Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERBANDINGAN YANG SALAH.
Suasana hangat usai makan siang mendadak buyar saat suara langkah kaki memuat ambang pintu depan ramai. Keluarga Royadi, adik kandung dari Ibu Royani, datang berkunjung setelah mendengar dari tetangga mereka bahwa Inayah pulang bersama suaminya. Rumah Paman Yadi memang berada tak jauh, hanya berjarak beberapa blok dari sana.
Sebenarnya Royadi adalah orang yang sangat baik dan penyayang. Namun, masalah besarnya ada pada sang istri, Yatti. Wanita itu punya tabiat buruk yang bikin naik darah: selalu membanding-bandingkan anaknya, Syila, dengan Inayah. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, kecantikan, hingga urusan jodoh.
Di mata Yatti, Syila adalah sosok anak tanpa cela. Padahal, Inayah tahu persis borok sepupunya itu. Saat mereka sama-sama merantau ke kota, Inayah berhasil menembus perusahaan ternama, sementara Syila hanyalah pelayan restoran di siang hari dan bekerja di bar remang-remang pada malam hari. Inayah memilih bungkam dan menyimpan rahasia itu rapat-rapat semata-mata karena Syila pernah menangis memohon padanya agar tidak membocorkannya pada sang bibi.
"Wah, keponakan Paman makin cantik aja nih!" puji Yadi tulus begitu melangkah masuk ke ruang tamu.
Namun, belum sempat Inayah membalas, Yatti langsung memotong cepat dengan nada sewot. "Cantik-cantik tapi takdirnya apes ya, Bang! Coba liat sepupunya tuh, si Syila. Calon suaminya gaetannya mantap, kerja di perusahaan raksasa!"
Yatti menyenggol lengan anaknya yang berdiri dengan gaya angkuh di sampingnya. "Apa Nak nama perusahaannya si Haris itu?"
Syila mendongak bangga. "Dia kerja di Zimraan Group, Mah. Perusahaan paling besar dan bergengsi di kota."
Bara, pengawal pribadi Abiyan yang berdiri tegap di samping kursi roda bosnya, langsung mengernyitkan alis. Ia refleks melirik Abiyan. "Bagian apa dia bekerja di sana, Nona?" tanya Bara memancing.
"Dia Manager Pemasaran di sana, Mas!" sahut Syila pongah.
Abiyan dan Bara kembali saling pandang. Sebuah kilatan satire melintas di mata mereka. Tanpa bersuara, Bara merogoh saku jasnya, merengkuh ponsel, lalu jemarinya menari lincah di atas layar. Tak sampai sepuluh detik, Bara memutar layar ponselnya persis di hadapan Syila.
Di layar itu, terpampang foto seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kepala yang sudah nyaris botak licin.
"Apakah pria bernama Haris ini yang Anda maksud, Nona?" tanya Bara dengan nada sangat tenang namun menghujam.
Mata Syila seketika terbelalak lebar. Wajahnya pucat pasi bagai ditiup angin malam. Sebelum Syila sempat bersuara untuk mengelak, Bibi Yatti sudah menyambar duluan sambil mengibaskan tangannya risih.
"Iiiih! Apaan sih Mas! Bukan pria bandot tua begini! Calonnya Syila itu ganteng, muda, kaya raya! Iya kan, Nak?" tanya Yatti menoleh pada anaknya, meminta penegasan.
Mendapat pertanyaan itu di depan semua orang, tubuh Syila gemetar hebat. Ia menelan ludah yang terasa sekeras batu. "I-iya, Bu..." jawabnya terbata-bata dengan pandangan menunduk tajam.
Inayah dan Abiyan hanya mampu menggelengkan kepala melihat kebohongan bertubi-tubi itu. Syila terpaksa terus menumpuk dusta hanya demi memuaskan rasa gengsi ibunya sendiri.
