NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGILAN UNTUK ABDULLAH DAN SITI AMINAH

---

PANDE SIKEK, 1972 - SEMINGGU SETELAH UJIAN BUKU SMP

Surat itu datang pada hari Jumat.

Bukan surat dari kantor pos. Di Pande Sikek tahun 1972, kantor pos jauh di Padang Panjang, harus jalan kaki dua jam turun gunung. Surat itu diantar oleh seorang murid Kelas 6, anak Pak RT, yang berlari-lari kecil di jalan tanah yang becek habis hujan, dengan sandal jepitnya yang putus di bagian jepitnya, diikat pakai kawat kecil.

Surat itu hanya selembar kertas folio yang dilipat dua, tidak pakai amplop. Tulisannya tulisan tangan Ibu Guru Nasbah yang halus dan miring, tinta hitamnya sedikit luntur karena gerimis. Tidak ada perangko, tidak ada stempel, hanya cap jempol di sudutnya.

Kepada:

Yth. Bapak Abdullah Bin Rais Payobadar dan Ibu Siti Aminah Sikumbang

Di Rumah Gadang Ujung Parak Kopi, Pande Sikek.

Assalamualaikum.

Diharapkan kedatangannya ke SD Negeri No.1 Pande Sikek, hari Sabtu pagi jam 9, di Kantor Kepala Sekolah. Ada hal penting mengenai ketiga putra Bapak/Ibu.

Hormat kami,

Dt. Mangkuto - Kepala Sekolah

Siti Aminah Sikumbang yang menerima surat itu di dapur yang lantainya tanah, yang dindingnya hitam karena asap tungku, tangannya yang sedang mengupas ubi kayu langsung berhenti. Pisau lipat di tangannya bergetar. Jantungnya berdebar keras. Hal penting mengenai ketiga putranya. Apakah mereka nakal? Apakah mereka berkelahi di halaman berdebu itu? Apakah mereka memecahkan kaca jendela papan? Pikiran seorang ibu di Pande Sikek tahun 1972 langsung ke yang buruk-buruk. Karena di zaman itu, dipanggil kepala sekolah artinya ada masalah besar.

Abdullah Bin Rais Payobadar yang baru pulang dari bengkel ukir di bawah, dengan baju kaos oblongnya yang penuh serbuk kayu surian yang halus, dengan tangan kapalan dan penuh luka kecil bekas pahat yang meleset, membaca surat itu pelan di bawah cahaya jendela. Ia membaca dua kali, bibirnya bergerak.

"Hal penting mengenai ketiga putra..."

Ia tidak cemas seperti istrinya. Ia tahu ketiga anak bujangnya. Andi Rajo Alam, anak sulungnya yang sudah tamat SD tahun lalu, anak yang pendiam dan bertanggung jawab, yang kini membantu di bengkel. Arlan Rasyad, anak keduanya yang Kelas 3 SD, yang selalu ranking satu tapi tidak pernah sombong. Dan Arya Arsyad, si bungsu yang lahir tahun 1965 di malam berkabut yang dinginnya menusuk tulang, yang seminggu lalu pulang membawa lima buku SMP di tas karung goninya yang dijahit dari karung semen.

Abdullah melipat surat itu dengan hati-hati, seperti melipat kain ukiran, memasukkannya ke dalam kopiah hitamnya yang sudah disikat.

"Besok kita ke sekolah, Aminah. Pakai baju yang bagus."

Sabtu pagi jam 9 di Pande Sikek itu dinginnya bukan main. Kabut Gunung Singgalang turun sampai ke halaman-halaman rumah, sampai ke atap seng. Embun masih tebal di daun talas dan daun bawang. Belum ada motor, belum ada listrik, hanya suara ayam dan suara pahat dari bawah.

Abdullah dan Siti Aminah berjalan kaki beriringan menuju SD yang jaraknya setengah kilometer dari rumah gadang. Mereka memakai baju terbaik yang mereka punya. Abdullah memakai baju koko putih yang sudah agak menguning di kerahnya, baju yang hanya ia pakai kalau sholat Jumat di surau kayu dan kalau ada rapat adat di balai. Sarungnya sarung kotak-kotak yang masih bagus, tidak ada sobeknya. Kopiah hitamnya sudah disikat dengan sikat ijuk. Siti Aminah memakai baju kurung basiba beludru dengan kain sarung tenun Pande Sikek yang ia tenun sendiri selama tiga bulan, yang motifnya saik galamai, motif yang sama dengan ukiran di rumah gadang mereka. Rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde kayu surian. Di tangannya, ia membawa rantang seng kecil berisi lamang dan gulai ayam kampung yang ia masak subuh tadi. Begitulah adat Pande Sikek. Kalau dipanggil guru, tidak boleh tangan kosong. Harus bawa sesuatu dari dapur.

