Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENIKAH DENGAN PRIA ASING.
Kecepatan melangkah Inayah pagi itu mengalahkan irama detak jantungnya sendiri.
Di depan gedung Kantor Urusan Agama yang tampak kokoh, Inayah berdiri mematung sambil merapikan gamis polos berwarna cream dan jilbab instan rapi yang kali ini tidak melenceng ke mana-mana. Matanya yang bulat terus melirik jam di pergelangan tangan.
Jam delapan lewat lima puluh menit. Pria itu tidak bohong, kan? batin Inayah cemas.
Kemarin malam, setelah aksi jatuhnya yang sangat memalukan di dermaga, pria bernama Abiyan itu menyuruh asistennya mengantar Inayah pulang dengan mobil hitam mewah, yang Inayah pikir adalah mobil sewaan online. Sepanjang malam Inayah tidak bisa tidur, ketakutan kalau-kalau tawaran menikah itu cuma mimpi atau gurauan orang kaya iseng.
Tepat pukul sembilan kurang lima menit, sebuah mobil sedan hitam berkaca gelap meluncur halus dan berhenti presisi di depan halaman KUA.
Bara, asisten pribadi bersetelan jas ketat yesterday, turun lebih dulu, memutar ke bagasi untuk mengeluarkan kursi roda lipat yang tampak canggih. Tak lama kemudian, pintu penumpang terbuka, dan sosok Abiyan Zimraan muncul. Pria itu bertransisi ke kursi roda dengan gerakan tenang dan terlatih.
Pagi ini, Abiyan mengenakan kemeja putih bersih berkancing rapi hingga dada, dipadu celana kain hitam. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Tampan, wangi, dan memancarkan aura dominan yang sanggup membungkam siapa saja dalam radius lima meter.
"Mas Abiyan!" panggil Inayah, berlari kecil mendekat. Kecerobohannya kumat, ujung gamisnya yang agak panjang sempat terinjak kakinya sendiri hingga ia hampir limbung, beruntung ia berhasil menyeimbangkan diri tepat di depan kursi roda Abiyan.
Abiyan mengangkat sebelah alisnya, mengamati penampilan Inayah dari atas ke bawah. "Setidaknya pagi ini kamu tidak terlihat seperti korban banjir bandang."
Inayah mencibir pelan. "Penampilan saya memang selalu oke kalau tidak kena hujan deras, ya! Btw, Mas benar-benar serius kan? Dokumennya lengkap?"
"Tuan Muda Abiyan tidak pernah main-main dengan ucapannya, Nona," sela Bara datar, sambil menyerahkan sebundel berkas legal dan dua buah map.
Proses di dalam gedung berjalan jauh lebih cepat dari yang Inayah bayangkan. Seolah-olah seluruh jalur administrasi telah dibersihkan dan disiapkan khusus untuk mereka. Di depan petugas dan saksi-saksi resmi yang dibawa oleh pihak Abiyan, ijab kabul diucapkan dengan sangat lancar dan tegas oleh Abiyan dalam satu tarikan napas.
Saat kata "SAH" berkumandang, dada Inayah mendadak berdesir aneh.
Ia resmi menjadi seorang istri. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, ia menyandang status baru bukan dengan Pasya, pria yang ia dampingi tiga tahun, melainkan dengan pria asing berkursi roda yang baru ia kenal beberapa jam lalu di tepi pantai.
Ketika prosesi penandatanganan buku nikah dan penyerahan mahar berupa set perhiasan serta uang tunai yang nilainya cukup fantastis selesai, Inayah dipersilakan mencium tangan suaminya.
Dengan canggung dan napas tertahan, Inayah mengulurkan tangannya, menyentuh jemari Abiyan yang dingin dan kokoh, lalu mendaratkan dahinya pelan di punggung tangan pria itu. Aroma wangi sandalwood dan citrus dari tubuh Abiyan mendadak memenuhi indra penciumannya.
Abiyan sempat tertegun sejenak saat merasakan sentuhan bibir dan jemari hangat Inayah di tangannya. Perlahan, ia mendaratkan telapak tangan kirinya di atas kepala Inayah yang terbalut jilbab, mengusapnya sekali dengan sangat lembut.
"Sekarang kamu resmi jadi istriku, Inayah," bulir suara Abiyan bergetar rendah di telinga Inayah. "Artinya, tidak ada lagi yang boleh merendahkanmu atau menjadikanmu ATM berjalan."
Inayah mendongak, matanya berkedip-kedip menatap Abiyan. Ada rasa hangat yang mendadak melingkupi dadanya. Pria berkursi roda ini... ternyata punya sisi hangat yang tak terduga.
Namun, momen haru itu tak bertahan lama. Baru saja mereka melangkah keluar dari pintu KUA, sebuah mobil sedan perak mendadak berhenti secara ugal-ugalan di tepi jalan.
