Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Ujian Dewan Tetua Dan Perlindungan Mutiara Hitam
Aula utama gedung opera Barok di jantung kota Roma diselimuti atmosfer tegang yang amat pekat. Pendar cahaya dari lampu gantung kristal raksasa membiaskan pantulan keemasan di atas meja kayu mahoni melingkar tempat para anggota Dewan Tetua Eropa duduk berkumpul.
Di tengah aula, Aira berdiri dengan postur tubuh yang sangat tegap dan anggun. Mantel camel mewahnya telah ia lepas, memperlihatkan gaun malam sutra berwarna hitam pekat yang membalut tubuhnya dengan sangat pas. Penampilannya memancarkan aura seorang Permaisuri Hitam yang dingin, cerdas, dan tidak tergoyahkan oleh tekanan apa pun.
Di samping kanan Aira, Gabriel berdiri bagaikan patung pelindung yang tak kasat mata. Sepasang mata cokelat gelapnya memancarkan pendar bahaya yang begitu tajam, mengawasi setiap gerak-gerik belasan tetua mafia yang duduk di hadapan mereka.
Don Vincenzo—pemimpin tertua Dewan Eropa—mengetukkan tongkat peraknya dua kali ke lantai marmer. Suara ketukan itu menggema nyaring, memutus bisik-bisik tegang yang sempat memenuhi ruangan.
"Nyonya Aira," suara serak Don Vincenzo terdengar berat dan sarat akan penekanan. "Sebagai Permaisuri Hitam dari dinasti Blackwood, Anda tidak hanya dituntut untuk menjadi pendamping tidur bagi sang Dark Lord. Anda harus memiliki kecerdasan taktis yang sanggup menyelamatkan aliansi saat krisis tertinggi terjadi."
Aira menyunggingkan senyum tipis yang amat tenang. "Saya mendengarkan, Don Vincenzo. Ujian apa yang ingin Dewan berikan?"
Don Vincenzo melempar sebuah dokumen tebal berlis merah ke tengah meja. Seorang pengawal berjas rapi dengan cepat membawa dokumen itu dan menyerahkannya kepada Aira.
"Di dalam berkas itu tersaji kasus perselisihan rute perdagangan maritim di perairan Laut Hitam," jelas Don Vincenzo dingin. "Selama lima tahun terakhir, faksi Kovalenko dari Eropa Timur dan faksi Mercier dari Prancis saling membantai, membekukan alokasi dana aliansi sebesar tiga miliar Euro. Tiga pemimpin Blackwood sebelum Gabriel gagal mendamaikan mereka tanpa pertumpahan darah. Dewan memberi Anda waktu sepuluh menit untuk memberikan solusi konkret. Jika solusi Anda memicu perang baru... hak Anda atas nama besar Blackwood akan dibatalkan secara mutlak!"
Mendengar syarat yang sengaja dibuat mustahil dan mengintimidasi itu, rahang Gabriel seketika mengatup keras. Amarahnya membara hingga buku-buku jarinya memutih karena mengepal.
"Don Vincenzo!" geram Gabriel dengan suara bariton rendah yang sanggup menggetarkan pilar-pilar marmer di dalam aula. "Kasus Laut Hitam itu adalah jebakan politik yang tidak terselesaikan selama setengah dekade! Anda sengaja menyudutkan istriku!"
Gabriel melangkah satu titik ke depan, aura pembunuh yang amat pekat meledak dari tubuh tegapnya. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh untuk meratakan meja dewan, tangan halus Aira terulur, menggenggam jemari Gabriel yang mengepal.
Sentuhan lembut itu seketika menenangkan amarah Gabriel. Gabriel menoleh, menatap istrinya dengan raut cemas yang tidak bisa disembunyikan.
"Percaya padaku, Gabriel," bisik Aira sangat lembut, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.
Gabriel menarik napas panjang, menelan kembali aura buasnya demi menghormati posisi Aira, walau matanya tetap membidik Don Vincenzo dengan tatapan mengancam.
Aira membuka lembaran berkas tersebut. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris angka, grafik arus kargo, dan peta kekuatan militer kedua faksi. Sebagai seorang Chief Executive Advisor yang terbiasa menyelesaikan krisis korporasi skala global, pola pikir Aira bekerja dengan akurasi tinggi bak komputer super.