Di belakang mereka, berjalan tiga anak bujang dengan jarak yang teratur, seperti barisan silek.

Andi Rajo Alam Sikumbang, 14 tahun, yang sudah tamat SD tahun lalu dan sekarang membantu ayahnya di bengkel ukir sambil menunggu bisa masuk SMP di Padang Panjang. Ia memakai baju putih yang sama yang dulu dipakai Arya, yang sekarang sudah kekecilan untuknya, lengannya ngatung. Wajahnya serius, seperti ayahnya.

Arlan Rasyad Sikumbang, 10 tahun, Kelas 3 SD. Ia yang paling tegang. Ia selalu ranking satu, tapi ia tidak tahu kenapa ia juga dipanggil. Tangannya dingin.

Dan Arya Arsyad Sikumbang, 7 tahun, Kelas 1 SD. Tas karung goninya tidak ia bawa hari ini. Ia hanya memakai celana merah kebesaran yang diikat tali ijuk, dan baju putih yang lengannya dilipat-lipat sampai siku. Kakinya nyeker, menginjak tanah dingin Pande Sikek yang becek dan berlumpur. Di tangannya, ia menggenggam erat ujung kain sarung tenun ibunya, takut terlepas.

SD Negeri No.1 Pande Sikek pagi itu sepi. Tidak ada murid, karena hari Sabtu libur. Gerbang bambu terbuka. Hanya ada suara pahat dari bengkel di bawah yang tetap terdengar, tidak pernah berhenti: tok... tok... tak...

Di kantor kepala sekolah, yang dinding papannya sudah dimakan rayap, yang atap sengnya berisik kalau ada angin gunung masuk, sudah menunggu Pak Dt. Mangkuto, Ibu Guru Nasbah, Bu Guru Ani, dan Pak Guru Darwis. Mereka duduk rapi di meja kayu ukir yang panjang, yang ukirannya sudah mulai aus. Di atas meja, ada teko seng dan beberapa gelas seng yang penyok, berisi teh daun kopi yang hitam. Dan di tengah meja, ada tumpukan buku: buku-buku SMP yang seminggu lalu dipinjam Arya, plus kertas folio jawaban Arya yang tulisannya masih berantakan tapi alurnya runut, penuh gambar balok kayu dan air hujan.

Abdullah dan Siti Aminah masuk, mengucapkan salam dengan suara pelan. Mereka duduk di bangku kayu yang sudah disediakan, bangku yang kakinya goyang dan harus ditahan. Tiga anak mereka berdiri di belakang mereka, menunduk sopan, tangan di belakang.

Pak Dt. Mangkuto berdiri, menyalami Abdullah dengan kedua tangan. Salaman tukang ukir dan kepala sekolah. Keras, kapalan, dan hangat.

"Terima kasih sudah datang, Pak Abdullah, Bu Siti Aminah," kata Pak Dt. Mangkuto, suaranya berat tapi hari ini terdengar lebih lembut dari biasanya. Ia tidak langsung bicara soal masalah. Ia bicara seperti orang Minang memanggil orang tua murid: dengan adat, dengan pantun.

"Maaf kami panggil hari Sabtu. Karena ada hal yang harus kami sampaikan langsung, tidak bisa lewat surat. Hal yang... membuat kami di SD ini bangga, bukan marah."

Siti Aminah yang dari tadi meremas-remas ujung kain sarung tenunnya karena cemas, sedikit lega. Bangga, bukan marah. Napasnya yang tadi sesak, kini sedikit longgar.

Pak Dt. Mangkuto mengambil nafas panjang, lalu mulai menjelaskan. Ia menjelaskan dengan runtut, seperti orang yang sedang menceritakan silsilah adat di balai.

