NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

****

Pendar fajar keemasan baru saja menyingsing di ufuk timur perbukitan, membias tipis di balik kabut dingin yang menyelimuti area sekitar sendang tua. Udara pagi terasa begitu membekukan kulit, memecahkan keheningan hutan dengan suara cicit burung dan gesekan dedaunan jati yang basah oleh embun pagi.

Di atas tanah lembap dekat celah akar pohon beringin raksasa, Bagas perlahan membuka matanya. Pemuda tegap itu tersengal pendek, mengerjapkan matanya yang terasa berat, lalu secara refleks mengusap dadanya. Di balik kaus tipisnya yang agak compang-camping, terasa sensasi hangat yang terus berdenyut lembut tepat di dada kirinya.

Bagas menarik bagian dada kausnya ke bawah. Di kulit dada mulusnya, terukir jelas sebuah rajah bertanda sisik ular berwarna keemasan yang berkilat halus. Segel ikatan gaib itu begitu nyata, memancarkan aroma wangi melati samar yang mengingatkannya pada malam pertama yang penuh pendar gairah dan kenikmatan di istana bawah tanah bersama Nyai Ratu.

"Jadi... semua malam tadi benar-benar nyata? Aku telah menjadi suami gaib sang Ratu..." bisik Bagas parau, matanya menatap takjub pada segel emas di dadanya.

Bagas bangkit berdiri, merapikan pakaiannya, lalu bergegas melangkah menyusuri jalan setapak menuju desanya. Batinnya diliputi kecemasan sekaligus ketidakpastian. Di dalam rumah bambu mewariskan mendiang ayahnya, sang ibu terbaring lemah akibat penyakit parah yang tak kunjung sembuh karena Bagas tak pernah memiliki cukup uang untuk membeli obat herbal dan memanggil tabib terbaik.

Begitu melangkahkan kaki melewati pintu kayu rumah sederhananya yang berlantai tanah, mata Bagas seketika membelalak kaku. Di atas meja kayu tua di sudut ruang tengah, tergeletak sebuah peti kayu jati berukir naga raksasa—sama persis dengan ukiran pintu kamar peraduan sang Ratu. Peti itu memancarkan pendar keemasan yang silau.

Dengan jemari gemetar, Bagas mendekat dan membuka penutup peti tersebut.

"Gusti Pangeran...!" pekik Bagas tertahan, napasnya seolah terhenti seketika.

Di dalam peti kayu itu, menumpuk berpuluh-puluh keping emas murni, kalung permata hijau yang berkilauan, serta tumpukan uang murni yang melimpah ruah. Hadiah dan janji kekayaan dari sang Ratu Ular ditunaikan tanpa kurang sedikit pun.

Tanpa membuang waktu, Bagas langsung mengambil beberapa keping emas dan uang tunai dari peti tersebut. Pemuda itu berlari kencang menuju rumah tabib tersohor di ibu kota kecamatan, membeli ramuan jamu herbal terbaik, serta membawa serta sang tabib tua ke rumahnya.

Hari-hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Berkah kekayaan gaib itu benar-benar mengubah garat takdir kehidupan Bagas dan ibunya. Racikan obat-obatan mahal yang dibeli Bagas secara rutin perlahan-lahan melunturkan penyakit parah yang menggerogoti tubuh sang ibu.

Suatu pagi yang cerah, lima bulan sejak malam ritual gaib itu, ibu Bagas sudah bisa berdiri tegap dan berjalan melangkah ke selasar rumah. Wajahnya yang dulu pucat pasi dan cekung kini tampak segar, berisi, dan berseri-seri.

"Bagas... Anakku..." tutur sang ibu penuh keharuan, memegang lembut jemari tangan Bagas yang sedang duduk menyeduh teh hangat di meja selasar. "Ibu rasanya seperti bermimpi, Nak. Penyakit yang bertahun-tahun menyiksa Ibu mendadak sembuh tanpa sisa. Dari mana kamu mendapatkan semua uang untuk membeli obat-obatan mahal dan memperbaiki rumah kita ini, Nak?"

Bagas menelan ludah, dadanya berdesir pelan merasakan denyutan hangat rajah sisik ular di dada kirinya. Pemuda itu menyunggingkan senyuman manis, menggenggam erat tangan ibunya.

