Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengobatan
Malam telah semakin larut ketika kamar Kendra kembali dipenuhi suasana tenang. Di atas tempat tidur, Kendra berbaring dengan posisi nyaman sementara Kirana duduk di sisi kakinya, mempersiapkan beberapa jarum akupunktur yang telah disterilkan.
Kirana memasang jarum satu per satu pada titik tertentu di kaki Kendra. Setelah itu, ia mulai melakukan pijatan perlahan di sekitar bagian yang mengalami gangguan, memperhatikan setiap perubahan kecil pada respons otot Kendra.
Kendra menatap langit-langit kamar sambil sesekali melirik Kirana. “Apa memang harus sebanyak ini?”
Kirana tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sekilas, kemudian kembali berkonsentrasi.
Kendra menghela napas. “Baiklah. Aku diam.”
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Marco keluar setelah memastikan semua persiapan selesai, lalu menghampiri mereka.
“Tuan, ramuan yang Nona perintahkan sudah saya campur semuanya di jacuzzi,” ujar Marco.
Kirana menoleh dan mengangguk. Setelah memastikan waktu terapi cukup, ia mulai mencabut jarum-jarum dari kaki Kendra dengan hati-hati.
Kendra memperhatikan gerakannya. “Sudah selesai?”
Kirana mengangguk, lalu mengambil ponselnya dan mengetik beberapa kata sebelum menunjukkan layarnya kepada Marco.
“Bantu Kendra ke kamar mandi. Dia harus berendam selama lima belas menit.”
Marco membaca pesan itu dan langsung mengangguk. “Baik, Nona.”
Marco kemudian membantu Kendra berpindah menuju kamar mandi. Kirana berjalan di belakang mereka sambil membawa beberapa perlengkapan pengobatan.
Di dalam kamar mandi, jacuzzi telah dipenuhi air dengan ramuan berwarna hijau tua. Aroma tanaman obat memenuhi ruangan dan membuat udara terasa lebih hangat.
Marco membantu Kendra masuk ke dalam jacuzzi. Begitu tubuh Kendra menyentuh air, pria itu awalnya hanya menarik napas panjang.
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.
“Ah!”
Marco langsung menoleh. “Tuan?”
Kendra mencengkeram sisi jacuzzi. “Tunggu … kenapa tiba-tiba sakit?”
Kirana segera mendekat. Matanya tertuju pada air rendaman yang perlahan mengalami perubahan warna.
Hijau tua itu berubah semakin gelap. Beberapa detik kemudian, air tersebut menjadi hitam pekat.
Marco membelalakkan mata. “Nona, inu .…”
Kirana tidak menjawab.
Tatapannya terpaku pada air tersebut, kemudian berpindah kepada kaki Kendra. Ia segera mengambil ponselnya dan mengetik dengan cepat.
“Jangan bergerak.”
Kendra menahan rasa tidak nyaman sambil mengatur napas. “Apa yang terjadi?”
Kirana mengetik lagi. “Ada racun lambat dalam jumlah sangat kecil di kakimu.”
Kendra langsung menatapnya. “Racun?”
Kirana mengangguk.
“Bagaimana mungkin?” Kendra bertanya dengan suara lebih serius. “Dokter yang menanganiku adalah dokter kepercayaanku.”
Kirana terdiam sejenak. Ia mengetik sebuah pertanyaan.
“Dokter yang menangani kecelakaanmu benar-benar dokter kepercayaanmu?”
Kendra menggeleng. “Bukan.” Ia kemudian mengingat sesuatu.
“Tapi dokter itu berasal dari rumah sakit tempat aku memiliki saham.”
Kirana berhenti mengetik.
Kendra melanjutkan, “Saat kecelakaan terjadi, dokter kepercayaanku memang sedang berada di luar negeri. Jadi aku hanya ditangani oleh dokter yang bertugas di rumah sakit itu.”
