NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Sangkar Emas

Pendopo berarsitektur Jawa kuno itu terasa terlampau dingin malam ini. Bau aroma terapi dupa cendana melayang tipis di udara, bercampur dengan wangi bunga melati segar yang diletakkan di sudut-sudut ruangan. Bagi orang luar, rumah keluarga Natakusumah yang megah dan berasitektur klasik keraton ini mungkin tampak seperti istana nan megah. Namun bagiku, setiap sudut rumah ini adalah dinding penjara berselubung aturan dan adat istiadat yang tak pernah memberiku ruang untuk bernapas.

Namaku Maizara Paramita. Namun, keluarga dekat biasanya memanggilku Mei.

Tahun depan usiaku akan menginjak tiga puluh tahun. Di mata masyarakat modern, usia tiga puluh mungkin adalah puncak karier seorang wanita. Tapi di mata masyarakat tradisional dan terutama di mata keluargaku yang menjunjung tinggi garis keturunan ningrat tiga puluh tahun tanpa seorang suami di sampingku adalah sebuah kegagalan. Sebuah preseden buruk. Angka yang merayap seperti vonis "perawan tua" yang tak terbantahkan.

Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Dan celakanya, aku adalah satu-satunya anak perempuan di rumah ini.

Kakak pertamaku, Mas Mordian Wahyu Pramudya, adalah sesosok figur sempurna di mata Romo. Seorang dokter spesialis yang kini menetap di Jepang bersama istri populernya yang merupakan warga negara setempat dan putri kecil mereka. Hidupnya tertata, prestisius, dan jauh dari jangkauan jaring-jaring aturan rumah ini.

Sementara adik bungsu kami, Maulana Adam Pramudya, adalah "putra mahkota" kesayangan keluarga. Saat ini Adam sedang menyelesaikan semester akhir kuliah kedokterannya di Brooklyn, New York. Romo menaruh seluruh tumpuan harapan, mimpi, dan kebanggaan pada Adam.

Lalu, di mana posisiku?

Aku adalah anak tengah yang transparan. Kehadiranku ada, tapi keberadaanku jarang dianggap.

Sejak kecil, perhatian Romo Gusti Raden Mas Haryadi Natakusumah, selalu terserap penuh pada dua anak laki-lakinya. Anak laki-laki adalah penerus trah, pembawa nama besar Natakusumah, dan calon pemegang kehormatan. Sedangkan aku? Aku hanyalah anak perempuan yang dianggap cukup diajari bersikap anggun, berbicara lembut, dan kelak diserahkan kepada lelaki yang direstui keluarga.

Padahal, aku punya impian. Selepas lulus kuliah dari jurusan seni rupa dan kriya, aku sangat ingin menjadi seorang desainer busana. Aku bermimpi menciptakan gaun-gaun indah yang memadukan etnik Jawa kuno dengan modernitas. Tapi mimpi itu dipatahkan Romo dalam satu ketukan meja. “Wanita Natakusumah tidak perlu bekerja memamerkan kain di hadapan orang banyak,” tegasnya kala itu.

Sejak hari itu, aku berjuang sendirian. Tanpa sepeser pun dukungan finansial dari Romo untuk impianku, aku bekerja membanting tulang secara diam-diam di sebuah perusahaan retail fashion lokal demi memenuhi kebutuhanku sendiri dan menabung modal. Punya orang tua utuh dan mampu secara finansial ternyata tak menjamin kamu memiliki rumah untuk berpulang. Di rumah ini, hatiku selalu merasa yatim piatu.

Malam ini, jam dinding kayu berukir di ruang keluarga berdentang delapan kali. Suasananya begitu hening, hingga dentang lonceng itu terdengar bak gema di dalam gua.

Aku duduk bersimpuh di atas karpet beludru merah, berhadapan langsung dengan meja kayu jati ukir yang kokoh. Di seberangku, Romo duduk tegak di kursi kebesarannya. Wajahnya yang tegas dipenuhi garis-garis usia yang tidak mengikis keangkuhannya sedikit pun.