"Pak Abdullah, Bu Siti Aminah. Saya sudah jadi kepala sekolah di Pande Sikek ini sejak tahun 1960. Sudah 12 tahun. Saya sudah melihat ribuan anak Pande Sikek masuk dan keluar dari pintu papan sekolah ini. Jadi tukang ukir, jadi petani bawang, jadi perantau ke Jakarta, ke Medan."

Ia menatap Andi Rajo Alam.

"Putra pertama Bapak, Andi Rajo Alam Sikumbang. Dia sudah tamat tahun lalu. Saya masih ingat. Anak yang pendiam, tidak banyak bicara seperti Bapak. Tapi prestasinya baik. Sangat baik. Waktu ujian akhir SD, nilainya tertinggi kedua se-Pande Sikek, kalah hanya dari anak guru. Tulisan Arab Melayunya bagus, halus. Hitungannya cepat. Guru-guru di sini masih ingat. Dia anak yang bisa dibanggakan. Kalau ada SMP di Pande Sikek tahun lalu, dia pasti sudah masuk SMP. Tapi karena belum ada, ia menunggu."

Andi Rajo Alam menunduk, wajahnya merah padam. Ia tidak biasa dipuji di depan orang banyak. Tangan kapalnya yang mulai belajar pahat memainkan ujung bajunya.

Lalu Pak Dt. Mangkuto menatap Arlan Rasyad.

"Putra kedua Bapak, Arlan Rasyad Sikumbang. Yang sekarang Kelas 3. Anak ini... saya tidak pernah melihat anak seperti dia selama saya jadi kepala sekolah. Sejak Kelas 1 sampai Kelas 3 sekarang, dia tidak pernah ketinggalan ranking satu. Tidak pernah. Setiap semester, namanya selalu di atas. Ranking Satu. Tapi dia tidak sombong. Dia ajari teman-temannya yang tidak bisa berhitung di halaman berdebu itu. Dia bantu ibunya menyapu lantai tanah kelas setiap pagi sebelum bel seng dipukul. Dia anak pintar yang rajin. Juga sangat bisa dibanggakan."

Arlan Rasyad yang memang selalu ranking satu itu menunduk lebih dalam. Tangannya dingin.

Siti Aminah mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan mendengar ini di ruangan papan yang dingin itu. Ia hanya ibu rumah tangga di Pande Sikek yang setiap hari mengupas ubi dan menenun sarung di bawah lampu minyak. Ia tidak tahu anak-anaknya dianggap seperti itu di sekolah.

Lalu, Pak Dt. Mangkuto menatap yang paling kecil. Arya Arsyad Sikumbang yang berdiri dengan kaki nyeker di lantai tanah, yang celana merahnya kebesaran dan hampir melorot.

"Dan putra bungsu Bapak... Arya Arsyad Sikumbang. Yang lahir tahun 1965 di malam berkabut itu."

Ruangan itu hening. Ibu Guru Nasbah yang duduk di sebelahnya, mengangguk pelan, matanya sudah berkaca-kaca.

"Terus terang, Pak Abdullah, Bu Siti Aminah. Kami di sini... kami terkesima. Seminggu yang lalu, Arya kami beri soal-soal evaluasi di luar pelajaran anak SD. Bukan pelajaran Kelas 1, bukan Kelas 6. Pelajaran anak SMP. Fisika tentang gaya dan energi. Kimia tentang unsur. Aljabar. Soal-soal yang bahkan anak SMP di Padang Panjang yang sekolahnya sudah pakai listrik pun harus buka buku dulu."

Pak Dt. Mangkuto mengambil kertas folio jawaban Arya yang tulisannya berantakan itu, yang penuh gambar balok kayu dan air hujan Singgalang, yang ditulis di bawah lampu petromaks yang mendesis.

"Ini jawabannya. Ditulis di atas kertas folio yang kami beri. Di bawah lampu petromaks, katanya. Lihat, Pak."

Abdullah mengambil kertas itu dengan tangan kapalnya yang bergetar. Ia membacanya pelan. Ia tidak mengerti rumus Ep \= m.g.h. Tapi ia mengerti tulisan anaknya: Kayu 5 kg. Tinggi 4 meter. Jadi energinya 200 Joule. Joule itu seperti tenaga simpan, Pak. Seperti kayu di atas atap, belum jatuh tapi sudah ada tenaga.

Ia mengerti itu. Karena itu bahasa kayu. Bahasa Pande Sikek. Bahasa bengkel ukir.

