Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Dentum dan Asap
Cahaya obor dari tiga geladak kapal perang memantul terang di atas permukaan air laut yang hitam pekat. Bau mesiu menyengat mengudara, bercampur dengan uap garam asin yang menusuk hidung saat puluhan moncong meriam besi di lambung kapal terkunci rapat ke arah gudang garam tua.
Jian Yue berdiri kaku di balik pagar geladak utama. Gaun sutra putihnya berkibar ditiup angin muara, sepasang matanya yang dingin menatap lurus ke arah Ma Huang yang baru saja melangkah keluar dari kegelapan pintu dermaga.
"Serahkan tabung tembaga itu, Ma Huang," suara Jian Yue bergaung nyaring membelah deburan ombak. "Sekte Pedang Suci telah mengepung seluruh muara. Tidak ada jalur darat maupun laut yang bisa kau lewati malam ini."
Ma Huang tidak menyahut. Ia menegakkan tubuhnya di atas papan kayu dermaga yang berdecit kencang. Ibu jari tangan kirinya menggeser sarung Pedang Tulang Hitam, memperlihatkan tiga inci bilah hitam beracun yang mengepulkan asap tipis ke udara malam.
Di samping Jian Yue, seorang pria tua berjubah abu-abu dengan tiga garis emas di lengannya mengangkat tangan kanan. Tetua Agung Pertama Sekte Pedang Suci, Zhao Feng.
"Tembak!" perintah Zhao Feng tanpa keraguan.
Denting pemicu meriam bergema serentak dari lambung kapal terdepan.
Bum! Bum! Bum!
Ledakan mesiu membelah malam dengan gelombang panas membakar. Sembilan bola besi membara meluncur deras menembus kabut laut, menghantam bangunan gudang garam tua hingga kayu-kayu penyangga raksasa itu hancur berkeping-keping.
Percikan api dan pecahan kayu beterbangan ke segala arah. Hantaman bola besi membuat tiang pancang dermaga patah terkoyak, merobohkan separuh lantai kayu ke dalam gulungan ombak hitam di bawahnya.
Sebelum ledakan pertama menghantam tanah, Ma Huang sudah melompat mendatar ke samping. Tubuhnya melayang ringan melintasi tumpukan peti kayu yang terbakar, mendarat di atas tiang pancang terpisah yang setengah tenggelam.
"Kalian bertiga, bawa Kapten Lu menerobos semak bakau di sisi selatan!" teriak Ma Huang ke arah tiga pengawal Serigala Hitam yang merayap di balik reruntuhan karung garam.
Tanpa menunggu balasan, Ma Huang melancarkan langkah bayangan. Aliran Qi beracun dari Inti Bencana meluap di seluruh meridian kakinya, mendorong tubuhnya meluncur kencang di atas bentangan tiang pancang kayu menuju kapal perang paling kiri.
"Hentikan dia!" bentak Zhao Feng dari kapal utama.
Dua puluh murid Sekte Pedang Suci berpakaian seragam biru melompati pagar geladak. Dengan pedang panjang berlapis Qi perak di tangan, mereka meluncur turun menggunakan tali kapal, mendarat beruntun di atas dermaga kayu untuk membentuk barisan barikade pedang.
Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam secara melingkar mendatar saat kakinya menjejak papan dermaga.
Bilah hitamnya membentur tiga pedang perak murid terdepan sekaligus. Bunga api kebiruan memercik terang, diikuti suara retakan halus saat racun Ular Hijau merembes masuk menggerogoti baja pedang musuh. Hawa dingin beracun menjalar kencang menelusuri gagang pedang, membusukkan kulit telapak tangan ketiga murid itu dalam sekejap.
Jeritan kesakitan pecah di barisan depan. Tiga murid itu melepaskan pegangan senjata mereka, memegang pergelangan tangan yang menghitam kaku saat racun menjalar ke lengan.
Ma Huang memanfaatkan celah tersebut untuk merangsek ke dalam formasi. Ia menggeser tumitnya lima puluh derajat ke kanan, membiarkan dua tebasan pedang perak melintas beberapa milimeter di depan dadanya.
Sret!
Sabetan balasan Ma Huang memotong dua leher prajurit di sisi kirinya. Darah segar menyembur basah menghantam baju murid-murid di belakang mereka. Sebelum jasad itu jatuh, Ma Huang menendang dada jasad terdekat ke arah kerumunan musuh, memecah kerapatan formasi barikade pedang Sekte Pedang Suci.
Ujung Pedang Tulang Hitam kembali menari tajam di dalam kegelapan asap mesiu. Ma Huang bergerak menyerupai bayangan hitam yang tidak berwujud. Setiap tebasan pedangnya tidak ditujukan untuk menangkis, melainkan langsung mengincar titik-titik meridian vital di leher, ketiak, dan ulu hati lawan.
Satu per satu murid Sekte Pedang Suci tumbang ke atas lantai dermaga yang berdarah. Racun hitam yang melapisi luka mereka membuat proses kematian berlangsung sangat cepat, menghancurkan jaringan meridian sebelum mereka sempat mengalirkan Qi untuk bertahan.
