NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGAKUAN VANIA

Keheningan di kamar itu terasa seperti tali yang ditarik terlalu kencang.

Laras berdiri pelan dan menarik Mira ke sudut ruangan, memberi ruang bagi pasangan itu. Dari balik tirai, ia kembali menatap ke ujung gang. Mobil sedan hitam itu masih di sana, lampunya mati, bayangannya menyatu dengan gelap.

"Mereka mengawasi," bisiknya.

"Aku tahu," jawab Mira. "Tapi mereka belum masuk lagi. Mungkin menunggu perintah."

"Atau menunggu Dimas."

Mira tidak menjawab. Mereka berdua tahu, tanpa perlu mengatakannya, bahwa belum ada kabar apa pun dari gudang itu.

Di belakang mereka, suara Vania terdengar, pelan dan patah-patah.

"Aku mengenal Dimas dua tahun lalu, Mas."

---

Reza duduk bersandar di tepi ranjang dengan perban di pelipis dan surat wasiat tergenggam di pangkuannya. Ia tidak memotong. Ia tidak menatap istrinya. Pandangannya jatuh ke lantai, ke satu titik yang tak berarti.

Vania bercerita dari awal, tanpa menutupi apa pun. Pertemuan di Surabaya. Pesan-pesan yang makin sering. Kesepiannya, yang ia akui dengan wajah memerah malu. Gelang perak dari seseorang berinisial R, yang ternyata dikirim Dimas atas perintah Rudi untuk mengikat kesetiaannya. Rumah nomor 14 yang diarahkan padanya. Perintah mendekati Laras. Kebohongan tentang kakak yang sakit di Surabaya.

Setiap kalimat jatuh seperti batu ke dasar sumur, dan Laras bisa melihat bahu Reza mengencang setiap kali.

"Dan hotel itu?" tanya Reza akhirnya. Suaranya datar, nyaris tanpa nada.

Vania memejamkan mata. "Aku bersamanya. Dua malam."

Tak ada ledakan. Tak ada bentakan. Reza hanya mengangguk, seperti seseorang yang baru saja membenarkan angka dalam hitungan yang sudah lama ia takuti.

"Kamu mencintainya?"

"Tidak." Jawaban itu keluar cepat, hampir putus asa. "Mas, aku nggak pernah mencintainya. Aku cuma... aku merasa kosong. Dan dia mengisi kekosongan itu dengan kebohongan, dan aku membiarkannya karena aku terlalu takut mengakui bahwa rumah kita sendiri sudah sunyi."

"Rumah kita sunyi," ulang Reza pelan.

"Karena Mas selalu kerja. Selalu lelah. Aku nggak bilang itu salah Mas. Aku cuma..." Vania menekan telapak tangan ke mulutnya, bahunya terguncang. "Aku yang salah, Mas. Aku yang memilih jalan itu. Aku nggak pantas minta dimaafkan."

Reza mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak pengakuan itu dimulai, ia menatap istrinya langsung. Matanya basah, tapi suaranya tetap tenang, tenang dengan cara yang menyakitkan.

"Delapan tahun, Vania."

"Aku tahu."

"Aku pikir kita bahagia."

"Aku juga pernah pikir begitu."

Keduanya terdiam. Di antara mereka tergeletak delapan tahun yang retak, dan tak seorang pun berani menyentuh pecahannya.

Laras memalingkan wajah. Ia merasa seperti menyaksikan sesuatu yang bukan bagiannya, namun juga merasa bahwa pemandangan itu adalah cermin yang kejam, memperlihatkan luka yang sama persis dengan yang ia bawa sendiri.

Reza menarik napas panjang. Ketika bicara lagi, suaranya lebih pelan dan lebih dalam.

"Aku nggak bisa memaafkanmu malam ini, Vania. Mungkin juga besok. Aku nggak tahu apakah suatu hari aku akan bisa." Ia mengusap wajah dengan telapak tangan. "Tapi aku juga nggak akan membiarkan kamu menghadapi orang-orang itu sendirian. Mereka masuk ke rumah kita. Mereka menyentuh anak orang lain di bawah atap kita. Apa pun yang terjadi di antara kita, itu urusan kita. Mereka nggak punya hak."

Vania menangis tanpa suara. Ia mengangguk, berkali-kali, tak sanggup menjawab.

"Berhenti menangis dulu," kata Reza, nyaris lembut. "Kita butuh kepalamu jernih."

---

Mira mengambil alih percakapan dengan kecekatan seseorang yang terbiasa menghadapi krisis.

"Dengar," katanya, menarik kursi dan duduk di hadapan mereka bertiga. "Ada tiga hal yang harus kita lakukan. Satu, wasiat ini harus diamankan malam ini juga. Dua, bukti-bukti tentang Rudi harus sampai ke pihak berwenang sebelum dia sempat menghapus jejak. Tiga..." Ia ragu sejenak, melirik Laras. "Kita harus tahu apa yang terjadi pada Dimas."

Ruangan kembali hening.

