Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tapi, Althaf...
Althaf membetulkan posisi jam tangan hitam di pergelangan tangannya, lalu menatap Ayara. "Saya sengaja menunggu, memastikan kamu... dan teman-temanmu sampai di basecamp dengan selamat."
Kata 'kamu' yang diucapkan Althaf dengan penekanan samar seraya menatap pas mata Ayara, sontak membuat suasana seketika riuh oleh sorakan pelan dari sahabat-sahabat Ayara.
"Aww... nungguin 'kamu' katanya, Ra!" bisik Maura menyenggol lengan Ayara cukup keras sampai Ayara hampir kehilangan keseimbangan.
Ayara merasakan sensasi panas langsung menjalar cepat membakar kedua pipinya, ia berusaha mati-matian menundukkan kepala dan meremas tali ranselnya erat-erat untuk menyembunyikan kegugupannya.
Melihat reaksi Ayara yang begitu canggung, Althaf tidak membiarkan Ayara makin terpojok. Pria itu mengalihkan pembicaraan dengan begitu luwes dan sopan kepada Heri dan para porter yang baru saja menurunkan sisa barang logistik.
"Mas Heri, terima kasih sudah mendampingi perjalanan mereka dengan aman," ucap Althaf seraya menjabat tangan Heri dan menyerahkan sebuah amplop tebal sebagai bentuk apresiasi tambahan dari kantong pribadinya.
"Sama-sama, Mas Althaf. Ini sudah tugas kami," jawab Heri tersenyum sungkan namun menerima uluran tersebut dengan penuh rasa syukur.
Setelah urusan administrasi dan perpisahan dengan tim guide selesai, ketujuh wanita itu memisahkan diri untuk membersihkan diri dan membasuh debu pendakian di bilik mandi basecamp.
Ayara sengaja membuang waktu sedikit lebih lama di dalam kamar mandi, ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali dan menatap bayangan dirinya di cermin. Ia hanya mengenakan kaus, celana training sederhana dan wajah tanpa riasan, ia hanyalah seorang buruh pabrik yang setiap hari bergulat dengan bau lem dan debu mesin jahit. Entah apa yang membuat pria sekelas Althaf sengaja meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu dirinya.
"Jangan mimpi tinggi-tinggi, Ayara. Ingat posisi kamu," bisik Ayara pada dirinya sendiri, mencoba menancapkan kenyataan pahit ke dalam benaknya sebelum melangkah keluar.
Begitu selesai berganti pakaian bersih, Ayara melangkah keluar menuju warung basecamp tempat teman-temannya berkumpul. Di sana, Althaf tampak sedang mengobrol santai dengan Linda dan Stevi sembari menikmati segelas teh hangat. Pria itu terlihat sangat berkharisma dan mudah membaur, tanpa sedikit pun menyombongkan diri.
"Nah, ini dia Ayara-nya udah selesai!" ucap Stevi begitu melihat Ayara mendekat.
Ayara tersenyum canggung dan mengambil tempat duduk paling tepi, sebisa mungkin mengambil jarak dari Althaf. Namun, Althaf justru berdiri dan meraih satu cangkir teh manis panas yang baru saja dipesannya, lalu melangkah menghampiri bangku kayu tempat Ayara duduk.
Pria itu meletakkan cangkir tersebut tepat di depan Ayara, "Minum dulu, biar hangat. Kamu kelihatan masih tegang."
Ayara mendongak dan mendapati Althaf menatapnya dari jarak dekat. "Terima kasih, Mas Althaf. Tapi nggak usah repot-repot, saya bisa pesan sendiri...,"
"Nggak repot sama sekali, ini saya yang mau," potong Althaf tenang namun tak terbantahkan, lalu duduk di bangku kayu tepat di hadapan Ayara.
Linda yang memperhatikan dari jauh tersenyum mengerti, ia menepuk tangan pelan mengalihkan perhatian teman-temannya. "Guys, gimana kalau nanti kita beli oleh-oleh dulu sebelum balik ke Bandung?"
"Setuju!" sahut Maura dan Adel serempak.
"Mas Althaf mau ikut?" tawar Linda sopan.
Althaf menoleh pada Linda, lalu pandangannya kembali bergulir pada Ayara yang sedang menyeruput teh panasnya dengan hati-hati.
