NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: YANG TIDAK BISA DIBACA

#

Klinik gigi itu terlalu sunyi untuk pukul sepuluh pagi.

Jack tertidur di kursi di samping ranjang Jeky dengan kepala di atas lengan. Lampu neon di atas mereka masih menyala terang. Kenzo berdiri di jendela lorong dengan rusuk terbalut baru, menatap peta pelabuhan yang tidak lagi ia lihat. Map berinisial *Ginawati* ada di bawah jaketnya, dan ia belum menunjukkannya pada siapa pun selain Silva.

Silva berada di ruang kerja lantai dua. Ia sedang menandatangani izin pemakaman untuk Bram ketika pintu diketuk tiga kali. Pelan. Berjeda.

Ia mengenal ketukan itu.

"Masuk."

Axel berdiri di ambang pintu, hoodie hitam bersih, rambut disisir ke belakang untuk pertama kalinya sejak Silva mengenalnya. Pergelangan tangannya masih terbalut kain putih. Tidak ada tablet di tangannya.

"Arsenio." Silva meletakkan pulpen. "Kamu tidak seharusnya kembali. Kenzo mencarimu semalaman."

Axel menggeleng. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan berdiri tiga langkah dari meja. Tangannya terangkat, lalu turun. Ia tidak ingin memakai bahasa isyarat yang sudah dihafal Kenzo. Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku dan meletakkannya di atas meja.

Tulisan tangannya rapi dan sangat pelan.

*Aku cuma mau bilang satu hal. Setelah itu terserah kamu.*

Silva membaca. Punggungnya tegak. "Katakan."

Axel menarik napas. Dari tenggorokannya keluar bunyi parau yang tidak membentuk kata, bunyi pintu berkarat yang dipaksa terbuka, dan Silva sadar bahwa lelaki ini sedang mencoba bersuara untuk pertama kalinya di hadapan siapa pun selain Kenzo. Wajahnya memerah, urat lehernya muncul di sekitar bekas luka lama, dan ia berhenti.

*Pelan saja,* Silva bergerak tanpa berpikir. Ia berdiri, mengitari meja. *Aku bisa membaca bibirmu.*

Axel menutup mata sebentar. Lalu ia membuka bibirnya, dan tanpa suara, perlahan, ia membentuk empat kata.

*Aku jatuh cinta padamu.*

Silva tidak bergerak. Ia sudah menduga sejak pabrik ikan, sejak melihat cangkir teh berhenti di tengah jalan. Tapi mendengarnya, atau melihatnya, dalam kesunyian ruangan sekecil ini, rasanya berbeda.

*Sejak kamu bilang aku bisa tulis atau ngomong dengan caraku sendiri,* bibir Axel melanjutkan. *Di bukit. Waktu hujan. Kamu pertama yang nggak minta aku pakai mesin.*

"Arsenio..."

*Aku tahu kamu lihat Kenzo. Aku nggak minta kamu pindah ke aku. Aku cuma...* Bibirnya bergetar. *Aku mau kamu tahu ada yang lihat kamu juga.*

Silva menunduk. Dadanya sesak. Ia ingin memberi jawaban yang dingin dan efisien, seperti yang selalu ia berikan. Tapi di hadapan wajah itu, mata merah, rahang gemetar, tangan terkepal di sisi, kata-kata itu tidak mau keluar.

"Aku tidak akan berbohong padamu," katanya akhirnya. Pelan. Jujur. "Kamu orang paling jujur yang kukenal di ruangan ini. Itu sebabnya aku harus bilang ini dengan benar."

Axel menunggu.

"Aku tidak bisa. Bukan karena kamu kurang. Kamu cerdas, kamu setia, kamu satu-satunya yang membuka mataku soal Bram sebelum terlambat." Suaranya melembut. "Tapi hatiku sudah ada di tempat lain. Aku tidak memintanya. Aku bahkan tidak menyukainya. Tapi itu terjadi."

*Kenzo.*

"Ya."

*Dia nggak tahu.*

"Aku tahu. Dan aku tidak akan memberitahunya."

