Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Budak Seumur Hidup
# Budak Seumur Hidup #
"Aaa... Serem banget, Kak Ino... Aaa..."
Teriakan itu sering terdengar di telinga Sora sepanjang film horor diputar. Sora sendiri sibuk bersembunyi di balik jaket oversize nya. Hampir-hampir Sora tak berani menatap layar, dari suara yang menggema saja sudah membuat Sora gemetar ketakutan. Dalam hatinya, setelah film ini selesai Sora akan memberi perhitungan pada Ino.
Suara teriakan dari semua penonton mulai mereda dan suasana yang awalnya hening berubah menjadi percakapan-percakapan ringan dari sekitar Sora. Sora membuka jaket dan langsung bisa bernapas lega saat melihat layar bioskop sudah menampilkan credit outro, tanda kalau film sudah usai. Sora langsung berdiri dan bergegas mengenakan kembali jaketnya dengan wajah yang penuh emosi.
Alih-alih meluapkan emosinya pada Ino, ia malah dibuat kaget dengan kondisi Ino yang bersandar lemas di sofa dengan wajah pucat menengadah sambil memejamkan mata. Sementara Clara masih memeluk erat tubuh Ino, sepertinya Clara belum sadar kalau film yang mereka tonton sudah selesai.
Emosi yang awalnya ingin ia tujukan untuk Ino sekarang tertumpah pada Clara. Sora dengan kasar mendorong tubuh Clara sambil marah-marah hingga menjadi pusat perhatian para penonton lain yang belum sepenuhnya keluar dari ruangan bioskop.
Sora menepuk-nepuk pipi Ino hingga memerah, dan dengan panik berteriak meminta tolong untuk memanggilkan ambulans. Clara pun tampak kebingungan karena terus dituduh Sora telah mencelakai Ino dan membuatnya sesak napas. Sora dengan tegas menepis tangan Clara saat gadis itu berniat membantu menyadarkan Ino.
Sambil menunggu bantuan medis datang, Sora masih sibuk mencoba membangunkan Ino. Seperti déjà vu, ia teringat saat Ino pingsan di kamarnya dulu. Ino juga pingsan dalam waktu yang lama. Sora duduk dipangkuan pria jangkung itu dan terus menepuk-nepuk pipi Ino.
"Haahh... hah... hahh... Apa... Sora? Kamu ngapain duduk di sini?"
Sora baru sadar kalau ia sempat terduduk di pangkuan Ino saat merasakan kelegaan yang luar biasa, begitu Ino mulai siuman dari pingsannya.
"Nggak apa-apa... nggak apa-apa... Aku tadi kepleset dikit waktu bangunin kamu. Ino, kamu nggak apa-apa kan? Apa ada yang sakit? Ambulans lagi di jalan. Aku antar periksa ya?"
Wajah Ino yang masih tampak pucat menatap Sora dengan heran. Alisnya bertaut dan cekatan menarik lengan kanannya sewaktu Clara menanyakan kondisinya dengan panik. Ino sekilas melihat Clara lalu berpaling ke arah Sora dan menanyakan siapa gadis di sampingnya ini. Sora seperti memahami sesuatu. Mirip kejadian yang dulu, Axcel terbangun setelah Ino pingsan.
"Axcel...? Bener Axcel kan? Ayo pergi, aku pengen nyeritain hal penting."
Sora menarik lengan baju Axcel dan meninggalkan Clara yang sempat mengejar mereka berdua karena ingin mengikuti, hingga ia kehilangan jejak Sora dan Axcel. Axcel melajukan mobil tanpa tujuan, yang ia pikirkan saat ini harus bisa lepas dari gadis nggak jelas yang sedang mengejarnya. Dan sebenarnya ia juga sadar kalau Ino sempat menguasai tubuhnya lagi, karena ia tiba-tiba terbangun di ruangan bioskop bersama Sora dan gadis asing yang sok kenal sok dekat dengannya.
Tanpa basa-basi Sora menambahkan pin lokasi di G-Maps, dan dengan sangat mahir Axcel membanting setir ke kiri. Tak berapa lama mereka merapat ke sebuah restoran kecil di dalam gang yang masih di area perkotaan.
"Ayo turun, kita ngobrol di sini aja. Sepi tapi makanannya enak kok, aku sering ke sini. Mukamu pucat banget kayak mayat hidup."
Axcel hanya mengikuti perintah Sora karena ia juga tak tahu apa-apa tentang kondisinya saat ini. Tapi ia sendiri merasa tubuhnya sangat lelah dan mual. Sepertinya butuh penambah energi. Sora memesan dua infused water lemon dan beberapa kudapan untuk menyegarkan badan serta pikiran mereka berdua.
"Jadi jembatan kalian bertukar itu saat badanmu hilang kesadaran. Apa kamu sadar soal itu, Cel?"
