NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Dua tahun adalah waktu yang cukup bagi semesta untuk memutar balik roda nasib seseorang, mengubah puing-puing kehancuran menjadi sebuah benteng pualam yang menjulang tinggi ke angkasa.

Suara ketukan teratur dari sepatu hak tinggi bermerek Christian Louboutin beradu dengan lantai marmer Italia yang mengilap, menggema di sepanjang koridor lantai eksekutif Gedung Adiraja Group. Para karyawan yang berpapasan segera menghentikan langkah mereka, menundukkan kepala dengan penuh hormat.

"Selamat pagi, Bu Naya."

"Pagi, Bu Naya. Laporan kuartal ketiga sudah saya letakkan di meja Anda."

Wanita yang disapa itu mengangguk dengan senyum tipis yang elegan namun sangat profesional. Naya melangkah masuk ke dalam ruang kerja utamanya yang berdinding kaca, menyajikan pemandangan kota dari ketinggian lantai lima puluh.

Naya telah berubah. Sangat berubah.

Bukan lagi staf biasa yang sering menunduk ragu, dan bukan lagi wanita rapuh yang menangis histeris di bawah guyuran hujan. Naya yang sekarang mengenakan setelan blazer asimetris berwarna navy dengan potongan tegas. Rambut panjangnya digulung ke atas dengan gaya french twist yang rapi, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang. Riasan wajahnya flawless, memancarkan ketegasan sekaligus keanggunan seorang pemimpin.

Dua tahun lalu, keluarga Adiraja tidak sekadar memberikan Naya tempat tinggal untuk menyembuhkan luka. Tuan Adiraja, yang melihat kecerdasan dan ketelitian Naya, secara bertahap melibatkan putri angkatnya itu dalam bisnis keluarga. Naya yang awalnya hanya ingin menyibukkan diri agar tidak gila karena memikirkan Kafka, perlahan menemukan ritmenya. Ia belajar dengan kecepatan yang luar biasa, menyerap setiap ilmu bisnis, negosiasi, dan kepemimpinan layaknya spons.

Kini, di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, Naya memegang kendali penuh atas Adiraja Hospitality & Estate, salah satu cabang perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan butik dan resor mewah. Di bawah tangan dinginnya, cabang perusahaan yang sempat stagnan itu kini meroket tajam, membuka tiga resor baru di Bali, Sumba, dan Labuan Bajo hanya dalam waktu delapan belas bulan.

Naya meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu duduk di kursi kulit kebesarannya. Ia membuka map laporan yang sudah disiapkan oleh asistennya, Riri.

"Riri," panggil Naya tanpa mengalihkan pandangannya dari deretan angka di atas kertas.

Pintu ruangannya terbuka. Seorang wanita muda yang cerdas dengan kacamata berbingkai tipis melangkah masuk membawa tablet. "Iya, Bu Naya?"

"Tolong revisi anggaran untuk pembangunan lobi resor di Sumba. Vendor interior ini menaikkan margin keuntungan mereka sampai dua puluh persen dari kesepakatan awal. Cari tahu alasannya, dan jika mereka tidak bisa memberikan rincian material yang masuk akal, batalkan kontraknya. Kita ganti dengan vendor dari Surabaya."

"Baik, Bu. Akan segera saya urus," Riri mencatat instruksi itu dengan cepat. "Lalu untuk jadwal makan siang hari ini, CEO dari Baskara Group yang kemarin menandatangani kontrak joint venture dengan kita, Bapak Arga, mengundang Ibu untuk makan siang di Le Quartier. Beliau secara spesifik meminta waktu luang Anda."

Tangan Naya yang sedang menandatangani dokumen terhenti sejenak. Ia menghela napas pelan.

Arga Baskara. Pria tampan, lajang, dan salah satu miliarder muda paling diincar di Jakarta. Ini bukan kali pertama pria itu mencoba mencari celah untuk mengajak Naya keluar di luar urusan pekerjaan. Sejak Naya memegang posisi direktur, tidak sedikit pria dari kalangan atas yang mencoba mendekatinya. Mereka terpikat oleh kecantikannya yang dewasa, aura independennya, dan tentu saja, nama belakang Adiraja yang kini melekat padanya.

