"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Ayah yang Selalu Ada
Mata Levia membesar. "Perusahaan?"
"Benar," jawab Gultom mantap. "Ayah punya pabrik tekstil. Bahan baku bisa kita ambil dari sana. Kamu bisa mulai dari skala kecil."
Ia menunjuk desain di atas meja. "Produksi terbatas. Cari penjahit dan tim kecil. Kalau produknya bagus, kita pasarkan secara daring ke luar kabupaten."
Levia rasanya tak percaya mendengar perkataan ayahnya itu. "Jadi... Ayah mau bantu aku?"
Gultom tersenyum. "Kenapa tidak?"
"Tapi aku belum punya pengalaman, Yah," jujur Levia.
Di kehidupan sebelumnya, Vivian memang pernah memiliki butik dan bekerja sama dengan sebuah perusahaan. Ia terbiasa membuat desain, mengurus pesanan, bahkan berhadapan dengan klien.
Namun memiliki perusahaan sendiri?
Ia bahkan tidak pernah berani membayangkannya, apalagi memimpikannya.
Selama ini, ia hanya berpikir bagaimana caranya mengembangkan butik yang sudah dimilikinya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu hari akan ada seseorang yang berkata kepadanya,
"Kalau kamu memang serius, buat perusahaan fashion kecil dulu."
"Ayah punya pabrik tekstil. Bahan baku bisa kita ambil dari sana. Kamu bisa mulai dari skala kecil."
Dan orang itu adalah ayah yang bahkan baru dikenalnya setelah berada di tubuh Levia.
"Pengalaman bisa dipelajari." Gultom menatap putrinya dengan penuh keyakinan. "Yang penting kamu punya kemauan."
Levia terdiam. Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa begitu dalam. Di kehidupan sebelumnya, Vivian juga pernah bekerja keras mengejar impiannya. Namun sosok ayah yang ia kenal hanya tahu bagaimana meminta hasil dari kerja kerasnya tanpa pernah benar-benar peduli seberapa besar tenaga yang sudah ia keluarkan.
Tak pernah ada pertanyaan apakah ia lelah. Tak pernah ada kalimat bahwa dirinya mampu. Apalagi dukungan seperti ini.
Sedangkan pria di hadapannya...
Bahkan tanpa ragu menawarkan pabrik miliknya sebagai langkah awal untuk mewujudkan impian putrinya.
Levia menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak. "Levia... kamu punya ayah sebaik ini. Kenapa dulu kamu gak pernah melihatnya? Bodoh banget."
Selama ini Levia begitu sibuk mengejar Vandra sampai tidak menyadari ada seseorang yang selalu berdiri di belakangnya. Seseorang yang bekerja keras bukan untuk mendapatkan pujian, melainkan agar putrinya bisa hidup berkecukupan. Seseorang yang tidak pernah meminta apa pun sebagai balasan.
Mata Levia perlahan memanas. "Ayah..."
"Hm?"
"Terima kasih," ucapnya tulus.
Gultom tersenyum kecil. "Untuk apa?"
"Untuk semuanya." Ia menggenggam tangan ayahnya. "Dan... maaf."
Gultom mengernyit. "Kenapa minta maaf?"
"Karena selama ini aku gak pernah bener-bener menghargai Ayah."
Gultom terdiam.
Levia tersenyum getir. "Ayah udah ngasih banyak hal buat aku, tapi aku malah sibuk ngejer orang yang bahkan gak nganggep aku penting."
Gultom mengusap kepala putrinya penuh kasih. "Jangan pikirkan yang sudah lewat."
"Tapi sekarang aku mau berubah." Levia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mau buat Ayah bangga."
Bibir Gultom kembali melengkung. "Ayah gak butuh kamu jadi siapa-siapa untuk bangga." Ia menggenggam tangan putrinya lebih erat. "Selama kamu bahagia dan menjadi orang baik, itu sudah cukup."
Levia menahan air mata. Dalam hati, Vivian berjanji pada dirinya sendiri. "Kalau di kehidupan sebelumnya aku punya ayah yang selalu menuntut tanpa pernah melihat perjuanganku... maka di kehidupan ini, aku akan menghargai setiap kasih sayang yang diberikan Ayah Gultom."
Air matanya akhirnya menetes. "Dia sudah menghabiskan hidupnya untukku. Sekarang giliran aku membuat hidupnya lebih bahagia."
Gultom terkejut melihat bulir bening itu menetes dari sudut mata putrinya. Tangannya terangkat mengusap air mata putrinya." Kenapa nangis? Ayah gak suka lihat kamu nangis."
