NovelToon NovelToon
Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

✨ Sinopsis

Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Sederhana dari Dua Orang Spesial

Malam itu hujan turun deras banget di luar jendela. Aku berguling-guling di kasur, menatap langit-langit kamar sambil memegang ponsel di dada. Jantungku berdebar campur aduk. Besok pagi kita dipanggil ke ruang guru. Rasanya aku mau nangis aja. Kenapa sih semua jadi ribet gara-gara aku? Andai aku bisa menghilang sebentar, pasti aku udah kabur sekarang juga.

Aku menarik napas panjang, lalu mulai mengetik pelan:

"Hei… maaf ya kalau aku bikin hidup kalian jadi ribet banget akhir-akhir ini. Besok ke sekolah kalau mau nggak ikut ke ruang guru juga nggak apa-apa kok. Aku bisa jelasin semuanya sendiri. Aku nggak mau kalian ikut kena masalah gara-gara aku. Terima kasih udah selalu ada, walau aku kadang bikin susah. — Aluna"

Kurang lebih tiga detik setelah aku kirim, ponselku langsung bergetar. Dari Rexy!

"Kamu ngomong apa sih? Aku jalan sekarang. Tunggu aku, jangan kemana-mana!"

Aku melotot. Hujan badai gini dia mau jalan?! Belum sempat aku balas, ponselku bergetar lagi — dari Orion.

"Taruh ponselmu di meja, tarik napas dalam-dalam, dan senyum sedikit. Kamu tidak menyusahkan kami. Kamu adalah alasan kami belajar untuk lebih berani. Kami di sini bukan karena kewajiban, tapi karena kami mau. Besok kita hadapi bareng. Dan jangan khawatir, aku sudah siapkan sesuatu untukmu. Tidur dulu ya, semangat untuk besok. ❤️"

Aku tersenyum tipis membaca pesan Orion, tapi tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil di depan pagar rumahku! Aku melirik jam dinding — pukul sembilan malam dan hujan masih turun deras banget. Siapa yang gila hujan-hujanan begini?!

Aku buru-buru lari ke jendela, mengintip dari balik tirai. Di sana, di bawah payung besar yang hampir tertiup angin, berdiri sosok tinggi dengan jaket kulit hitam — Rexy! Dia sedang menatap ke arah jendelaku sambil melambaikan tangan, meski rambutnya basah kuyup dan air menetes dari ujung hidungnya.

Aku panik setengah mati, langsung lari ke bawah membukakan pintu.

"Kamu gila ya?! Hujan deras gini kamu ke sini?! Nanti sakit lho!" Aku memeluk lengannya, menariknya masuk ke dalam teras rumah agar tidak kehujanan lagi.

Rexy tersenyum lebar, napasnya sedikit memburu, matanya berbinar terang seolah baru saja memenangkan perlombaan. "Aku nggak bisa diam di rumah kalau tahu sahabatku lagi sedih sendirian. Daripada aku cuma bales pesan, lebih baik aku datang langsung. Lebih meyakinkan, kan?"

Aku menggeleng-geleng kepala sambil mengambil handuk kecil dari dalam rumah, lalu mengulurkannya padanya. "Bersihkan wajahmu dulu. Kamu basah banget. Mama Amira kalau tahu kamu begini pasti marah lho."

"Biar Mama Amira marah, yang penting kamu nggak merasa sendirian malam ini," katanya santai sambil mengusap rambutnya yang hitam legam itu. Dia duduk di kursi teras, menatapku lekat-lekat. "Dengerin aku baik-baik, Aluna. Besok di ruang guru, kamu jangan takut. Kalau ada yang tanya, biar aku yang jawab duluan. Aku yang akan jelasin semuanya. Kamu cukup duduk tenang dan senyum kayak biasa. Oke?"

"Tapi… aku takut nilaimu jadi jelek atau dicatat di catatan sekolahmu," gumamku pelan.

Rexy tertawa renyah, lalu menyodorkan tangan besarnya ke depan dadaku — telapak tangannya terbuka, di sana tergeletak sebuah gantungan kunci kecil berbentuk bulan sabit yang terbuat dari kayu yang diukir tangan. Sederhana banget, tapi terasa spesial.

