Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - GUGURNYA SANG RATU
Angin laut pagi yang menusuk tulang terasa seperti pisau es yang mengiris kulit basah mereka. Langit timur mulai berubah warna menjadi abu-abu terang, menandakan matahari sebentar lagi terbit. Tapi bagi Valeria, malam panjang yang penuh darah ini rasanya belum berakhir.
Speedboat hitam doff itu terus membelah ombak dengan kecepatan sedang, menyusuri garis pantai yang jauh dari keramaian kota. Kael berdiri di balik kemudi, matanya yang setajam elang terus mengawasi radar kecil di *dashboard* dan cakrawala di belakang mereka. Kemeja hitam pria raksasa itu sobek di banyak tempat, memperlihatkan perban bahunya yang kini kembali merah pekat oleh darah segar.
Valeria duduk meringkuk di sudut buritan. Ratu mafia yang biasanya selalu tampil sempurna dengan setelan mahal dan lipstik merah menyala itu kini terlihat sangat berantakan. Rambutnya lepek oleh air laut, wajahnya cemong oleh debu mesiu, dan tatapan matanya kosong menatap buih ombak yang ditinggalkan kapal mereka.
"Kita sudah keluar dari radius radar pelabuhan barat, Val. Mereka tidak mengikuti kita," lapor Kael memecah keheningan yang sejak tadi cuma diisi suara mesin kapal.
Valeria nggak menjawab. Tangan gemetarnya merogoh saku dalam jaket taktisnya yang dilapisi pelindung anti air, mengeluarkan sebuah ponsel satelit darurat. Ponsel itu adalah akses terakhirnya ke jaringan informasi bawah tanah kota ini.
Begitu layar ponsel menyala, rentetan notifikasi langsung membombardir layarnya seperti peluru senapan mesin.
Mata Valeria bergerak cepat membaca pesan-pesan yang masuk dari beberapa informan rahasianya yang tersisa. Napasnya langsung tercekat. Dadanya terasa seperti dihantam balok beton berton-ton.
"Kael..." panggil Valeria pelan, suaranya parau dan nyaris hilang ditelan angin laut.
Kael langsung mengunci kemudi *speedboat* dan menoleh, menatap Valeria dengan raut khawatir yang nggak bisa disembunyikan lagi. "Ada apa, Nyonya?"
"Habis... Semuanya habis," gumam Valeria tertawa hambar, tawa yang terdengar sangat miris dan menyayat hati.
Wanita itu membacakan isi pesan dari layar ponselnya dengan suara bergetar.
"Paman Surya baru aja ngeluarin pengumuman darurat ke seluruh petinggi klan dan dewan tetua. Dia bilang... dia bilang aku udah berkhianat. Aku dituduh ngejual rahasia klan ke Viper dan ngebantai pasukan elit kita sendiri di pelabuhan malam ini."
Kael mengertakkan rahangnya kuat-kuat sampai terdengar bunyi gemeretak gigi. "Brengsek tua itu memutarbalikkan fakta."
"Dan tebak apa lagi?" lanjut Valeria, air mata keputusasaan kembali menggenang di matanya. "Dia mendeklarasikan dirinya sebagai Bos Besar yang baru untuk menyelamatkan klan dari kehancuran. Dewan tetua langsung setuju. Semua asetku, semua rekening bank atas namaku, jalur bisnis, rumah aman... semuanya udah dibekukan dan diambil alih. Kode aksesku udah dihapus dari server pusat."
Valeria menunduk, meremas ponsel satelit itu kuat-kuat.
Dalam semalam, kerajaan yang dibangun ayahnya dengan darah dan keringat, kerajaan yang dia pertahankan dengan kekejaman tanpa ampun selama sepuluh tahun, runtuh berkeping-keping. Paman Surya sukses melakukan kudeta paling mulus dalam sejarah dunia bawah.
"Aku resmi jadi buronan, Kael," bisik Valeria dengan tatapan kosong. "Surya masang *bounty* sepuluh juta dolar buat siapa pun yang bisa bawa kepalaku ke hadapannya. Sekarang, bukan cuma Klan Viper yang ngeburu kita... tapi seluruh dunia bawah, termasuk sisa anak buahku sendiri."
Ratu itu akhirnya tumbang. Pertahanan mental Valeria hancur lebur. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat menahan isak tangis yang nggak bisa dibendung lagi. Dia kehilangan kekuasaan, keluarga, dan pasukannya di malam yang sama.
Kael nggak tahan melihat pemandangan itu. Pria itu meninggalkan kemudi, melangkah gontai menghampiri Valeria, lalu berlutut dengan satu kaki di depan wanita itu. Mengabaikan rasa sakit yang membakar sekujur tubuhnya, Kael menarik tangan Valeria dari wajahnya, lalu menggenggam kedua tangan kecil yang dingin itu erat-erat.
"Val, tatap saya," pinta Kael dengan suara baritonnya yang berat, sangat lembut tapi penuh ketegasan.
Valeria membuka matanya yang sembab, menatap pria raksasa berlumuran darah di depannya.
