Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : SESEORANG TAK BOLEH DISAKITI
Laura perlahan bangkit setelah tubuhnya terdorong keras. Telapak tangannya terasa perih akibat tergores permukaan lantai, sementara kepalanya berdenyut nyeri bekas benturan.
dia berdiri mematung, menatap Dinda yang bergeming beberapa langkah di depannya.
Untuk beberapa saat, hanya suara helaan napas yang terdengar di ruangan itu. Dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi. Selama ini Laura selalu memilih mengalah dan mengubur suaranya demi menjaga kedamaian keluarga. Namun detik ini, ada sesuatu yang patah di dalam dirinya dia sudah terlampau lelah menjadi pihak yang terus-menerus disudutkan.
Sambil mengusap lengannya yang memar, Laura bersuara dengan nada rendah namun tertahan. “Dinda, aku sudah bilang... aku tidak datang ke sini untuk bertengkar. Aku cuma ingin menyelesaikan urusanku, bukan mencari masalah.”
Bukannya luluh, Dinda justru menyilangkan kedua tangan di depan dada. Matanya mendelik tajam, menilai penampilan Laura dari atas ke bawah sebelum mengukir senyum mengejek.
“Kalau memang tak berniat cari masalah, untuk apa kamu membawa dokumen-dokumen itu?” sahut Dinda sinis. “Kamu pikir bisa pergi dari keluarga ini begitu saja, lalu berharap kami semua cuma bisa diam?”
Laura menggeleng pelan, kelelahan terpancar dari sorot matanya. “Aku tidak pernah membenci keluarga ini, Dinda. Aku cuma ingin menjalani hidupku sendiri.”
“Menjalani hidup sendiri?” Dinda melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. “Atau karena sekarang kamu sudah punya sandaran baru yang bisa membanggakanmu?”
Kalimat itu seketika menghentikan kata-kata Laura dia paham betul siapa yang sedang disindir oleh Dinda, namun dia tidak membawa nama Hero ke dalam keruhan ini.
“Jangan tarik orang lain ke dalam urusan ini,” potong Laura, mencoba menguasai suaranya. “Ini murni antara aku dan keluarga.”
Dinda tertawa meletup, terdengar hambar dan penuh ejekan. “Kamu memang paling pintar berakting jadi korban, ya?”
Mengabaikan cemoohan itu, Laura menghela napas panjang dan mencoba menerobos ke samping Dinda untuk mengambil map yang berserakan. Namun, Dinda kembali menggeser tubuhnya, menghadang langkah Laura.
“Sabar ada batasnya, Dinda,” bisik Laura tegas, menatap lurus mata saudaranya. “Jadi, tolong minggir.”
Raut wajah Dinda mendadak sengit. “Berani kamu menyuruhku?”
Laura tak menyahut dia memilih membungkuk, mengulurkan tangan untuk meraih map kertas yang terletak persis di dekat kaki Dinda.
Nahas, sebelum jemarinya menyentuh kertas itu, bahu Laura kembali didorong dengan kasar.
“Kalau sudah tidak sudi di sini, angkat kaki saja!” bentak Dinda.
Dorongan yang mendadak itu membuat Laura kehilangan pijakan.
“Ah!”
Tubuhnya terhuyung hebat ke belakang.
Adrian yang berdiri tak jauh dari sana refleks bergerak maju. “Laura!”
Namun, semuanya terlambat.
Laura berusaha menyeimbangkan diri, tetapi bagian belakang kepalanya justru membentur sudut meja kayu yang tajam dengan keras.
Brak!
Tubuh ramping itu terhempas ke lantai seketika, atmosfer ruangan membeku. Hening yang mencekam mendadak mengambil alih.
Adrian terpaku, matanya melebar menatap Laura yang terkapar tak berkutik. Helena menutup mulutnya rapat-rapat karena terkejut, sementara Richard berdiri kaku dengan raut wajah yang berubah tegang seketika. Dinda pun melangkah mundur sembari mengatupkan bibirnya rapat-rapat, syok atas perbuatannya sendiri.
“Laura...” panggil Adrian dengan suara gemetar.
Pria itu hendak melangkah mendekat, tetapi Laura sudah lebih dulu berusaha menegakkan tubuhnya sendiri secara perlahan. Jemari tangannya meraba bagian belakang kepala yang terasa hangat dan basah.
