Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 14
Ayunda memandang benda yang barusan dibanting. Raut wajahnya sungguh tenang, sulit ditebak, tapi kata-kata meluncur dari bibirnya, berhasil membuat sepasang suami istri meradang.
“Kali ini saya menolaknya, sebab tak sesuai dengan isi perjanjian. Dalam satu tahun, pelayanan plus-plus tidak lebih dari tujuh klien. Angka tersebut sudah terpenuhi seminggu lalu,” ucapnya santai.
“Berani sekali kau, Benalu! Di sini kamilah si pemegang kendali!” Serlina langsung memperlihatkan sifat aslinya – mudah tersulut emosi jika berhadapan dengan Ayunda.
“Sayangnya saya berpedoman pada isi perjanjian kita, Nyonya,” sorot matanya berkilat, terdapat getar ejekan.
“Jangan kurang ajar kalau gak mau kedua orang tuamu merasakan akibatnya!” Sarda berdiri di depan si putri, terhalang meja. Matanya penuh kebencian.
Ayunda beranjak, kedua tangan berada di sisi tubuh, masih mempertahankan ekspresi tenang. “Saya mengerti, amat sangat paham jika Anda tipe serakah. Namun, sekali saja kalian melanggar perjanjian sudah disepakati – maka saya tidak akan setengah hati membuat kita sama-sama hancur!”
“Zaman sudah canggih seperti sekarang – hal sulit bisa teratasi hanya dengan menyebarkan isi perjanjian ke jagat raya. Dalam sekejap saja langsung viral, dan ya … kita pasti akan sibuk setelahnya. Dikejar-kejar pemburu berita, saham perusahaan Anda mengalami penurunan, bahkan mungkin – krisis,” ia tidak sedikitpun memutuskan pandangan dengan pria si pemilik alis dan rambut serupa dengannya.
Sejenak Sarda Guntara bergeming, sorot matanya tidak setajam tadi, ada getar samar. Kemudian dia mendengus lalu terkekeh mengejek. “Yakin sekali kau dapat menyentuh Guntara? Sebelum terjadi, dirimu tinggal nama.”
Bibir Ayunda tertarik menciptakan senyum miring, pun mata indahnya memicing. “Saya lebih suka mati dalam keadaan sudah berusaha semaksimal mungkin mencoreng nama yang Anda agung-agungkan. Merasa terhormat, daripada tunduk layaknya orang dungu.”
Kaki kanannya mendorong bangku sampai terbalik, lalu Ayunda melangkah dengan bahu tegak, wajah mendongak. “Saya permisi.”
“Benalu! Tak sampai dua puluh empat jam, bersiaplah mendengar kabar buruk dari kedua orang tuamu!” Serlina mengancam.
Ayunda berhenti, ditatapnya berani wanita yang sekalipun tidak pernah memperlakukan dirinya baik tanpa ada maksud terselubung. “Jika Nyonya berani melakukan hal itu, sama saja menyusahkan diri sendiri. Mereka alasan saya bersedia kalian jadikan manusia paling hina dimuka bumi ini. Coba bayangkan kalau ibu dan bapak saya kenapa-kenapa? Selamat malam nyonya Serlina Guntara.”
Wanita cantik itu benar-benar pergi tanpa menoleh ke belakang.
Guntara menarik tongkat golf yang pernah singgah di betis Ayunda. Sekuat tenaga dia pukulkan ke kaca meja hingga menimbulkan bunyi pecahan nyaring. “Brengsek!”
Serlina sama sekali tidak terkejut, karakter sang suami dan dirinya tidak jauh berbeda. Namun mereka pintar membawa diri, bila di depan publik menampilkan sikap ramah, peduli, sehingga dijuluki pasangan dermawan, berjiwa sosial tinggi.
“Tinggal sebentar lagi perjanjian itu habis masanya. Lakukan sesuatu, jangan sampai dia lepas begitu saja!” ujar Serlina datar.
“Tinggal jual saja ke salah satu kolega yang sudah merasakan tubuhnya,” celetuk si sulung tiba-tiba sudah berdiri di sana. Efendi Guntara sempat mendengar perdebatan sengit tadi.
Sarda melempar tongkat golf, lalu berkacak pinggang, terprovokasi oleh kalimat sang putra. Senyum culas menghiasi bibirnya.
“Cukup cari tahu, pura-pura kembali menawarkan, nanti pasti ada salah satu dari mereka menginginkan dia. Terserah mau dijadikan pemuas nafsu atau dibuat mati sekalian,” ucapnya ringan.
Serlina tertawa kemudian bertepuk tangan. “Putra mama memang bisa diandalkan. Mulailah seleksinya, pilih yang paling membawa keuntungan untuk Guntara.”
Efendi menyeringai, ada dendam berkobar pada sorot mata berkilat.
Keputusan sudah diambil, meskipun tidak bisa lagi memanfaatkan tubuh Ayunda, bukan berarti berhenti membuatnya menjadi mainan mereka.
***
Memasuki pukul delapan malam, Ayunda sudah tiba di apartemennya. Dia langsung menuju kamar mandi, butuh mendinginkan kepala dan mengusir rasa lelah serta cemas.
“Semuanya akan baik-baik saja, benarkan? Mereka gak mungkin berani macam-macam sama ibu dan bapak?” tanyanya pada pantulan bayangan di cermin – dirinya sendiri.
Tubuh tanpa busana Ayunda menggigil, dia diserang rasa panik sampai menggigit kuat bibirnya.
“Tolong yakinkan aku!” pintanya pada bayangan terlihat rapuh, menyedihkan.
Ayunda tidak sekedar menggertak, tapi juga tidak seberani itu bertindak. Ada sang ayah dan ibu menjadi pertimbangannya. Jika cuma dirinya yang mungkin saja akan tinggal nama, tak masalah baginya.
“Jangan bapak dan ibu! Mereka sudah sangat banyak berkorban demi aku sampai tidak lagi bisa ku hitung … hiks hiks,” isakan tangisnya lolos.
Ayunda merosot terduduk di atas lantai kamar mandi, menangis sekencang-kencangnya sambil memeluk lutut. Inilah yang sering dilakukan jika tengah kalut, merasa cemas. Sering meracau seraya menatap pantulannya dalam cermin.
***
“Ayunda!” Dwira berteriak sambil melambaikan tangan, bergegas berlari kecil menyusul sang sahabat yang sudah melewati flap barrier gate. Ia pun menempelkan kartu akses masuk perusahaan memiliki keamanan ketat.
“Aku kangen banget sama kamu, Yunda. Biasanya kita bergosip di kafetaria.” Ira memeluk lengan wanita yang memiliki sembab di bawah mata.
“Dasar ratu gosip,” katanya parau.
“Kamu sakit ya? Suaramu serak.” Dwira memperhatikan wajah lesu Ayunda.
“Biasalah kebanyakan makan gorengan. Kabar apa hari ini yang kamu bawa? Gak mungkin kan sampai rela lari-lari kalau gak ada hal besar?” tebaknya.
Dwira mengambil ponsel pada saku blazer kuning, lalu memperlihatkan sesuatu ke Ayunda. “Nona Syafira kepergok jalan bareng tuan Daksa. Lagi rame banget dibahas di jagat maya, masih anget-angetnya. Mereka tertangkap kamera penggemar tengah liburan ke Malaysia.”
Netra Ayunda menyipit melihat sepasang kekasih berdiri bersisian, tangan di pria menjinjing paperbag dari brand ternama. Tidak ada bergandengan tangan, tapi sudah dapat menjelaskan chemistry kuat diantara mereka. “Foto kapan ini?”
“Semalam,” jawab Dwira cepat.
“Berarti sekarang tuan Daksa masih di Malaysia?”
“Mana aku tahu, kan kamu yang jadi asisten sekretarisnya,” Dwira merasa heran.
“Aku duluan ya, Ra!” Ayunda masuk ke dalam lift terlihat sesak, memaksakan diri tetap ikut.
“Ayunda!” teriakannya sia-sia, pintu lift sudah tertutup.
.
.
Ayunda melangkah cepat setelah keluar dari lift lantai 21, menyapa sebentar seorang security khusus berjaga di area sang direktur utama.
“Mbak, apa bener tuan Daksa liburan di Malaysia?” tanyanya langsung tanpa menyapa.
Yusniar sampai terkejut, tapi tetap menjawab. “Iya.”
“Sekarang beliau masih di sana, ‘kan?”
“Seharusnya masih, jadwal pertemuan dengan investor pagi ini. Kenapa si, Ayunda?”
Yeyyy!
Ayunda mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. “Mimpi apa aku semalam, disaat lesu seperti ini, pas kebetulan gak ada bos. Mbak, pekerjaan kita gak padat banget kan?”
“Ya enggak, kan tuan Daksa sedang di luar.”
Tiba-tiba Ayunda memeluk Yusniar, lalu berbisik membujuk. “Nanti aku izin tidur sebentar ya, Mbak?”
“Kamu lagi gak enak badan?” suara Yusniar terdengar cemas. “Suaramu juga serak loh, Yun?”
“Aku kurang tidur, masih keinget bapak sama ibu, Mbak,” ia memberikan alasan, lalu melepaskan dekapannya.
“Habis bantu periksa laporan sedikit ini, lebih baik kamu tidur sebentar. Bila perlu minum obat.” Yusniar menggeser tumpukan berkas penting.
Ayunda langsung sumringah dan mengangguk. Tanpa banyak bicara, mulai melakukan pekerjaannya agar cepat selesai.
Empat puluh menit kemudian, Ayunda sudah terlelap. Kepalanya beralaskan bantal leher di atas meja, wajah menghadap Yusniar, alas kaki pun di lepas.
.
.
Tuk … tuk … tuk ….
Bunyi ketukan pada permukaan meja itu bernada.
Kelopak berbulu mata lentik mulai membuka secara perlahan, antara sadar dan masih belum sepenuhnya terjaga, Ayunda bergumam lirih. “Pak ... Iyan.”
.
.
Bersambung.
Selia ini nanti kayaknya bakalan jadi pawangnya pak iyan🤭.
Bu Niar...,, mqkn sudah mengetahui sesuatu yang tersembunyi d antara padak dan Yunda...,, tapi qta belum tau apa yang d sembunyikan oleh Dwira🤔.
ini gmn ya
apa karna tau mantunya hamil jd mau menetap
wis mboh lah
tauuu aja🤭
Amran tabarik-Daksa wangsa
daksa ga doyan yang udah di laletin
doyannya yg tertutup kaya Yunda hanya daksa yg buka .
ga kaya kamu di obral di ewer2 ke semua orang,,