"Wasiat asli ini punya kekuatan hukum, tapi hanya jika dibawa ke notaris yang menerbitkannya atau ke pengadilan dengan prosedur yang benar," lanjut Mira. "Aku kenal seorang jaksa, Pak Hendarto. Dia sudah dua tahun menyelidiki Rudi dan kekurangan bukti. Wasiat ini, ditambah rekaman Dimas, bisa jadi kunci. Tapi aku harus menghubunginya langsung, dan ponselku mungkin sudah disadap."

"Pakai ponselku," kata Reza. "Rudi nggak tahu nomorku."

"Bagus."

"Dan malam ini kita semua tidur di mana?" tanya Vania lirih. "Mereka tahu rumah ini. Mereka tahu rumah Mbak Laras."

Laras sudah memikirkannya sejak tadi. "Kita tidak tidur di sini. Ada rumah ibuku di pinggiran kota, jauh dari sini. Rudi tidak tahu soal itu. Dimas pun hampir tidak pernah ke sana."

"Perjalanannya lama?"

"Satu jam. Kalau berangkat sekarang, kita sampai sebelum tengah malam."

Mira mengangguk. "Bagus. Kamu bawa Kenzo. Reza, kamu bisa menyetir?"

"Bisa." Reza bangkit perlahan, meringis menahan nyeri di kepalanya. "Pakai mobilku. Bawa semua dokumen."

Mereka bergerak cepat. Mira mengumpulkan map dan perekam suara. Vania mengemas barang-barang penting dari rumahnya lewat pintu belakang, dengan Reza berjaga. Laras membangunkan Kenzo dengan lembut, menyelimutinya dengan jaket, dan membopongnya dengan satu lengan sambil menyambar tas berisi dokumen keluarga dengan lengan lainnya.

"Mama, kita mau ke mana?" gumam Kenzo setengah tidur.

"Ke rumah Nenek, Sayang. Kita nginap di sana."

"Papa ikut?"

Laras terdiam sepersekian detik. Lalu menjawab, sesuatu yang bukan kebohongan dan bukan sepenuhnya kebenaran, "Papa menyusul nanti."

Ia mengecup rambut anaknya, menyembunyikan mata yang berkaca-kaca.

---

Mereka baru saja sampai di pintu depan ketika ponsel Laras bergetar.

Layar menyala, dan nama yang tertera membuat seluruh darahnya berhenti mengalir.

**Mas Dimas.**

Ia menatap layar itu seperti menatap hantu. Mira dan yang lain berhenti serentak, menoleh padanya.

"Dimas?" bisik Vania.

Laras mengangguk kaku, lalu menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga dengan tangan gemetar.

Tak ada suara. Hanya desis samar dan napas berat, seperti seseorang sedang berdiri sangat dekat dengan alat perekam.

"Mas?" bisik Laras. "Mas Dimas?"

"Bu Laras."

Bukan suara suaminya. Suara itu rendah, halus, dan terlalu tenang. Suara yang siang tadi duduk di sofa ruang tamunya dan menawarkan teh.

Rudi.

"Maaf mengganggu malam-malam," lanjutnya ramah. "Saya hanya ingin memberi kabar. Suami Ibu bersama saya sekarang. Dia baik-baik saja. Untuk sementara."

Laras menggenggam ponselnya sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya tersendat. "Apa yang Bapak lakukan padanya?"

"Belum ada. Tapi saya orang sabar, Bu. Dan kesabaran saya punya batas." Terdengar bunyi gemerisik, seperti seseorang bergerak di ruangan yang sunyi. "Saya ingin menawarkan pertukaran yang adil. Surat wasiat itu untuk suami Ibu. Satu untuk satu. Besok pukul sepuluh pagi. Tempatnya akan saya kabari."

"Bagaimana saya tahu dia masih hidup?"

Jeda. Lalu suara lain terdengar, jauh dan lemah, seperti dari dasar sumur.

"Ras... jangan..."

Hanya itu. Kalimat itu terputus oleh bunyi pukulan dan erangan tertahan.

"Mas!" jerit Laras.

"Cukup." Suara Rudi kembali, tetap tenang. "Sampai besok, Bu Laras. Dan tolong, jangan libatkan polisi. Saya sangat tidak suka kejutan."

Sambungan terputus.

Laras berdiri membeku, ponsel masih menempel di telinga. Di sekelilingnya, tak seorang pun bergerak. Kenzo menggeliat dalam gendongannya, bergumam, "Mama..."

Reza meletakkan tangan di bahunya, hangat dan mantap. "Mbak."

Laras menoleh. Matanya kering, tapi di dalamnya ada sesuatu yang telah berubah, sesuatu yang dingin dan sangat mantap.

"Dia menculik suamiku," katanya pelan. "Dan dia mengancam anakku."

Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu, Mira, Vania, Reza. Tiga orang yang beberapa hari lalu adalah lawan, sahabat, dan orang asing. Kini mereka berdiri di sisinya, terikat oleh luka yang sama.

"Kalau begitu," katanya, "kita tidak menunggu sampai besok."

Di luar, mobil sedan hitam itu masih menunggu dalam gelap, tak tahu bahwa perempuan yang dulu terlalu polos telah berhenti menjadi korban.

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!