Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Sampai di Jakarta Ino dan Cia di jemput oleh supir keluarga mereka. Orangtua Ino meminta Cia dibawa ke rumah, makan bersama karena di unit apartemen Cia tidak ada makanan. Di rumah Ino, masih ada oma dan opanya. Cia yang masih kelelahan harus kuat - kuat karena mau bertemu dengan orang - orang kesayangan Ino.
Selesai berkenalan dengan opa dan oma Ino, mereka menikmati makan siang bersama.
"Lalu rencana kalian kapan?" Cia dan Ino saling berhadapan. Semua rencana masa depan mereka sudah dibahas saat berada di desa wisata, desa tradisional Oshino Hakkai di Japan. Rencana tahun ini mereka akan menikah. Dan keputusannya mereka akan menikah di Papua. Orangtua Ino tidak keberatan. Bulan Juli orangtua Ino datang ke Papua dan langsung melamar Cia, sebelum acara pemberkatan. Pembicaraan antara orangtua Ino dan dirinya mendukung setiap rencana Ino anaknya tentang masa depan yang akan dia lalui.
Diamata mami dan papi Ino, Cia adalah perempuan yang mereka idamkan menjadi pendamping Ino anak mereka. Jadi tidak jangung lagi Cia didepan mereka.
"Mulai hari ini, Cia tidak boleh memanggil dokter lagi. Tetapi mami dan papi. Iya kan papi."
"Iya dong." Cia merasa bahagia, memiliki orang tua baru lagi, yaitu calon mertua.
Kepulang Ino ketempat tugasnya di Papua kali ini dengan satu urusan utama yaitu memajukan permohonan menikah. Ino juga datang ke papa Cia untuk menyampaikan rencana pernikahan dirinya dengan anak perempuan mereka. Dan papanya menangis mengetahui bahwa Cia akan di lamar oleh orang baik. Dan saat itu, papanya meminta tolong tantenya Cia untuk membantu mengurus semua rencana ini pernikahan Cia dari acara lamaran nanti sampai pemberkatan. Papa Rudi tahu, bahwa Cia lebih percaya tante dan omnya dibanding papa kandung sendiri.
Semua orang dikesatuan terutama di devisi intel kaget begitu tahu bahwa komandan mereka akan menikah. Dan calonnya adalah Gracia Anastasya, mantan pacarnya Onesimus Max. Bahkan Max saja kaget. Terus terang pernikahan Max dengan Mersi istrinya belum dilandasi oleh cinta, hanya karena tanggung jawab Max yang sudah menghamili sahabat pacarnya waktu itu.
Max lalu meninggalkan kantornya itu, dia menuju ke pantai. Kenyataan yang harus dia terima bahwa perempuan yang dia cintai itu akan menikah.Sebelum rencana ini terjadi, Ino sudah menanyakan hal ini kepada anggotanya Max, yang dia tahu cerita kisah cinta mereka dari orang - orang kompleks. Tidak banyak yang tahu, bahwa sudah dua tahun lebih mereka berpisah. orangtuanya Max dan Cia yang tahu, bahwa Max sudah menghamili perempuan lainnya.
Sementara itu di rumah sakit tempat Cia bekerja, kecurigaan orang - orang di rumah sakit, mulai terlihat, tentang kedekatan Cia dengan dokter Julie dan dokter Wahyu.
Tepat di Mei, Cia pulang ke Biak Papua, dan Ino sendiri yang menjemput kekasihnya. Rencananya Ino dan Cia akan nikah dinas sebelum semua rencana pernikahan akan terjadi. Karena bulan depan Ino dan Cia akan diberkati.
"Kamu siap sayang."
"Siap mas."
Hari senin Kapten marinir Martinus Revelino Rehata bersama Gracia Anastasya akan menghadap ke kesatuan untuk nikah dinas. Selesai apel pagi, Ino ijin untuk menjemput Cia di rumahnya, karena hari minggu kemarin Cia baru tiba dari Jakarta.
Saat sampai di rumah Cia sedang sarapan, maka diajaklah calon suaminya. Om dan tante yang menjaga Cia dari kecil begitu bahagia melihat raut wajah kebahagiaan anak saudara mereka yang di jaga dari kecil.