*Kamu mau nunggu orang yang nggak lihat kamu?*

"Aku tidak menunggu." Silva menatapnya lurus. "Aku hanya... berdiri di sebelahnya. Itu cukup."

Hening. Axel menunduk. Bahunya naik turun sekali, dua kali. Ia mengambil kertas di meja, melipatnya kecil-kecil, dan menyelipkannya kembali ke saku, sangat teliti, seperti orang yang menyimpan sesuatu supaya tidak tercecer.

*Terima kasih sudah jujur.*

"Axel..."

*Aku nggak marah sama kamu.*

Ia berbalik menuju pintu. Tangannya berhenti di gagang.

*Aku marah karena aku tahu kamu bener.*

---

Axel tidak langsung pergi. Ia berjalan ke lorong belakang klinik, tempat jendela kecil menghadap gang sempit. Di kaca itu ia melihat pantulan Kenzo di ujung lorong yang berlawanan, sedang berbicara dengan Dante, tangan menekan rusuk. Kenzo tidak melihatnya.

Ia hampir memanggil. Tangannya sudah terangkat.

Lalu ia mengingat semuanya sekaligus.

Victor yang tahu namanya selama dua puluh tahun dan tidak pernah mengatakannya. Peluru yang ditembakkan Kenzo di lorong rumah Budiawan. Tiga puluh satu detik di kamera klinik: Kenzo memasang plester di pelipis Silva dengan ibu jari yang tidak pernah ia gunakan sehalus itu pada siapa pun. Dan setiap malam sepanjang dua puluh tahun, Axel yang duduk menjaga di luar, di balik layar, di ruang server, mendengarkan napas Kenzo di earpiece, dan tidak sekali pun ditanya apakah ia juga ingin berdiri di dalam.

*Yang jaga di luar. Selalu aku.*

Ia menurunkan tangannya. Dari saku ia mengeluarkan kancing manset emas hitam yang ia ambil dari Bram. Ia menggenggamnya sampai tepinya menekan telapak, lalu menyelipkannya kembali.

Di ujung gang, sebuah mobil hitam menunggu. Pengemudinya tidak keluar. Jendela belakangnya turun sedikit, dan sebuah tangan bersarung putih menyodorkan sesuatu.

Sebuah kartu perak. Tidak ada tulisan, hanya sebuah mahkota kecil yang timbul di tengahnya.

Axel menatapnya lama. Di bawah mahkota itu ada satu baris yang ditulis dengan tinta hitam.

*Namamu yang asli ada di kaleng itu. Aku tahu. Kamu sudah membacanya. Tinggal satu pertanyaan: apakah kamu mau mendengar sisanya dari orang yang tidak pernah berbohong padamu.*

Axel tidak membalas. Tapi ia membuka pintu belakang mobil dan masuk.

Di dalam, dalam bayangan, seorang lelaki bertopeng perak bermahkota duduk dengan tangan bertumpu di atas tongkat. Di sampingnya, gadis ramping bertopeng mawar menatap lurus ke depan, tanpa gerak, tanpa napas yang terlihat.

"Arsenio," kata Lord King. Suaranya rendah dan tenang, sengaja diubah. "Kamu datang sendiri."

Axel mengetik di tablet cadangan yang ia bawa. *Aku mau tahu.*

"Itu satu-satunya syarat yang kuminta." Topeng perak itu menoleh sedikit. "Dan kamu akan tahu. Semua. Tapi ada satu hal yang harus kamu lakukan dulu."

*Apa?*

"Berhenti melindungi orang yang tidak pernah melindungimu."

Axel menatap bayangannya sendiri di kaca jendela mobil. Mesin menyala, dan kendaraan itu bergerak pelan meninggalkan gang tanpa menyalakan lampu.

---

Di lantai dua, Silva masih berdiri di tempat Axel meninggalkannya. Lama sekali. Ia mengambil mantel di sandaran kursi dan baru sadar mantel itu masih di Raden, di bawah kain putih di sebuah kamar jenazah. Ia mengambil jas biasa dan mengenakannya tanpa merapikan kerahnya.