Pintu mobil terbuka kasar. Sosok Pasya keluar dengan wajah kusut, kemeja tak teratur, dan mata yang merah kurang tidur. Di belakangnya, Bu Rika menyusul dengan wajah panik dan penuh amarah.
"INAYAH!" teriak Pasya menggema di halaman KUA.
Inayah menghentikan langkahnya, memutar tubuh. Alisnya bertaut tajam. Panjang umur sekali benalu ini, batin Inayah jengkel.
Pasya berlari mendekat, lalu matanya melotot lebar saat melihat Inayah berdiri tepat di samping seorang pria di atas kursi roda, sementara di tangan Inayah tergenggam sebuah buku kecil berhaluan hijau-cokelat. Buku Nikah.
"Kamu... kamu benar-benar gila, Inayah?!" suara Pasya memekik panik, matanya tak percaya menatap buku di tangan Inayah. "Kamu menikah?! Sama siapa?! Pria cacat ini?!"
"Jaga mulutmu, Pasya!" tembak Inayah tegas, melangkah maju satu pukulan untuk melindungi posisi Abiyan. Sifat arogannya seketika membumbung tinggi. "Dia suamiku yang sah! Dan dia punya nama, bukan 'pria cacat' seperti yang mulut kotormu itu ucapkan!"
"Inayah, kamu pasti sudah hilang akal!" Bu Rika ikut menjerit histeris, menunjuk-nunjuk wajah Inayah. "Kamu menolak anak saya yang sehat dan tampan demi menikah dengan pria lumpuh di kursi roda?! Kamu cuma mau balas dendam kan?! Kamu mau mempermalukan keluarga kami?!"
"Mempermalukan?" Inayah tertawa sinis, merapikan posisi buku nikahnya di dada. "Nyonya Rika yang terhormat, yang mempermalukan diri sendiri itu kalian! Sudah tidak punya uang, memanfaatkan wanita, eh sekarang malah mengemis cinta! Sadar diri!"
"Inayah, batalkan pernikahan gila ini!" Pasya maju hendak merebut tangan Inayah secara paksa. "Kamu itu cuma emosi! Kamu cuma cinta sama aku! Ayo kita pulang, aku maafkan soal tamparan kemarin..."
Greb!
Belum sempat ujung jari Pasya menyentuh lengan Inayah, Bara sudah menyergap pergelangan tangan Pasya dengan cengkeraman besi yang membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Jangan berani menyentuh Nyonya Muda kami," desis Bara dingin.
Di saat yang sama, Abiyan memutar roda kursinya perlahan ke depan, menyejajarkan posisinya di sebelah Inayah. Ia mendongak, menatap Pasya dengan pandangan meremehkan yang begitu mematikan.
"Kamu yang bernama Pasya?" tanya Abiyan santai, namun auranya membuat udara di sekitar terasa makin berat.
"Si-siapa kamu?! Jangan ikut campur urusan kami!" gertak Pasya mencoba bertahan meski tangannya masih dikunci Bara.
Abiyan menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin. "Aku suaminya. Dan mulai detik ini, kalau kamu atau ibumu berani mendekati istriku sejauh satu meter saja... aku pastikan mobil Hrv milikmu disita siang ini, dan seluruh aset keluarga yang kamu banggakan itu tinggal kenangan."
Pasya membatu. "Kamu... kamu tahu dari mana soal mobilku?!"
Abiyan tidak menjawab. Ia memberi kode lirih pada Bara. Bara melepaskan cengkeramannya, lalu menyerahkan sebuah kartu nama berwarna hitam elegan dengan cetakan tinta emas ke dada Pasya.
Pasya menerima kartu itu dengan gemetar. Saat matanya membaca nama dan jabatan yang tertera di sana, wajah Pasya seketika pucat pasi bagai mayat.
Abiyan Zimraan — CEO Utama Zimraan Group.
Konglomerat raksasa yang memegang lini bisnis properti dan perbankan terbesar di negara ini! Pemilik utama bank tempat Pasya mengajukan pinjaman dana!
"T-Tuan... Zimraan...?" gumam Pasya dengan bibir bergetar hebat, lututnya mendadak lemas sampai ia hampir jatuh terduduk di aspal. Bu Rika yang ikut mengintip kartu nama itu pun langsung bungkam seribu bahasa, menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar ketakutan.
Inayah yang tidak tahu-menahu soal isi kartu nama itu hanya berkedip bingung melihat perubahan reaksi mantan pacarnya yang mendadak seperti melihat hantu.
Abiyan meraih pelan jemari Inayah, menggenggamnya erat di depan mata Pasya dan ibunya.
"Ayo pulang, Istriku," ujar Abiyan lembut, menatap Inayah dengan binar mata yang hangat. "Rumah baru kita sudah menunggu."