"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketidak Fokusan Daus 21.
Suara ketukan spidol pada papan tulis putih di depan kelas XII-A terdengar konstan, tetapi bagi Firdaus, ketukan itu bertalu langsung di dalam dadanya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah tiga tahun masa sekolahnya, fokus cowok itu pecah berantakan.
Pandangannya tertuju lurus pada baris ketiga dari depan.
Pada helai-helai rambut bob se-bahu Elsa yang bergerak lembut setiap kali cewek itu mencatat penjelasan guru.
Lekuk leher Elsa yang biasanya tertutup rambut panjang, kini terekspos, tampak begitu rapuh sekaligus tegas.
"Firdaus."
Panggilan itu tidak terdengar.
"Muhammad Firdaus!"
Suara bernada tinggi dari Bu Ambar, guru Matematika Wajib, seketika memutus benang lamunan Firdaus.
Cowok itu terperanjat, buru-buru menegakkan punggungnya yang tegap.
"I-ya, Bu?"
"Ibu perhatikan dari tadi pandangan kamu tidak ke papan tulis. Ada masalah dengan materi turunan fungsi ini? Atau OSIS sedang ada agenda mendesak?" Bu Ambar menatap heran. Firdaus adalah murid kesayangannya, ikon murid teladan yang tidak pernah melepaskan atensinya dari pelajaran.
Beberapa murid menoleh ke arah Firdaus, termasuk Elsa.
Namun, tatapan Elsa hanya bertahan satu detik. Dingin, datar, sebelum akhirnya cewek itu kembali menatap bukunya tanpa minat.
Penolakan implisit itu menorehkan rasa ngilu yang baru di ulu hati Firdaus.
"Maaf, Bu. Saya agak kurang enak badan," dusta Firdaus. Suaranya serak.
"Kalau begitu, fokus kembali. Kita sebentar lagi ujian kelulusan," nasihat Bu Ambar sebelum melanjutkan menulis rumus di papan.
Firdaus mengembuskan napas berat.
Jari-jarinya meremas pulpen mahal di genggamannya. Dia tidak sakit fisik. Dia hanya sedang sekarat oleh rasa bersalah yang terlambat datang.
Selama ini, Elsa selalu duduk di sudut belakang, menatap punggung Firdaus dengan binar memuja yang melelahkan.
Kini, saat Elsa memangkas jarak dan duduk di depan, Firdaus justru merasa cewek itu berada di belahan bumi yang berbeda. Jauh dan tak tergapai.
**
Bel pulang sekolah berdering nyaring, memicu sorak lega dari ratusan murid SMA Nusantara. Riuh rendah obrolan mulai memenuhi ruang kelas XII-A saat mereka merapikan buku ke dalam tas.
Elsa baru saja menyandang tas ranselnya ketika sebuah bayangan tinggi mendadak bersandar di ambang pintu kelas.
Kehadiran cowok itu langsung memotong jalur keluar para murid yang hendak pulang.
Aris. Seragamnya berantakan, jaket levisnya disampirkan di satu bahu, dan sebuah buku tulis yang digulung asal-asalan berada di genggaman tangannya. Penampilannya yang kontras dengan atmosfer kelas unggulan itu langsung menyedot perhatian.
"Sa," panggil Aris. Suaranya yang berat memotong kebisingan kelas.
Elsa menoleh, sedikit terkejut melihat berandal sekolah itu rela menginjakkan kaki di kawasan kelas 'anak-anak baik'. "Ris? Ngapain ke sini?"
Aris melangkah masuk tanpa memedulikan tatapan menghakimi dari beberapa murid.
Dia berhenti tepat di depan meja Elsa, lalu melemparkan gulungan buku tulisnya ke atas meja dengan gestur santai.
"Gue butuh otak lo," ujar Aris blak-blakan.
Elsa mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"
"Nilai matematika gue anjlok ke kerak bumi. Gara-gara itu, bokap ngancem bakal nyita kunci motor gue sebulan," Aris mendengus, tangan kirinya bergerak acak mengacak rambutnya yang agak gondrong. "Ajarin gue materi yang lagi di bahas Bu Ambar. Gue tahu lo jago."
"Tapi kan lo bisa minta tolong anak kelas lo, Ris—"
"Gak mau," potong Aris cepat. Dia memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam manik mata Elsa dengan intensitas yang sanggup mengunci napas. "Gue maunya diajarin sama lo. Cuma lo yang punya kesabaran buat ngadepin kepala batu kayak gue. Gimana? Deal?"
Elsa sempat tertegun. Ada getaran aneh yang menjalar di dadanya melihat bagaimana Aris begitu jujur menunjukkan kelemahannya tanpa rasa gengsi. Berbeda dengan seseorang yang selalu menyembunyikan segala celah di balik topeng kesempurnaan.
