NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21.Bagas

Ruang kerja eksekutif di lantai paling atas Adikara Tower yang biasanya hening dan tenang mendadak diterjang ketegangan yang membekukan.

Kaivan duduk kaku di balik meja mahoninya, menatap lurus ke arah tablet yang disodorkan oleh Sekretaris Dimas dengan tangan gemetaran. Di layar digital tersebut, sebuah situs berita hiburan ternama menampilkan foto beresolusi tinggi yang diambil secara diam-diam tadi siang.

Foto itu memperlihatkan Aruna berdiri kaku di balik jendela lantai dua rumah mewahnya—wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan hampa, serta balutan perban tebal melilit tangan kanannya. Judul berita besar berkilat merah menyala di atas foto tersebut:

"SANGKAR EMAS ATAU PENJARA? SISI GELAP PERNIKAHAN RAHASIA KAIVAN ADIKARA DAN ARUNA RASYARA TERBONGKAR!"

Di bawah foto itu, ribuan komentar warganet membanjiri kolom opini. Sebagian besar mengutuk keras Kaivan, menuduh pria itu melakukan penganiayaan, penyekapan, dan tindakan kejam terhadap istri rahasianya.

"Siapa yang berani mengambil foto ini di area rumahku?!" bentak Kaivan dengan suara bariton yang berat dan menggelegar, melempar tablet itu ke atas meja hingga memantul keras.

"Tim keamanan kami sedang melacak dua oknum wartawan independen yang bersembunyi di area pagar belakang rumah tadi siang, Pak," jawab Dimas panik dengan kepala tertunduk dalam.

"Namun yang lebih parah... Ibu Rosmala, ibu dari Nona Aruna, baru saja memberikan pernyataan panggung di depan wartawan. Beliau membenarkan rumor tersebut dan mengaku bahwa anaknya ditahan serta disiksa di rumah Anda!"

BRAK!

Kaivan menghempaskan telapak tangannya ke atas meja kerja, bangkit berdiri dari kursi dengan rahang menegang keras. Matanya berkilat menakutkan, dipenuhi oleh emosi murka yang membakar jiwanya.

"Wanita licik itu benar-benar tidak tahu diri!" desis Kaivan tajam, membayangkan bagaimana Rosmala memanfaatkan keputusasaan Aruna demi memeras nama baik Adikara Group sekali lagi.

Namun di tengah amarahnya yang membumbung tinggi, ada satu titik di dalam dada Kaivan yang mendadak terasa nyeri dan teremas hebat—bayangan raut wajah Aruna di dalam foto itu.

Wajah hampa tanpa harapan hidup yang kemarin sore hampir saja mengakhiri nyawanya sendiri di atas lantai marmer.

Gadis itu... pasti akan makin tertekan kalau melihat berita ini, batin Kaivan gusar, meski dengan cepat ia menepis pemikiran lemah itu dari kepalanya.

"Dimas! Siapkan tim hukum dan tutup seluruh akses media yang mencoba menyebarkan foto itu!" perintahkan Kaivan kaku seraya menyambar jas mewahnya dari sandaran kursi. "Aku harus pulang sekarang!"

"Baik, Pak Kaivan!"

Sementara itu, hujan deras mulai mengguyur kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan.

Di luar gerbang utama kediaman Kaivan Adikara, seorang laki-laki berdiri menembus terpaan air hujan dengan pakaian yang basah kuyup.

Wajahnya yang memerah dipenuhi oleh amarah dan kekhawatiran yang tak lagi bisa dibendung.

Laki-laki itu adalah Bagas.

Setelah melihat berita viral dan foto Aruna yang tersebar luas di internet satu jam lalu, Bagas tidak bisa lagi menahan dirinya. Tanpa memedulikan larangan Maya dan Rian, ia melacak alamat rumah mewah Kaivan dan mendatangi tempat itu dengan nekat.

"Aruna! Aruna!" jerit Bagas kencang di depan gerbang besi tinggi yang terkunci rapat, menggedor-gedor terali besi dengan tangannya hingga memerah.

Dua orang pengawal berbadan tegap yang bertugas di pos penjagaan segera melangkah keluar dengan raut wajah galak, mengarahkan payung hitam ke arah Bagas.

"Hei! Siapa kamu?! Jangan bikin keributan di depan rumah Pak Kaivan! Pergi dari sini!" bentak salah satu pengawal kasar.