Di samping kanan Romo, duduk Ibu dengan sanggul rapi dan kebaya cantingnya, menunduk anggun tanpa bersuara. Dan di sebelah kirinya, duduk Bulek Gusti Partini Natakusumah, adik perempuan Romo yang selalu menjadi pengawas standar moral dan tata krama di keluarga ini.

Romo menyesap teh nasgitel dari cangkir porselennya sebelum akhirnya meletakkannya kembali ke cawan tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.

"Besok, teman Romo sudah aturkan pertemuan kedua keluarga kita," ucap Romo datar. Suaranya berat, penuh otoritas yang tak menerima bantahan.

Dadaku mendadak sesak. Bagaikan dihantam gada berat, napasku tertahan di tenggorokan. Pertemuan kedua keluarga? Tanpa ada diskusi? Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya?

Aku mendongak perlahan, menatap wajah pria yang kupanggil Romo itu. Hati kecilku meronta. Sampai kapan aku harus diam dan menerima seluruh takdir yang mereka gariskan tanpa bertanya?

"Ngapunten, Romo..." suaraku bergetar, namun aku memaksakan diri untuk berbicara. "Apa bisa Mei berkenalan dahulu? Mei belum kenal dengan laki-laki pilihan Romo."

Suasana ruangan seketika membeku. Bulek Partini menghentikan gerakan kipas tangannya dan menatapku dengan mata membelalak, terkejut atas keberanianku menyela.

"Mei...." suara Ibu terdengar lirih, bernada peringatan sekaligus kepasrahan. Tangannya yang lembut meraih jemantik jariku di bawah meja, meremasnya pelan—sebuah isyarat berulang yang selalu meminta aku untuk mengalah dan diam.

"Nyuwun sewu, Ibu, Romo," lanjutku, mencoba menjaga nada suaraku agar tidak dinilai tidak sopan menurut adat, walau air mata sudah mendesak di balik pelupuk mata. "Pernikahan ini untuk seumur hidup Mei. Apakah Mei tidak memiliki hak sedikit pun untuk sekadar menyapa atau mengenal bagaimana watak calon suami Mei sebelum kita melangkah lebih jauh?"

Bulek Partini tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan penuh sindiran.

"Maizara," panggil Bulek Partini dengan nada menceramahi. "Tatanan di keluarga Natakusumah dari dulu tidak pernah berubah. Orang tua tidak mungkin menjerumuskan anaknya. Apalagi usiamu itu sebentar lagi kepala tiga. Mau menunggu sampai kapan lagi? Harusnya kamu bersyukur ada laki-laki dari keluarga terpandang yang mau meminangmu."

Setiap kata dari Bulek Partini menusuk tepat di jantungku. Bersyukur? Haruskah aku bersyukur dijadikan barang dagangan demi menjaga relasi dan nama baik keluarga?

"Bulek, Mei punya pekerjaan, Mei punya mimpi. Mei hanya minta waktu sebentar untuk berkenalan... "

"Cukup, Maizara."

Suara Romo menggelegar tenang namun amat mematikan, menghentikan kalimatku seketika. Beliau membetulkan posisi duduknya, menatapku lurus dengan pandangan dingin yang selalu berhasil membuatku merasa kerdil.

"Pekerjaanmu di tempat konveksi kecil itu bukan sesuatu yang banggakan di keluarga ini," ujar Romo tanpa perasaan, merendahkan usaha keras yang kubangun selama bertahun-tahun tanpa bantuan finansial darinya. "Laki-laki yang dijodohkan denganmu adalah Dimas Arjowibowo. Dia pemilik perusahaan ternama di negeri ini. Keluarganya terpandang, bibit, bebet, dan bobotnya sudah Romo perhitungkan."

Dimas Arjowibowo.

Nama itu tidak asing di telingaku. Nama yang sering menghiasi sampul majalah bisnis dan berita keuangan nasional. Pria muda, tampan, dingin, dan dikabarkan bertangan besi dalam memimpin imperium bisnisnya. Pria yang dunianya beratus-ratus kilometer jauhnya dari duniaku yang sederhana.