Dari atas geladak kapal utama, Zhao Feng menatap pembantaian itu dengan rahang menegang kaku. Matanya yang tajam menyadari bahwa aura beracun yang digunakan Ma Huang bukan lagi teknik bela diri Keluarga Ma yang biasa.
"Jalur Darah Pemakan Bencana..." bisik Zhao Feng dengan suara memburu. "Bocah ini telah menyerap racun dari tebing tengkorak!"
Jian Yue melangkah maju ke tepi geladak, cengkeraman tangannya pada pagar kayu membuat buku-buku jarinya menegang. "Tetua Zhao, kita tidak boleh membiarkannya mendekati kapal utama. Kunci peta makam itu ada padanya!"
Zhao Feng mencabut pedang panjangnya sendiri. Bilah pedang berbahan baja meteorit itu memancarkan hawa murni berwarna keemasan yang sangat tajam, menekan bau amis darah dan uap garam di sekitarnya.
"Dua Tetua lainnya, jaga geladak!" perintah Zhao Feng seraya melompat turun dari ketinggian lima puluh kaki.
Tubuh tua itu meluncur bak elang menyambar mangsa. Pedang emasnya membelah udara malam, meluncur deras menukik tepat ke arah tempurung kepala Ma Huang.
Ma Huang merasakannya sebelum pedang itu menyentuh udara di atasnya. Tekanan Qi keemasan tingkat Inti Emas tahap lanjut terasa mengimpit pundaknya bak bongkahan batu raksasa.
Ma Huang menghentakkan kedua kakinya ke lantai kayu, menggeser tubuhnya tiga jengkal ke belakang sambil mengangkat Pedang Tulang Hitam secara melintang di atas kepala.
Tinggg!
Dentang logam berbobot ratusan kati bergema dahsyat di seluruh kawasan muara. Gelombang kejut dari benturan Qi emas dan racun hitam tercipta seketika, menghempaskan puluhan papan kayu dermaga di sekeliling mereka hingga hancur berkeping-keping ke dalam air laut.
Ma Huang terdorong mundur lima langkah, lantai kayu yang dipijaknya terbelah memanjang. Dua aliran darah kehitaman meleleh pelan dari sudut bibirnya akibat benturan tenaga dalam yang sangat keras menghantam Dantiannya yang retak.
Zhao Feng mendarat anggun sepuluh langkah di hadapan Ma Huang. Ujung pedang emasnya menunjuk lurus ke dada pemuda itu tanpa sedikit pun gemetar.
"Ilmu racun murahan tidak akan mampu menembus Qi emas Sekte Pedang Suci, Bocah Ma," kata Zhao Feng dingin. "Serahkan tabung tembaga itu sekarang jika kau ingin mati dengan jasad yang utuh."
Ma Huang menyapu darah di bibirnya dengan punggung lengan baju. Sepasang matanya yang berkilat merah menatap lurus ke wajah tua Zhao Feng tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Ia menjangkau lipatan jubah dalamnya dengan tangan kiri, lalu menarik keluar tabung tembaga kecil berukir lambang kepala serigala yang diberikan oleh Lu Gang.
Dari atas geladak kapal, mata Jian Yue membelalak lebar saat melihat tabung tersebut. "Itu kepingan kunci makam! Tetua Zhao, ambil tabung itu!"
Ma Huang tersenyum sinis, sebuah senyuman dingin yang memancarkan kebencian mendalam.
"Kau menginginkan ini, Jian Yue?" panggil Ma Huang dengan suara nyaring yang menembus gemuruh gelombang muara.
Sebelum Zhao Feng sempat melangkah maju untuk merebutnya, Ma Huang melemparkan tabung tembaga itu tinggi-tinggi ke udara, bergerak melengkung menuju pusaran air deras di muara laut yang dipenuhi oleh tiang-tiang kayu kapal karam.
"Tidakkk!" jerit Jian Yue dari atas geladak.
Zhao Feng membelalak kaget. Tanpa memikirkan ancaman di depannya, Tetua Agung itu memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, melompat tinggi melintasi dermaga demi mengejar tabung tembaga yang melayang menuju kegelapan laut.
Perhatian seluruh pasukan Sekte Pedang Suci terpecah seketika ke arah bayangan tabung tembaga di udara.
Ma Huang tidak menyia-nyiakan satu detik pun dari kekacauan tersebut. Ia tidak berlari mengejar Zhao Feng, melainkan memutar badannya dan melompat ke arah tiang kayu besar bekas gudang garam yang roboh ke dalam air.
Ia membenamkan Pedang Tulang Hitam ke lambung salah satu perahu dayung kecil penjelajah milik musuh yang terikat di bawah tiang, memotong tali pengikatnya dengan satu sabetan kencang, lalu mendorong perahu itu meluncur menembus arus muara yang pekat oleh kegelapan malam.
Dari atas geladak kapal utama, Jian Yue menyadari siasat tersebut terlalu terlambat. "Dia menipu kita! Tembak perahu itu!"
Namun kabut tebal laut dan asap hitam bekas ledakan meriam telah menyelimuti permukaan air muara sepenuhnya, menyembunyikan sosok Ma Huang yang hanyut terbawa arus kencang menuju wilayah perairan luar Kota Yunjiang.