Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Malam mulai larut ketika satu per satu tamu meninggalkan kediaman keluarga Abraham.
Keramaian yang sejak pagi memenuhi rumah perlahan menghilang. Bunga-bunga masih menghiasi beberapa sudut ruangan, meja-meja masih menyimpan gelas dan piring yang belum sempat dibereskan, tetapi suasana sudah jauh lebih tenang.
Amira berdiri di dekat jendela kamar sambil memandang halaman. Hari ini benar-benar telah berakhir. Hari yang selama beberapa minggu terakhir terasa begitu cepat sekaligus melelahkan. Hari ketika ia resmi menjadi istri Kaizar.
Amira menunduk melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia masih merasa aneh. Beberapa minggu lalu, nama Kaizar bahkan tidak pernah ada dalam pikirannya. Sekarang, pria itu menjadi suaminya.
Suaminya.
Amira mengulang kata itu dalam hati, lalu buru-buru menutup wajah dengan kedua tangan.
"Kenapa aku jadi gugup sendiri?"
"Karena kau baru menikah."
Suara Kaizar terdengar dari belakang. Amira langsung berbalik dan ternyata Kaizar sudah berada di dalam kamar. Kursi rodanya berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Amira memandangnya beberapa detik. "Kamu dari tadi di situ?"
"Baru masuk."
"Terus dengar aku ngomong sendiri?"
"Sayangnya iya."
Amira mengerucutkan bibir. "Berarti kamu sengaja diam?"
"Aku sedang mempertimbangkan apakah perlu menjawab atau tidak."
"Dan?"
"Aku memilih menjawab."
Amira mendengus pelan. "Tuan Dingin memang menyebalkan."
Kaizar justru terlihat tenang. Ia mengarahkan kursi rodanya menuju sisi tempat tidur, lalu berhenti.
Amira masih berdiri di dekat jendela. Entah kenapa, suasana kamar malam itu terasa berbeda. Biasanya ia bisa berbicara dengan Kaizar tanpa banyak berpikir. Bisa menggodanya, memanggilnya Tuan Dingin, bahkan berdebat mengenai hal-hal kecil.
Tetapi malam ini berbeda. Mereka sudah menikah. Tidak ada lagi kata calon suami atau calon istri. Amira menggigit bibirnya sendiri sebelum akhirnya bertanya, "Kaizar..."
"Hm?"
"Setelah menikah... semuanya memang berubah, ya?"
Kaizar menatapnya. "Tidak semuanya."
"Apa yang tidak berubah?"
"Kau."
Amira mengerutkan kening. "Aku?"
"Kau masih cerewet."
Mata Amira membesar. "Hei!"
Kaizar menahan senyum. "Dan masih suka mengganggu ketenanganku."
"Padahal aku cuma membuat hidupmu tidak membosankan."
"Menurutmu begitu?"
"Iya."
Kaizar mengangguk kecil. "Kalau begitu, mungkin aku memang mulai terbiasa."
Amira terdiam. Kalimat sederhana itu justru membuat hatinya terasa hangat. Ia berjalan mendekat dan berhenti di depan Kaizar.
"Tapi aku juga takut."
Kaizar menatapnya lebih serius. "Takut apa?"
Amira memainkan ujung jarinya. "Takut setelah menikah, kamu berubah."
"Aku sudah bilang."
"Katanya tidak akan berubah."
"Aku tidak akan berubah."
"Benarkah?"
"Benar."
Kaizar kemudian menatap cincin di jari Amira.
"Aku tidak menikahimu untuk membuatmu kehilangan dirimu sendiri."
Amira mengangkat wajah.
"Aku ingin kau tetap menjadi Amira yang kukenal."
"Padahal kamu baru mengenalku beberapa minggu," sahut Amira dengan cepat.
"Aku cukup tahu."
Amira tertawa kecil. "Percaya diri sekali."
"Memang."
Mereka kembali terdiam. Kali ini bukan karena canggung, melainkan karena masing-masing menikmati ketenangan yang tidak perlu diisi dengan banyak kata.