"Mas sarapan dulu, selesai baru kita ke kesatuan." Ino tersenyum dan ia mengiyakan untuk sarapan bersama calon istrinya.
"Papa dimana sayang?"
"Papa lagi pergi mancing dengan kapal. Mungkin besok papa sudah di rumah." Mendengar jawaban Cia, hati Ino tenang, setidaknya Cia peduli kepada papanya,mengesampingkan luka yang perna dia toreh dan Ino sadar mungkin lama untuk menyembuhkannya.
Selesai sarapan dan membersihkan gigi mereka, Ino dan Cio menuju ke kesatuan. Dalam perjalanan pandangan Ino selalu tertuju kepada Cia yang sedang merias wajahnya tipis - tipis.
"Mas ngak bosen lihat aku terus."
"Ngak lah. Kamu itu sangat cantik dan baik hati."
"Mas lebay deh pagi - pagi."
"Serius sayang, mas tidak menyangka bisa merebut hati kamu. I love you Gracia Anastasya."
"I love you too."
Dalam sidang nikah dinas ini, ada beberapa pasang suami istri juga yang belum nikah dinas, diantaranya ada pasangan Max dan Mersi. Selesai pertemuan pasangan satu - satu, maka saatnya kami semua disatukan. Ternyata kami ada empat pasangan, tiga pasangan sudah menikah secara agama dan negara namun belum nikah dinas dan kami pasangan akan menikah.
Kapten Marinir Martinus Revelino Rehata memasuki ruangan sidang itu sambil mengandeng Cia.
"Mas tahu kamu akan bertanya, tetapi bersabar ya selesai ini mas akan menjelaskan." Cia menatap calon suaminya dengan mengangguk.
Ini pertemuan pertama antara Cia bersama Max dan juga Mersi. Mengingat apa yang perna mereka lakukan kepada dirinya tiga tahun lalu. Namun Cia menatap Ino calon suaminya, lelaki yang mencintai dia. Ino memberi senyuman dan mengusap kepala Cia. Perlakuan Ino ini membuat Max yang masih menyimpan rasa cinta itu cemburu. Ekspresi muka Max saat cemburu di lihat oleh istrinya Mersi dan langsung dicubit suaminya.
Sidang nikah hanya tiga puluh menit. Banyak nasehat dari Komandan yang di sampaikan dan istrinya. Kemudian kami setiap ibu dan calon ibu Jalasenastri diberikan seragam lengkap bersama atributnya pelengkap.
"Karena ketiga pasangan sudah disahkan sebagai suami istri, berarti pengucapan syukurnya nanti saat acara pernikahan Kapten Martinus Revelino Rehata dengan pasangannya satu minggu lagi." Kelakar komandan. Saat itu Max baru tahu bahwa Cia akan menikah satu minggu lagi.
Malam hari dirumah kediaman Max bersama orangtuanya yang masih aktif di kedinasan, Max bertanya tentang pernikahan Cia dan mamanya mengiyakan bahwa Cia akan menikah.
"Kenapa mama dan papa tidak katakan kepada Max."
"Buat apa, kamu kan sudah menikah, sudah ada anak."
"Max masih sayang Cia." Papanya langsung menampar Max.
"Kalau kamu sayang, kenapa kamu melakukan perbuatan tidak menyenangkan itu. Ini pilihan kamu sudah membuat Cia terluka. Kamu tahu papa mau taruh muka papa dimana, waktu melihat Cia dalam kedukaan. Saat itu......"
Cia sangat disayangi oleh papa dan mama Max, apa yang Max perbuat dengan menghamili wanita lain membuat mereka kecewa, namun mereka berusaha menerima perempuan itu karena ada cucu mereka. Max menangis, memohon ampun kepada orangtuanya.
"Kamu harus memohon maaf kepada Cia. Dan melupakan dia. Ingat ada anak kamu dan istri yang kamu pilih." Mersi yang berada di kamar menangis dan marah jadi satu mendengar pembicaraan mereka.
"Aku tidak boleh mengijinkan Max bertemu dengan Cia." Mersi berkata dalam hatinya. Karena dia tidak bisa pungkiri kehadiran Arnold anaknya dengan Max tidak bisa mengubah perasaan cintanya kepada Gracia Anastasya.