"Tolak dengan sopan, Riri. Bilang padanya saya harus melakukan video conference dengan tim operasional di Labuan Bajo," jawab Naya datar. "Jika dia membahas soal proyek, minta dia mengirimkan detailnya via email atau jadwalkan meeting resmi di kantor."

"Baik, Bu Naya." Riri tersenyum kecil, sudah terbiasa dengan rutinitas bosnya yang satu ini. Ia menunduk sopan lalu keluar dari ruangan.

Naya menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, memutar kursinya menghadap jendela kaca raksasa. Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan kehangatan sinar matahari pagi menyapu wajahnya.

Kesedihan itu sudah pergi. Kepedihan yang dulu menyayat dadanya setiap kali ia bernapas perlahan telah memudar, digantikan oleh penerimaan yang damai. Ia tidak lagi terbangun di tengah malam sambil menjerit menangis. Ia bisa melihat foto-foto Kafka tanpa merasa dunianya kiamat.

Air matanya telah mengering, dan apa yang tersisa dari kerapuhannya telah mengkristal menjadi fondasi baja yang membuatnya tak tersentuh.

Naya mengangkat tangan kirinya, lalu menyentuh sebuah kalung rantai perak tipis yang melingkar di lehernya. Di ujung kalung itu, tersembunyi di balik blusnya dan tepat di atas detak jantungnya, tergantung sebuah cincin berlian emerald-cut milik Cartier. Ia tidak lagi memakainya di jari manis, melainkan menyimpannya dekat dengan hatinya.

Brak!

Pintu ruangan Naya mendadak terbuka lebar tanpa ketukan. Naya bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pelakunya. Di seluruh gedung ini, hanya ada satu orang yang memiliki izin tak tertulis untuk mendobrak ruangannya kapan saja.

"Nay! Lo gila ya?!"

Nessa melangkah masuk dengan perut yang sedikit membuncit—usia kehamilannya baru memasuki bulan kelima setelah ia menikah dengan seorang arsitek setahun yang lalu. Nessa mengenakan maternity dress berwarna krem, menenteng tasnya dengan ekspresi bersungut-sungut.

Naya memutar kursinya, tersenyum hangat melihat kedatangan sahabat sekaligus saudari ipar angkatnya itu. "Gila kenapa lagi, Nes? Kamu jangan teriak-teriak, kasihan keponakanku nanti kaget di dalam sana."

"Gimana gue nggak teriak?!" Nessa menjatuhkan dirinya ke sofa tamu di ruangan Naya. "Gue baru aja ditelepon sama Arga Baskara! Dia curhat ke suami gue kalau lo nolak ajakan makan siang dia buat yang ketiga kalinya bulan ini! Nay, Arga itu spek dewa lho! Ganteng, mapan, sopan, tajir melintir. Lo tolak mentah-mentah demi meeting virtual?!"

Naya bangkit dari kursinya, berjalan menghampiri lemari pendingin kecil di sudut ruangan, mengambil sebotol air mineral dingin, dan menyodorkannya pada Nessa.

"Minum dulu, Bumil," Naya ikut duduk di sofa tunggal di seberang Nessa. "Aku nolak karena aku memang sibuk, Nes. Proyek Sumba itu krusial, aku nggak punya waktu buat basa-basi makan siang yang ujung-ujungnya pasti bahas urusan pribadi."

Nessa meneguk air mineral itu lalu menatap Naya dengan tatapan memelas. "Nay, ini udah dua tahun. Lo udah ngebuktiin ke semua orang, ke Papa, ke Mama, ke seluruh kolega bisnis kalau lo adalah Naya Adiraja yang sukses dan untouchable. Perusahaan lo profitnya gila-gilaan. Tapi hidup lo terlalu kosong."

Naya tersenyum tipis. "Hidupku nggak kosong, Nes. Aku punya Papa, Mama, kamu, dan keponakan lucu yang sebentar lagi lahir. Aku punya pekerjaan yang aku cintai. Waktuku penuh."

