Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Baru sepuluh menit Ember menginjakan kaki di dalam Mansion Vitiello. Cinder baru saja direbahkan di atas tempat tidur kamarnya yang hangat dan berselimut sutra.
Ember masih berdiri di samping tempat tidur putrinya, mengusap dahi Cinder seraya mencoba menenangkan degup jantungnya yang belum mereda pasca percekcokan berdarah di pelataran sekolah tadi.
Brak!
Suara benturan keras dari arah lantai bawah menggema nyaring, menggetarkan kaca-kaca jendela mansion yang biasanya sunyi senyap. Suara teriakan pengawal pribadi dan langkah kaki yang berat dan tergesa membakar keheningan mansion.
Ember terperanjat.
Manik matanya membelalak kaget.
Dengan gerakan cepat, ia keluar dari kamar Cinder dan menutup pintunya rapat-rapat. Prilly yang berada di lorong lantai dua berlari menghampirinya dengan wajah pucat pasi.
"Ember! Di luar..." suara Prilly tercekat. "Mereka menerobos masuk! Gerbang utama kita dibobol!"
Ember melangkah cepat menuju balkon melengkung di lantai dua yang menghadap lurus ke arah aula utama. Dan saat matanya menatap ke bawah, napasnya seolah berhenti seketika.
Di aula marmer Mansion Vitiello yang megah, berdiri rombongan manusia yang memancarkan aura intimidasi dan kekuasaan kasta tertinggi di Amerika Serikat.
Draxler Lutolf Ashford berdiri paling depan dengan kemeja abu-abu yang sedikit berantakan dan rahang terkatup keras.
Namun kali ini, ia tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri Kaetos Ashford dan Parrie Ashford—dua penguasa dinasti Ashford yang legendaris—didampingi oleh tiga orang pengacara senior berjas gelap yang membawa tas dokumen tebal, serta dua wanita bergaun jas putih medis yang membawa kotak peralatan laboratorium steril.
"Draxler?!" bisik Ember dengan nada tak percaya. Wajah cantiknya pucat pasi.
Bagaimana bisa mereka tiba di sini hanya dalam waktu sepuluh menit?!
Ember cengkeram besi pembatas balkon, lalu menuruni tangga melingkar dengan langkah anggun namun dipenuhi amarah yang membara. Pengawal pribadi Vitiello yang mencoba menghadang tampak tak berdaya menghadapi barisan pengawal keluarga Ashford yang jauh lebih dominan.
"Apa-apaan ini?!" bentak Ember begitu kakinya menapak lantai dasar aula. Matanya menyala-nyala menatap rombongan itu.
"Kalian membobol properti pribadiku! Beraninya kalian melangkah masuk ke dalam rumahku tanpa izin!"
Draxler melangkah maju dua tapak, melintasi jajaran pengacaranya, menatap lurus ke dalam mata bundar Ember. Sorot mata pria 26 tahun itu tidak lagi hanya memancarkan ancaman dingin, melainkan gejolak perasaan yang amat liar, posesif, namun anehnya... terselip kehangatan yang kekanak-kanakan di balik keputusasaannya.
"Aku sudah katakan padamu di sekolah tadi, Ember," ujar Draxler dengan suara baritonnya yang berat, menggetarkan keheningan aula.
"Aku tidak pernah bercanda soal apa yang menjadi milikku. Dulu kau kabur membawa uang sepuluh juta dolar dan separuh jiwaku... tapi hari ini, saat ada darah dagingku di dalam rumah ini, jangan harap kau bisa mengunciku di luar pintu."
Ember melipat tangannya di dada, mencoba menutupi getaran hebat di tubuhnya. "Keluar dari rumahku, Draxler! Sebelum aku menghubungi kepolisian dan menuntut keluargamu atas tindakan kriminal!"
"Hubungi saja," potong Kaetos Ashford dengan suara dalamnya yang dingin dan berwibawa.
Sang kepala keluarga Ashford melangkah maju seraya mengancingkan jas mewahnya. "Kau bisa memanggil seluruh kepolisian negara bagian ini, Nyonya Vitiello. Tapi sebelum mobil patroli pertama tiba di depan gerbangmu, seluruh aset dan izin operasional Huntington Group sudah kubekukan atas nama hukum federasi."
Ember tersentak, menatap Kaetos dengan tatapan tak percaya. Kekuasaan mutlak yang dipamerkan oleh keluarga Ashford terasa begitu nyata dan menghimpit.
Parrie Ashford—yang tujuh tahun lalu menampar wajah Ember—kini berdiri menatap Ember dengan mata yang berkaca-kaca oleh badai emosi.
Keangkuhan dan kemarahan Nyonya Ashford tujuh tahun lalu kini berbaur dengan dorongan egois seorang ibu dan nenek yang baru saja menemukan kenyataan bahwa cucu kandungnya telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
"Tujuh tahun lalu kau menipuku, Ember," kata Parrie dengan suara gemetar namun sarat akan penekanan yang egois.
"Kau bilang kau hanya memanfaatkan putraku demi uang. Kau membiarkan dirimu dibenci, kau membiarkan putraku hancur dan bersumpah tidak akan pernah menyentuh wanita mana pun seumur hidupnya... dan sekarang kau menyembunyikan darah dagingnya dari kami?!"