Hanya butuh waktu empat menit—bahkan belum sampai setengah dari waktu yang diberikan—Aira menutup berkas itu dengan bunyi puk yang mantap.
Seluruh anggota dewan tertegun, saling pandang dengan dahi berkerut.
"Empat menit?" cetus salah satu tetua dengan nada meremehkan. "Apakah Anda sudah menyerah, Nyonya?"
Aira melangkah maju dua tindak, menatap seluruh anggota dewan dengan tatapan tajam dan penuh ketegasan yang memukau.
"Faksi Kovalenko dan Mercier tidak pernah memperebutkan rute fisik laut," suara Aira menggema jernih dan berwibawa di seluruh aula. "Yang mereka perebutkan adalah hak monopoli atas kilang penyimpanan bahan bakar di Pelabuhan Odesa. Selama lima tahun ini, para pemimpin Blackwood selalu mencoba membagi rute secara simetris—sebuah kesalahan fatal dalam diplomasi bisnis."
Don Vincenzo menyipitkan matanya yang keriput. "Lantas, apa solusinya?"
"Sederhana," jawab Aira lugas. "Ubah struktur kepemilikan kilang menjadi entitas konsorsium netral di bawah naungan Blackwood Corp. Faksi Kovalenko mendapatkan delapan puluh persen hak distribusi darat ke utara, sementara faksi Mercier memegang hak eksklusif jalur perkapalan ke selatan. Pembagian ini menaikkan margin keuntungan kedua belah pihak sebesar dua belas persen sekaligus menghilangkan benturan wilayah."
Aira menyilangkan tangannya di depan tubuh dengan anggun. "Jika ada salah satu faksi yang menolak draft konsorsium ini dalam waktu dua puluh empat jam, Blackwood Corp akan membekukan seluruh akses jalur perbankan mereka di Eropa. Mereka tidak punya pilihan selain tunduk."
Hening.
Seluruh aula utama gedung opera itu mendadak sunyi senyap tanpa ada sepatah kata pun yang terucap. Belasan tetua mafia yang tadinya memandang rendah Aira kini melotot tak percaya. Solusi yang dipaparkan Aira tidak hanya membedah akar masalah bisnis secara sempurna, tetapi juga memanfaatkan kekuatan eksekusi Blackwood untuk mengunci pergerakan musuh tanpa perlu menembakkan satu butir peluru pun!
Don Vincenzo tertegun kaku di kursinya. Slowly, pria tua berpengaruh itu mengangkat kedua tangannya dan bertepuk tangan perlahan.
Prok... Prok... Prok...
"Luar biasa..." gumam Don Vincenzo dengan senyuman tipis yang penuh rasa hormat. "Kombinasi antara kekuatan taktis tanpa ampun dari Gabriel dan otak strategis yang dingin dari Nyonya Aira... Dinasti Blackwood telah menemukan Mutiara Hitamnya yang paling bernilai."
Mendengar pengakuan mutlak dari pemimpin dewan, Gabriel tidak bisa lagi menahan rasa bangga yang membumbung tinggi di dadanya. Pria tegap yang tadinya garang bagaikan iblis itu langsung melangkah lebar, merengkuh tubuh Aira ke dalam pelukannya di hadapan seluruh anggota Dewan Tetua Eropa!
"Aira! Kamu hebat sekali, Sayang!" seru Gabriel penuh kegirangan tanpa rasa malu sedikit pun, memutar tubuh Aira ringan di udara lalu mengecup kedua pipi istrinya bertubi-tubi. "Istriku pintar banget! Istri siapa sih ini?!"
Aira memerah kaku, menepuk dada berotot Gabriel karena malu. "Gabriel! Turunkan aku! Ini di depan para tetua!"
Para tetua mafia Eropa hanya bisa melongo dengan mulut terbuka lebar, menyaksikan ketua mafia terkejam yang paling mereka takuti kini berubah menjadi pria bucin konyol yang memeluk istrinya seperti anak kecil mendapatkan hadiah mainan.
📌 Pojok Penulis (Rey Nanda):
Aaaa! Keren banget Aira! Cuma butuh 4 menit buat bungkam para tetua mafia yang galak-galak! Tapi reaksi Gabriel pas meluk Aira di depan umum bener-bener gak ada obat konyolnya! 😭 mencintaimu pahlawanku! ✨