Tatapan Kirana berubah serius. Ia mengetik perlahan. “Kalau begitu, kemungkinan racun itu diberikan ketika kau mengalami kecelakaan.”
Kendra menatapnya.
Kirana melanjutkan mengetik. “Kau tidak sadar saat itu. Seseorang bisa saja memberikan racun tersebut ketika kau berada dalam kondisi tidak berdaya.”
Wajah Kendra langsung memerah karena marah. Tangannya mengepal di sisi jacuzzi. Memang selama itu, perusahaannya juga masih dalam tahap proses.
“Marco.”
Marco langsung berdiri tegak. “Ya, Tuan.”
“Cari dokter yang menangani aku saat kecelakaan.”
Marco mengangguk.
“Besok pagi, aku ingin dia sudah berada di ruang bawah tanah.”
Marco memahami maksud perintah tersebut. “Baik, Tuan. Saya akan menemukannya.”
Marco kemudian meninggalkan kamar mandi untuk segera menjalankan perintah Kendra.
Kirana kembali memeriksa keadaan Kendra. Setelah memastikan kondisinya cukup stabil, ia meminta Kendra keluar dari jacuzzi dan melanjutkan perawatan dengan metode lain.
Kendra memperhatikan Kirana yang masih terlihat serius. “Kau sudah menduga ada sesuatu yang salah sejak awal?”
Kirana menggeleng. Ia mengetik di ponselnya.
“Aku hanya menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada.”
Kendra membaca tulisan tersebut lalu terdiam. “Berarti ada orang yang sengaja melakukan ini kepadaku.”
Kirana menatapnya. Kemudian ia mengangguk.
Kendra menarik napas panjang. “Kalau begitu, aku ingin tahu siapa.”
Kirana tidak menjawab. Ia hanya kembali memeriksa kondisi kaki Kendra sebelum akhirnya memastikan terapi malam itu selesai.
Setelah Kendra beristirahat, Kirana kembali menuju laboratorium pribadinya. Ruangan itu masih dipenuhi berbagai peralatan medis, bahan herbal, dan catatan penelitian yang telah ia susun sejak beberapa hari terakhir.
Kirana duduk di kursinya lalu membuka catatan mengenai kondisi tubuhnya sendiri. Ia kemudian mulai melakukan terapi untuk memulihkan kembali fungsi bicaranya dan tak lupa meminum obat yang ia racik sendiri dari ekstrak anggrek bulan hitam beserta campuran lain.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Kirana menutup mata dan mengatur napas. Setelah terapi selesai, tubuhnya memberikan reaksi yang sama seperti sebelumnya.
Ia segera mengambil wadah kecil yang telah disiapkan. Cairan gelap keluar dalam jumlah sedikit. Kirana menatapnya dengan serius, kali ini warnanya tidak sepekat sebelumnya.
Ia membersihkan wadah tersebut, kemudian mencatat hasil terapi di buku kecilnya.
“Jumlah racun berkurang.”
Kirana menatap catatan itu cukup lama. Setidaknya pengobatan yang dilakukannya mulai menunjukkan hasil.
Ia kemudian melanjutkan terapi pada beberapa titik tertentu di tubuhnya sendiri, mengatur pernapasan dan melakukan latihan pemulihan yang telah diajarkan oleh para gurunya di desa.
Keringat mulai membasahi dahinya, tetapi Kirana tidak berhenti. Ia tahu prosesnya tidak akan mudah.
Bertahun-tahun racun telah berada di dalam tubuhnya, dan selama ini orang-orang mengira dirinya memang terlahir bisu. Kini, sedikit demi sedikit, kebenaran mulai terbuka.
Kirana membuka matanya dan menatap cairan gelap di dalam wadah.
“Siapa yang melakukan ini kepadaku?” gumamnya dalam hati.
Tapi tidak ada jawaban.
“Aku akan menemukan jawabannya,” batin Kirana.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