Ketika melihat noda darah segar menempel di jemarinya, wajah Laura seketika pucat pasi.
“Aku...” gumamnya lirih, pandangannya mendadak mengabur dan berkunang-kunang.
Sebelum ada yang sempat bergerak membantu, pintu utama kediaman itu terdorong lebar.
Hero berdiri di sana di belakangnya, Valen melangkah mengekor dengan sigap.
Raut tenang yang tadinya menghiasi wajah Hero luntur seketika saat matanya menangkap sosok Laura yang duduk berdaya di lantai. Sorot matanya dengan cepat berpindah pada celah jemari Laura yang teroles darah.
Dalam sekejap mata, ekspresi pria itu berubah menjadi begitu dingin dan berbahaya.
“Laura!”
Hero melangkah lebar, memangkas jarak dalam beberapa hentakan kaki. dia berlutut menyamai posisi Laura, lalu merengkuh bahu wanita itu dengan amat hati-hati.
“Kamu terluka?” tanyanya. Suaranya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan aura mematikan yang memancar dari tubuhnya.
Laura mendongak, menatap paras Hero dengan mata yang mulai tergenang air mata. “Kepalaku... agak sakit,” bisiknya pelan.
Jemari Hero mengusap lembut pipi Laura, lalu pandangannya beralih pada lelehan darah tipis di sela rambut wanita itu. Rahangnya mengeras seketika, menahan amarah yang hampir meledak.
dia bangkit berdiri perlahan sambil tetap menopang tubuh Laura agar tetap stabil.
Pandangan Hero bertransisi memindai setiap orang di ruangan tersebut satu per satu.
“Apa yang kalian lakukan padanya?”
Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun gema mengancam di dalamnya sanggup membuat udara di dalam ruangan terasa berat dan menyesakkan.
Dinda, yang sempat terkejut, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. dia mengadahkan kepala dan bertanya, “Siapa kamu? Ini rumah kami. Kamu tidak punya hak untuk masuk dan mencampuri urusan keluarga kami!”
Hero menatap Dinda tanpa berkedip, sorot matanya tajam bagai sembilu.“Aku tidak butuh ceramahmu,” sahut Hero datar. “Aku cuma bertanya sekali lagi... siapa yang membuat Laura terluka?”
Dinda menelan ludah, lalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Dia jatuh sendiri!”
Laura refleks menoleh kaget pada Dinda. “Kamu—”
Namun, Hero mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat halus agar Laura tak perlu mengotori suaranya untuk membantah.
“Aku punya mata untuk melihat,” potong Hero dingin. “Dan luka ini jelas bukan karena terpeleset biasa.”
Richard akhirnya melangkah maju, mencoba mengambil kendali suasana. “Siapa sebenarnya Anda?” tanyanya dengan nada suara yang mulai diperhalus, penuh kehati-hatian.
Hero menatap pria paruh baya itu. Sebelum mengudara jawaban, dia menggenggam erat telapak tangan Laura yang dingin.
“Aku tunangannya.”
Dua kata itu berhembus dan mematikan seluruh pergerakan di dalam ruangan.
Laura sendiri terperanjat, menatap Hero dengan mata membesar. Dinda mendadak kaku bagai patung. Helena tak mampu bersuara, sementara Richard hanya bisa berdiri memandang sosok Hero dengan keterkejutan yang nyata.
Di sudut lain, Adrian yang sejak tadi membisu perlahan mengamati garis wajah pria itu.
Nama itu... dia pernah mendengarnya. Tak sekadar kenal, dia paham betul siapa raksasa di balik nama tersebut.
“Hero...” bisik Adrian tanpa sadar, suaranya tercekat di tenggorokan. “Hero Valdren?”
Valen yang berdiri di dekat pintu menoleh lambat ke arah Adrian. Tatapan tegasnya seolah mengonfirmasi dugaan pria itu.
Adrian menelan ludahnya yang terasa pahit. Tidak mungkin... batinnya terperanjat. Jadi pria yang berdiri di samping Laura selama ini...
Hero melirik Adrian sekilas. “Kamu mengenalku?”
Adrian bergegas memperbaiki posisi berdirinya, tampak gelisah. “Saya... saya tahu siapa Anda. Keluarga Valdren dan Valdren International bukan nama yang asing di panggung bisnis global.”
