NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Sebuah Alasan

Aira mengangkat alis. “Ditahan? Saya tidak melakukan kejahatan apa pun malam ini. Saya membela diri.”

“Organisasi itu tidak datang tanpa alasan. Mereka menganggap kamu masih membawa informasi penting.”

“Saya tidak membawa apa-apa kecuali pisau lipat dan uang hasil bertarung.”

Reza menatapnya lama. “Aira. Saya tidak ingin memakai kekerasan. Tapi kalau kamu menolak ikut, saya punya wewenang untuk memaksa.”

Aira terdiam sejenak, lalu bertanya, “Gaji letnan berapa?”

Reza mengerutkan kening. “Apa?”

“Gaji. Saya hanya ingin tahu. Karena kalau saya ditahan, saya tidak bisa bertarung, berarti saya tidak dapat uang. Jadi saya perlu tahu apakah negara akan memberi saya makan selama ditahan atau tidak.”

Reza terdiam. Ekspresinya berubah dari tegas menjadi… bingung. “Kamu… serius?”

“Sangat serius. Saya tidak mau masuk tahanan kalau makannya buruk. Saya sudah pernah coba dulu. Nasi sisa dan ikan asin. Tidak worth it.”

Reza menghela napas panjang, seolah baru saja kehilangan sepuluh tahun umurnya. “Kamu tidak takut sama sekali, ya?”

“Takut tidak membuat saya dapat uang. Jadi saya pilih tidak takut.”

Reza menggosok pelipisnya. “Baik. Saya tawarkan kompromi. Kamu tidak perlu ditahan sekarang. Tapi kamu harus memberitahu saya semua yang kamu tahu tentang organisasi itu. Dan kamu tidak boleh menghilang lagi.”

Aira menimbang. “Kalau saya bicara, saya dapat apa?”

“Perlindungan.”

“Perlindungan tidak bisa saya makan.”

Reza menatapnya dengan wajah yang semakin lelah. “Kamu benar-benar hanya memikirkan itu?”

“Iya. Karena itu yang membuat saya tetap hidup sampai sekarang.”

Tiba-tiba suara motor terdengar dari luar. Kali ini lebih banyak. Reza langsung menuju jendela dan mengintip. Wajahnya mengeras. “Mereka datang lagi. Lebih banyak.”

Aira sudah mengambil tas plastiknya. “Saya kabur. Kamu ikut atau tidak, terserah.”

“Kamu tidak bisa terus kabur.”

“Bisa. Saya sudah biasa.”

Reza menahan pergelangan tangannya. “Aira. Ikut saya. Sekarang. Saya bisa bawa kamu ke tempat aman.”

Aira menatap tangan Reza yang memegangnya, lalu menatap matanya. “Lepas. Atau saya patahkan jarimu.”

Reza tidak melepas. “Saya serius.”

Aira bergerak cepat. Dalam satu gerakan, dia memutar pergelangan tangan Reza, membuat pria itu meringis, lalu mendorongnya ke dinding. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Reza terkejut. “Saya bilang lepas.”

Reza menatapnya dengan mata yang sekarang bercampur antara marah dan… ketertarikan yang tidak diinginkan. “Kamu memang merepotkan.”

“Terima kasih. Sekarang minggir. Saya mau keluar lewat belakang.”

Suara langkah sudah terdengar di tangga. Reza mengutuk pelan, lalu mengeluarkan pistol. “Baik. Kita keluar bersama. Tapi kamu ikut arah saya.”

Aira menatap pistol itu, lalu mengangguk singkat. “Asal jangan tembak saya. Saya masih butuh badan utuh untuk bertarung.”

Mereka keluar lewat jendela belakang tepat saat pintu kamar ditendang dari luar. Aira mendarat di gang sempit, Reza menyusul. Mereka berlari di antara rumah petak yang gelap. Tembakan terdengar dari belakang.

Aira berlari sambil menghitung di kepala. "Kalau saya luka, biaya berobat mahal. Kalau Reza luka, dia pasti minta saya bertanggung jawab. Lebih baik tidak ada yang luka."

Mereka membelok ke jalan yang lebih ramai. Reza menarik Aira ke balik sebuah mobil parkir. Napas keduanya sedikit memburu.

“Kamu bisa bertarung, tapi kamu tidak bisa melawan peluru terus-menerus,” kata Reza pelan.