"Tapi Romo, Mei tidak mengenal Mas Dimas. Bagaimana kalau kami tidak cocok? Bagaimana kalau, "

"Kalian bisa berkenalan lebih jauh setelah menikah," potong Romo dingin.

Kalimat itu diucapkannya seolah-olah pernikahan adalah sebuah formalitas kecil yang tidak memerlukan keterlibatan perasaan. Romo kemudian berdiri dari kursi jatinya. Merapikan busana beskap ringannya, lalu tanpa memandangku lagi, beliau melangkah pergi menuju paviliun seberang tempat peristirahatannya meninggalkan gema langkah kakinya yang berat di atas lantai marmer.

Pintu ruang keluarga tertutup pelan. Romo sudah pergi, namun bobot keputusannya tertinggal, menindih dadaku hingga rasanya tak sanggup bernapas.

"Mei, dengarkan Bulek-mu ini," Bulek Partini menyandarkan badannya, menatapku penuh penekanan. "Dimas Arjowibowo itu bukan sembarang pria. Banyak wanita di luar sana yang mengantre untuk duduk di posisimu besok. Jangan bersikap childish. Usiamu itu sudah bukan waktunya jual mahal. Pikirkan nama baik Romo-mu. Jangan buat malu keluarga ini hanya karena ego dan impian picisanmu menjadi perancang busana itu."

"Bulek, cukup," sela Ibu perlahan. Walau lambat, Ibu mencoba menengahi. "Biarkan Mei menenangkan diri dulu."

Bulek Partini mendengus geleng-geleng kepala, lalu berdiri. "Terserah kamu, Mbak. Tapi tolong ajari anak perempuanmu ini tata krama. Jangan sampai besok di depan keluarga Arjowibowo dia mempermalukan trah Natakusumah." Dengan kibasan selendangnya, Bulek Partini pun berlalu meninggalkanku dan Ibu di ruangan yang makin terasa sesak.

Kini hanya tersisa aku dan Ibu.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menetes hangat membasahi pipiku. Aku menunduk dalam-dalam, membiarkan jemariku meremas kain samping busana yang kupakai.

"Ibu..." panggilku parau. "Apakah sedikit pun... pendapat Mei tidak pernah berarti di rumah ini?"

Ibu bergeser mendekatiku. Tangan ibu yang halus mengelus punggungku. Namun di balik kehangatan usapan itu, aku tahu Ibu pun tidak memiliki kuasa untuk membelaku. Sepanjang hidupnya, Ibu adalah bayangan Romo setia, patuh, dan tak pernah bersuara.

"Mei... maafkan Ibu, Nduk," bisik Ibu pelan. Ada getar penyesalan dalam suaranya, tapi tak cukup kuat untuk mematahkan titah Romo. "Romo melakukan ini untuk kebaikanmu. Di usia seperti ini, Romo hanya ingin kamu ada yang menjaga. Dimas itu pria baik dari keluarga terpandang..."

"Kebaikan siapa, Bu?" potongku lirih sambil menatap mata Ibu yang mulai berkaca-kaca. "Kebaikan Mei, atau kebaikan gengsi keluarga ini? Mas Mordian boleh memilih jalan hidupnya sendiri sampai menikah dengan orang Jepang dan tinggal di sana. Adam disupport penuh untuk sekolah jauh ke Amerika. Tapi kenapa Mei? Kenapa ketika Mei ingin mengejar mimpi Mei, Mei dilarang? Dan sekarang, bahkan untuk memilih pasangan hidup, Mei tidak diberi hak?"

"Mei, posisi anak perempuan di keluarga kita itu beda..."

"Beda karena Mei tidak berguna untuk meneruskan garis keturunan Natakusumah?" bisikku tajam, mengungkap kebenaran pahit yang selama ini selalu disembunyikan di balik alasan 'tradisi'.

Ibu bungkam. Beliau tidak sanggup menjawab. Diamnya Ibu adalah jawaban paling jujur yang mengonfirmasi ketakutanku selama ini.

