"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tak sadar
"Kak Gerhana lama, aku sudah lapar" keluh Shaquilla
"Habiskan saja dulu es krim kamu sayang" ucap Sultan
Selesai memakan es krim mereka, para pemuda pemudi itu segera pergi ke warung makan yang alamatnya di kirimkan oleh Gerhana, saat mereka lewat di depan warung sama sekali tidak ada yang aneh di dalam, terlihat ramai oleh orang orang yang masih makan di jam istirahat pabrik dan menunggu waktu masuk tiba, bahkan tidak terlihat aura seram di dalam warung makan itu, Sultan juga tetap berkeliling bersama Irsyad dan Shaquilla untuk menu yang ada di sana.
"Lihat kan, nggak ada yang aneh sama sekali" ucap Irsyad
"Iya, apa dia hanya muncul saat malam" jawab Kanaya yang melihat sesuatu melayang di warung makan itu sebelum dia masuk.
"Mungkin hantunya malu malu" jawab Shaquilla
"Hantu, hantu apa?" tanya Sultan memeluk Shaquilla
"Euh malah modus" cibir Irsyad
"Ayo ah kita kembali ke depan saja dan tunggu kak Gerhana" ajak Kanaya
"Kamu tadi yang mau lihat warung ini" gerutu Shaquilla
Mereka keluar kembali ke arah depan warung makan untuk menunggu Gerhana, saat akan masuk mereka berpapasan dengan Raditya yang membawa banyak makanan dan memberikan sebagian pada mereka yang langsung di sambut canggung karena mereka tidak bisa menolak makanan itu.
"Makam ya, saya harus ikut rapat dulu ke tempat salah seorang penanam modal" ucap Raditya dan Kanaya mengangguk.
"Makan saja" ucap Shaquilla karena makanan itu di beli di laur rumah Raditya.
"Tapi ini pakai uang Om Raditya" jawab Kanaya
Shaquilla menghela nafasnya tapi beberapa detik kemudian dia berbinar ketika melihat Gerhana sudah datang dan ternyata mereka salah tempat, tempat yang di maksud Gerhana adalah rumah makan yang ada di sebelah tempat itu.
"Nggak ada keyang kenyangnya itu perut, apa kamu nggak baca bismillah pas makan?" tanya Irsyad setelah mereka memesan makanan.
"Sudah, setiap makan aku baca bismillah" jawab Shaquilla cuek.
"Yang jadi suami Shaquilla harus yang dompetnya tebal, kalau yang tipis dia tekor pas jalan ke Mall" ucap Kanaya terkekeh.
"Dompetku tidak pernah kosong" jawab Sultan mengedipkan matanya pada Shaquilla.
Srak.
"Aaakhh..!"
"Kenapa?" tanya Gerhana saat tiba tiba saja Kanaya memekik memegangi keningnya.
"Nggak tahu, rasanya seperti ada yang lempar sesuatu padaku" jawab Kanaya membuka tangannya dan ternyata keningnya tergores sampai berdarah, terlihat seperti tergores benda tajam.
"Innalillahi kamu berdarah Kanaya!" panik Shaquilla dan Irsyad.
"Astagfirullah, cepat bawa ke klinik, kenapa bisa berdarah?" ucap Gerhana khawatir
Gerhana melihat sekeliling, tidak ada apapun yang terlihat mencurigakan, tapi dia sudah beberapa hari ini mendengar keluhan para karyawan dan juga pemilik warung yang sering di ganggu mahluk halus yang Gerhana sendiri sedang mencari keberadaannya.
Wush...
Angin kecil tiba tiba saja menyapu wajah Kanaya, sekilas tapi Kanaya yakin itu bukan angin biasa, itu mahkluk halus karena selain hembusan angin, Kanaya juga mencium bau seperti bau tanah.
"Makluk apa itu, dia pasti tidak terlihat karena tidak memiliki wujud" gumam Kanaya
"Osa, dia tidak punya wujud tapi dia bisa mengelabui orang orang, bisa menjadi bayangan kucing, bayangan manusia bahkan bayangan tumbuhan, dia berbahaya karena sering membuat banyak pengendara di jalan merasa melihat sesuatu dan berhenti mendadak, lalu terjadilah tabrakan" bisik Sanca
"Ayah, Kanaya senang ayah kembali" ucap Kanaya ingin memeluk Sanca tapi tidak bisa karena teman temannya tidak bisa melihatnya Sanca.