"Pokoknya calon Syila itu tampan, kaya, dan katanya mau ngadain pesta pernikahan super mewah!" racau Yatti tanpa henti. Matanya lalu melirik sinis ke arah Abiyan yang duduk tenang di kursi roda. "Kagak kaya keponakan kamu ini, Bang! Ganteng sih ganteng... tapi kok cacat, sih? Kasihan amat Nayah dapet laki lumpuh."
Mendengar cemoohan kasar itu, wajah Ayah dan Ibu Inayah seketika memerah menahan murka. Namun, sebelum orang tuanya mengamuk, Inayah sudah maju duluan dengan gaya blak-blakan khasnya.
"Kagak apa-apa cacat, Tante! Yang penting tampan, kaya raya, bukan parasit, dan yang paling penting... dia itu BOS BESAR! Bukan orangnya yang berbadan besar terus kepalanya botak!" sembur Inayah tanpa ragu.
Pfft!
Abiyan dan Bara refleks menutupi mulut mereka rapat-rapat. Keduanya harus berusaha keras menahan tawa yang nyaris meledak mendengar sindiran menohok dan kejam dari Inayah yang menembak tepat ke sasaran.
Sementara itu, Ibu Royani yang napasnya sudah memburu karena emosi tinggi akhirnya meledak. Ia menunjuk adiknya dengan wajah garang.
"YADI! Bawa kagak tuh bini lu pulang sekarang juga, hah?! Kalau kagak, gua putusin lu jadi adik gua sekalian!" ancam Ibu Royani dengan suara melengking.
Royadi, yang memang takut pada kakak tertuanya langsung panik setengah mati. "Iya, Mpok! Iya! Ini Yadi bawa pulang!"
Royadi, langsung melotot pada istri dan anaknya. "Ayo lu pada! Jangan bikin Mpok gua ngamuk! Cepat pulang!" gertak Yadi tegas, menarik paksa tangan Yatti dan Syila keluar dari rumah.
Setelah keributan itu mereda dan langkah kaki mereka menjauh, seluruh orang di ruang tamu mengembuskan napas lega. Ibu Royani mengelus dadanya, lalu menatap Abiyan dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Maaf ya, Nak Byan... Tante Yatti memang seperti itu," ujar Ibu Royani mengusap lengan Abiyan lembut. "Gengsinya setinggi langit, selalu aja nggak mau ngalah dan suka mojokin Nayah."
Abiyan tersenyum tipis, sebuah ukiran senyum yang agak dipaksakan. "Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah terbiasa menghadapi orang-orang seperti itu."
Atmosfer di ruang tamu perlahan kembali tenang. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Pak Pirman, Ayah Inayah, mendadak menatap lurus ke arah kaki Abiyan yang kaku. Wajah pria tua itu berubah menjadi sangat serius dan dalam.
"Tapi ngomong-ngomong, Nak Byan..." Pak Pirman membuka suara dengan nada berat. "Sebenarnya... apa yang terjadi pada dirimu, Nak? Kenapa kamu bisa sampai duduk di kursi roda seperti ini?"
Deg!
Suasana di ruang tamu seketika membeku.
Pertanyaan sederhana itu bergetar bagaikan dentuman meriam yang menghantam kesadaran semua orang di sana. Inayah menahan napasnya, matanya membelalak menatap sang ayah, lalu dengan panik mengalihkan pandangannya pada Abiyan. Bara pun mendadak menegang di posisinya.
Ruangan yang tadinya hangat kini mendadak diselimuti kecanggungan yang menegangkan. Abiyan terpaku. Jemarinya yang bertengger di atas pegangan kursi roda mencengkeram erat. Rahasianya—bahwa kehalangan kakinya adalah sebuah sandiwara besar untuk melindungi diri dari ancaman musuh-musuhnya—kini dipertaruhkan di hadapan mertua yang begitu tulus menerimanya.
Sanggupkah Abiyan berkata jujur, ataukah ia harus kembali menenun kebohongan di tengah keluarga baru yang begitu didambakannya ini?
bersambung...