"Waktu lo penuh sama kerjaan, bukan kehidupan," koreksi Nessa lembut. Tangannya terulur, menggenggam tangan Naya. "Mama semalam nangis lagi ngobrol sama gue. Beliau khawatir banget ngelihat lo kayak robot. Lo berangkat pagi buta, pulang tengah malam, akhir pekan lo terbang ke luar kota buat ngecek proyek. Lo menutup pintu hati lo rapat-rapat sampai nggak ada satu debu pun yang bisa masuk."

Naya menunduk, menatap tautan tangan mereka. "Mama nggak perlu khawatir. Aku bahagia, Nes. Sungguh."

"Lo bukan bahagia, Nay. Lo mengalihkan duka," Nessa menelan ludah. "Kafka emang cinta mati sama lo. Dia ngorbanin nyawanya buat lo. Tapi gue yakin seribu persen, adik gue di atas sana bakal ngamuk kalau dia tahu pengorbanannya malah bikin lo jadi biarawati perusahaan yang nggak kenal cinta lagi. Kafka pengen lo hidup, Nay. Hidup yang seutuhnya."

Kata-kata Nessa mengalun lembut, namun menembus relung hati Naya.

Naya menarik napas panjang, mendongak menatap langit-langit ruangannya sejenak agar air matanya tidak jatuh. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa rindu yang masih selalu ada, meskipun tidak lagi menyakitkan.

"Aku mengerti maksudmu dan Mama, Nes. Aku tidak menutup hati karena aku benci pada dunia, atau karena aku putus asa," Naya membalas tatapan Nessa dengan ketulusan yang luar biasa damai.

Tangannya perlahan naik, menyentuh dadanya dari luar blus, tepat di mana cincin Cartier itu bersembunyi.

"Tapi coba kamu pahami aku," bisik Naya. "Bagaimana caranya aku bisa melihat pria lain, ketika standar cinta yang pernah diberikan padaku adalah seorang pria yang rela memberikan nyawa dan masa depannya tanpa ragu sedikit pun? Kafka telah memberikan takaran cinta yang begitu penuh, begitu absolut, hingga aku merasa sudah cukup. Aku tidak butuh mencari pasangan lagi, Nes, karena cinta yang ditinggalkan Kafka di dalam diriku masih lebih dari cukup untuk menghangatkanku sampai sisa umurku habis."

Nessa terdiam. Air mata menetes dari sudut mata wanita hamil tersebut. Ia mengerti. Sangat mengerti. Tidak ada pria di dunia ini yang bisa menyaingi atau bahkan menyamai bayang-bayang seorang Kafka Adiraja di hati Naya.

Nessa akhirnya menghapus air matanya dan tersenyum, memutuskan untuk tidak lagi memaksa.

"Ya udah, kalau lo emang keras kepala. Gue nggak akan maksa lo blind date lagi," Nessa mendengus pura-pura sebal, kembali ke mode cerianya. "Tapi sebagai gantinya, lo harus temenin gue belanja perlengkapan bayi sore ini! Dan lo yang bayar. Direktur Adiraja Hospitality harus traktir keponakannya."

Naya tertawa lepas, sebuah tawa yang tulus dan sangat cantik. "Tentu saja. Apa pun untuk keponakanku."

Sore itu, setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, Naya mematikan komputer di ruangannya. Ia berjalan menghampiri dinding kaca, menatap matahari terbenam yang melukis langit Jakarta dengan warna jingga keemasan.

Gemerlap lampu kota mulai menyala satu per satu. Naya berdiri di sana, sendirian di dalam ruangan mewahnya yang sunyi. Ia tersenyum menatap bayangannya sendiri di kaca. Ia telah berhasil. Ia telah menjadi wanita kuat yang dulu selalu diyakinkan oleh Kafka.

Ia tidak butuh pria baru untuk bersandar. Ia adalah sandaran itu sendiri sekarang. Dan di dalam kesendiriannya yang elegan, Naya menemukan kebebasan dan kebahagiaan yang utuh, ditemani oleh memori tentang seorang pria yang akan selalu menjadi satu-satunya raja di dalam hatinya.

1
Bebe Honey
mantap ceritanya Kak...terima kasih 😍
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!