Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan
PIETRA PETROVSKY
Bandara itu penuh sesak, tapi aku merasa benar-benar sendirian.
Begitu membayar sopir dan turun dari mobil, aku melewati pintu kaca, dan udara dingin di dalam menghantamku seperti tamparan kenyataan.
Suara koper-koper yang diseret, percakapan dalam berbagai bahasa, pengumuman penerbangan yang menggema dari pengeras suara—
Semuanya terasa jauh, seolah aku mengamati dunia dari balik dinding kaca.
Tanganku gemetar saat mendekap ransel ke dada.
Aku benar-benar melakukan ini.
Kabur.
Sendirian.
Aku mendekati loket tiket dengan jantung berdebar, merasa bahwa kapan saja seseorang akan menepuk bahuku. Bahwa Ricardo akan muncul. Bahwa ia akan menyeretku kembali.
Tapi tak ada yang datang.
"Selamat pagi. Tujuan?" tanya petugas loket.
Aku membuka mulut... dan membeku.
Tujuan...
Aku tak punya.
Pikiranku berpacu. Harus jauh. Di luar jangkauannya. Di luar segala yang kukenal.
Aku teringat pendaftaran yang kuajukan beberapa bulan lalu. Balasan-balasan lewat surel. Kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah kuanggap serius.
Aku menelan ludah, lalu berkata.
"Moskow. Rusia."
Petugas itu mengetik sesuatu di komputernya, tanpa curiga bahwa pada saat itu, hidupku sedang ditulis ulang sepenuhnya.
"Ada penerbangan transit yang berangkat setengah jam lagi. Anda mau konfirmasi?"
Setengah jam...
Dadaku terasa sesak.
"Ya. Saya konfirmasi."
Ketika tiket itu tercetak dan diletakkan di tanganku, ada beban aneh yang menekan dadaku. Itu bukan rasa takut. Itu duka. Aku sedang mengubur diriku yang dulu.
Aku duduk di salah satu kursi dekat gerbang keberangkatan dan mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Keluarga. Pasangan. Tawa. Perpisahan.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan.
Ricardo...
Perutku bergejolak. Aku menatap layar tanpa membukanya. Pesan lain. Lalu satu lagi. Panggilan-panggilan tak terjawab.
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar lagi.
Nomor tak dikenal.
Seluruh tubuhku waspada.
Aku mengangkatnya.
"Kau di mana, Pietra?" Suara Ricardo. "Aku menelepon kampus, dan mereka bilang kau tidak ada di sana."
Suaranya berbeda. Menegang.
"Itu sudah tidak penting lagi."
"Kau tidak bisa begitu saja menghilang! Kita harus bicara sekarang juga!"
Aku tertawa pendek, getir.
"Bicara?" balasku. "Kau bicara denganku selama tiga tahun kau mengkhianatiku? Terpikir olehmu untuk bicara denganku kemarin, waktu kau memukulku?"
Hening di ujung sana.
Lalu suaranya keluar lebih rendah.
"Kau tidak segila itu untuk pergi."
"Aku memang segila itu! Dan aku sedang melakukannya sekarang juga."
"Pietra... kau tidak bisa pergi begitu saja... Ada hal-hal yang tidak kau mengerti..."
"Apa yang tidak kumengerti? Bahwa kau mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri selama tiga tahun?" balasku. "Kau tidak punya hati nurani, Ricardo! Aku membencimu!"
Aku memutus panggilan.
Kakiku lemas ketika pengumuman menggema di seluruh bandara.
"Penumpang tujuan Moskow, harap segera menuju gerbang keberangkatan."
Aku bangkit.
Setiap langkah menuju gerbang adalah campuran antara rasa takut dan kebebasan. Ketika menyerahkan tiket, tanganku masih gemetar.
Saat menyusuri lorong pesawat, air mataku akhirnya jatuh.
Aku tak tahu apakah itu air mata kesedihan atau kelegaan.
Ketika aku duduk dan pesawat mulai bergerak, aku menatap ke luar jendela.
"Selamat tinggal..."
Ucapku, sementara air mata masih mengalir tanpa bisa kukendalikan.