"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Erlangga langsung terkekeh pelan saat mendengar umpatan Kara dari balik pintu. Pria itu segera menghentikan gerakannya yang ingin melepaskan sabuk celana, lalu berbalik dan melangkah pelan menuju pintu.
Tanpa aba-aba Erlangga langsung memutar knop pintu dan menariknya.
Ceklek!
Kara yang masih bersandar pada daun pintu langsung kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya terhuyung ke belakang dengan kedua mata yang terbelalak kaget. Untungnya, dengan gerakan cepat Erlangga langsung menangkap tubuh wanita itu.
Sadar posisi mereka terlalu intim, Kara buru-buru menegakkan tubuhnya kembali. "Ngapain lo keluar?!" ketusnya.
"Katanya lo mau nungguin gue. Kenapa lo malah kabur?"
Kara langsung mendengus kesal. "Ya lo pikir sendiri aja deh! Emangnya lo nggak malu apa, telanjang di depan gue?!"
"Nggak," sahut Erlangga singkat. Pria itu melangkah maju perlahan, membuat Kara otomatis memundurkan langkahnya. "Lagipula, lo kan istri gue sekarang. Buat apa gue malu?" jawabnya dengan binar menggoda.
Deg!
Pipi Kara langsung memanas mendengar kalimat itu.
Karena tidak tahan dengan tatapan Erlangga, Kara langsung maju dan mendorong dada pria itu, berniat memaksa Erlangga untuk masuk kembali ke dalam kamar mandi.
"Jangan banyak omong dan cepat mandi! Gue gerah dan pengen mandi juga, Erlangga!" sentak Kara.
Alih-alih mundur, Erlangga justru bergerak cepat. Ia mencekal pergelangan tangan Kara yang ada di dadanya, lalu melingkarkan tangan yang satunya lagi di pinggang wanita itu, kemudian menarik tubuh Kara hingga menempel pada tubuhnya.
Kara langsung tersentak. Ia mendongak, menatap Erlangga dengan tatapan sengit.
"Kalau lo juga ingin mandi... kenapa kita nggak mandi bareng aja, hmm?" bisik Erlangga tepat di ceruk leher wanita itu.
Kara langsung membelalakkan matanya, ia berusaha memberontak dan mendorong tubuh Erlangga agar menjauh, namun pelukan di pinggangnya justru semakin mengerat.
"Erlangga, lepas! Lo jangan mesum, ya!" teriak Kara.
"Gue nggak mesum, Kara," sahut Erlangga. "Gue hanya sedang meminta apa yang sudah sah menjadi hak gue malam ini."
"Erlangga sadar! Gue ini musuh lo! Kita menikah karena terpaksa! Dan lo nggak mungkin kan nafsu sama..."
Belum sempat Kara menyelesaikan kalimatnya, Erlangga langsung menundukkan kepala dan melumat bibir Kara dengan kasar. Kara terkesiap, tangannya yang masih di cengkeram oleh Erlangga itu perlahan melemas.
Hanya beberapa detik menikmati keintiman itu, Erlangga tiba-tiba menyudahinya. Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Kara, dan hanya menyisakan jarak beberapa senti saja.
Menyadari bibir Kara yang basah dan memerah akibat ulahnya, Erlangga langsung mengusap sudut bibir wanita itu dengan ibu jarinya secara perlahan.
"Kenyataannya, lo itu istri gue sekarang. Dan malam ini, lo sepenuhnya milik gue, Lengkara," bisik Erlangga tepat di depan bibir wanita itu.
Kara langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Otaknya berputar cepat mencari cara untuk menyelamatkan diri dari terkaman singa di depannya ini.
"Erlangga... Tapi hari ini gue... gue lagi datang bulan. Lo nggak mungkin kan tega mau nerkam gue yang lagi lemes gini?" bisik Kara sambil memasang wajah semelas mungkin.
Erlangga langsung menghentikan usapan jarinya di bibir Kara. "Datang bulan?"
Kara langsung mengangguk sambil menatap Erlangga dengan tatapan yang meyakinkan.
"Tahan tujuh hari lagi. Dan gue pastikan, setelah ini selesai, bukan lo yang nerkam gue, tapi gue yang bakal balik nerkam lo."
"Gue nggak percaya," ketus Erlangga.
Menjadi musuh bebuyutannya selama hampir 28 tahun, Erlangga sangat tahu betul bahwa Kara itu adalah penipu yang ulung.
"Lo harus percaya! Gue beneran datang bulan hari ini, baru tadi pagi keluar! Atau... lo mau lihat?!" tantang Kara, padahal dalam hatinya, ia sudah merapalkan doa agar Erlangga tidak mengiyakan.
"Ya, gue pengen lihat," tantang Erlangga balik.
Mata Kara langsung melotot tajam. "Erlangga...!"
"Gue pengen lihat, Kara. Sini," desak Erlangga.
"Erlangga, kenapa lo jadi mesum gini sih?!" sentak Kara.
"Lo sendiri yang nawarin tadi, kenapa sekarang lo yang marah?"
Saat Erlangga sedikit melonggarkan pelukannya, wanita itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kara buru-buru menyentak tangannya dari dada Erlangga dan meronta hingga pegangan tangan pria itu di pinggangnya terlepas.
Setelah berhasil menciptakan jarak aman, Kara langsung menatap Erlangga dengan pandangan nyalang.
"Kenapa lo jadi cerewet gini sih?! Gue tuh lebih suka lo yang jadi batu giok seperti biasanya, daripada jadi manusia yang cerewet dan mesum begini!" omel Kara dengan tangan yang bersedekap di dada.
"Batu giok?" Erlangga langsung mengerutkan keningnya, tampak tidak terima dengan julukan aneh itu.
"Iya! Udah, nggak usah banyak tanya dan cepat mandi!"
Kara kembali melangkah maju dan mendorong kuat tubuh Erlangga ke dalam kamar mandi. Karena posisinya yang sedang tidak siap dan masih bingung dengan julukan aneh dari Kara, tubuh kekar Erlangga akhirnya terhuyung mundur dan masuk kembali ke dalam ruangan tersebut.
Brak!
Begitu tubuh Erlangga sudah sepenuhnya berada di dalam kamar mandi, Kara dengan gerakan cepat langsung membanting pintu kamar mandi dan menguncinya dari luar.
Setelah itu, Kara langsung menyandarkan punggungnya di pintu, lalu menghembuskan nafas panjang. Ia memegangi dadanya yang berdetak sangat kencang, sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
"Untung otak gue lagi encer. Pintar banget sih gue bisa bohongin tuh cowok pakai alasan datang bulan," batin Kara kegirangan, karena ia merasa telah memenangkan ronde pertama pertempuran mereka malam ini.