Levia menggenggam tangan yang menghapus air matanya itu, lalu mengecup telapaknya. "Aku nangis karena terlalu bahagia. Terima kasih, Yah."
Seutas senyum kembali tersungging di bibir Gultom. "Jangan berterima kasih dulu."
Levia mengerutkan dahinya. "Kenapa?"
Gultom memegang kedua lengan putrinya. "Kalau mau punya perusahaan, kamu harus bekerja keras."
Levia tertawa. "Aku siap."
Gultom ikut tertawa meski matanya berkaca-kaca. "Bagus."
Ia kembali melihat desain-desain di depannya. Dalam hati ia merasa lega sekaligus bahagia. "Teryata putriku bukan lagi gadis yang sibuk mengejar suaminya. Sekarang, bahkan dia memiliki kemampuan, impian, dan masa depan yang gak pernah aku bayangkan."
Beberapa saat kemudian Levia merapikan kembali desainnya. "Kalau begitu aku ke kamar dulu, Yah."
"Iya."
Levia berdiri.
Namun sebelum keluar, Gultom memanggilnya. "Via."
Levia menoleh. "Ya, Yah?"
Gultom tampak ragu sejenak. "Soal Ninis..."
Levia menunggu.
Gultom menghela napas. "Ayah tahu apa yang dia lakukan sudah membuat kamu mengambil banyak keputusan yang akhirnya merugikan dirimu sendiri. Termasuk hubunganmu dengan Vandra."
Levia tidak menjawab.
"Ayah juga sadar, kalau selama ini kamu terlalu percaya padanya sampai hubungan Ayah dan kamu sendiri sempat merenggang." Gultom mengusap wajahnya pelan. "Tapi Ayah gak ingin langsung memecat Ninis."
Levia mengernyit. "Kenapa?"
"Ibunya dulu bekerja untuk keluarga kita. Dia sudah lama mengabdi kepada ibumu dan selalu memperlakukannya dengan baik." Gultom terdiam sebentar. "Setelah ibunya meninggal, keadaan keluarganya juga gak baik."
Levia mendengarkan tanpa menyela.
"Ayahnya pemabuk dan gak bertanggung jawab. Kamu tahu sendiri, dulu Ninis bahkan hampir dijual oleh ayahnya."
Vivian terdiam, ia tahu itu dari ingatan Levia yang tertinggal.
"Selama tinggal di rumah ini, setidaknya Ayah bisa memastikan dia aman. Ayahnya juga gak berani datang dan mengganggunya." Gultom menatap putrinya. "Jadi Ayah masih kasihan."
Levia mengangguk perlahan.
"Tapi..." Gultom melanjutkan dengan nada lebih tegas. "Kasihan bukan berarti Ayah akan membiarkan dia melakukan apa pun."
Pandangan Gultom beralih ke pintu. "Mulai sekarang Ayah akan mengawasinya. Kalau dia benar-benar berubah, Ayah akan tetap memberinya kesempatan. Tapi kalau dia kembali mencoba memengaruhi atau menyakitimu..."
Gultom berhenti sejenak. "...Ayah sendiri yang akan mengambil tindakan."
Levia tersenyum kecil. "Aku ngerti, Yah."
Gultom mengangguk. "Jangan terlalu memikirkan Ninis. Fokus saja pada apa yang ingin kamu bangun."
"Iya." Levia berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh. "Yah."
"Hm?"
"Kalau Ninis memang tetap tinggal di sini, aku gak masalah. Tapi aku gak akan lagi biarin dia ngatur hidupku."
Senyum tipis muncul di wajah Gultom. "Itu yang Ayah harapkan."
Levia mengangguk. "Kalau begitu aku ke kamar dulu."
"Iya."
Levia meninggalkan ruang kerja.
Gultom menatap pintu yang telah tertutup di belakang putrinya. Ia memang belum berniat mengusir Ninis. Bukan karena ia masih percaya sepenuhnya, melainkan karena ia tidak tega membiarkan gadis itu kembali ke lingkungan keluarganya yang buruk.
Namun mulai sekarang, semuanya akan berbeda. Kepercayaan Gultom kepadanya tidak lagi sama.
"Ibunya memang berjasa pada keluarga ini. Tapi jika Ninis kembali menyentuh kehidupan putriku... kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengawasinya."
...✨“Terkadang, seseorang tidak membutuhkan jalan yang mudah untuk menggapai mimpinya. Ia hanya membutuhkan satu orang yang percaya bahwa dirinya mampu.”...
...“Kasih sayang orang tua tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata; terkadang ia berupa kesempatan, dukungan, dan keyakinan bahwa anaknya mampu berdiri dengan kakinya sendiri.”✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