Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Semesta Merestui
.
Titan masih menatap layar ponselnya. Setelah membaca laporan yang dikirimkan anak buahnya, ia merasa geram saat mengetahui bahwa orang yang berada di balik penyerangan terhadap Mentari adalah Vanya, sekretaris Bara. Wanita itu rupanya menyewa beberapa preman untuk menculik Mentari dan membawanya ke suatu tempat.
Rahang Titan mengeras karena Vanya berani melakukan tindakan sejauh itu untuk mencelakai Mentari. Titan kembali membuka ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaannya.
"Cari para preman yang tadi menyerang kami. Tangkap semuanya dan bawa ke markas. Jangan sampai satu orang pun lolos," perintahnya dengan suara dingin begitu panggilan tersambung. “Berikan mereka pelajaran setimpal, setelah itu tunggu instruksi selanjutnya."
"Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan orang yang menyewa mereka?" tanya anak buahnya dari seberang telepon.
"Vanya…” Mata Titan menyipit ketika menyebut nama wanita itu. "Aku akan membuat senjatanya memakan tuannya sendiri!"
Setelah memutuskan sambungan, Titan meletakkan ponselnya di atas nakas. Matanya kembali menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat. Ia tidak ingin Mentari mengetahui masalah ini sebelum dirinya memastikan semuanya terkendali. Namun, satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh gadis yang dicintainya.
*
Di lantai bawah, Mentari masih menemani Nyonya Rinjani menata hidangan makan malam. Setelah beberapa saat, wanita paruh baya itu melirik ke arah tangga, kemudian tersenyum kepada calon menantunya.
"Mentari, coba panggil Titan. Katakan kepadanya bahwa makan malam sudah siap. Ibu yakin dia pasti mau turun kalau kamu yang memanggil," ucapnya sambil menyerahkan piring terakhir kepada pelayan.
Mentari mengangguk. "Baik, Tante. Saya panggil dulu."
Gadis itu meletakkan sendok dan garpu yang ia tata di dekat piring kemudian menaiki tangga menuju kamar Titan. Setelah mengetuk pintu tiga kali, ia masuk dan mendapati pria itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Titan, makan malamnya sudah siap. Ayo turun," ujarnya sambil mendekati ranjang.
Titan mengangkat wajah dan langsung memasang ekspresi lemah. "Tubuhku rasanya lemas sekali. Sepertinya aku tidak sanggup berdiri.”
Mentari mengerutkan kening. "Apa? Kenapa lagi?"
"Lukaku rasanya masih sakit. Sepertinya aku membutuhkan seseorang untuk membantuku berjalan," jawab Titan sambil mengulurkan dua tangannya agar Mentari membantunya berdiri.
Mentari menatapnya beberapa detik. Ia tahu betul luka di lengan pria itu tidak seberapa, bahkan sejak tadi Titan terlihat baik-baik saja. Namun, melihat ekspresi memelas yang dipasang tunangannya, ia hanya bisa menghela napas.
"Yang terluka itu kan lenganmu? Kenapa sampai tidak bisa berjalan?" omelnya.
Titan memasang wajah cemberut. “Memangnya kamu tidak pernah mendengar kata pepatah? ‘Jika satu anggota tubuh terluka, maka bagian lainnya juga akan ikut sakit’.”
"Dasar CEO manja!” Mentari mendengus kesal, tetapi tetap meraih tangan pria itu padahal tahu Titan hanya sedang ingin mengerjainya. "Sudahlah, ayo. Jangan sampai makan malamnya dingin."
Titan segera bangkit. Dengan sengaja ia menyandarkan sebagian berat tubuhnya kepada Mentari, membuat wanita itu harus menopangnya sepanjang perjalanan menuju ruang makan.
"Berat sekali. Kamu sengaja, ya?" protes Mentari sambil meliriknya.
"Mana ada? Aku hanya sedang mengandalkan tunanganku," jawab Titan tanpa merasa bersalah.
Mentari menggeleng. Ia sudah tidak tahu harus berkata apa lagi menghadapi tingkah pria tersebut. Entah apa yang merasuki pria ini? Padahal dulu tidak manja seperti itu. Dulu, malah Titan lah yang selalu memanjakannya. Atau jangan-jangan, Titan sedang ingin balas dendam?
Melihat kedatangan mereka, Nyonya Rinjani yang sejak tadi menunggu di meja makan segera berdiri dan menyambutnya dengan senyum lebar. Apalagi saat melihat Titan berjalan dengan tangan bertumpu pada bahu Mentari, wanita itu langsung menggeleng geli.
"Astaga, Titan. Lukamu hanya sedikit, tetapi kenapa sampai harus dipapah seperti itu? Ibu dulu pernah melihatmu pulang dengan luka jauh lebih parah, tetapi kamu masih bisa berjalan sendiri," godanya.