Axcel mengangguk serius, kemudian ia mengatakan kalau memang saat sedang tertidur, rasanya ia sedang berada di tempat lain seperti layaknya orang bermimpi. Mungkin di saat itu sebenarnya dirinya dalam kondisi pingsan dan Ino sedang mengambil alih hidupnya. Selama ini Axcel tak bisa membedakan antara benar-benar sedang tidur atau sedang diambil alih, yang jelas itu bukan hal yang bisa dikendalikan. Dan ia juga belum bisa memetakan sebab-sebab apa yang membuat Ino secara tiba-tiba mengambil alih tubuhnya.
"Kalau bukan kamu, terus siapa? Soalnya Ino bilang dia juga nggak tahu cara mengendalikan semua itu. Ino bilang kamu yang sengaja tidur dan ngasih dia ruang buat ambil alih. Dan kamu juga yang ngusir Ino. Tahu nggak... Ino juga sedang cari cara buat ngilangin kamu selamanya."
Axcel terhenyak dengan tatapan lurus ke gelas yang semakin kuat ia cengkeram. Axcel tak menyangka Ino juga ingin menguasai penuh tubuhnya. Axcel tak bisa menanggapi pernyataan Sora, pikirannya sibuk dengan pergelutannya sendiri, hingga Sora menanyakan hal apa yang akan Axcel lakukan untuk menghadapi Ino.
Menurut Sora, Ino tak akan mau berkomunikasi dengan Axcel. Melihat sifat Ino yang terlalu waspada bahkan dengan hal-hal kecil, jika Sora menyampaikan keinginan Axcel untuk berkomunikasi dengannya atau menginterogasinya secara diam-diam, pasti Ino akan segera menyadarinya.
"Haahh... Menurutmu bagaimana caranya agar aku bisa menang dari diriku sendiri, emm...? Kalau aku lagi mikirin satu cara, apa Ino juga bisa tahu? Gimana kalau aku ngomong dalam hati? Apa Ino juga dengar?"
Sora menarik napas dalam-dalam dan mencoba memikirkan ulang perkataan Ino. Memang Ino menginginkan hal yang sama, tapi bukan berarti Ino bisa mendengar atau membaca pikiran Axcel. Jika diingat-ingat, Ino mengatakan kalau ia tak tahu tentang apa yang dipikirkan Axcel ketika berhadapan dengan musuh-musuh mereka dan malah memilih untuk tidur.
"Tidur...? Apa maksudnya dengan tidur? Aku nggak pernah melakukan hal itu. Kalau mau tidur ya pasti di kamar lah. Kenapa juga ketiduran di depan musuh? Aneh!"
Sejenak mereka berdua terdiam, memikirkan tabir yang sampai saat ini membuat mereka bertanya-tanya. Kemudian Sora teringat kata-kata Ino yang terasa pahit di hatinya, saat Ino mengatakan kalau ia merasakan kesakitan, lalu mengeluh dingin kemudian kepanasan. Sora berharap mendapatkan jawaban dari Axcel yang mungkin tahu tentang kata-kata ambigu yang sepertinya menyakitkan itu. Tapi Axcel hanya menggelengkan kepalanya.
Masalah yang mereka hadapi terasa tak punya jalan keluar. Tapi jika Axcel terus membiarkan Ino berada dalam dirinya, pasti itu juga membahayakan bagi Axcel. Bisa jadi Ino yang lebih dahulu menemukan cara untuk melumpuhkan dirinya selamanya.
Axcel menghabiskan infused water miliknya lalu menyuruh Sora untuk kembali bertemu dengan Ino secepatnya. Sebab informasi yang Sora dapatkan tak cukup untuk membuka tabir misteri dirinya ini. Seharusnya Sora menginterogasi Ino lebih banyak lagi agar mereka bisa memetakan diri Ino.
"Yaa... Siapa suruh kamu mendadak bangun kayak gitu, mana bikin khawatir lagi. Coba kalau kamu nggak pingsan, Ino pasti masih main sama akulah. Salahin dirimu sendiri Axcel, bangun di waktu yang nggak tepat banget."
Mereka berdua sibuk saling menyalahkan satu sama lain, berdebat dan saling menyindir dibalut tawa mengejek. Mereka sebenarnya hanya ingin menertawakan kebodohan diri mereka sendiri karena merasa lucu telah dipermainkan Ino.
Sora juga tak bisa mundur, karena Nyonya Evelyn sedang mengirimkan foto-foto saat anak buahnya mengirimkan mahar yang sudah disebut-sebut kemarin langsung ke alamat Sora dan telah diterima oleh ibunya. Melihat bukti pengiriman dan penerimaan yang nyata itu membuat Sora tertawa semakin keras hingga air mata tercipta di kedua ujung matanya.
"Tunggu sebentar, kayaknya aku harus cari Clara deh. Itu... gadis yang ngejar-ngejar kita tadi. Kalau dipikir-pikir, kayaknya dia deh yang bikin Ino pingsan. Tapi gimana nyarinya coba? Udah terlanjur hilang orangnya. Tadi Ino pingsan di pelukan dia."