"Semua benar, Pak Abdullah," lanjut Pak Dt. Mangkuto. "Semua. Tidak ada yang salah. Pola jawabannya... bukan pola jawaban anak yang menghafal. Pola jawabannya seperti orang tua. Seperti tukang ukir yang tahu urat kayu sebelum memahat. Dia tidak menjawab dengan rumus. Dia menjawab dengan mengerti. Dengan hati."

Ibu Guru Nasbah tidak tahan lagi. Ia menyela, dengan suara yang bergetar karena haru dan bangga.

"Bu Siti Aminah, anak Bapak ini... ingatannya di atas rata-rata kebanyakan anak-anak lain. Bahkan... maaf saya bilang... bahkan juga di atas kedua kakak laki-lakinya yang sudah pintar-pintar itu. Andi dan Arlan pintar karena rajin dan tekun, karena mereka belajar keras setiap malam di bawah lampu minyak. Tapi Arya... Arya pintar karena dia memang diberi kelebihan oleh Allah. Dia bisa mengingat apa yang dia baca sekali, dan dia bisa menghubungkannya dengan apa yang dia lihat di Pande Sikek. Gunung Singgalang, air hujan, kayu surian. Semua jadi buku baginya."

Siti Aminah kini benar-benar menangis. Air matanya jatuh ke kain sarung tenunannya yang motif saik galamai, yang ia tenun dengan air mata juga. Ia tidak menangis karena sedih. Ia menangis karena syukur. Ia ingat malam tahun 1965 itu, malam berkabut di bulan Desember, di mana ia melahirkan Arya di bilik papan yang hanya diterangi petromaks, dengan bantuan mak tuo-mak tuo, tanpa mantri, tanpa listrik, hanya dengan air hangat dan kain sarung. Ia ingat betapa takutnya ia malam itu, takut anaknya tidak selamat karena dingin. Dan kini, anak yang lahir di malam berat itu, dipuji oleh semua guru di depan suaminya, di ruangan kepala sekolah.

Abdullah Bin Rais Payobadar, lelaki keras yang tangannya biasa menebang kayu besar di hutan, yang jarang bicara, yang kalau bicara suaranya berat seperti kayu, pagi itu... ia senang. Senang yang tidak bisa ia sembunyikan. Wajahnya yang hitam terbakar matahari karena bertani bawang itu tersenyum. Senyum yang jarang sekali terlihat. Senyum tukang ukir yang ukirannya jadi, yang motifnya keluar sempurna.

"Alhamdulillah..." bisiknya. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Pelan, tapi semua orang mendengar. "Alhamdulillah..."

Ia mengusap kepala ketiga putranya satu per satu. Andi, Arlan, dan Arya. Tangan kapalnya yang penuh luka pahat itu mengusap kepala mereka dengan lembut, dengan kasih sayang seorang ayah tukang ukir.

Lalu Pak Dt. Mangkuto menyampaikan keputusan yang sudah ia rundingkan dengan semua guru semalam, setelah hujan reda dan kabut Singgalang turun tebal dan lampu petromaks di rumahnya hampir habis minyaknya.

"Pak Abdullah, Bu Siti Aminah. Karena itu, kami sudah bermusyawarah semalam. Kami di SD ini tidak mau menyia-nyiakan kayu yang bagus. Kayu yang bagus kalau dibiarkan lapuk di bawah hujan, dosa. Kayu surian yang bagus harus diukir jadi istana."

Ia menatap Arya yang 7 tahun itu.

"Mulai tahun kenaikan kelas nanti, bulan Januari 1973, Arya Arsyad Sikumbang tidak akan di Kelas 2. Dia akan kami jadikan satu kelas bersama kakak laki-laki keduanya, Arlan Rasyad Sikumbang. Jadi Arya langsung naik dari Kelas 1 ke Kelas 4. Satu kelas dengan kakaknya. Loncat tiga tingkat. Ini belum pernah terjadi di sejarah SD Pande Sikek. Bahkan di Tanah Datar pun belum pernah."

Satu kelas dengan kakaknya.

Arlan Rasyad yang dari tadi menunduk, langsung mendongak. Matanya berbinar. Ia menatap adik bungsunya yang kakinya nyeker itu. Adiknya yang biasanya ia ajari berhitung di bawah lampu petromaks, yang biasanya ia gendong kalau jalan becek, kini akan sekelas dengannya. Ia tidak cemburu. Ia bangga. Bangga sekali.

