NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - Kiai Hasyim Kecewa

Kiai Hasyim itu kalau sudah diam lama, tandanya lagi berpikir berat. Kalau sudah memanggil dengan kalimat "Jay, ke ndalem sekarang," tandanya masalahnya sudah tidak main-main.

Sore itu, habis Ashar, Jay lagi mengajar kitab kecil di kelas putra. Tiba-tiba santri ndalem datang, berbisik, "Gus, dipanggil Kiai di ndalem."

Jay langsung tahu. Pasti soal gosip itu.

Di ndalem, Kiai Hasyim duduk di kursi kayu. Di depannya ada teh yang sudah dingin, tidak diminum. Wajahnya datar, tapi matanya tajam. Nyai Maryam duduk di samping, mukanya khawatir.

"Abi," Jay salam, cium tangan.

"Duduk," kata Kiai Hasyim pendek.

Jay duduk. Jantungnya berdegup kencang.

Kiai Hasyim diam dulu beberapa detik.

"Jay, Abi dengar gosip di luar. Katanya kamu dekat dengan santri putri. Katanya kamu kasih payung langsung pas hujan. Katanya kamu sering rapat berduaan dengan Muthi'ah. Benar?"

Jay langsung ingin menjawab, tapi Kiai Hasyim mengangkat tangan, menyuruh dengarkan dulu.

"Abi titip pesantren ini ke kamu bukan cuma bangunannya, Jay. Tapi namanya. Kehormatannya. Kamu itu putra pengasuh. Semua mata melihat kamu. Kalau kamu tidak bisa menjaga diri, bagaimana santri lain mau percaya dengan aturan pesantren?" kata Kiai Hasyim. Suaranya tidak keras, tapi menusuk. Kecewa.

Jay menunduk. Tangannya mengepal di atas lutut.

Nyai Maryam melirik Jay, memberi kode agar sabar.

Jay menarik napas panjang.

"Abi, maaf. Boleh saya jelaskan dulu?"

Kiai Hasyim mengangguk, "Jelaskan."

"Gosip itu tidak benar, Bi. Saya tidak pernah kasih payung langsung ke Muthi'ah. Waktu hujan kemarin, saya ambil payung, tapi saya suruh Jungwon yang mengantarkan ke depan pintu aula. Saya menunggu di teras ndalem. Rapat Haflah juga, saya tidak pernah berduaan. Selalu ada Zahra dan Jungwon. Semua lewat Ustazah Khadijah. Saya sudah minta Ustazah untuk evaluasi lagi semua tugas putra-putri biar tidak jadi fitnah," kata Jay, suaranya bergetar sedikit, tapi tetap sopan.

Kiai Hasyim diam, mendengarkan.

"Tapi saya dengar gosipnya sudah menyebar, Bi. Dan yang disalahkan Muthi'ah. Dibilang cari muka. Padahal dia tidak salah apa-apa, Bi. Dia hanya jadi koordinator Haflah karena ditunjuk Ustazah," lanjut Jay.

Kiai Hasyim masih diam.

Jay mengumpulkan keberanian yang sisa.

"Abi... saya tidak ingin Muthi'ah terluka karena janji kita."

Ruangan langsung hening.

Nyai Maryam kaget. Kiai Hasyim mengangkat kepala, menatap Jay lekat-lekat.

"Apa maksud kamu?" tanya Kiai Hasyim, nadanya berubah.

Jay, untuk pertama kalinya, berani menatap balik mata Abi-nya, meskipun matanya berkaca-kaca.

"Janji Abi dengan ayah Muthi'ah waktu kita masih bayi... saya hormat, Bi. Tapi janji itu yang membuat orang mengira saya dengan Muthi'ah ada apa-apa. Padahal kami hanya berusaha kenal dengan adab. Saya takut, Bi, kalau gara-gara janji itu, Muthi'ah yang harus menanggung malu. Difitnah, disurat-surati, dijauhi temannya. Padahal dia tidak salah," kata Jay. Panjang. Jujur.

Kiai Hasyim terdiam lama.

Nyai Maryam akhirnya membuka suara, pelan, "Abi, Jay benar. Saya juga dengar Muthi'ah dapat surat tidak enak di kelas. Kasihan anaknya."

Kiai Hasyim mengelus jenggotnya. Wajahnya yang tadinya keras, pelan-pelan melunak, tapi masih ada kecewa di situ.

"Jay, Abi mengerti kamu mau menjaga Muthi'ah. Tapi kamu juga harus mengerti posisi Abi. Abi janji dengan sahabat Abi. Janji itu hutang," kata Kiai Hasyim.

"Saya tahu, Bi. Muthi'ah memang anak baik. Makanya saya tidak mau dia terluka. Kalau memang jodoh, biarkan kami kenal pelan-pelan dengan cara yang benar, bukan karena dipaksa janji terus jadi bahan gosip," jawab Jay.

Itu pertama kalinya Jay bicara sepanjang itu, membantah Abi-nya tapi tetap pakai adab.

Kiai Hasyim berdiri, jalan ke jendela, melihat halaman pesantren yang sudah mulai sepi.

"Abi kecewa, Jay. Bukan karena gosipnya. Abi kecewa karena kamu baru bicara sekarang. Kenapa tidak dari awal kamu bilang kalau kamu keberatan dengan cara perjodohan ini? Kenapa kamu diam saja pas Abi bilang 'saya laksanakan'? Abi kira kamu setuju," kata Kiai Hasyim, suaranya pelan, terdengar lelah.

Jay juga berdiri, tapi tetap jaga jarak.

"Maaf, Bi. Saya takut mengecewakan Abi. Dari kecil saya diajari untuk nurut. Jadi pas Abi bilang soal Muthi'ah, saya otomatis bilang laksanakan," kata Jay.

Retak.

Itu kata yang paling pas untuk menggambarkan sore itu di ndalem.

Bukan retak yang pecah berantakan, tapi retak kecil antara ayah dan anak. Retak pertama. Karena untuk pertama kalinya, anak yang selalu nurut, berani bilang, "Abi, saya punya mau sendiri."

Nyai Maryam berdiri, di tengah-tengah mereka.

"Sudah, sudah. Dua-duanya sama-sama sayang, cuma caranya beda. Sekarang sholat Maghrib dulu. Dinginkan kepala dulu," kata Nyai Maryam.

Kiai Hasyim mengangguk pelan, "Ya sudah. Kamu balik ke asrama. Abi mau berpikir dulu."

Kiai Hasyim mengambil teh dingin di depannya, menyesapnya sedikit. Pahit. Dingin.

Jay mencium tangan Abi dan Umi-nya, lalu keluar dari ndalem. Langkahnya berat.

Di luar, Heeseung sudah menunggu.

"Gimana?" tanya Heeseung.

Jay menggeleng, "Abi kecewa. Tapi gue sudah bicara."

Heeseung menepuk bahu Jay, "Bagus. Retak itu wajar. Berarti lu sudah mulai jadi Jay, bukan cuma jadi anaknya Kiai."

Jay menatap langit yang sudah oranye mau Maghrib. Di dalam ndalem, Kiai Hasyim masih berdiri di jendela, menatap hal yang sama.

Dinding pesantren yang biasanya melindungi mereka, sore itu terasa jadi pembatas juga antara harapan orang tua dan keinginan anak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!