"Dia anakku!" pekik Ember, mempertahankan haknya. "Aku yang melahirkannya! Aku yang membesarkannya sendirian saat kalian semua mengutukku!"
"Dan dia adalah cucu kandung keluarga Ashford!" sela Parrie tanpa ragu, egois khas bangsawan bisnis.
"Kami tidak akan membiarkan pewaris darah Ashford hidup tanpa nama dan hak yang seharusnya menjadi miliknya! Jika kami harus menggunakan seluruh kekuasaan, hukum, dan kekayaan dinasti ini untuk merebutnya darimu... maka kami akan melakukannya malam ini juga!"
Ketegangan di aula itu mencapai titik didih. Dua petugas medis wanita bersiap membuka kotak steril sampel DNA, sementara tiga pengacara Ashford sudah mengeluarkan draf surat perintah pengadilan darurat.
Ember mengepalkan tangannya rapat-rapat. Benteng kekuasaan yang ia bangun di Huntington Group terasa begitu rapuh di hadapan kombinasi kekuasaan penuh dinasti Ashford.
Namun di tengah krisis itu, Draxler tiba-tiba melangkah mendekati Ember, memotong jarak antara mereka dan berdiri tepat di hadapan wanita yang dicintainya setengah mati.
Draxler mengangkat tangannya, lalu tanpa peduli pada keberadaan kedua orang tuanya, para pengacara, maupun pengawal di sana, jemari kekarnya yang hangat menyentuh rahang Ember dengan kelembutan yang teramat kontras.
Ember terkesiap, hendak menepis tangan itu, namun Draxler mencengkeram rahangnya pelan, memaksa mata bundar Ember untuk menatap lurus ke dalam manik matanya yang memerah.
"Draxler, lepaskan—"
"Tutup mulutmu sebentar dan dengarkan aku, Ember," bisik Draxler dengan suara rendah yang memikat, hingga membuat dada Ember berdesir hebat.
"Kau tahu kenapa seluruh keluargaku ada di sini malam ini? Bukan hanya karena mereka ingin merebut anak itu... tapi karena putra mereka ini sudah gila."
Ember menatap Draxler dengan alis berkerut bingung di tengah kemarahannya. "Apa yang kau bicarakan?"
Draxler menyunggingkan senyum tipis—senyum konyol penuh kepasrahan yang dulu selalu diperlihatkannya saat mengintil Ember di kampus.
"Selama tujuh tahun aku berpura-pura menjadi pria dingin yang membencimu," ucap Draxler, suaranya mengandung kejujuran yang telanjang dan menyengat.
"Aku membuat kelab malam bernama EMBER hanya agar aku bisa mendengar namamu setiap hari. Aku menolak semua wanita di dunia ini karena setiap kali aku memejamkan mata, aku hanya ingat bagaimana kau mendesah di bawah tubuhku di malam itu..."
"Draxler!" potong Parrie kaget dan agak malu mendengar ucapan putranya di depan publik dan para pengacara.
"Jaga bicaramu!"
Draxler sama sekali tidak memedulikan teguran sang ibu. Matanya tetap terkunci mati pada wajah cantik Ember yang kini memerah padam oleh ucapan yang blak-blakan namun sarat akan cinta yang mendalam.
"...dan hari ini," lanjut Draxler tanpa ragu, merapatkan tubuhnya hingga napas panasnya beradu dengan napas Ember, "saat aku tahu bahwa tubuh indahmu itu melahirkan seorang anak perempuan yang cantik... kau pikir aku akan membiarkanmu kabur lagi? Tidak akan pernah, Ember. Kau bisa mengutukku, kau bisa membenciku... tapi malam ini, tes DNA ini bukan hanya untuk membuktikan bahwa Cinder adalah putriku. Ini adalah bukti bahwa tubuhmu, rahimmu, dan hidupmu sudah terkunci denganku selamanya."
Ember menahan napasnya, dadanya bergemuruh hebat oleh luapan emosi yang bertolak belakang. Logikanya ingin menampar pemuda Ashford yang sangat percaya diri dan konyol ini, namun raga dan hatinya... bergetar hebat oleh romansa liar dan ketulusan yang memancar dari mata Draxler.
"Kau... kau benar-benar pria gila yang tidak punya rasa malu," bisik Ember dengan suara bergetar, air mata keputusasaan dan kehangatan akhirnya menetes di pipinya.
Draxler menyapu bulir air mata itu dengan ibu jarinya, lalu menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di depan bibir Ember.
"Aku memang gila, Ember... gila karenamu sejak hari pertama kau mengejarku di kampus," balas Draxler lembut.
"Jadi jangan bertengkar lagi denganku. Biarkan tim medis mengambil sampelnya. Bukan untuk merebut Cinder darimu... tapi untuk membawamu dan putri kita kembali ke tempat yang seharusnya: bersamaku."
Parrie dan Kaetos yang menyaksikan interaksi itu dari belakang hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.
Di balik kekuasaan egois yang mereka pamerkan untuk melindung putra mereka, mereka tahu persis bahwa di hadapan wanita bernama Marcella Ember Vitiello ini... putra mereka telah menyerahkan seluruh hati dan hidupnya tanpa syarat.