Arya sendiri diam. Ia menatap ayahnya, mencari persetujuan. Seperti biasa. Ia hanya bertanya pada ayahnya. Bukan pada kepala sekolah.

Abdullah menatap anak bungsunya. Ia ingat pertanyaan Arya seminggu lalu di bawah petromaks: "Apakah otak itu seperti pisau pahat, Yah? Kalau tidak diasah, jadi tumpul?" Dan ia menjawab: "Otak itu seperti kayu Pande Sikek. Kalau kau rawat, ia jadi istana. Kalau kau biarkan, ia jadi kayu bakar."

Kini, kayu itu akan diasah di kelas yang lebih tinggi.

Abdullah Bin Rais Payobadar dan Siti Aminah Sikumbang gembira mendengar kabar ini. Gembira yang meluap sampai ke ubun-ubun, sampai ke hati. Bukan gembira karena anaknya akan jadi orang hebat dan merantau jauh ke Jakarta dan melupakan Pande Sikek. Gembira karena jerih payah mereka sebagai tukang ukir dan penenun sarung di ujung Pande Sikek yang dingin itu, yang setiap hari tangan mereka kapalan dan pinggang mereka sakit, ada hasilnya. Ada buktinya.

Siti Aminah memeluk ketiga putranya di ruangan papan yang dingin itu, yang angin gunung masuk dari celah dinding. Rantang lamang dan gulai ayam kampung yang ia bawa, ia berikan kepada guru-guru. Guru-guru menerimanya dengan senyum dan doa.

Abdullah berdiri, menjabat tangan Pak Dt. Mangkuto dengan erat, dengan kedua tangan.

"Terima kasih, Pak Dt. Terima kasih, Bu Guru, Pak Guru. Kami hanya tukang ukir dan penenun di Pande Sikek. Kami tidak punya harta. Hanya punya tiga anak bujang ini. Tolong ajari mereka. Biar mereka bisa jadi orang yang berguna. Biar ukiran Pande Sikek ini tidak hilang dimakan zaman."

Pak Dt. Mangkuto mengangguk. Matanya juga berkaca-kaca. Ia tahu. Di Pande Sikek, ukiran bukan hanya hiasan. Ukiran adalah doa. Adalah filosofi. Adalah cara orang Minang mengingat Tuhan di kayu.

Siang itu, ketika kabut Singgalang sudah naik lagi dan matahari Pande Sikek yang jarang terlihat, akhirnya muncul sebentar di antara awan, menyinari tanah becek, lima orang berjalan pulang di jalan tanah yang becek.

Abdullah dan Siti Aminah di depan, berjalan berdampingan, bahu mereka bersentuhan, sesekali tersenyum. Di belakang mereka, tiga putra mereka.

Andi Rajo Alam yang 14 tahun yang sudah tamat SD dengan prestasi baik.

Arlan Rasyad yang 10 tahun Kelas 3 yang tidak pernah ketinggalan ranking satu.

Dan Arya Arsyad Sikumbang, si bungsu yang 7 tahun yang akan naik tiga tingkat langsung ke Kelas 4, yang tas karung goninya kini berisi lima buku SMP, yang langkah nyekernya ringan di tanah dingin Pande Sikek, walaupun bebannya berat.

Mereka bahagia. Punya ketiga putra yang bisa dibanggakan kemudian hari. Dan inilah awal kenapa kelak, tahun 1975, di usia 10 tahun, Arya sudah bisa duduk di SMP Kelas 1, sekelas dengan Arlan yang 13 tahun dan Ibrahim Sulaiman Chaniago yang 13 tahun, dan membuat Kepala SMP Negeri Pande Sikek, Drs. Syafrianto, tidak percaya dan harus menguji lagi dengan buku Biologi Kelas 1 SMA, Fisika Kelas 1 SMA, dan Kimia Kelas 2 SMA di bawah lampu petromaks.

Di kejauhan, dari bengkel-bengkel ukir di bawah, suara pahat terdengar lagi, bersahutan dengan kabut.

Tok... tok... tak...

Irama Pande Sikek yang tidak pernah berhenti. Irama yang kini akan diiringi oleh langkah tiga bersaudara Sikumbang yang akan mengukir namanya sendiri, jauh lebih tinggi dari gonjong rumah gadang Mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!