"Ini semua hasil kerja keras dan rezeki yang dibukakan untuk Bagas, Bu," jawab Bagas berbohong lembut demi melindungi ibunya dari rahasia dunia gaib. "Ibu tidak perlu memikirkan dari mana asalnya. Yang terpenting bagi Bagas, Ibu sekarang sudah sembuh total dan sehat walafiat."

Sang ibu meneteskan air mata kebahagiaan, memeluk tegap tubuh anaknya. "Terimakasih ya, Bagas... Kamu anak yang sangat berbakti."

Bukan hanya kesehatan ibunya yang berubah total, status sosial Bagas di desa itu pun melesat tajam. Bagas memborong belasan hektar hamparan sawah dan kebun jati paling subur di perbukitan tersebut. Rumah bambu tua milik keluarganya kini telah dibangun kembali menjadi sebuah rumah joglo megah berpagar kayu jati ukir yang amat indah.

Orang-orang desa yang dulu kerap memandang sebelah mata, menghina, dan mengabaikan Bagas sewaktu ia terpuruk miskin, kini berbondong-bondong mendatangi rumah joglo milik Bagas. Pagi itu, puluhan warga desa berdiri berjejer di pelataran rumah Bagas dengan sikap tunduk dan penuh rasa hormat.

Pak Krama, salah satu tetangga kaya yang dulu pernah menolak mentah-mentah saat Bagas ingin meminjam uang seribu rupiah untuk membeli beras, kini melangkah maju sembari membungkuk dalam.

"Den Bagas... Selamat pagi, Den," tutur Pak Krama dengan nada suara yang dibuat-buat sangat ramah dan menghormati.

Bagas berdiri tegap di atas selasar joglonya, mengenakan beskap katun halus dan kain jarik yang anggun, memandangi warga desa yang dulu menghujatnya.

"Ada keperluan apa Pak Krama dan warga sekalian datang ke rumah saya pagi-pagi begini?" tanya Bagas tenang, suaranya terdengar berwibawa.

Pak Krama menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, tersenyum sumringah. "Anu, Den Bagas... Kami mendengar Den Bagas baru saja memborong seluruh lahan sawah di bagian utara perbukitan. Kami... warga desa ini, ingin memohon kesediaan Den Bagas untuk mengizinkan kami bekerja sebagai buruh tani di sawah milik Den Bagas. Kami janji akan bekerja giat dan patuh pada Den Bagas."

"Iya, Den Bagas! Tolong terima kami jadi buruh sawah Den Bagas!" seru warga desa lainnya bersahutan penuh harap.

Bagas menatap pendar wajah-warga desa tersebut. Tersirat rasa miris di hatinya melihat bagaimana harta mampu mengubah sikap manusia dalam sekejap mata. Namun Bagas yang berhati luhur mboten menyimpan dendam sedikit pun.

"Baiklah, Pak Krama... warga sekalian," ucap Bagas tegap. "Saya menerima kalian semua untuk menggarap lahan sawah saya. Bekerjalah dengan jujur dan giat. Saya akan memberikan upah yang sangat layak untuk kalian semua agar keluarga kalian tidak ada yang kelaparan."

"Matur nuwun sanget, Den Bagas! Den Bagas sungguh dermawan dan berhati mulia!" sorak warga desa gembira, membungkuk-bungkuk penuh rasa syukur.

Sore harinya, ketika mentari mulai meredup ke ufuk barat dan warga desa telah pulang ke rumah masing-masing, Bagas berdiri menyendiri di tepi selasar joglo. Angin sore berembus sejuk membawa aroma harum Bunga Melati yang amat dikenalinya.

Tiba-tiba, rajah sisik ular di dada kiri Bagas berdenyut kencang, memancarkan rasa hangat yang merayap hingga ke seluruh pembuluh darahnya. Sebuah bisikan merdu nan gaib terdengar mengalun merdu tepat di dekat telinganya—suara dari sang Ratu Ular.

"Suamiku... Kekayaan dan kemuliaan alam nyata telah ada di genggamanmu... Jangan pernah lupa pada ikatan dan janji setia malam pertama kita di istana bawah tanah..."

Bagas mengusap dada kirinya, tersenyum pelan seraya memandangi hamparan sawahnya yang luas. Pemuda itu sadar, kehidupan mewahnya di dunia nyata kini berjalan beriringan dengan takdir ikatan gaib yang mengikat jiwa dan raganya selamanya.

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!