Dari sudut kelas, Firdaus yang sedang memasukkan laptop ke dalam tas membeku. Tangannya berhenti bergerak.
Telinganya menangkap setiap bait percakapan itu seperti duri yang menusuk pendengarannya. Dia ingin maju. Dia ingin mengatakan bahwa dia, sebagai Ketua OSIS sekaligus juara umum paralel, jauh lebih kompeten untuk mengajar matematika daripada Elsa. Tapi dia sadar, dia tidak lagi memiliki hak suara di hidup cewek itu.
"Ya udah," Elsa akhirnya mengangguk tipis, senyuman kecil terbit di bibirnya. "Di kafe depan sekolah aja, biar tenang."
Seringai kemenangan langsung tercetak di wajah tampan Aris. "Oke. Gue yang bayar kopinya."
**
Sore itu, mendung kembali menggelayuti langit kota. Udara dingin mulai merayap naik, namun suasana di dalam D’Nusantara Cafe—sebuah tempat nongkrong estetik berkonsep kaca di dekat sekolah—terasa hangat.
Di meja sudut dekat jendela besar, Elsa duduk berhadapan dengan Aris. Sebuah buku paket matematika tebal terbuka di antara mereka.
"Bukan kayak gitu jalan rumusnya, Aris," Elsa menghela napas, namun nadanya terdengar jenaka. Dia mengambil alih pulpen dari tangan Aris. "Ini pindah ruas, jadi tandanya berubah dari minus ke plus. Paham?"
Aris tidak menyahut. Cowok itu malah menopang dagunya dengan satu tangan, matanya sama sekali tidak melihat ke arah angka-angka rumit di atas kertas, melainkan tertuju sepenuhnya pada wajah Elsa.
Menikmati bagaimana cara bibir cewek itu bergerak saat mengomel, dan bagaimana beberapa helai rambut pendeknya jatuh menutupi pipi.
"Ris, lo dengerin gue gak sih?" Elsa mendongak, menangkap basah tatapan intens itu.
"Dengerin kok," sahut Aris pelan, suaranya mendadak melembut. Dia mengulurkan tangan, dengan gerakan sangat natural, jemarinya merapikan helai rambut Elsa yang menghalangi pandangan, menyelipkannya ke belakang telinga cewek itu untuk kedua kalinya. "Suara lo lebih bagus daripada penjelasan Bu Ambar. Bikin gue betah."
Pipi Elsa seketika merona pekat. Debaran di dada nya berpacu liar. Interaksi nyata tanpa kepura-puraan ini adalah sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Bersama Aris, dia merasa dihargai. Merasa... diinginkan.
Sementara itu, di luar kafe, gerimis mulai turun membasahi jalanan aspal.
Sebuah motor matic berlogo OSIS SMA Nusantara berhenti di dekat area parkir.
Firdaus turun dari motor dengan jas hujan transparan yang membalut seragam rapinya. Sebagai bagian dari patroli indisipliner OSIS untuk memastikan tidak ada murid yang keluyuran di jam pulang sekolah dengan atribut lengkap, Firdaus harus memeriksa area tersebut.
Namun, langkah kakinya mendadak terkunci di atas trotoar yang basah.
Melalui dinding kaca kafe yang transparan, Firdaus disuguhi sebuah pemandangan yang seketika meremukkan sisa-sisa pertahanan jiwanya.
Di dalam sana, di bawah pendar lampu kafe yang hangat, Elsa sedang tertawa kecil sambil memukul pelan lengan Aris.
Dan Aris, berandal yang terkenal dingin dan kasar itu, menatap Elsa dengan tatapan penuh kelembutan yang belum pernah dia perlihatkan pada dunia.
Tangan Aris masih berada di dekat wajah Elsa, sebuah gestur intim yang menandakan kepemilikan mutlak.
Firdaus berdiri membeku di bawah guyuran gerimis yang kian deras.
Map penilaian di tangannya perlahan basah terkena air, sama basahnya dengan sepasang matanya yang kini memanas.
Dia adalah Firdaus. Cowok yang dulu selalu dikejar, cowok yang menganggap ketulusan Elsa adalah hal biasa yang murah.
Namun sore ini, di balik kaca pembatas yang dingin, dia dipaksa menyaksikan kenyataan paling brutal: Elsa-nya yang dulu layu, kini telah mekar dengan begitu indahnya di taman milik orang lain. Dan Firdaus, hanya bisa berdiri di luar, menggigil dalam penyesalan yang akan sulit menemukan jalan pulang.
......................
...****************...
Tbc,