Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 Anak yang Seharusnya Mati
“Kamu lebih cerah sekarang,” ujar Mira saat bergabung dengan kedua cucunya.
Alkina sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri
Alkina tersenyum kecil. “Aku nyaman di sini.” Jawaban sederhana itu membuat hati Mira terasa hangat sekaligus sedih.
Karena rumah yang sebenarnya milik Alkina justru menjadi tempat paling menyakitkan baginya.
“Kamu tidak penasaran keluarga kamu mencari kamu?” tanya Mira pelan.
Tubuh Alkina sedikit menegang beberapa detik ia diam.
“Kalau mereka mencari aku…” suaranya lirih, “…mungkin cuma karena mereka malu.” Selalu itu yang Alkina pikirkan. Karena ia tidak pernah percaya keluarganya tulus mencari dirinya untuk menembus kesalahan mereka.
Mira menghela napas pelan. Luka gadis itu terlalu dalam bahkan sampai sekarang Alkina masih tidak percaya dirinya benar-benar dicintai dan diinginkan.
Di tempat lain Hendro, Sisil dan Livia sedang duduk di sebuah apartemen kecil dengan wajah tegang.
“Kita tidak bisa terus diam saja!” bentak Livia panik.
Hendro mengusap wajah kasar.
“Keluarga Wiratmaja bergerak lebih cepat dari dugaan kita.”
“Kalau Alkina ditemukan, habis semua impian kita!”
Sisil yang duduk di sudut ruangan tampak pucat.
“Aku sudah tidak punya akses apa-apa sekarang…” ucap Sisil.
Livia langsung menoleh tajam.
“Makanya jangan bodoh, sudah di kasih jalan buat hidup enak malah disia-siakan!” tunjuk Livia kepada putrinya.
Bagi mereka uang di atas segalanya.
“Aku sudah berusaha ma!” ucap Sisil terlihat begitu lelah.
“Percuma kalau kamu sudah tidak bisa pegang Ranti lagi!” ucap Hendro.
Sisil menggigit bibir menahan tangis. Ia mulai takut pada orang tua kandungnya sendiri karena sekarang ia sadar mereka tidak benar-benar peduli padanya yang mereka pedulikan hanyalah uang keluarga Wiratmaja.
Hendro tiba-tiba berdiri.
“Kita butuh rencana baru.” Ucapnya melihat ke arah istri dan anaknya. Livia langsung menatap suaminya.
“Maksud kamu pa?” Tatapan perempuan itu berubah dingin.
“Kalau kita tidak bisa mengendalikan Ranti lagi…” Ia berhenti beberapa detik.
“…maka kita harus menghancurkan posisi Alkina sebelum dia kembali.” Ucap Hendro penuh tekad.
Deg.
Tubuh Sisil langsung dingin.
“Papa, apa itu artinya…”
Namun Hendro tidak memedulikan ketakutan putrinya.
“Kita cari di mana Alkina disembunyikan.” ucap Hendro dengan senyuman licik.
“kalau ketemu?” tanya Livia pelan.
Hendro tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk Sisil merinding.
“lalu kita len**pkan dia.” Hanya Sisil yang merasa takut sementara Livia juga tersenyum licik.
Malam itu Mira menerima pesan singkat dari orang kepercayaannya.
“Mereka mulai bergerak lebih agresif.” ucap orang kepercayaannya.
Tatapan Mira langsung berubah tajam.
"Pastikan mereka tidak menyentuh Alkina." Mira membalas pesan dari anak buahnya.
"Baik Bos."
Mira yang duduk di kasur tepat di sebelah Rian, Ia melihat ke arah Alkina yang sedang tidur bersama Rian.
Wajah gadis itu terlihat damai, begitu rapuh.
Mira mengepalkan tangan pelan, ia sudah kehilangan putrinya dulu an kali ini ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan Alkina karena sekarang baginya Alkina sama pentingnya seperti Rian.
*****"
Hujan turun semakin deras malam itu. Mira tidak bisa tidur jadi Mira duduk sendirian di ruang kerjanya sambil membaca berkas lama yang baru dikirim oleh orang kepercayaannya.
Wajah wanita itu perlahan berubah serius bahkan begitu sangat serius.
Tok.
Seorang pria tua masuk sambil membawa map hitam lain.
“Bu Mira… saya sudah memastikan semuanya.” Mira mengangkat kepala pelan.
“Jadi informasi itu benar?” tanya Mira
Pria itu mengangguk.
“Tuan muda Arkan masih hidup.”
Deg.
Ruangan mendadak terasa sunyi, Mira menutup matanya sebentar ahkan dirinya yang sudah melihat banyak hal dalam hidup tetap terkejut mendengar fakta itu.
“Bagaimana mungkin?” tanyanya lirih.
Pria tua itu duduk perlahan.
“Malam kecelakaan itu… Arkan sebenarnya belum meninggal...” Tangan Mira perlahan mengepal.
“Lanjutkan.” perintah Mira ingin tahu cerita lengkapnya.
“Orang kepercayaan ayah Pak Setiawan menemukannya lebih dulu sebelum ambulans datang.”
Mira langsung memahami kakek Alkina.