"Ayah juga nak, tadi hampir saja ayah celaka kalau tidak di tolong raja Hala dan Gerhana" ucap Sanca
"Tapi bagaimana kita bisa menemukan dia kalau dia saja tidak terlihat?" tanya Gerhana lewat batinnya.
"Dia akan muncul seenaknya, tapi jangan khawatir, Opa akan menjebaknya" jawab Hala
"Menjebaknya?" tanya keduanya dan Hala mengangguk.
"Terima kasih kak" ungkap Kanaya mengusap punggung Gerhana yang langsung meringis.
"Kenapa?"
"Tidak apa apa, aku terkena batu tajam tadi saat terjatuh"
"Kalau begitu harus di obati kak, coba lihat punggungnya mumpung di tempat ini sepi" keluh Kanaya khawatir karena Gerhana pasti mendapatkan luka itu setelah menolong Sanca.
Gerhana memperlihatkan lukanya dan membuat empat Orang yang ada di sana melotot, bahkan Shaquilla berhentikan makan dan mulai menangis.
Punggung Gerhana terlihat berdarah dan Kanaya segera memeriksa untuk melihat seberapa parah luka yang di alami Gerhana, sedangkan Sultan juga yang lain memilih untuk pergi karena sepertinya Kanaya sedang khawatir sampai sampai dia lupa kalau mereka belum mahrom.
"Perih Kanaya, aku rasanya mau pingsan" rengek Gerhana ketika Kanaya mengoleskan obat yang di berikan Hala dan memastikan tempat itu kosong bahkan mereka pindah ke tempat paling pojok.
"Ayo pakai perban ini dulu, Kanaya selalu bawa perban karena Shaquilla itu ceroboh orangnya, Kanaya akan obati lagi nanti setelah kita ke rumah sakit, kak Gerhana pakai baju dulu nanti tambah sakit kalau terkena debu dan angin" bujuk Kanaya menutup kembali atasan Gerhana dan menuntunnya karena efek obat Hala membuat wajah Gerhana jadi pucat supaya proses penyembuhan lukanya lebih cepat.
"Jangan ke rumah sakit" ucap Gerhana
"Kenapa? Kak Gerhana harus di obati, mungkin lukanya parah" tanya Kanaya
"Tidak mau, nanti papa memintaku pulang ke Curug dan berobat di sana, aku tidak mau, jangan bilang siapa siapa" jawab Gerhana
"Terus bagaimana? Masa harus Kanaya yang obati" tanya Kanaya
"Sudah kamu saja, ini rahasia kita berdua, ayo cepat, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Gerhana yang sudah di dudukan Kanaya di salah satu kursi di sudut rumah makan itu.
"Buka semuanya, biar Kanaya bersihkan dulu, Kanaya akan minta air hangat di warung ini, kakak pakai selendang ini kalau sudah di buka" jawab Kanaya memberikan selendang miliknya dan Gerhana mengangguk.
Kanaya berkeliling warung makan yang tiba tiba sepi itu, dia mengambil baskom kecil, handuk kecil di dalam tas nya yang biasa dia gunakan jika membersihkan air wudhu, obat antiseptik dan juga perban, Hamad juga mengambil beberapa parasetamol untuk Gerhana karena takutnya nanti malam dia akan demam.
"Coba aku bersihkan punggung kak Gerhana, untung tas aku isinya obat dan perban" ucap Kanaya dan Gerhana berbalik memperlihatkan punggung mulusnya dengan Kanaya yang masih belum sadar.
Kanaya bahkan tidak canggung membersihkan darah Gerhana dan meniup lukanya saat Gerhana meringis terkena air hangat itu. Setelah itu dia mengeringkan lukanya terlebih dahulu, mengoleskan obat antiseptik dan obat Hala lagi, lalu membalut punggung Gerhana menggunakan perban dan plester.
"Sudah selesai, kak Gerhana pakai jaket papa saja dulu, ini jaket papa yang di bawa Kanaya supaya Kanaya selalu merasa dekat dengan papa Andar" ucap Kanaya
"Iya, terima kasih" jawab Gerhana mengambil jaket itu dan memakainya di depan Kanaya yang tiba-tiba mengerjapkan matanya.
"Astagfirullahaladzim Astagfirullahaladzim Astagfirullahaladzim, apa yang barusan aku lakukan" gumam Kanaya menatap deretan roti sobek Gerhana yang begitu jelas terlihat dengan dada yang bidang.