"Panggil Althaf aja. Dan dengan senang hati, saya ikut di belakang mobil kalian. Oh ya, gimana kalau ada yang ikut mobil saya, biar mobil kalian nggak terlalu banyak orang," tawar Althaf.
"Boleh sih, nanti tiga orang pindah ke mobilnya Althaf, gimana?" tanya Stevi pada teman-temannya.
"Gue, Clara sama Ayara pindah ke mobilnya, Althaf," ucap Maura.
"Iya, boleh itu," ucap Clara.
Perkataan Maura yang mendadak itu sontak membuat Ayara tersedak teh manis yang baru saja ia teguk. Ayara buru-buru meletakkan cangkirnya, lalu menatap tajam ke arah Maura dengan isyarat mata yang menyiratkan protes keras.
Namun, Maura pura-pura tidak melihat. Gadis itu justru mengedipkan sebelah matanya ke arah Clara, seolah mereka telah sepakat untuk memberikan ruang bagi Ayara agar bisa lebih dekat dengan Althaf.
"Nah, pas banget kalau gitu! kalian bertiga pindah ke mobil Althaf, sisanya di mobil gue. Biar perjalanan pulang nggak terlalu sesak," ucap Stevi cepat, memberikan lampu hijau tanpa memberi Ayara kesempatan untuk menolak.
Althaf menyunggingkan senyum tipis, sorot matanya menyiratkan persetujuan yang dalam. "Silakan. Mobil saya cukup luas, kalian tidak perlu berdesakan."
Tidak ada lagi kesempatan Ayara untuk melarikan diri. Dengan perasaan canggung, Ayara terpaksa menerima rencana sahabat-sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian, persiapan kepulangan pun selesai. Tas-tas dan perlengkapan mendaki dipindahkan ke dalam bagasi masing-masing kendaraan. Mobil SUV putih milik Stevi memimpin di depan, sementara mobil sedan hitam mewah milik Althaf mengekor tepat di belakangnya.
Di dalam kabin mobil Althaf, suasana terasa begitu nyaman dan hening. AC mobil berembus sejuk, kontras dengan teriknya matahari siang di luar jendela. Maura dan Clara duduk di kursi belakang, sementara Ayara dengan terpaksa harus duduk di kursi depan, di sebelah Althaf yang sedang mengemudi.
Sepanjang perjalanan menuju pusat oleh-oleh khas setempat, Ayara memilih menatap lurus ke luar jendela kaca, enggan menoleh ke samping. Aroma parfum maskulin yang lembut bercampur kesegaran mint menguar tipis dari tubuh Althaf, membuat konsentrasi Ayara buyar seketika.
"Kalian mau cari oleh-oleh apa?" suara bariton Althaf memecah keheningan di dalam mobil.
"Mau cari keripik tempe sama tahu! Soalnya kemarin kata Mas Heri, keripik di sini enak-enak," jawab Maura antusias dari kursi belakang.
Melalui pantulan spion tengah, Maura dan Clara saling bertukar pandang penuh arti, lalu kompak menahan senyum. Mereka bisa melihat betapa kaku dan tegangnya postur tubuh Ayara di samping kemudi, tangan wanita itu melipat rapi di atas pangkuan seolah menahan beban berat.
Tak berselang lama, kedua mobil tersebut tiba di sebuah sentra oleh-oleh yang cukup ramai, mereka turun dan mulai memilih berbagai jajanan khas untuk dibawa pulang ke Bandung. Dengan sigap, Althaf mengambil keranjang belanjaan yang diambil oleh Ayara.
"Udah, biar saya bawa sendiri keranjangnya," protes Ayara saat Althaf hendak merebut keranjang belanjaan di tangannya.
Althaf menghentikan gerakannya dan menatap Ayara tepat di manik matanya dengan sorot teduh, "Tidak apa-apa, biar saya bantu. Ini berat," ucapnya.
"Nggak berat kok, saya cuma beli beberapa aja," ucap Ayara.
"Tetap saja, biat saya yang bawakan," ucap Althaf.
"Tapi, Althaf...,"
"Teman-teman kamu boleh panggil saya Althaf, tapi kalau kamu harus panggil saya Mas Althaf," potong Althaf.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita