"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Hari yang Padat
Nikolai
Aku terbangun dengan lengan yang kesemutan dan rambut Helena bertebaran di wajahku. Aku tak langsung bergerak. Aku telah belajar bahwa beberapa detik terkadang lebih berharga daripada urusan apa pun.
Aku ingat hari ini ia akan melepas sepatu bot pelindung kakinya. Sebulan penuh sudah berlalu sejak kecelakaan itu. Kadang terasa singkat. Kadang terasa seperti seumur hidup.
Kucondongkan wajahku dan kucium Helena perlahan, tanpa tergesa, secukupnya untuk menariknya kembali ke dunia. Satu ciuman lagi. Lalu satu lagi. Sampai ia bergerak.
Ia membuka mata sambil tersenyum padaku.
Dan, seperti biasa, dadaku menghangat. Tak peduli berapa kali pun itu terjadi, senyumnya selalu membuatku lengah.
"Selamat pagi," katanya, suaranya masih sarat kantuk.
"Selamat pagi, putriku," jawabku, menyusuri rambutnya dengan jemari.
Ia menyandarkan diri lebih dekat, seolah hari ini bisa menunggu sedikit lebih lama. Aku tetap di sana, mengamati setiap detail wajahnya, memikirkan betapa nyaris aku kehilangannya pagi itu di salju… dan betapa semuanya berubah setelah itu.
"Hari ini kau lepas dari bot itu," kataku pelan.
Ia membuat ekspresi lucu.
"Akhirnya."
Aku tersenyum. Kusandarkan keningku ke keningnya.
Mungkin dunia tetap berbahaya. Mungkin tak ada yang sederhana.
Tetapi di sana, di kamar itu, dengan ia dalam pelukanku, semuanya terasa masuk akal dengan cara yang paling hening.
Dan untuk saat ini… itu sudah cukup.
Kami tiba di rumah sakit pagi-pagi. Helena gelisah, seakan koridor itu adalah garis akhir. Dokter bahkan belum selesai bicara ketika ia sendiri mulai melepas tali-tali bot pelindungnya.
"Sabar," kataku, mencoba menahan senyum.
Ia tak mendengarkan. Ia melepas bot itu di sana juga, sambil duduk di brankar, menapakkan kaki di lantai dengan hati-hati, menguji beban tubuhnya… lalu tersenyum. Senyum kemenangan yang kecil, tetapi berarti.
"Aku berhasil," katanya, nyaris dengan bangga.
"Sudah kuduga," jawabku.
Ponselku bergetar lagi. Dan lagi. Pesan-pesan, panggilan tak terjawab, nama-nama yang tak membawa kabar baik. Kuabaikan sebisaku selama kami di sana, tetapi dunia tak menunggu.
Di mobil, ia terlihat ringan, memandang kota dari jendela seakan menemukan kembali segalanya. Kuantar Helena pulang, kubantu ia menaiki anak tangga — kini lebih karena kebiasaan daripada kebutuhan.
"Aku pulang nanti," kataku, memegang wajahnya di antara kedua tanganku.
"Pergilah," jawabnya. "Selesaikan apa yang perlu kau selesaikan."
Ciuman itu singkat, tetapi sarat janji.
Ketika kututup pintu di belakangku dan masuk ke mobil, ponsel kembali berdering. Kuangkat, air mukaku berubah, tubuhku kembali menegang.
Kekacauan tak pernah libur.
Tetapi sementara aku menyetir untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terus bermunculan, satu hal tetap kokoh di dada:
Aku tahu persis ke mana aku ingin pulang ketika semuanya selesai.
Aku tiba di salah satu gudangku menjelang sore. Tempat itu punya bau khas yang kukenal: logam, oli, dan beton dingin. Lampu-lampu sorot menerangi pelataran yang tak rata, bayangan-bayangan panjang merayap di dinding.
Tatiana dan Dmitry sudah menungguku dekat pintu samping.
Dari cara mereka, aku tahu ini bukan kabar baik… tetapi setidaknya ada kabar.
