NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Tanggung Jawab dan Langkah Baru

Suara mesin presisi baja di Lini A pagi itu terdengar seperti irama yang menenangkan bagiku. Tidak ada lagi ketegangan berlebih atau teriakan saling tuding antar-operator. Setelah pengumuman evaluasi bulanan kemarin, atmosfer kerja di area produksi terasa jauh lebih hangat dan solid.

pukul delapan pagi, Pak Bambang memanggilku ke ruangannya. Di dalam, Dion sudah duduk lebih dulu dengan berkas laporan di pangkuannya. Wajahnya tidak lagi segalak minggu lalu, tetapi masih ada sisa-sisa rasa sungkan di matanya saat menatapku.

"Reno, Dion, silakan duduk," panggil Pak Bambang ramah.

Aku duduk di samping Dion, mengangguk pelan padanya sebagai sapaan.

"Manajemen pusat sangat puas dengan hasil evaluasi Lini A," buka Pak Bambang sambil menatap kami berdua. "Namun, kita tidak bisa membiarkan Lini C terus tertinggal. Karena itu, manajemen memutuskan untuk menerapkan sistem pembimbingan. Reno, saya minta kamu mendampingi Dion selama satu bulan ke depan untuk merestrukturisasi metode kerja di Lini C."

Dion berdeham pelan, meremas pinggiran berkasnya. "Pak, apakah ini artinya Lini C berada di bawah kendali Reno?"

"Bukan mengambil alih, Dion," potong Pak Bambang tegas namun bijak. "Ini kolaborasi. Kamu tetap penyelia Lini C, tapi metode pembagian shift, jeda pendinginan mesin, dan pendekatan keselamatan kerja akan mengadopsi sistem yang dibangun Reno."

Pak Bambang lalu menatapku. "Bagaimana, Reno? Apakah kamu keberatan menambah beban tanggung jawab ini?"

Aku menarik napas panjang, mengingat kembali bagaimana dulu aku juga butuh bimbingan saat berada di titik terendah. "Saya siap, Pak. Kita kerjakan sama-sama."

Dion menoleh padaku, matanya memancarkan rasa terkejut yang terselubung. "Terima kasih, Reno. Saya ... saya akan mencoba menyesuaikan diri."

Sore harinya, setelah menyelesaikan rekapitulasi jadwal baru bersama Dion, aku menyempatkan diri mampir ke toko perlengkapan sekolah di dekat stasiun. Minggu depan, Rayan akan mulai masuk ke sekolah barunya di jenjang SMA.

Melihat daftar kebutuhan seragam, buku, dan biaya kegiatan ekstrakurikuler yang cukup panjang, aku tersenyum tipis. Dulu, lembaran tagihan seperti ini pasti membuat kepalaku pusing dan memicu emosiku meluap pada Rayan. Namun sekarang, melihat angka-angka itu, yang kurasakan hanyalah dorongan semangat untuk bekerja lebih keras dan jujur.

Setibanya di kontrakan, aku mendapati Rayan sedang duduk di teras, memotong kain pelapis untuk sampul buku tulisnya.

"Mas Reno sudah pulang?" sapanya sumringah sambil mengambil tas kerjaku.

"Sudah, Rayan. Ini, Mas belikan beberapa buku gambar dan alat tulis tambahan buat persiapan minggu depan," kataku menyodorkan kantong plastik belanjaan.

Mata Rayan berbinar gembira. "Wah, terima kasih banyak, Mas! Nanti biaya pendaftaran ulangnya Rayan bayar besok ke sekolah."

"Tenang saja, biayanya sudah Mas siapkan dari bonus efisiensi pabrik kemarin," balasku sambil mengelus rambutnya hangat. "Tugasmu cuma satu: belajar yang tenang dan gembira."

Malamnya, ketika suasana rumah sudah sunyi dan Rayan telah tertidur lelap, aku duduk di meja kecil kamarku. Ponselku bergetar pelan di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Kareen.

Kareen: Malam, Reno. Bagaimana hari pertamamu setelah kemenangan Lini A kemarin? Apakah Pak Bambang memberi kejutan baru?

Aku terkekeh pelan membaca tebakan jitu dari Kareen. Tanganku dengan lincah mengetikkan balasan.

Reno: Tebakanmu tepat. Aku diberi tugas baru untuk mendampingi Dion merapikan Lini C. Ternyata memimpin perubahan itu tidak berhenti di diri sendiri, tapi juga harus membaginya ke orang lain.

Hanya butuh waktu sebentar hingga pesan balasan Kareen kembali muncul.

Kareen: Itu tanda kalau manajemen melihat kepemimpinan mu punya dampak luas, Reno. Bagikan ketenangan yang sudah kamu punya. Tapi ingat, jangan sampai kamu lupa menjaga dirimu sendiri di tengah kesibukan baru ini, ya.

Reno: Tentu, Kareen. Dan terima kasih sudah selalu jadi tempatku bersandar kalau rasanya mulai melelahkan.

Kareen: Selalu, Reno. Selamat beristirahat.

Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi, memandangi layar ponsel yang perlahan meredup. Tantangan di depan mungkin akan lebih rumit, tetapi aku tahu, langkahku kini sudah berada di jalur yang benar.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!