NovelToon NovelToon
Penguasa Para Dewa

Penguasa Para Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:51.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.

Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.

Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Runtuhnya Dimensi Kuno

Batu-batu meteorit raksasa berguguran laksana hujan badai dari langit-langit kuil kuno yang mulai retak membelah. Pilar-pilar penyangga aula hancur berkeping-keping, tak mampu lagi menahan hilangnya pusaka inti yang sebelumnya menopang keseimbangan dimensi tersebut. Pusaran ruang berwarna ungu kehitaman mulai menyedot segala hal di sekitarnya dengan gaya gravitasi yang mengerikan.

Namun, di tengah kehancuran itu, dua bayangan melesat dengan kecepatan yang melampaui nalar manusia.

Lin Chen, yang kini telah memantapkan pijakannya di ranah Pengumpulan Qi Tingkat 6 , menggenggam erat tangan Su Qingyue. Otot dan tulang bajanya memancarkan tenaga fisik murni yang berpadu sempurna dengan kepadatan Qi spiritualnya. Di sampingnya, Su Qingyue meluncur laksana dewi salju. Fluktuasi energi dari ranah Pondasi Abadi (Foundation Establishment) yang baru saja berhasil ditembusnya membekukan udara di bawah kakinya, menciptakan jalur es tipis yang mempercepat pelarian mereka.

Sebuah bongkahan meteorit raksasa jatuh tepat menutupi pintu keluar.

Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Lin Chen menanamkan kakinya kuat-kuat dan menarik tinju kanannya ke belakang. Tidak perlu mengompresi seluruh Qi-nya seperti sebelumnya. Dengan kekuatan fisiknya yang kini jauh melampaui batas fana, ia melepaskan pukulan ke arah depan.

BAM!

Batu sekeras baja itu meledak menjadi serpihan debu seketika.

"Lompat!" teriak Lin Chen menembus deru kehancuran.

Mereka berdua melompat ke dalam pusaran portal ruang tepat sepersekian detik sebelum seluruh Reruntuhan Jurang Bintang runtuh dan tertelan ke dalam kehampaan dimensi.

Di pelataran Balai Misi Tertinggi Akademi Bintang Tujuh, suasana diliputi ketegangan yang pekat. Matahari sudah mulai condong ke ufuk barat. Diaken penerimaan dan para tetua akademi berdiri mengelilingi gerbang spasial yang mulai berkedip-kedip tak stabil.

Dari ratusan murid inti yang masuk ke dalam Alam Rahasia, hanya kurang dari empat puluh orang yang berhasil keluar hidup-hidup. Sebagian besar dari mereka merangkak keluar dengan tubuh bersimbah darah, pakaian compang-camping, dan wajah dipenuhi teror akan kekejaman hukum gravitasi kuno dan monster purba di dalam sana.

Tetua Puncak Salju guru pembimbing Su Qingyue berdiri dengan wajah pucat pasi dan tangan gemetar. Murid kebanggaannya belum juga keluar. Di sebelahnya, seorang tetua bertubuh besar dengan jubah ungu pekat, Tetua Kuang dari Fraksi Harimau Ungu, juga memancarkan aura membunuh karena kelima murid elit yang ia utus belum kembali.

"Gerbangnya akan segera tertutup," ucap Tetua Wu, Kepala Pelataran Inti, dengan nada datar namun menyiratkan finalitas. "Siapa pun yang tertinggal di dalam, nyawanya sudah dikembalikan ke langit."

Tepat saat gerbang spasial itu akan menyusut menjadi seukuran kepalan tangan, dua kilatan cahaya emas-hitam dan es biru murni merobek portal tersebut secara paksa dari dalam.

WUSSH!

Angin spiritual yang sangat tajam menyapu pelataran. Lin Chen dan Su Qingyue mendarat dengan anggun di atas ubin batu giok. Jubah mereka mungkin kotor oleh debu, tetapi aura yang mereka pancarkan bagaikan dua bilah pedang legendaris yang baru saja dicabut dari sarungnya. Keduanya melesat keluar dari reruntuhan yang runtuh, siap membawa badai baru ke Akademi Bintang Tujuh dengan kekuatan yang kini telah melampaui nalar.

Seketika itu juga, seluruh pasang mata di pelataran terbelalak. Keheningan mutlak menyelimuti ribuan murid dan tetua yang hadir.

Mata Tetua Puncak Salju langsung tertuju pada tangan muridnya yang masih digenggam erat oleh pemuda dari sekte pinggiran tersebut. Wajahnya memerah karena marah, namun saat ia hendak melangkah maju untuk memisahkan mereka, langkahnya terhenti secara tiba-tiba. Mulutnya terbuka lebar, nyaris tak bisa memercayai persepsi spiritualnya sendiri.

