NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pintu kayu bernomor tiga belas itu berderit saat Nisa mendorongnya. Ia kembali menjejakkan kaki di ruang kontrakan yang sempit dan pengap tersebut. Hawa panas langsung menyeruak, sangat kontras dengan dinginnya AC di dalam kafe tempatnya baru saja menghancurkan kepingan terakhir dari sisa-sisa perasaannya pada Arga.

Nisa merogoh saku jaketnya saat benda pipih di sana bergetar singkat. Ada sebuah pesan masuk dari Inayah.

Inayah: Nis, aku langsung meluncur ke butik ya. Ada klien cerewet yang harus kuurus. Besok pagi aku janji bawain bubur ayam kesukaanmu ke situ. Kamu istirahat penuh hari ini. Jangan mikirin apa-apa dulu. Aku sayang kamu.

Nisa memaksakan seutas senyum tipis, meski bibirnya terasa kebas. Ia mengetikkan balasan singkat berisikan ucapan terima kasih, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja kayu.

Lutut Nisa tiba-tiba terasa lemas. Tanpa mengganti pakaiannya, ia menjatuhkan tubuh lelahnya ke atas kasur busa yang tipis. Aroma debu bercampur kapur barus dari sudut ruangan menyapa penciumannya. Di tempat yang asing dan sepi ini, benteng pertahanan Nisa akhirnya benar-benar runtuh.

Air matanya, yang sekuat tenaga ia tahan selama berhadapan dengan Arga, kini mengalir deras membasahi sarung bantal yang sedikit kasar.

"Tuhan... sakit sekali..." rintihnya parau, meremas dada kirinya yang terasa seperti ditikam belati berkali-kali.

Nisa memejamkan mata, membiarkan memori masa lalu mengiris-iris ulu hatinya. Arga adalah cinta pertamanya. Pria pertama yang membuatnya mengenal debaran aneh di dada saat mereka diperkenalkan lewat perjodohan keluarga.

Pria pertama yang ia buatkan sarapan dengan tangan bergetar di pagi pertama pernikahan mereka. Nisa selalu berpikir, pria arogan itu juga akan menjadi cinta terakhirnya. Ia berpikir, dengan kesabaran, batu sekeras Arga akan melunak.

Namun ternyata, cinta pertamanya berakhir setragis ini. Ia kehilangan suaminya di saat yang bersamaan ia kehilangan kedua orang tuanya.

Isak tangis Nisa terdengar memilukan, memantul di dinding-dinding kontrakan sempit itu. Ia meringkuk memeluk tubuhnya sendiri, menangisi nasib, menangisi perasaannya yang dicampakkan, hingga akhirnya rasa lelah yang luar biasa perlahan menyeretnya ke alam bawah sadar. Nisa tertidur dengan jejak air mata yang masih basah di kedua belah pipinya.

Sementara itu, deru mesin mobil SUV hitam milik Arga membelah jalanan perumahan elite dan berbelok masuk ke pelataran rumahnya. Arga mematikan mesin, namun tangannya masih mencengkeram setir kemudi dengan kuat. Pikirannya benar-benar kacau. Penolakan Nisa di kafe tadi terus berputar-putar di kepalanya seperti kutukan.

Dengan langkah gontai, pria itu turun dari mobil. Namun, keningnya mengernyit bingung saat melihat ada dua mobil lain yang terparkir rapi di garasi. Itu mobil milik Papi dan Maminya.

Arga bergegas masuk. Baru saja ia membuka pintu utama, suara tawa hangat yang sudah lama tak terdengar di rumah itu menyapa telinganya. Di ruang keluarga, duduklah sang Papi, Mami, dan... Kakeknya.

Jantung Arga seolah mencelos.

Melihat Arga berdiri mematung di ambang batas ruang keluarga, sang Kakek, yang mengenakan kursi roda karena kondisi fisiknya yang menua, langsung memaksakan diri untuk berdiri. Papi Arga dengan sigap memegangi lengan pria sepuh itu, membantunya menyeimbangkan tubuh.

"Arga, cucuku," suara serak dan berat milik Kakek menggema. Mata keriput namun tajam itu langsung menelisik ke arah belakang Arga, mencari sosok yang paling ditunggunya. "Di mana menantu kesayangan Kakek? Di mana Nisa?"

Tubuh Arga menegang. Lidahnya mendadak kelu. Pertanyaan itu menampar kesadaran Arga dengan sangat keras.

Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh ini? Bagaimana mungkin ia menceraikan menantu kesayangan keluarganya sendiri? Nisa bukan sekadar istri baginya, melainkan menantu yang paling diistimewakan oleh Kakeknya.

Sang Kakek sangat menyayangi Nisa karena kelembutan dan kesabaran wanita itu. Bahkan, sudah menjadi rutinitas wajib bahwa Kakek harus bertemu dengan Nisa setidaknya sebulan sekali, menikmati teh krisan buatan Nisa sambil mengobrol di taman belakang.

"Arga? Kenapa malah diam mematung di situ?" tegur Papinya. "Kakek tanya, istrimu di mana? Kami sengaja datang berombongan karena Kakekmu rindu berat pada Nisa."

Arga menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Matanya melirik ke arah dada kiri Kakeknya. Pria sepuh itu memiliki riwayat penyakit jantung yang cukup parah. Kalau sampai kumat karena terkejut mendengar kabar perceraiannya dengan Nisa, nyawa Kakek bisa menjadi taruhannya.

"Nisa... Nisa nggak ada di rumah, Kek," jawab Arga akhirnya, memaksakan suaranya agar terdengar setenang mungkin.

"Tidak ada di rumah?" Maminya menyela, keningnya berkerut heran. "Lalu dia di mana, Ga? Belanja?"

"Nisa... sedang liburan ke luar kota, Mi," bohong Arga lancar, meski di dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. "Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri."

Mendengar jawaban Arga, Kakek menghela napas panjang dan kembali duduk di kursi rodanya dengan gurat kecewa. Sementara itu, Papi dan Mami saling berpandangan sebelum akhirnya menatap putra tunggal mereka dengan sorot prihatin yang mendalam.

"Kamu ini bagaimana sih, Ga?!" omel Papinya dengan nada tertahan, raut wajahnya mengeras menahan marah. "Istrimu sedang hancur, sedang berduka sedalam-dalamnya, malah kamu biarkan pergi liburan sendirian?!"

"Benar kata Papi, Ga," timpal sang Mami, melangkah mendekati putranya. "Seharusnya kamu temani dia. Kondisi Nisa sedang rapuh. Semua yang baru saja terjadi padanya... kehilangan Om Banu dan Tante Inggrid secara tragis, belum lagi kenyataan bahwa perusahaan ayahnya bangkrut... itu pasti sangat menyakitkan buat dia."

Arga menundukkan pandangannya. Dadanya kembali terasa sesak. Keluarganya tahu. Mereka semua tahu tentang kemalangan yang menimpa Nisa. Hanya dirinya, suami sahnya sendiri, yang buta dan tuli karena terlalu sibuk memuja wanita lain.

"Mami dan Papi datang ke sini berniat untuk memeluknya, Ga. Kami ingin memastikan Nisa tidak merasa sendirian," lanjut Maminya dengan mata berkaca-kaca. "Apalagi, kami mendengar kabar bahwa keluarga Nisa masih meninggalkan utang pada beberapa pemasok."

Papi mengangguk menyetujui ucapan Mami, lalu menatap Arga dengan sorot tegas. "Soal utang-utang mendiang besan kita, Papi dan Mami sudah berdiskusi di jalan tadi. Kami yang akan melunasinya semuanya. Kami tidak peduli berapa pun jumlahnya. Papi tidak akan membiarkan menantu Papi dikejar-kejar rentenir. Nisa harus tenang dan fokus menyembuhkan luka batinnya."

Mendengar itu, Arga mendongak. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Jangan, Pi. Tidak perlu."

Papi dan Mami terhenyak. Sang Kakek menatap cucunya dengan kening berkerut tajam.

"Apa maksudmu tidak perlu, Arga?!" bentak Papi keras, nadanya meninggi. "Kamu mau membiarkan istrimu menanggung beban miliaran sendirian?! Otakmu di mana?!"

"Bukan begitu, Pi," sahut Arga cepat, menatap kedua orang tuanya bergantian dengan sorot mata yang diselimuti kabut keputusasaan. "Biar Arga... biar Arga yang bayar semuanya."

Ruang keluarga itu mendadak hening. Papi, Mami, dan Kakek menatap Arga dengan pandangan tak percaya. Selama satu tahun pernikahan, Arga tak pernah sekalipun menunjukkan kepedulian sekecil apa pun pada hal-hal yang berkaitan dengan Nisa atau keluarga besannya.