Valen menambahkan dengan nada tenang namun sarat penekanan, “Tuan Hero adalah putra tunggal sekaligus pewaris tunggal dari Valdren International.”
Wajah Dinda seketika pucat pasi dia memandang Valen lalu beralih menatap Hero dengan mata tak percaya. “Jadi... kamu benar-benar Hero Valdren?”
Hero tak berniat merespons pertanyaan Dinda. Keberanian wanita itu meluap tanpa sisa saat menyadari siapa yang baru saja dia usik.
Hero membungkuk sebentar, memunguti lembaran dokumen yang berantakan di atas karpet. Setelah terkumpul, dia menyerahkannya kepada asistennya.
“Valen, amankan dokumen-dokumen ini. Pastikan tidak ada yang tercecer.”
“Baik, Tuan,” jawab Valen sigap sembari menerima berkas tersebut.
Hero kemudian mengambil map utama dan menaruhnya tepat di atas meja di hadapan Richard.
“Laura datang untuk mengakhiri segala keterikatannya dengan kalian secara baik-baik,” terang Hero lugas. “Dia tidak datang untuk mengemis atau meminta belas kasihan.”
Richard menatap map di depannya dengan ketegangan yang kian membuncah. “Apa maumu?”
“Tanda tangani,” balas Hero singkat.
Richard mengerutkan dahi. “Bagaimana kalau kami menolak?”
Hero menatapnya lurus-lurus tanpa riak emosi. “Kalau kalian menolak, aku yang akan menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri.”
Adrian yang mengerti gertakan itu bergegas memotong dengan sopan, “Tuan Hero, saya mohon... masalah keluarga ini sepertinya masih bisa diselesaikan baik-baik tanpa perlu melibatkan kerugian bisnis.”
Hero memutar pandangannya ke arah Adrian.“Adrian Varell.”
Nama itu disebut dengan begitu dingin hingga Adrian bungkam seketika.
“Aku tahu betul siapa kamu dan sejauh mana ketergantungan perusahaanmu pada keluarga Prayoga,” lanjut Hero tenang, namun tiap kata yang terucap bak vonis yang mengikat. “Jadi, jangan ajari aku cara mengambil keputusan.”
Richard menghembuskan napas berat. Dengan jemari yang sedikit gemetar, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Helena, yang tak ingin masalah berlanjut panjang, menyusul melakukan hal serupa. Bahkan Adrian pun akhirnya ikut menandatangani berkas yang berkaitan dengan kewenangannya.
Hero mengambil kembali map tersebut dan melemparkan isyarat pada asistennya.
“Selesaikan semuanya hari ini juga, Valen.”
“Siap, Tuan.” jawab Valen tegas.
Usai urusan berkas rampung, Hero kembali memusatkan perhatiannya pada Laura. dia mendapati paras cantik itu masih pucat dan kelelahan. Desah napas halus keluar dari bibirnya.
“Kita pulang sekarang.”
Laura memutar kepalanya, menatap anggota keluarganya untuk yang terakhir kali.
Tak ada kata tahanan. Tak ada yang memintanya untuk tetap tinggal. Namun anehnya, tak ada rasa sedih yang tersisa di dada Laura. Justru ada perasaan lega yang membuncah seolah rantai berat yang mengikat lehernya selama bertahun-tahun akhirnya terputus total.
Sebelum Laura sempat melangkah, Hero tiba-tiba menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Laura, lalu mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.
Laura tersentak kecil, refleks merangkul leher Hero. “Hero! Aku... aku masih bisa berjalan sendiri,” bisiknya malu.
Hero menunduk, menatap manik mata Laura. “Aku tahu,” jawabnya lembut. “Tapi kepalamu terluka. Jadi tolong, penurut sebentar.”
Laura terkekeh pelan, bibirnya mengukir senyum tipis yang tulus. “Kalau aku tetap menolak?”
Hero terdiam sejenak, membalas senyuman itu dengan binar jahil di matanya. “Berarti aku punya alasan untuk menggendongmu lebih lama.”
Pipi Laura merona merah mendengarnya. dia bersandar pasrah di dada bidang Hero, menyembunyikan senyumnya.
Hero membawa Laura melangkah keluar dari rumah megah yang dingin itu. Valen mengekor di belakang setelah memastikan tidak ada lagi dokumen yang tertinggal.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