Axcel dapat menangkap maksud dan rencana Sora selanjutnya. Tapi ia berpikiran lain, si Clara-Clara itu berhasil mengusir Ino, tapi bukan berarti dia juga bisa membangunkan Ino. Yang sekarang harus mereka pikirkan adalah bagaimana cara memunculkan Ino dulu.
"Tapi kan itu juga penting tahu..., Se enggaknya kita udah tahu kalau Clara bisa bangunin kamu. Ya kan? Mmm... Aku curiga sama Easton deh. Kayaknya kamu tuh berubah setelah berantem sama Easton deh. Ah iyaaa... Bener Easton dan Clara! Mereka kunci keluar masuknya Ino."
PAK... PAK... PAK...
Axcel bertepuk tangan lambat sambil terkagum-kagum dengan pemikiran Sora. Sekarang Axcel merasa punya salah satu kartu as untuk mengendalikan Ino. Axcel terus-terusan memuji Sora, dan Sora pasti bisa menyombongkan itu.
Sora ingin segera mempertemukan Axcel dengan Easton, tapi Axcel menolak. Setidaknya jangan hari ini juga. Selain memburu Ino, Axcel juga harus memikirkan kuliahnya. Ia masih tertinggal jauh, belum sempat mengejar malah semakin tertinggal karena Ino yang selalu mengajaknya kabur-kaburan. Tunggu akhir pekan nanti, agar Axcel bisa fokus juga dengan kuliahnya.
"Apa mau aku bantu juga? Aku punya banyak koleksi buku bisnis, dan sebelum masuk ke seni, aku dulu juga sempat ambil mata kuliah bisnis lho... Tapi ya... tarifnya jalan per jam. Hehehe..."
Axcel menyodorkan sebuah credit card unlimited pada Sora dan mengatakan itu adalah salah satu mahar yang dijanjikan Mamanya untuk bantuan yang ia berikan. Sora bebas menggunakannya. Kemudian Axcel juga meminta Sora mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kode batang perbankannya. Tanpa basa-basi Axcel mentransfer 10 juta ke rekening Sora. Ia menyuruh Sora membuat jadwal untuk bimbingan belajar dengannya, dan Sora juga bebas meminta tambahan lagi saat depositnya habis.
"Ini macam nggak bener aja. Hei... Kenapa kok gampang banget sih ngasilin duit dari kantongmu? Kalau kayak gini kan aku jadi bisa mendadak kaya tanpa kerja. Kamu nggak takut kah kalau aku tipu? Bisa-bisanya percaya gitu aja."
Axcel tersenyum. Sebelum menggelontorkan uang, pastinya ibunya sudah menyuruh Mark menyelidiki Sora. Jika orang tuanya saja bisa sepercaya itu pada Sora, maka Axcel pun tak perlu meragukan Sora juga. Tapi untuk mengerjai sahabat barunya itu, Axcel mengatakan kalau uang yang ia berikan pasti ada konsekuensinya. Jika Sora gagal mengajarinya, itu artinya ada hukuman yang akan Sora terima. Entah apa yang dibisikkan di telinga Sora, tapi perkataan Axcel sukses membuat tubuh Sora membeku sejenak.
"Apa masih bisa dibatalkan? Kayaknya aku tadi terlalu sombong deh. Bikin kamu dapetin nilai A+ itu kayaknya nggak sebanding sama kebebasanku deh... MANA ADA YANG MAU JADI BUDAKMU SEUMUR HIDUP WEYYYYY...!"
Kletek... kletek... kletek...
"Maaf... maaf... Silakan dilanjutkan. Saya nggak dengar apa-apa... Permisi, Tuan..."
***
WADUH KIRAVERS! TEORI KITA MAKIN MENDEKATI KEBENARAN! 😱🔥
Ternyata Easton dan Clara adalah kunci utama keluar-masuknya sosok Ino di raga Axcel! Tapi yang bikin merinding sekaligus ngakak... Sora malah terjebak perjanjian 'hukuman' dari Axcel gara-gara nerima imbalan mahar dan biaya les privat fantastis! 😭💸
Kira-kira apa sih yang dibisikkan Axcel sampai bikin Sora membeku ketakutan sampai teriak menolak jadi budak seumur hidup?! Terus gimana rencana mereka berdua saat nemuin Easton dan Clara di akhir pekan nanti? Apakah Ino bakal kepancing keluar lagi?!
Yuk, tumpahkan teori gokil dan spekulasi kalian di kolom komentar sekarang, Kiravers! 💬👇
Jangan lupa ya Kiravers:
TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung Sora yang mendadak kaya tapi terancam jadi budak Axcel!
SIMPAN NOVEL INI DI LIBRARY (TAP/BOOKMARK) kalian biar nggak ketinggalan Notifikasi Bab 22!
FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!
Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