"Nisa itu istri Arga, Pi," ucap Arga lirih, suaranya sedikit bergetar menahan gejolak di dadanya. Ironi dari kalimatnya sendiri nyaris mencekiknya. Istri? Padahal semalam surat cerai itu sudah ia genggam. "Segala sesuatu yang menyangkut Nisa, adalah tanggung jawab Arga. Biar Arga yang bereskan semua utang Papa Banu. Papi dan Mami tidak usah khawatir."

Senyum lega dan rona bahagia perlahan terbit di wajah Mami. Wanita paruh baya itu melangkah maju, lalu memeluk putranya dengan hangat. Sebuah pelukan yang justru terasa seperti duri yang menusuk punggung Arga.

"Mami pikir, kamu nggak akan pernah peduli sama istrimu sendiri, Ga," bisik Maminya, mengusap punggung lebar Arga. "Syukurlah... syukurlah kalau akhirnya kamu sadar juga. Kamu sudah mulai membuka hatimu, kan?"

Mami melepaskan pelukannya, menatap wajah putranya dengan pandangan lembut keibuan. "Nisa itu perempuan yang sangat baik. Menantu berharga di keluarga kita. Jangan sakiti dia ya, Ga! Cukup dunia saja yang bersikap kejam padanya, kamu jangan. Lukanya sudah terlalu banyak."

Arga membeku. Kalimat Maminya mengalir bagaikan timah panas yang disiramkan tepat ke ulu hatinya.

Jangan sakiti dia.

Lukanya sudah terlalu banyak.

Arga menatap hampa ke arah keluarganya yang kini tersenyum lega. Kakeknya bahkan sudah mulai menanyakan kapan kepulangan Nisa dari 'liburannya'. Arga hanya bisa mengangguk kaku, menelan paksa ludahnya yang terasa sepahit empedu.

Di hadapan keluarganya, ia berjanji akan melindungi dan melunasi utang sang istri. Namun, di dalam hatinya yang paling gelap, Arga tahu kebenaran yang tak berani ia suarakan: ia terlambat. Ia baru menyadari betapa berharganya Nisa, tepat setelah wanita itu memilih pergi dan menutup pintu hatinya rapat-rapat.

1
Bella. pr1ncess
males thor kalau nisa mau kembali sama arga padahal kan arga udah berzina sama adel kenapa tidak ada tokoh wanita yg trgas disetiap cerita sih. yg ada hanya wanita yg mengalah menye menye bosan
Bella. pr1ncess
tolong jangan k mbalikan nisa sama arga thor kalau nnti nisa balek sama arag aku udah gak minat baca
Bella. pr1ncess
bangkitlah nisa kamu masih muda jemputlah takdirmu sendiri lepaskan bebanmu semoga kamu sudah tidak mau kembali pada laki2 durjana seperti arga
Bella. pr1ncess
heh laki2 bulshit dia yg minta cerai setelah nisa mengabulkan malah marah memang laki2 hanya kamu semoga nisa vertemu laki2 baik setelah berpisah dari arga
Bella. pr1ncess
bagus nisa jadilah wanita yg tegar jangan menye2 raihlah bahagiamu sendiri jangan terus mau diinjak lelaki durjana
Turi77 Turi77
Next selanjutnya thor 🥰
merry
jgn mau rujuk nisa laki murahan kyk segala gk pnts di perjuangkan,,
Adinda
bongkar aja lngsung sama keluarganya arga jangn mau dimanfaatin
Turi77 Turi77
skrng Arga bkn,suami km lg Nisa dri pda menutupi lbh baik jujur apapun kondisi Kakek Arga,
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
Mundri Astuti
ancem aja nis....kamu beberin selingkuhan Arga klo ga ngomong sama keluarganya
ryuka
baguussss.. dijamin seruu..
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 semangat nisaa 👍👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
bagus Nis harus tegas👍🏻👍🏻👍🏻
Adinda
buat keluarga arga tau biar arga dimiskinkan biar belang pelakor ketahuan
Turi77 Turi77
Alhamdulillah akhirnya cerai jga, semoga setelah ini hari mu selalu bahagia lahirdan batin Nisa 🫰🥰....janda rasa perawan mkn kedepan 🥰🥰🥰💪💪💪
MamDeyh
Nahhhhh mantaap ortu sama kakek nya dtg
ryuka
kamu ga akan pernah menang batu kali/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Sri Widiyarti
Alhamdulillah ketahuan....
Enz99
Bagus
Heni Fitoria
nah lho ketahuan....
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!