Amira kemudian melihat tempat tidur. Ada dua bantal yang tersusun rapi. Ia kembali menatap Kaizar.
"Kalau begitu..."
"Kalau begitu apa?"
Amira menunjuk tempat tidur. "Kita tidur di mana?"
Kaizar mengangkat alis. "Di kamar."
"Aku tahu."
"Jadi?"
Amira menghela napas. "Maksudku, aku tidur di sebelah mana?"
Kaizar menunjuk salah satu sisi. "Di sana."
"Terus kamu?"
"Di sini."
Amira melihat jarak di antara mereka.
"Jauh juga."
Kaizar menatapnya. "Kau ingin lebih dekat?"
Amira langsung salah tingkah. "Bukan begitu maksudku!"
"Aku hanya bertanya."
"Kamu sengaja, kan?"
"Sedikit."
Amira memelototinya. "Ternyata setelah menikah Tuan Dingin mulai belajar menggoda."
"Belajar darimu."
Amira tidak bisa menahan tawanya. Namun setelah beberapa saat, tawanya perlahan mereda. Ia memandang Kaizar dengan lebih lembut.
"Kaizar."
"Hm?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Untuk hari ini."
Kaizar tidak langsung menjawab.
Amira melanjutkan, "Kalau kamu tidak ada, mungkin aku sudah menyerah tadi pagi."
Kaizar menatapnya cukup lama. "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian."
Amira tersenyum. "Makanya aku bilang... kamu baik."
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan."
"Aku sudah menikah denganmu. Terlambat untuk menarik kesimpulan."
Kaizar menggeleng kecil. Amira kemudian duduk di sisi tempat tidur.
Beberapa saat ia hanya memainkan cincin di jarinya.
"Kaizar?"
"Ya."
"Aku boleh tidur duluan?"
Kaizar terlihat sedikit heran. "Kenapa bertanya?"
"Karena sekarang kita sudah menikah."
"Dan?"
"Aku tidak tahu aturan menjadi istri."
Kaizar menatapnya dengan tenang. "Tidak ada aturan seperti itu di rumah ini."
Amira mengangkat wajah.
"Kau tidak harus melakukan sesuatu hanya karena merasa kau adalah istriku."
Amira terdiam.
"Kalau kau belum siap, aku tidak akan memaksamu." Nada suara Kaizar tidak berubah. Tidak ada tuntutan di sana. Hanya kepastian.
Amira merasa dadanya menghangat. "Terima kasih."
Kaizar mengangguk. "Besok kita bisa bicara lagi."
Amira tersenyum. "Baiklah."
Ia kemudian berbaring di sisi tempat tidur yang tadi ditunjukkan Kaizar. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali bangkit.
"Kaizar."
"Hm?"
"Selamat malam, suamiku."
Kaizar terdiam. Amira langsung tertawa kecil melihat ekspresinya.
"Kenapa diam?"
"Aku hanya belum terbiasa."
"Terbiasa dengan apa?"
"Dipanggil suami."
Amira tersenyum lebar. "Kalau begitu, selamat malam, Tuan Dingin."
Kaizar menatapnya beberapa saat. "Selamat malam, istriku."
Senyum Amira perlahan menghilang. Bukan karena sedih. Justru karena satu kata itu terasa begitu berbeda ketika keluar dari mulut Kaizar.
Istriku.
Untuk pertama kalinya Amira merasa bahwa mungkin benar... Ia sudah memiliki rumah. Dan malam itu, setelah bertahun-tahun merasa tidak diinginkan, Amira tidur dengan hati yang jauh lebih tenang.
Sementara di sisi lain kamar, Kaizar masih terjaga. Ia memandang perempuan yang kini telah menjadi istrinya. Ada banyak hal yang belum ia pahami tentang Amira.
Ada luka yang belum diceritakan. Ada masa lalu yang belum terbuka. Dan ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan berubah sejak perempuan itu datang.
Kaizar belum tahu apa namanya. Ia hanya tahu satu hal. Ia tidak ingin kehilangan perempuan itu. Bahkan sebelum ia sempat memahami alasannya.
Bersambung...