Aku menarik napas panjang, menghapus air mata di pipiku dengan kasar. Cukuplah menangis di hadapan orang-orang yang tidak akan pernah mendengar jeritanku.

"Pertemuannya besok jam berapa, Bu?" tanyaku datar, mengubah nada suaraku menjadi dingin dan tanpa ekspresi.

Ibu menatapku iba. "Makan malam. Di restoran hotel tempat keluarga Arjowibowo menginap. Romo minta kamu memakai kebaya kain brokat warna krem yang sudah disiapkan di kamar."

Aku tersenyum sumbang. Kebaya yang disiapkan. Warna yang ditentukan. Jalan hidup yang sudah dirancang. Aku tak ubahnya sebuah boneka pajangan yang hanya perlu dipoles, dipajang, dan diserahkan.

"Baik, Bu. Mei paham," ucapku pelan. Aku memaksakan diri berdiri, membungkuk sebentar memberi hormat pada Ibu menurut adat, lalu melangkah menuju kamarku di ujung koridor.

Kamar tidurku adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menjadi Maizara yang sebenarnya. Di sudut ruangan, berdiri sebuah mannequin jahit yang terbalut kain setengah jadi, sebuah gaun rancanganku yang belum selesai. Di meja kerja kecilku, tersusun rapi buku-buku sketsa, pensil warna, dan potongan-potongan kain perca yang kubeli dari uang hasil keringatku sendiri.

Aku melangkah mendekati meja kerja itu, meraba buku sketsa yang terbuka. Di sana tergambar sebuah gaun indah dengan detail ukiran batik modern. Tampak bebas, elegan, dan berani.

Sesuatu yang tak akan pernah diizinkan tumbuh dalam hidupku.

Aku berjalan menuju jendela, membuka tirai kayu dan menatap ke luar. Langit malam Yogyakarta begitu pekat tanpa bintang. Di seberang sana, kota terus berputar dengan dinamika modernitasnya, sementara di dalam rumah ini, waktu seolah berhenti di ratusan tahun yang lalu.

Aku teringat sosok Dimas Arjowibowo.

Pria yang besok akan dihadapkan padaku sebagai calon suami. Pria berkuasa pemilik konglomerasi ternama yang bergelimang harta dan penghormatan. Aku yakin, bagi pria setingkat Dimas, pernikahan ini pun kemungkinan besar hanyalah bagian dari aliansi strategis atau sekadar pemenuhan tuntutan keluarganya. Dia mungkin melihatku tak lebih dari sekadar wanita dari keluarga tradisional yang cocok untuk dijadikan pajangan sosialnya.

Apakah dia juga dingin? Apakah dia akan mengurungku makin dalam di sangkar emas yang baru?

Setetes air mata kembali jatuh di atas ambang jendela kayu.

Tiga puluh tahun usiaku sebentar lagi. Aku selalu bermimpi menemukan cinta yang seperti di novel-novel cinta yang tumbuh dari saling mengenal, saling menghargai mimpi, dan tumbuh bersama. Namun kini, yang dihadapkan padaku hanyalah lembaran kertas takdir yang dituliskan orang lain.

"Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cita-cita yang harus kukubur..." bisikku pada angin malam yang berembus dingin menyapu wajahku.

Aku menutup mata rapat-rapat, mencoba menguatkan fondasi hatiku yang mulai hancur. Jika besok aku harus melangkah ke dalam takdir ini, aku bersumpah pada diriku sendiri: aku boleh kehilangan hak atas kebebasanku malam ini, tapi aku tidak akan pernah membiarkan diriku kehilangan harga diri.

Pernikahan tanpa cinta ini mungkin akan dimulai besok. Dan aku harus bersiap menghadapi Dimas Arjowibowo pria asing yang besok akan ditetapkan menjadi pemilik masa depanku.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NinLugas: msh anyeng2 dia wkwk tnggu ya
total 3 replies
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
NinLugas: kasihan yg SDH cinta wkwk
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!