“Saya tahu. Makanya saya lari.”

Reza menatapnya di gelap. “Aira. Percaya pada saya malam ini. Saya bisa bawa kamu ke markas sementara yang aman.”

Aira menatap balik. “Kalau saya ikut, saya boleh minta makan?”

Reza menghela napas, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Boleh. Bahkan saya belikan sendiri.”

“Yang murah saja.”

“Iya. Yang murah.”

Aira mengangguk. “Baik. Tapi kalau kamu mencoba menahan saya lebih lama dari yang saya mau, saya akan kabur.”

Reza hampir tertawa. “Deal.”

Mereka bergerak lagi di antara bayangan. Di belakang, suara orang-orang organisasi lama masih mencari. Aira tidak tahu bahwa malam itu dia baru saja membuat keputusan yang akan menyeretnya lebih dalam ke keributan. Dan dia juga tidak tahu bahwa di rumah sakit kota, malam itu, seorang dokter bedah tampan baru saja menyelesaikan operasi darurat dan sedang menatap layar ponselnya yang menampilkan berita singkat tentang keributan di daerah rumah petak.

Dokter itu mengerutkan kening. Entah kenapa, dia merasa malam yang panjang baru saja dimulai. Peluru nyaris menggores telinga Aira. Dia spontan menundukkan kepala, lalu menarik Reza ke balik tembok gudang tua. Napas keduanya memburu. Dari kejauhan, suara langkah dan teriakan masih terdengar.

“Mereka tidak akan berhenti,” kata Reza pelan, memeriksa pistolnya. “Organisasi itu sudah mengincar kamu terlalu lama.”

Aira mengusap debu di wajahnya. “Saya tahu. Makanya saya bilang dari awal... jangan ikut campur.”

“Sudah terlambat.”

Tiba-tiba satu pria muncul dari sudut gelap sambil mengayunkan golok. Reza menembak ke arah kaki, tapi pria itu berhasil menghindar dan menerjang. Aira bergerak lebih cepat. Dia menendang pergelangan tangan lawan hingga golok terbang, lalu memukul lehernya dengan sisi tangan. Pria itu jatuh tersungkur.

Namun dari belakang, pria lain sudah terlalu dekat. Aira berbalik terlambat. Sebuah batang besi menghantam sisi tubuhnya dengan keras. Suara kruk terdengar dari tulang rusuknya.

Aira menahan napas. Sakit yang tajam langsung menyebar ke seluruh dada. Dia masih sempat menendang lutut penyerang hingga pria itu berlutut, lalu merebut batang besi dan memukul kepalanya sampai pingsan.

Reza segera menembak dua orang yang mencoba mendekat dari arah lain. Suasana sejenak sepi.

“Aira!” Reza menghampirinya. “Kamu... terluka?”

Aira menekan sisi tubuhnya yang sakit. Jari-jarinya basah oleh sesuatu yang hangat. “Hanya memar. Atau retak. Tidak penting.”

“Tidak penting? Kamu... berdarah!”

“Darah bisa berhenti sendiri. Yang penting kita pergi dari sini sebelum mereka datangkan orang lagi.”

Reza mengutuk pelan, lalu memasukkan pistolnya. “Saya bawa kamu ke rumah sakit sekarang.”

“Tidak. Rumah sakit mahal. Dan mereka akan tanya banyak hal.”

“Aira—”

“Saya bilang tidak.”

Reza menatapnya dengan rahang mengeras. “Kamu bisa mati kalau tulang rusuknya menusuk paru-paru. Saya tidak akan biarkan itu terjadi. Sekarang ikut saya. Titik.”

Aira ingin membantah, tapi rasa sakit yang semakin tajam membuatnya menggigit bibir. “…Baik. Tapi jangan yang mahal. Cari yang murah.”

Reza hampir tertawa kesal. “Kamu hampir mati dan masih memikirkan harga?”

“Karena kalau saya mati, uang di saku saya tidak bisa saya pakai. Jadi lebih baik saya hidup dan tetap hemat.”

Reza menggelengkan kepala, lalu menggendong Aira tanpa permisi. Aira terkejut dan langsung menegang. “Turunkan. Saya masih bisa jalan.”

“Tidak bisa. Kamu pucat sekali.”

“Saya selalu pucat.”

“Diam.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!