Dari jendela, ia melihat mobil hitam keluar dari gang di bawah, terlalu sunyi, terlalu mulus. Dahinya mengerut.

Ia membuka laci, mengeluarkan telepon kecil, dan menghubungi satu nomor yang belum pernah ia hubungi sendiri.

"Jack. Di mana Axel?"

"Axel? Dia nggak di sini, Kak. Kenapa?"

Silva menutup mata. Telinganya berdenging pelan.

Pintu ruang kerja dibuka. Kenzo berdiri di sana dengan jaket di bahu, tidak mengetuk. Wajahnya letih, tapi matanya tajam.

"Aku cari kamu. Aceng nemu sesuatu di buku besar." Ia berhenti. "Kenapa wajahmu begitu?"

Silva menatapnya. Ada empat kalimat yang bisa ia ucapkan. *Axel baru di sini. Dia mengaku sesuatu. Dia pergi.* Ia memilih satu yang lain.

"Axel ke sini barusan."

"Mana dia?"

"Dia sudah pergi." Ia menelan ludah. "Kenzo. Aku rasa dia ada di pihak mereka sekarang."

Kenzo tidak bergerak. Wajahnya yang kelelahan perlahan mengeras. Dari lorong, suara Aceng berteriak panik.

"Kak! Kak Kenzo! Kak Silva! Cepat ke layar! Ada siaran dari pelabuhan!"

Mereka turun. Di dinding ruang belakang, layar menayangkan rekaman kamera dermaga selatan yang berhasil dibobol Aceng. Kabut tipis, bangkai Sri Mandala yang masih berasap, dan di ujung dermaga, dua siluet bertopeng perak berdiri berjajar.

Seseorang berjalan keluar dari kabut dan berdiri di sisi mereka. Hoodie hitam. Rambut disisir ke belakang. Tangan kiri berbalut kain putih.

Aceng menahan napas. Jack berdiri membeku di ambang pintu.

Di layar, Lord King mengangkat satu tangan bersarung putih dan meletakkannya di bahu Axel. Gadis bertopeng mawar menoleh, pelan, dan menatap lurus ke kamera. Dari balik lubang mata topeng itu, hanya satu hal yang terlihat jelas: cara kepalanya miring sedikit ke kiri sebelum menunduk, kebiasaan kecil yang membuat Silva berhenti bernapas tanpa tahu kenapa.

Lalu Axel mengangkat tangan dan membuat satu isyarat ke arah kamera, tenang, tegas, tanpa gemetar. Hanya Kenzo yang bisa membacanya.

*Aku tidak jaga di luar lagi.*

Layar padam.

Ruangan itu hening. Jack menatap Kenzo. Silva menatap Kenzo. Aceng menatap tangannya sendiri.

Kenzo berdiri lama dengan satu tangan menekan rusuk, dan untuk pertama kalinya sejak Victor mati, Silva melihat bahwa lelaki itu tidak tahu harus marah atau runtuh.

"Dia bilang," kata Kenzo akhirnya, sangat pelan, "bukan lagi."

Tidak ada yang berani menyahut.

Di luar, di Kota Tua yang mulai ramai, seorang gadis berkoper kecil turun dari taksi bandara di depan sebuah toko buku tua. Rambut hitamnya sebahu, wajahnya tenang, anggun, dan sangat pendiam. Ia menatap papan nama yang digantung miring di atas pintu, *Yayasan Buku Pelabuhan*, dan menarik napas dalam-dalam seperti seseorang yang akhirnya sampai di tempat yang sudah lama ia cari.

Ia menyentuh gagang pintu. Di dalam tasnya, terselip selembar foto gosong dari sebuah vila di lereng bukit Sarvenna, dengan satu nama di bagian belakang.

*Ayah.*

---

*Bersambung. Kita diskusi dulu sebelum bab 31.*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: inget sesuatu yang meleleh... tempat romantis dengan seseorang... 🥰🥰
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!