"Buka pintunya! Saya mau ketemu Aruna!" balas Bagas berteriak, matanya menatap tajam ke arah dua pengawal tersebut tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Kalian penyiksa! Apa yang kalian lakukan sama Aruna sampai tangannya terluka begitu?! Buka pintunya!"

"Kurang ajar! Kamu mau cari masalah ya?!" pengawal itu menarik kerah jaket basah milik Bagas dan mendorongnya kasar hingga Bagas tersungkur jatuh ke atas aspal yang basah.

Tepat pada saat itu, sebuah mobil sedan mewah hitam meluncur cepat dan mengerem mendadak di pelataran depan gerbang. Decitan ban yang melengking bersahutan dengan suara petir yang menyambar di langit sore.

Pintu mobil terbuka. Kaivan melangkah keluar seraya membawa payung hitam. Langkah kakinya anggun namun memancarkan dominasi yang luar biasa menakutkan. Pria tinggi angkuh itu menatap dingin ke arah Bagas yang sedang berusaha bangkit berdiri di atas aspal.

"Ada sampah apa yang berani membuat keributan di depan rumahku?" cetus Kaivan dengan suara bariton yang dingin bak es.

Bagas menoleh kaku. Matanya membelalak begitu melihat sosok Kaivan Adikara berdiri berdiri tegak di hadapannya. Rasa benci dan cemburu yang memuncak membuat Bagas kehilangan kendali atas logikanya.

"Kau... Kaivan Adikara?!" jerit Bagas, langsung melompat berdiri dan menerjang maju hendak memukul Kaivan.

"Pria biadab! Apa yang kau lakukan sama Aruna?! Kembalikan Aruna!"

Namun, sebelum jemari Bagas sempat menyentuh kemeja mewah Kaivan, dua pengawal berbadan besar dengan cepat menyergap kedua lengan Bagas dan menguncinya kencang di belakang punggung. Bagas berontak hebat di dalam cengkeraman tersebut, napasnya memburu kasar di bawah terpaan hujan.

Kaivan sama sekali tidak bergeming. Ia menatap Bagas dari atas sampai bawah dengan sorot mata yang penuh celaan dan rasa hina.

"Siapa kau?" tanya Kaivan kaku dan datar, tanpa ada riak emosi sedikit pun di wajahnya.

"Aku Bagas! Teman kerja Aruna di kafe!" teriak Bagas dengan mata memerah, menahan perih di lengannya.

"Aku tahu Aruna dipaksa menikah sama kau! Kau yang menyiksa Aruna sampai dia depresi dan terluka, kan?! Lepaskan Aruna, Kaivan! Dia tidak pantas berada di tempat iblis seperti ini!"

Mendengar nama kafe dan melihat sorot mata Bagas yang begitu menggebu-gebu—sorot mata seorang laki-laki yang jelas-jelas menyimpan perasaan mendalam pada seorang wanita—rahang Kaivan mendadak menegang keras.

Ada getaran kecemburuan asing dan rasa tidak suka yang amat sangat menyusup masuk ke dalam dada Kaivan tanpa diundang. Pria angkuh itu menyipitkan matanya tajam, melangkah satu langkah lebih dekat ke hadapan Bagas.

"Teman kafe?" cetus Kaivan dengan senyum tipis yang amat sinis dan dingin. "Kau cuma seorang barista miskin dari kafe murahan, dan kau berani datang ke rumahku untuk mencampuri urusanku?"

"Aruna menderita di sini!" jerit Bagas frustrasi. "Kau tidak pernah mencintai dia! Kau cuma memanfaatkan dia!"

Kalimat Bagas menampar keras ulu hati Kaivan, menyuarakan kenyataan pahit yang selalu berusaha Kaivan tutupi di balik gengsi angkuhnya.

Namun alih-alih menunjukkan kerapuhannya, wajah Kaivan justru makin membeku kaku.

"Aruna adalah istri sahku secara hukum," kata Kaivan dengan suara pelan namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Dia tinggal di dalam rumah ini, makan dari uangku, dan berada di bawah kekuasaanku. Kau tidak punya hak sepatah kata pun untuk menyebut namanya di hadapanku."

Kaivan membalikkan badannya, melangkah menuju gerbang yang perlahan terbuka otomatis.

"Pengawal," panggil Kaivan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. "Lemparkan dia jauh-jauh dari kompleks ini. Kalau dia berani menampakkan kakinya lagi di sini, masukkan dia ke dalam penjara atas tuduhan pencemaran nama baik dan tindakan pengerusakan."

"Baik, Pak Kaivan!"