Titan melirik ibunya, kemudian menjawab dengan kesal, “Dulu ya dulu. Sekarang itu beda."
Nyonya Rinjani tertawa mendengar jawaban putranya, sementara Mentari hanya bisa menahan agar wajahnya tidak semakin merah karena ulah Titan. Gadis itu mencoba bersikap biasa saja padahal saat tubuhnya begitu rapat dengan tubuh Titan, jantungnya seakan berlompatan ingin keluar.
Makan malam berlangsung cukup menyenangkan. Tuan Tirta sesekali menanyakan tentang perkembangan perusahaan yang kini dipegang oleh Mentari, sedangkan Nyonya Rinjani lebih banyak menggoda mereka agar lebih cepat menikah saja.
Di tengah percakapan, ponsel yang berada di saku celana Mentari tiba-tiba berdering. Ia segera mengambilnya dan melihat nama ayahnya tertera di layar.
"Maaf, Om, Tante, ini Ayah. Saya angkat telepon sebentar, ya," ucapnya sambil menunjukkan layar ponsel.
Nyonya Rinjani tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Sayang. Angkat saja di sini. Lagi pula, yang menelepon kan Ayahmu, bukan orang lain."
“Betul itu," sahut tuan Tirta. “Keraskan suaranya. Om juga ingin dengar suara ayahmu."
Mentari pun mengangguk sebelum menerima panggilan tersebut dan mengaktifkan mode loudspeaker.
"Halo, Ayah," sapanya.
"Mentari, kamu di mana? Kenapa sampai malam begini belum juga pulang?" terdengar suara cemas Tuan Panji dari seberang telepon.
Mentari sempat melirik Titan sebelum menjawab, "Maaf tadi lupa mengabari, Ayah. Tadi kami di serang preman dan Titan terluka. Sekarang Mentari sedang berada di rumah Titan."
"Apa?" Suara Tuan Panji terdengar cemas. “Lalu bagaimana keadaan Titan sekarang? Dia baik-baik saja, kan?”
"Sudah lebih baik, Ayah. Untung hanya luka luar saja”
Di seberang telepon Tuan Panji tersenyum lebar mendengar putrinya berada di rumah calon suaminya. "Ya sudah kalau begitu. Kamu harus jaga Titan baik-baik, ya. Tidak apa-apa kalau kamu menginap saja di rumah Titan."
Mentari menelan ludah seraya mengedarkan pandangan ke arah Titan dan kedua orang tuanya yang kini sama-sama memperhatikannya. Titan bahkan sudah memasang senyum penuh arti, seolah sangat menyukai usulan calon mertuanya.
“Ah, tidak, Ayah. Mentari nanti pulang kok," jawabnya gugup.
Namun, Tuan Panji justru terkekeh. "Tidak baik anak gadis pulang sendirian malam-malam. Lagian Titan kan katanya terluka, pasti tidak bisa mengantarmu. Jadi, lebih baik kamu menginap saja. Ayah dan Ibu tidak keberatan kalau kamu menginap."
Mentari menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Iya, Ayah. Nanti Mentari kabari lagi."
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Sampaikan salam Ayah untuk keluarga Titan."
Setelah mengakhiri panggilan, Mentari meletakkan ponselnya di atas meja. Namun, sebelum ia sempat kembali menyantap makan malamnya, Titan sudah lebih dahulu menyela.
"Ayahmu benar-benar pengertian. Beliau pasti tahu aku butuh orang yang bisa menjaga dua puluh empat jam?" godanya dengan senyum lebar.
Mentari langsung melotot ke arahnya. "Siapa yang mau jaga kamu dua puluh empat jam?!"
Nyonya Rinjani yang mendengar percakapan itu tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Mentari. Tante senang kamu menginap di sini. Lagipula tadi Tante sudah menyiapkan kamar untukmu."
"Tante..." Mentari semakin salah tingkah.
"Kenapa? Apa karena sudah besar lalu kamu tidak mau lagi menemani Tante di sini?" tanya Nyonya Rinjani sambil memasang wajah sedih.
Sementara itu, Titan diam-diam menyeringai puas. Rupanya, bukan hanya dirinya yang ingin Mentari tinggal lebih lama. Kedua orang tuanya pun memiliki keinginan yang sama. Apalagi orang tua Mentari sendiri juga seakan ingin mereka menjadi lebih dekat.
Ia kemudian mendekatkan wajah sedikit ke arah Mentari dan berbisik, "Sepertinya semesta benar-benar merestui kita."
Mentari menyikut lengan Titan yang tidak terluka. "Makan saja. Jangan banyak bicara!"
Titan terkekeh, lalu kembali menyantap makan malamnya. Malam itu berjalan lebih menyenangkan dari yang ia bayangkan.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