Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Nasib Derita Istri Pekerja Kuli Bangunan
Malam makin larut, tetapi lampu bohlam kekuningan di ruang tamu berukuran tiga kali tiga meter itu masih menyala. Di atas meja kayu yang melengkung termakan usia, selembar kertas putih kecil bergaris dua merah tampak begitu mencolok.
Burhan menggenggam jemari Anisa hangat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum lebar yang tak sanggup ia sembunyikan. "Kamu serius, Nis? Kita... kita benar-benar bakal jadi orang tua?"
Anisa mengangguk pelan. Ada binar kebahagiaan di matanya, namun jemarinya yang dingin mengapit erat genggaman sang suami. "Iya, Mas. Tadi sore aku tes lagi pakai dua tespek berbeda. Hasilnya sama."
Burhan langsung sujud syukur di atas lantai semen yang dingin, lalu bangkit dan memeluk Anisa erat-erat. "Alhamdulillah, Ya Allah... Terima kasih. Setelah tiga tahun kita menunggu, akhirnya Allah percaya sama kita."
"Mas..." bisik Anisa halus di pundak Burhan. "Aku senang banget, Mas. Tapi..."
Burhan melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah istrinya yang mendadak redup. "Tapi kenapa, Nis? Ada yang sakit?"
Anisa menggeleng. Ia meraih amplop cokelat kecil dari tas kainnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar rincian biaya pemeriksaan dokter spesialis kandungan dan perkiraan biaya persalinan yang ia dapatkan dari klinik dekat pasar.
"Tadi sore aku sempat mampir ke klinik depan, Mas. Dokter bilang, karena riwayat kesehatanku yang sering drop, kehamilan ini butuh pengawasan ekstra. Vitaminnya beda, dan mungkin tiap bulan harus USG rutin," tutur Anisa dengan suara bergetar. "Lihat angkanya, Mas."
Burhan mengambil lembaran itu. Begitu matanya menatap deretan angka di kolom total, senyum di wajahnya berangsur luntur.
Angka-angka itu seolah menjelma menjadi beban berat yang menghantam dadanya seketika. Biaya sekali periksa dan obat-obatan saja sudah memakan hampir setengah dari gaji bulannya sebagai buruh kuli bangunan, belum lagi tabungan untuk biaya persalinan nanti.
"Mas... gaji kamu bulan ini kan baru saja dipotong untuk bayar tunggakan kontrakan," lanjut Anisa lirih, menunduk tak berani menatap mata suaminya. "Bagaimana kalau kita enggak sanggup?"
Burhan menghela napas panjang, mencoba menetralkan gemuruh gelisah di dadanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan Anisa yang kini sedang mengandung buah hati mereka.
"Nis, dengarkan Mas," Burhan menarik dagu Anisa lembut agar mata mereka saling bertatap. "Anak ini adalah rezeki. Allah enggak mungkin menitipkan nyawa baru di rahimmu kalau kita enggak dianggap mampu."
"Tapi rezeki kan harus diusahakan dengan uang nyata, Mas," potong Anisa dengan mata berkaca-kaca. "Aku takut... takut kalau nanti kebutuhan vitaminmu atau pemeriksaan bayinya terhambat gara-gara kita enggak ada uang. Aku enggak mau anak kita kenapa-napa."
"Mas tahu, Nis. Mas tahu banget," ujar Burhan tenang meski pikirannya sendiri sedang berputar keras mencari jalan keluar. "Mulai besok mas sudah bisa masuk kerja lagi dan kali ini mandor bilang banyak lemburan , pulang kerja malam sambil jalan pulang mas akan kumpulkan rongsokan " ucap Burhan kepada Nisa dengan nada semangat
"Jangan dipaksa begitu, Mas! Nanti kamu yang sakit!" seru Anisa cemas. "Kalau Mas sakit, siapa yang kerja? Siapa yang menjaga kami?"
"Lalu harus bagaimana lagi, Nis?" suara Burhan sedikit meninggi, membuat suasana ruangan mendadak hening.
Burhan dengan cepat memejamkan mata, menyesali nada bicaranya. Ia memegang kedua bahu Anisa. "Maaf... Mas enggak bermaksud membentak. Mas cuma... Mas cuma mau memastikan kamu dan calon anak kita dapat yang terbaik."
Anisa mengusap air mata yang menetes di pipinya. "Aku tahu, Mas. Aku cuma bingung. Apa aku coba cari pekerjaan sampingan saja? Mungkin aku bisa terima jaitan lagi di rumah?"
"Enggak. Enggak boleh," tegas Burhan menggeleng keras. "Kata dokter tadi kamu enggak boleh capek-capek, kan? Biarkan urusan biaya jadi tanggung jawab Mas. Tugas kamu cuma satu: jaga kesehatan kamu dan dedek bayi di dalam sini." Burhan menyentuh lembut perut Anisa yang masih rata.
Anisa menatap tangan suaminya di perutnya. Rasa hangat mengalir di dadanya, menggantikan ketakutan yang sempat menguasai. Ia menyentuhkan tangannya di atas tangan Burhan.
"Mas janji enggak bakal paksain diri sampai sakit?" tanya Anisa pelan.
"Mas janji. Kita jalani ini sama-sama ya, Nis? Sedikit demi sedikit," jawab Burhan lembut sambil tersenyum menenangkan. "Tiap ada rezeki lebih, langsung kita pisahkan buat tabungan melahirkan."
"Iya, Mas. Besok aku juga bakal mulai berhemat buat belanja harian. Lauk sederhana enggak apa-apa, yang penting nutrisi buat bayi tetap terpenuhi," kata Anisa mulai menemukan kembali ketegarannya.
"Terima kasih ya, Nis. Maaf kalau Mas belum bisa kasih kehidupan yang mewah," ucap Burhan dengan tulus.
Anisa menggeleng cepat, lalu menyandarkan kepalanya di dada Burhan. "Mas enggak perlu minta maaf. Memiliki Mas dan calon bayi ini sudah cukup buat aku bahagia. Kita pasti bisa melewati ini."
Malam itu, di dalam rumah kontrakan kecil yang sederhana, Burhan dan Anisa saling menguatkan. Kebahagiaan dan kecemasan berjalan berdampingan, menyusun babak baru perjalanan hidup mereka yang penuh perjuangan.