"Kaivan! Lepaskan Aruna! Kaivan!" teriak Bagas histeris saat tubuhnya diseret kasar oleh dua pengawal menuju pinggir jalan raya.

BAM!

Pintu utama rumah mewah itu dihempaskan kencang oleh Kaivan. Pria itu melempar payung basahnya ke atas lantai marmer dengan napas yang sedikit memburu.

Rasa panas membakar dadanya—campuran antara amarah atas kemunculan wartawan, kebencian pada keluarga Rasyara, dan kekesalan yang tak rasional melihat seorang laki-laki lain berani datang mempertaruhkan nyawa demi Aruna.

Tanpa memedulikan Bi Asih yang menatapnya takut-takut dari arah dapur, Kaivan melangkah lebar melompati anak tangga menuju lantai dua.

Ia tiba di depan kamar Aruna, mendorong pintunya hingga terhempas kencang menghantam dinding.

"Aruna!" panggil Kaivan dengan suara tegas yang menggelegar.

Di dalam kamar yang temaram, Aruna yang sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur tersentak kaget.

Gadis itu menoleh kaku, menatap Kaivan dengan mata sembap yang dipenuhi rasa takut spontan.

Kaivan melangkah mendekat ke tepi ranjang, menatap Aruna dengan sorot mata yang berkilat tajam dan membara.

"Rupanya kau punya penggemar setia yang berani datang menerobos rumahku hujan-hujan begini," cetus Kaivan dengan nada suara yang begitu dingin, sarat akan sindiran ketus.

Aruna tertegun, bibirnya yang pucat bergetar tipis.

"M-maksud... Pak Kaivan apa...?"

"Laki-laki dari kafemu itu—yang bernama Bagas!" bentak Kaivan, menekankan nama itu dengan nada cemburu kaku yang terselubung rapat di balik topeng gengsinya.

"Dia baru saja berteriak-teriak seperti orang gila di depan gerbang rumahku, menuduhku menyiksamu dan memintaku untuk melepasmu!"

Mendengar nama Bagas, mata Aruna membelalak lebar. Rasa cemas dan panik mendadak menyeruak hebat di dalam dadanya. "B-Bagas...? Bagas datang ke sini...?"

Melihat perubahan raut wajah Aruna yang mendadak panik dan cemas demi laki-laki lain—sesuatu yang tak pernah Aruna tunjukkan untuk dirinya—dada Kaivan serasa dihantam oleh rasa tidak terima yang teramat sangat. Cengkeraman tangan Kaivan pada tiang ranjang kayu bertambah erat hingga menimbukan suara decitan tipis.

"Kenapa? Kau khawatir padanya?!" cerca Kaivan sinis, menundukkan badannya sedikit mendekati wajah pucat Aruna. "Kau takut laki-laki baristamu itu aku hancurkan?!"

"Pak Kaivan... tolong... jangan apa-apakan Bagas..." mohon Aruna dengan suara parau dan mata berkaca-kaca, memegang seprai tempat tidur dengan jemarinya yang gemetaran. "Dia tidak tahu apa-apa... Dia cuma teman kerja saya..."

"Dengarkan aku baik-baik, Aruna!" potong Kaivan tegas, mengabaikan tatapan memohon dari gadis di hadapannya. "Kau adalah jaminan atas utang tiga puluh miliar keluargamu! Kau sudah terikat denganku di rumah ini! Jangan pernah bermimpi untuk lari atau berharap ada laki-laki lain yang bisa menyelamatkanmu dari tempat ini!"

Aruna menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata dingin kembali menetes membasahi tangannya yang terbebat perban. Kata-kata Kaivan menegaskan kembali statusnya yang tak lebih dari sekadar tawanan bernilai uang.

Kaivan menatap dahi pucat Aruna yang tertunduk pasrah. Ada rasa menyesal yang amat sangat yang kembali menusuk dadanya melihat air mata gadis itu, namun gengsi angkuhnya yang setinggi langit dengan cepat menutup rapat-rapat keinginan jemarinya untuk merengkuh dan menenangkan Aruna.

Pria tinggi itu menegakkan kembali tubuhnya, membuang mukanya ke arah pintu dengan raut wajah membeku.

"Jangan buat masalah lagi," kata Kaivan dingin sebelum berbalik dan melangkah kaku keluar kamar, meninggalkan Aruna kembali tenggelam dalam kesendirian dan isolasi dinding-dinding mewah yang memenjarakan jiwanya.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!