, bukan karena percaya mitos, tapi kasihan. Ia juga tak bisa menolak keinginan Naina jika memang calonnya sudah ada. Menunda pernikahan tidak baik, takut terjerumus dalam zina. "Nis, besok suruh Sandi kesini. Bisa tak bisa harus kesini. Dia harus didesak untuk segera menikahi kamu, biar nantinya Naina juga bisa segera menikah."

"Lah, itu baru betul." Bu Wiwik menimpali. "Bagaimanapun, Nisa harus nikah duluan. Kalau enggak, bakal jadi omongan satu kampung." Ia takut nantinya pada pernikahan Naina, malah Nisa yang jadi perhatian. Orang-orang menatap kasihan padanya.

"Gimana, Nis?" Pak Bambang menatap Nisa, menunggu jawabannya. "Besok bisa kan, kamu suruh Sandi kesini?"

"Nisa dan Kak Sandi sudah putus, Yah," ujar Nisa pelan.

"Hah!" Bu Wiwik syok, telapak tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar. Namun Pak Bambang, ekspresinya malah datar saja. Ia sudah menduga sebelumnya, selain karena Sandi yang sudah tak pernah datang, Nisa juga terlihat murung, hampir setiap pagi matanya bengkak.

"Kenapa putus, Sandy selingkuh?" Bu Wiwik mendekati Nisa, membungkuk sambil memegang bahunya. "Makanya Ibu bilang Nis, pacaran jangan lama-lama. Dulu kan Ibu sudah ngomong, setelah Sandi lulus kuliah dan dapat kerja, kalian segera menikah saja. Atau paling enggak, setahun setelah dia kerja kalian nikah, tapi apa, omongan Ibu gak pernah kamu gubris. Pacaran lama-lama itu gak baik."

Nisa hanya diam, matanya berkaca-kaca. Bukannya ia tak menggubris omongan ibunya, tapi Sandi selalu punya alasan saat dia minta hubungan mereka untuk segera disah kan.

"Kenapa kalian putus?" tanya Pak Bambang.

"Kak Sandi bilang, orang tuanya gak setuju. Orang tuanya ingin punya menantu yang setara, sarjana, dan punya kerjaan bagus." Hati Nisa bagai disayat-sayat saat mengulang ucapan Sandi waktu itu.

"Halah, itu pasti cuma alasan di Sandi. Bajingan juga ternyata anak itu." Bu Wiwik geram, kedua tanganya terkepal kuat.

"Bu, mungkin emang orang tuanya Mas Sandi pengen yang setara," ujar Naina. "Gak salahkan, orang tua pengen anaknya dapat yang terbaik. Ibu dan Ayah pasti juga ingin anak-anaknya dapat jodoh yang terbaik."

"Ya kalau memang seperti itu alasannya, kenapa gak dari dari dulu bilang, kenapa musti nunggu 8 tahun. Dia kan tahu dari dulu, kalau Nisa gak kuliah."

"Ya mungkin dia berusaha membujuk orang tuanya, tapi gimana lagi kalau mereka memang gak mau. Mereka ingin jodoh yang sepadan untuk Mas Sandi."

"Halah, emang si Sandinya aja yang bajingan."

"Bu, jangan ngatain orang seperti itu, Mas Sandi itu orang baik."

"Heh Naina, kenapa kamu belain Sandi terus dari tadi?" Bu Wiwik menatap Naina geram. "Yang saudara kamu siapa, Sandi atau Nisa, kenapa kamu belain Sandi mulu?"

Seketika, Naina gugup. Laki-laki yang ingin melamarnya, sebenarnya adalah Sandi, tapi ia belum punya nyali untuk mengatakan itu, masih mencari waktu yang tepat.

"Kalian berdua ini kok malah ngeributin Sandi," Pak Bambang geleng-geleng.

"Mungkin Kak Sandi memang bukan jodoh Nisa." Nisa tersenyum getir.

"Astaga, gimana ini." Bu Wiwik tiba-tiba pusing, ia berjalan mondar-mandir sambil memijat kepalanya.

"Nai, apa gak bisa, rencana pernikahan kamu diundur dulu aja," saran Pak Bambang. "Kamu juga masih umur 24, nikmati masa muda, puas-puasin kerja."

"Gak bisa gitu dong, Yah." Naina berdecak pelan. "Nai dan pacar Nai sudah sepakat untuk nikah?"

"Emang calon kamu kerja apa, keluarganya gimana, orangnya bertanggungjawab atau enggak. Terus penghasilannya berapa, kamu sudah tahu semuanya?" tanya Pak Bambang. "Jangan tiba-tiba ngebet buru-buru nikah tanpa tahu seperti apa latar belakang calon suamimu."

"Nai udah tahu semua kok, Yah. Dia kerja kantoran, gajinya lebih banyak dari Nai. Keluarganya berpendidikan semua. Dia punya mobil juga. InsyaAllah nanti setelah nikah, kami rencana mau patungan buat KPR."

"Alhamdulillah kalau emang semuanya jelas seperti itu, dan kalian juga sudah ngomongin masa depan." Pak Bambang sedikit lega, ia suka pada laki-laki yang gentle dan bertanggungjawab. Berani serius, langsung ngajak nikah, bukan main-main.

"Tapi Ibu tetep gak setuju, Yah. Nisa harus nikah duluan. Jangan sampai nanti anak sulung Ayah jadi perawan tua." Bu Wiwik kekeh dengan pendiriannya.

"Bu, jaga omongan kamu. Kata-kata itu doa." Pak Bambang menatap tidak suka.

"Terus, kalau Mbak Nisa gak juga dapat jodoh, sampai kapan aku harus nungguin, Bu?" Naina terlihat emosional. "Pacar aja sekarang dia gak punya, terus aku masih harus nungguin gitu? Terus kalau dia gak dapat-dapat pacar gimana, bisa-bisa aku ikutan jadi perawan tua juga." Bersedekap sambil mendengus kesal.

Bu Wiwik makin pusing. Yang dikatakan Naina ada benarnya juga. Nisa gak punya pacar sekarang. Kalau pun nanti akhirnya punya pacar, pasti masih harus penjajakan dan lain-lain, dan pasti bukan satu dua bulan, kemungkinan Nisa menikah sepertinya masih lama.

"Ini gak adil." Naina berdiri. "Demi Mbak Nisa, kalian mempersulit pernikahanku."

"Aku gak papa kok, Naina nikah duluan." Nisa tak kau dianggap egois.

"Tapi, Nis." Bu Wiwik masih keberatan.

"Jodoh ada di tangan Allah, Bu. Kalau emang Nai sudah ketemu jodohnya, ya biarkan dia menikah duluan. Nisa gak masalah dilangkahin." Nisa berusaha legowo.

"Tuh, denger sendirikan, Mbak Nisa aja gak masalah."

"Ya udah, kamu ajak calonmu kesini. Keluarga musti kenal dulu sebelum memutuskan," ujar Pak Bambang.

"Baiklah. Minggu depan, InsyaAllah dia akan kesini."

Nisa bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar lalu mengunci dari dalam. Sebenarnya sudah lelah menangis, tapi air matanya tetap saja memaksa untuk keluar. Ia meringkuk di atas ranjang, memeluk guling, sesenggukan dengan bahu berguncang hebat. Ponselnya berdering, tapi ia abaikan itu. Namun deringnya tak kunjung usai, terus menerus hingga akhirnya ia bangun untuk mengambil benda yang berisik itu dari atas meja.

Sebelum menjawab panggilan dari Ojan, ia menyeka air mata dan menyusut hidung. Menarik nafas panjang agar dadanya lebih lega dan suaranya tidak bergetar.

"Hallo, Jan."

"Kamu nangis, Mbak?"

"Eng, enggak kok." Nisa meremat bantal, berusaha untuk tidak terisak.

"Pesanku dari tadi gak kamu balas, aku telepon berkali-kali juga baru kamu angkat. Mbak, kamu baik-baik aja kan?"

"Hem." Nisa tak mau banyak bicara yang akan membuat suara paraunya kian terdengar jelas.

"Mbak, beneran kamu baik-baik saja?"

Nisa menarik nafas panjang agar suaranya terdengar tenang. "Iya, aku gak papa kok. Udah ya, aku capek, mau istirahat." Ia langsung mematikan sambungan setelah itu, lalu mengecek pesan yang dikirim Ojan sejak tadi.