Pemilik asli keluarga Wiratmaja yang dulu sangat disegani.
“Tuan besar ternyata sudah lama curiga pada keluarga kandung Sisil,” lanjut pria itu. “Beliau tahu ada sesuatu yang tidak beres.”
“Jadi Arkan disembunyikan oleh kakeknya dari orang tuanya?”
“Iya benar buk.” Napas Mira terasa berat.
“Cedera Arkan sangat parah waktu itu. Dan Tuan besar takut kalau keluarga Hendro mengetahui Arkan masih hidup…”
Tatapan Mira perlahan berubah dingin.
“…mereka akan mencoba membunuhnya.”
Bertahun-tahun lalu kakek Alkina ternyata diam-diam menyelidiki keluarga kandung Sisil dan semakin ia mencari tahu semakin jelas bahwa Hendro dan Livia bukan orang biasa.
Mereka manipulatif. Licik. Dan rela melakukan apa saja demi uang.
Malam kecelakaan itu menjadi titik terakhir yang membuat sang kakek mengambil keputusan besar.
Ia menyembunyikan Arkan, bahkan dari keluarga sendiri termasuk dari Ranti karena saat itu Ranti sudah terlalu hancur dan tidak stabil dan yang paling mengerikan ada dugaan kecelakaan malam itu bukan sepenuhnya kecelakaan.
“Arkan tahu semuanya sekarang?” tanya Mira pelan. Pria tua itu mengangguk.
“Tuan muda sudah mengetahui apa yang terjadi pada Nona Alkina selama ini.”
"Lalu kenapa Arkan tidak muncul untuk melindungi adiknya?"
"Karena cidera tuan muda yang cukup parah, ia cukup lama berada di kursi roda, tuan muda merasa tidak mampu melindungi adiknya dan menganggap dirinya justru nanti akan menjadi beban untuk nona Alkina."
Mira menghembuskan nafas lelahnya, Mira menatap berkas lain yang berisi beberapa foto terbaru.
Seorang pria muda berdiri dalam bayangan dengan wajah dingin dan tatapan tajam.
Namun matanya sangat mirip Alkina.
“Dia terus mengawasi dari jauh,” ujar pria tua itu. “Dan sejak tahu penderitaan adiknya…” Suasana mendadak terasa lebih dingin.
“…Tuan muda mulai menyiapkan balas dendam.”
Di tempat lain sebuah rumah tersembunyi di pinggir kota tampak sunyi.
Seorang pria berdiri di depan layar besar berisi foto-foto keluarga Hendro.
Matanya dingin, tajam dan penuh kemarahan yang dipendam bertahun-tahun.
Arkan, ia masih hidup namun hidupnya berubah total sejak malam kecelakaan itu.
Tubuhnya penuh luka. Menghabiskan banyak waktu di atas kursi roda, Ia kehilangan masa mudanya. Dan harus hidup bersembunyi selama bertahun-tahun.
Namun yang paling menghancurkannya bukan kecelakaan itu melainkan kenyataan tentang Alkina.
Adik kecil yang dulu selalu ia lindungi ternyata tumbuh dalam penderitaan.
Perlahan Arkan memegang sebuah foto lama. Foto dirinya bersama Alkina kecil yang tertawa di taman.
Tatapannya melembut sesaat.
“Aku janji…” bisiknya lirih. “akan aku pastikan tidak ada lagi yang menyakiti kamu.”
Tok
Tok
Tok
Seorang pria berpakaian hitam masuk.
“Maaf menganggu tuan muda.”
“Informasi apa yang kamu dapatkan?”
“Keluarga Hendro mulai mencari keberadaan Nona Alkina lebih agresif.”
Tatapan Arkan langsung berubah dingin lagi.
“Awasi terus mereka.”
“Baik tuan.”
“Dan kalau mereka mendekat…” Suara Arkan terdengar rendah penuh ancaman “…pastikan mereka menyesal telah berani menyakiti Alkina.”
Sementara itu, Mira segera meningkatkan perlindungan untuk Alkina.
Ia memindahkan gadis itu sementara ke rumah lain miliknya tanpa memberi tahu alasan sebenarnya.
“Nenek… ada apa?” tanya Alkina bingung saat mobil mereka berhenti di rumah baru.
Mira tersenyum lembut.
“Cuma ingin memastikan saja, kamu aman.”
Alkina menatap wanita itu lama. Entah kenapa akhir-akhir ini Mira terlihat lebih protektif.
“Maaf aku ya nek, aku sudah bikin nenek repot…”
Mira langsung menggenggam tangan Alkina.
“Jangan pernah bilang seperti itu.” Tatapannya begitu hangat hingga membuat hati Alkina terasa tenang.
“Dengar baik-baik sayang,” ujar Mira pelan, “apa pun yang terjadi nanti… kamu harus percaya... kalau ada orang yang sangat perduli dan menyayangi kamu.”
Deg.
Mata Alkina perlahan berkaca-kaca karena kalimat itu terasa asing baginya dan di saat yang sama jauh di tempat lain abang yang selama ini ia kira sudah meninggal sedang mempersiapkan perang untuk membela dirinya.