"Q-Qingyue... fluktuasi Qi ini..." suara Tetua Puncak Salju bergetar hebat. "Kau... ranah Pondasi Abadi?! Di usiamu yang sekarang?!"

Pernyataan sang Tetua bagaikan petir di siang bolong bagi seluruh murid yang hadir. Ranah Pondasi Abadi! Jenius nomor satu sekalipun biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menembus batas alam fana itu. Su Qingyue baru saja melakukannya hanya dalam waktu beberapa hari di dalam Alam Rahasia!

Menyadari tatapan semua orang, Su Qingyue perlahan menarik tangannya dari genggaman Lin Chen. Namun, alih-alih merunduk hormat dengan patuh pada gurunya, ia menatap lurus ke depan dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. Tangannya secara refleks menyentuh kalung manik batu hitam pemberian Lin Chen di lehernya.

"Saya mendapatkan pencerahan hidup dan mati di dalam sana, Guru," jawab Qingyue dengan suara sejuknya yang khas, matanya melirik sekilas ke arah Lin Chen. "Dan semua ini tidak akan terjadi jika Lin Chen tidak mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan saya."

Mendengar nama Lin Chen disebut, Tetua Kuang dari Fraksi Harimau Ungu langsung menoleh dengan tatapan mematikan. Ia mengunci persepsi spiritualnya ke arah pemuda berjubah abu-abu itu.

Lin Chen telah memantapkan pijakannya di ranah Pengumpulan Qi Tingkat 6. Walau kelihatannya hanya Tingkat 6, aura tubuh fisiknya begitu padat hingga membuat Tetua Kuang yang berada di ranah Inti Emas pun merasakan sedikit tekanan tak kasat mata.

"Bocah! Di mana kelima murid dari fraksiku?!" raung Tetua Kuang, suaranya menggelegar seperti guntur. "Mereka berada di area yang sama denganmu saat portal memisahkan kalian! Jangan bilang kau menggunakan trik kotor untuk menyingkirkan mereka!"

Lin Chen menatap Tetua Kuang tanpa rasa takut sedikit pun. Darah Penantang Langit di dalam dirinya sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman.

"Alam Rahasia Jurang Bintang Runtuh penuh dengan monster purba dan gravitasi ekstrem yang bisa meremukkan tulang, Tetua," jawab Lin Chen dingin. "Jika murid-murid kebanggaan Anda begitu rapuh hingga tidak bisa bertahan hidup dan menjadi debu di bawah sana, mengapa Anda bertanya padaku?"

"KAU—!" Tetua Kuang mengangkat tangannya, bersiap melontarkan telapak energi untuk memberi pelajaran pada murid baru yang kurang ajar itu.

"Cukup, Kuang."

Suara pelan namun menembus hingga ke dasar Lautan Kesadaran terdengar. Tetua Wu melangkah maju. Hanya dengan satu kalimatnya, tekanan aura Tetua Kuang langsung hancur tak bersisa.

"Hukum akademi dan hukum Alam Rahasia sangat jelas," ucap Tetua Wu, menatap Lin Chen dan Su Qingyue secara bergantian dengan pandangan rumit. "Hidup dan mati di dalam sana adalah takdir masing-masing. Dendam di dalam Alam Rahasia, tidak boleh dibawa ke pelataran ini."

Tetua Kuang menggertakkan giginya hingga nyaris retak, namun ia tidak berani membantah Kepala Pelataran Inti. Ia mengibaskan lengan bajunya dengan kasar dan pergi meninggalkan pelataran.

Tetua Wu kembali menatap Lin Chen. "Kalian berdua telah kembali dengan selamat dan membawa fondasi yang luar biasa. Kembali ke asrama dan stabilkan kultivasi kalian. Tiga bulan dari sekarang, Seleksi Murid Warisan akan dibuka. Aku ingin melihat sejauh mana kalian bisa mengguncang panggung akademi ini."

Lin Chen dan Su Qingyue saling bertukar pandang. Penderitaan dari energi buas teratai itu menjadi saksi bisu dari lompatan kekuatan mereka yang akan mengguncangkan seluruh Akademi Bintang Tujuh. Mereka berdua telah berhasil melewati maut bersama, dan kini, dengan kekuatan baru yang menyatu dalam resonansi es dan api, jalan mereka untuk mendominasi langit baru saja terbentang luas.

1
Budi Wahyono
sumpah saya awal bacanya kuil wajan gosong...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
KING Escanor
lanjut
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri ranting ⭐️ dan vote 🎟 serta gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
KING Escanor
lanjut thor
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!