[ Mbak, aku telepon ya. Kangen ]

[ Mbak, aku telepon ya ]

[ Mbak, kok gak dijawab sih, kamu ngambek? ]

[ Mbak, kamu baik-baik aja kan ]

Setelah itu, penggilan beruntun masuk.

Nisa meletakan ponselnya ke atas meja, kembali meringkuk sambil memeluk guling. Kenapa semua rasa sakit itu seperti tak bosan terus datang padanya? Diputus sepihak, Sandi sudah punya pacar, dan sekarang, Naina akan menikah, ia dilangkahi adiknya. Mau bilang gak papa, tapi kok ya sakit. Ia memejamkan mata, berusaha untuk tidur, sejenak melupakan semua masalah dalam hidupnya. Berharap tidur bisa menambah kekuatannya, besok pagi saat terbangun, setengah dari rasa sakitnya telah hilang.

Tok tok tok

"Nis, Nisa."

Baru saja tertidur sebentar, pintu kamarnya diketuk sang Ibu.

"Nis, kamu pesen makanan? Abang kurirnya nungguin di luar."

Nisa mengernyit, ia merasa tidak memesan makanan secara online.

"Buruan, kasihan kalau nunggu kelamaan. Mau Ibu ambilin, katanya belum dibayar. 100 ribu, kamu beli apaan sih?"

Mata Nisa membulat sempurna, mulutnya menganga. 100 ribu? Nominal itu membuat ia syok. Jangan-jangan ada yang sedang ngerjain dia, memesan makanan ditujukan padanya.

Sambil membawa uang 100 ribu, Nisa keluar. Ia terkejut melihat Ojan di teras rumahnya. Cowok itu memakai jas hujan karena di luar gerimis, tanganya menenteng keresek hitam kecil.

"Ojan." Nisa mendekat.

Ojan tersenyum getir melihat mata sembab Nisa dan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Ia menyodorkan keresek yang dia bawa padan Nisa. "Takutnya kamu nangis sampai lupa makan, Mbak.".

Nisa menerima keresek tersebut, mengintip isinya. Aroma sedap menguar dari sana.

"Nasi goreng," ujar Ojan. "Tapi gak pedes. Sengaja, biar makannya gak sambil nangis."

Entah dorongan dari mana, Ojan memberanikan diri menyentuh kepala Nisa. "Jangan nangis lagi ya, Mbak."

Yang ada, Nisa malah mewek, matanya kembali berkaca-kaca, baper.

"Makan, terus tidur. Aku pulang dulu."

1
Kadrama17
✍️ Penulis "1 Milyar Untuk Operasi Ayahku" 💔
CEO Dingin x Gadis Miskin | Pernikahan Kontrak
⚡ UPDATE TIAP HARI JAM 07.00 & 19.00 WIB ⚡
Follow yuk biar gak ketinggalan lanjutannya ❤️
Neng Alifa
saya juga kerja. urus anak 3 sblm kerja bangun jam 4 kurang buat bekal sekolah,blm buat suami. masak buat makan siang dll. plg kerja bebenah dll. tdr jam 11 MLM bangun jam 4 kurang. beuhhh luar biasa capek ya tp itu tanggung jawab sebagai ibu dan istri
Neng Alifa
si Oneng
Neng Alifa
dih geli banget. ak pernah denger pacar anakku ngomong gini 😄
Nasri
aaaaa,,, author mah bikin mewek,
Linda Febri
bagus
Istatik Cell
la benar itu pk su Bu Wiwik ngasuh boleh tp ya sekali2 jangan terusan kaenakan naina nya nanti biar dia belajar tanggungjawab
jimine1104
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Istatik Cell
makan tu dapat yg setara pendidikan tinggi akhirnya selera juga tinggi pusing2deh sandi turutin tuh istri manjamu...🤭
Punkpunk 234
mampir dn nyimak.. 💪
mommyarayra
cerita nya bagus ada unsur komedi nya juga jd gk bikin bosan baca nya.. makasih bnyak thor
Dewi Hutabarat
Luar biasa
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
bagus kak aku suka, semangat berkarya 🤗
Dewi Kania
/Facepalm/
Dewi Kania
mantap juga ibu ku iniii
Dewi Kania
mantap bapak ku ini
Dewi Kania
🤣.
Dewi Kania
🤣🤣🤣
Dewi Hutabarat
Luar biasa
Ila Lee
alhamdulillah habis juga baca kisah ojan dan nisa😍😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!