"Kami berhasil menangkap salah satu tersangka," kata Tatiana, langsung ke intinya. "Salah satu yang mencuri muatan itu."
Aku menengok melewati bahunya dan melihat pria itu duduk di kursi logam, tangan terikat, wajahnya cukup babak belur untuk menunjukkan bahwa ia sudah pernah mencoba berbohong.
Dmitry menyilangkan lengan.
"Dia bukan otaknya. Tetapi dia tahu dari mana perintah itu datang."
Aku masuk ke gudang tanpa tergesa. Setiap langkah bergema terlalu keras. Aku berhenti di depan pria itu dan berjongkok hingga sejajar dengan matanya.
Ia menghindari tatapanku.
"Kau memilih gudang yang salah," kataku tenang. "Dan orang yang salah untuk kau curi."
Ia menelan ludah.
Kuberi isyarat singkat dengan tangan. Tatiana mendekat, membuka tablet, siap mencatat nama, rute, jadwal.
"Kau akan memberitahuku siapa yang menyuruhmu," lanjutku, tanpa meninggikan suara. "Dan aku yang memutuskan apakah kau keluar dari sini dengan berjalan… atau tidak."
Keheningan terasa berat. Pria itu mulai berkeringat.
Setelah berjam-jam, pria itu runtuh.
Bukan lewat teriakan.
Bukan lewat ancaman.
Lewat keletihan.
Nama-nama itu keluar sedikit demi sedikit, di antara jeda-jeda panjang dan pandangan yang tertunduk. Sebuah rute yang dibelokkan, seorang perantara yang terlalu dikenal, seorang dalang yang mengira aku terlalu lengah untuk menyadari kebocoran itu.
Tatiana mencatat semuanya dalam diam. Dmitry mengecek tanggal, menyilangkan informasi, menyatukan kepingan-kepingan seperti orang yang sudah pernah melihat permainan ini sebelumnya.
Ketika selesai, kuberi isyarat singkat.
"Cukup."
Pria itu ambruk di kursi, kosong, seakan telah meninggalkan seluruh miliknya di sana. Aku berbalik sebelum ia mengucapkan hal lain. Apa yang kubutuhkan sudah kumiliki.
Aku berjalan menyusuri gudang, merasakan beban hari itu akhirnya jatuh di kedua bahuku. Ini bukan kemenangan. Ini kendali yang direbut kembali.
"Besok aku ingin nama-nama itu diawasi," kataku. "Tanpa keributan. Belum."
Tatiana mengangguk.
"Dan gudangnya?" tanya Dmitry.
"Perkuat keamanan. Ubah jadwal. Mereka akan mengira punya waktu lebih… dan itu persis yang kuinginkan."
Aku keluar dari gudang saat hari sudah dini hari.
Ketika tiba di rumah, semuanya hening. Lampu-lampu temaram, udara terlalu tenang untuk seseorang yang seharian berperang.
Helena sudah tertidur.
Tubuhnya meringkuk miring, rambutnya bertebaran di bantal, napasnya lambat. Aku berdiri beberapa detik di ambang kamar, hanya mengamatinya. Di sanalah hari itu akhirnya berakhir bagiku.
Aku mandi sebentar, membiarkan air membawa pergi beban, nama-nama, keputusan-keputusan yang tak mentoleransi kesalahan. Ketika kembali, kumatikan sisa lampu dan berbaring dengan hati-hati, seakan ia bisa hancur — meski aku tahu ia lebih kuat dari yang ia kira.
Kutarik Helena ke dalam pelukanku.
Ia bergerak secara naluriah, menyatu denganku seakan tahu persis ke mana ia berpaut. Wajahnya menemukan dadaku, tangannya mencengkeram kemejaku dalam gerakan tak sadar.
Aku menarik napas dalam.
Di sanalah duniaku berada.
Sesederhana itu.
Kupejamkan mata, merasakan kehangatannya, irama napasnya yang kukenal, dan kubiarkan kantuk menjemputku.