"Ini buat kamu," katanya lembut, matanya menatap dalam ke mataku. "Bukan barang mahal, aku bikin sendiri kemarin malam. Bulan itu selalu bersinar walau malamnya gelap banget, kan? Kayak kamu. Kamu itu bulan buat aku dan Orion. Nggak peduli seberapa gelap masalahnya, selama kamu ada, semuanya terasa lebih terang. Simpen ini di tasmu. Kalau kamu merasa takut, pegang aja. Rasanya kayak aku lagi pegang tanganmu, oke?"

Jantungku berdebar kencang. Aku mengambil benda kecil itu, terasa hangat meski baru saja dipegangnya. "Rexy… ini… terima kasih. Aku nggak tahu harus bilang apa. Ini hadiah terbaik yang pernah aku terima."

"Terbaik yang buatan tangan, maksudnya," dia menyeringai sedikit malu, menggaruk belakang lehernya yang nggak gatal. "Simpan baik-baik ya, jangan sampai hilang. Kalau hilang aku bakal marah besar lho, sampai ke ujung dunia aku cari kamu!"

Aku tertawa sambil menyelipkannya ke saku jaketku. "Iya iya, janji. Nggak akan kemana-mana."

Saat Rexy pamit pulang dan mobilnya menghilang di tikungan jalan, aku baru sadar ponselku berkedip-kedip lagi. Ada pesan masuk dari Orion, tapi kali ini bukan sekadar tulisan — ada foto sebuah kotak kecil yang cantik berwarna biru muda, dengan pita perak yang simpel.

"Buka pintu depan sebentar. Ada sesuatu yang menunggumu di sana. — Orion"

Aku terkejut! Dia juga datang?! Aku berlari membuka pintu depan, dan di atas meja kecil di teras luar, tepat di bawah lampu taman, tergeletak kotak biru itu dengan rapi. Di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa, hanya keheningan malam dan suara hujan yang mulai mereda.

Aku mengambil kotak itu dengan hati-hati, membukanya perlahan-lahan. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk bunga teratai kecil yang berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Di bawahnya ada secarik kertas bertuliskan tulisan tangan yang rapi dan indah:

"Teratai tumbuh di air keruh tapi tetap tetap bersih dan indah. Begitu juga hatimu, Aluna. Jangan biarkan kata orang mencemaskanmu. Kamu berharga persis apa adanya. Kalung ini tidak mahal, tapi maknanya abadi. Pakai saat kamu butuh kekuatan. Semangat besok, aku ada di sebelahmu, selalu. — Orion"

Air mata menetes di pipiku, jatuh tepat di atas kertas kecil itu. Aku memakai kalung itu di leherku, merasakan dingin logamnya yang perlahan berubah hangat di kulitku. Di saku jaketku, ada gantungan kunci bulan buatan tangan Rexy yang juga terasa hangat.

Malam itu aku tidur dengan dua hadiah di dekat jantungku — satu dari tangan yang berani melindungi dengan keberaniannya, satu dari hati yang memahami dengan kebijaksanaannya. Sederhana sekali, bukan barang mewah yang bisa dibeli dengan uang keluarga kami. Tapi bagi aku, itu jauh lebih berharga dari permata apa pun di dunia ini. Karena di balik benda-benda kecil itu, tersimpan dua hati yang tulus menyayangiku — masing-masing dengan caranya yang unik dan tak tergantikan.

 

Pertanyaan buat kamu:

Pagi harinya, aku bangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Aku memakai kalung dari Orion di leher dan menyelipkan gantungan kunci dari Rexy di tas sebelah kiri tempat aku paling sering memegangnya. Saat aku berjalan mendekati gerbang sekolah, aku melihat mereka berdua sudah menunggu di sana. Tapi saat aku melambaikan tangan dan mereka melihat apa yang kupakai, ekspresi wajah mereka berubah — Orion tersenyum sangat lembut sampai matanya menyipit bahagia, sementara Rexy tersenyum bangga tapi pipinya terlihat sedikit memerah saat melihat gantungan kuncinya tergantung jelas di tas depanku.

Tiba-tiba, dari arah gerbang masuk, terlihat Pak Guru Wali kelas berjalan mendekat sambil melambaikan tangan ke arah kita. Waktunya sudah tiba. Besok, atau tepatnya hari ini, kita akan menghadapinya bersama.

Menurutmu, apa yang akan terjadi saat kita masuk ke ruang guru? Apakah Siska sudah ada di sana duluan dan menceritakan versi yang berbeda? Atau justru ada kejadian tak terduga yang membuat semua masalah selesai dengan cara yang mengejutkan? Ceritakan kelanjutannya ya! 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!