"Klan itu mungkin sudah direbut. Uang dan kekuasaan Anda mungkin sudah dirampas. Tapi Anda belum kalah," ucap Kael menatap lurus menembus jiwa Valeria. "Mahkota Anda tidak terbuat dari emas atau jabatan, Val. Mahkota itu ada di kepala Anda. Selama Anda masih bernapas, Ratu Mafia yang asli belum mati."
"Kamu nggak ngerti, Kael..." isak Valeria menggelengkan kepalanya putus asa. "Kita nggak punya apa-apa lagi! Nggak ada uang, nggak ada senjata, nggak ada tempat sembunyi! Aku bahkan nggak tahu gimana caranya bayar dokter buat ngobatin lukamu itu! Aku cuma beban buat kamu sekarang. Kalau Surya nemuin kita—"
"Kalau dia menemukan kita, saya akan pastikan dia harus melewati mayat saya dulu sebelum bisa menyentuh ujung sepatu Anda," potong Kael mutlak, nadanya sedingin es abadi.
Kael melepaskan satu tangan Valeria, lalu merampas ponsel satelit darurat dari tangan wanita itu. Tanpa basa-basi, Kael meremukkan ponsel mahal itu dengan satu remasan kuat, lalu membuangnya ke laut.
"Hei! Kenapa dibuang?!" protes Valeria kaget.
"Itu barang klan. Surya pasti sudah melacak sinyal GPS-nya. Kita tidak bisa memakai apa pun yang terhubung dengan kehidupan Anda sebelumnya," jelas Kael rasional, kembali ke mode mesin pembunuhnya yang analitis.
Kael berdiri, lalu menarik Valeria agar ikut berdiri. Tangan besar pria itu masih bertengger posesif di pinggang Valeria untuk menjaga keseimbangannya di atas kapal yang bergoyang.
"Mulai detik ini, batas aturan mainnya berubah, Nyonya," ucap Kael menatap tajam ke arah Valeria. "Anda tidak lagi memberi perintah ke mana kita akan pergi, karena semua tempat yang Anda tahu sudah jadi jebakan. Sekarang, biarkan saya yang memegang kendali."
Valeria menatap Kael dengan sedikit terkesima. Seumur hidupnya, Kael selalu mengekor di belakangnya. Menunggu perintah, mengangguk patuh, dan hanya bertindak saat disuruh. Tapi pagi ini, di tengah kehancuran total ini, aura dominasi Kael tumpah ruah menelan segalanya. Ksatria pelindungnya kini mengambil alih kursi kapten.
Dan anehnya, Valeria sama sekali nggak merasa direndahkan. Sebaliknya, dominasi Kael memberikan rasa aman yang luar biasa besar di tengah badai kepanikan yang melandanya.
"Kamu... kamu mau bawa kita ke mana, Kael?" tanya Valeria pelan, nada suaranya secara tidak sadar melunak, membiarkan dirinya bergantung sepenuhnya pada pria ini.
"Ke tempat di mana bahkan radar iblis pun tidak akan bisa menemukan kita," jawab Kael penuh misteri. "Saya punya jaringan dan rumah aman saya sendiri. Tempat yang saya siapkan selama bertahun-tahun tanpa sepengetahuan dewan tetua klan, bahkan tanpa sepengetahuan Anda."
Valeria mengerutkan kening, baru menyadari betapa banyak rahasia yang disimpan oleh pria yang selama sepuluh tahun tidur hanya beberapa ruangan dari kamarnya itu.
Kael melepaskan pelukannya dari pinggang Valeria dengan enggan, lalu kembali ke balik kemudi. Pria itu mengarahkan *speedboat* berbelok tajam menuju sebuah muara sungai tersembunyi yang tertutup oleh rimbunnya hutan bakau di pinggiran kota.
"Kita akan bersembunyi, memulihkan diri, dan menyusun strategi baru," ucap Kael sambil terus mengawasi jalur air yang sempit. Mata elangnya berkilat buas memantulkan cahaya fajar. "Surya pikir dia sudah menang. Biarkan dia menikmati pestanya. Karena saat kita kembali nanti, kita tidak akan datang sebagai mafia yang bernegosiasi. Kita akan datang sebagai hantu yang menuntut nyawa."
Mendengar kata-kata itu, sisa-sisa air mata di wajah Valeria mengering seketika. Keputusasaannya menguap, digantikan oleh bara dendam yang menyala terang. Ya, Kael benar. Ini bukan akhir. Ini adalah babak baru.
Valeria melangkah mendekati Kael, berdiri di sebelah pria itu menatap ke arah muara sungai yang gelap.
"Kita buat dia bayar semuanya dengan darah, Kael. Sampai tetes terakhir," desis Valeria kejam, seringai mematikan kembali menghiasi bibir merahnya.
"Sesuai keinginan Anda, Ratuku," sahut Kael menyeringai tak kalah buas.
Di bawah langit pagi yang mendung, kerajaan mafia lama memang telah runtuh. Namun di atas sisa-sisa reruntuhan itu, aliansi baru yang jauh lebih mematikan baru saja lahir. Bukan lagi antara atasan dan bawahan, melainkan antara dua monster yang siap membakar dunia demi membalaskan dendam mereka.