NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Pagi itu, udara di kampus universitas ternama di Seoul terasa segar dan penuh energi. Daun-daun pohon berguguran perlahan, menandakan awal musim gugur. Taehyung berjalan menyusuri koridor gedung seni dengan langkah ringan, tas ransel tergantung di satu bahu. Ia mengenakan kaus putih polos, celana jeans robek-robek yang modis, dan jaket denim oversized. Wajahnya yang tampan menarik beberapa pandangan dari mahasiswa lain, namun ia tidak peduli. Pikirannya fokus pada jadwal kuliah hari ini.

...

...

"V Hyung! Tunggu!" teriak Jungkook dari belakang, berlari kecil sambil membetulkan tali sepatunya. Jimin mengikuti di sampingnya, tersenyum ceria sambil membawa dua gelas kopi.

"Kau terlalu cepat, Kookie," canda Jimin, menyerahkan satu gelas kopi pada Taehyung. "Ini iced americano favoritmu. Tanpa gula, kan?"

Taehyung menerima kopi itu dengan senyuman tulus. "Terima kasih, Jimin-hyung. Kau selalu ingat."

"Maklum, aku ini best friend terbaik," jawab Jimin bangga, membuat Jungkook tertawa geli.

Ketiga sahabat itu duduk di bangku taman depan auditorium, menikmati hangatnya sinar matahari pagi sebelum kelas dimulai. Bagi Taehyung, momen-momen seperti ini adalah obat penawar racun dari minggu-minggu penuh ketegangan di mansion. Di sini, ia bukan adik dari CEO yang sedang sakit, bukan target fitnah korporat, dan bukan saksi bisu kebohongan keluarga. Ia hanyalah Kim Taehyung, mahasiswa jurusan Desain yang menyukai seni dan kucing.

"Ngomong-ngomong," kata Jungkook tiba-tiba, suaranya sedikit lebih rendah, "bagaimana kabar Jin-hyung? Apakah dia sudah benar-benar pulih?"

Taehyung menghela napas, menatap gelembung es di kopinya. "Dokter bilang dia hanya kelelahan. Tapi... ada sesuatu yang aneh. Dia sering melamun, dan kadang-kadang aku melihatnya memegang hidungnya saat dia pikir aku tidak melihat. Tapi setiap kali aku tanya, dia mengalihkan pembicaraan."

Jimin menepuk punggung Taehyung lembut. "Mungkin dia masih stres pasca-skandal. Kita harus memberinya ruang, Tae. Jangan ditekan terlalu keras. Nanti dia malah menutup diri."

Taehyung mengangguk pelan. "Aku tahu, Hyung. Aku cuma... khawatir. Rasanya seperti ada badai besar yang akan datang, tapi aku tidak tahu dari arah mana."

Sementara Taehyung mencoba menikmati masa mudanya yang normal, di sisi lain kota, badai itu memang sedang berkecamuk.

Di sebuah gudang tua di kawasan industri Incheon, tiga sosok berdiri di tengah debu dan bau minyak mesin yang menyengat. Xiumin, Chen, dan Jihoon. Mereka telah menemukan Pak Choi, mantan pemilik bengkel tempat mobil orang tua mereka diperbaiki terakhir kali.

Pak Choi, kini seorang pria tua berumur 70-an dengan tangan yang gemetar karena usia, duduk di kursi kayu reyot. Matanya waspada saat melihat ketiga pria muda berpakaian mahal itu masuk ke wilayahnya.

"Apa yang kalian inginkan?" tanya Pak Choi parau. "Saya sudah pensiun. Saya tidak ingin urusan dengan polisi atau pengusaha kaya."

Jihoon melangkah maju, menunjukkan sikap yang paling tidak mengancam. Ia mengeluarkan foto lama mobil ayah mereka dari saku jaketnya.

"Pak Choi, kami bukan polisi. Kami adalah anak-anak dari Lee Min-jun dan Park Soo-yeon. Kami tahu Anda pernah memperbaiki mobil ayah kami seminggu sebelum kecelakaan itu."

Wajah Pak Choi berubah pucat. Ia menatap foto itu lama, lalu menggeleng kuat. "Saya tidak ingat apa-apa. Sudah sepuluh tahun. Banyak mobil lewat di bengkel saya."

Xiumin melangkah maju, aura dinginnya langsung memenuhi ruangan. Ia meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja berdebu di depan Pak Choi. "Di dalam amplop ini ada uang cukup untuk membeli rumah baru dan hidup nyaman sampai akhir hayat Anda. Atau..." Xiumin menunjuk ke arah luar, di mana dua pengawal pribadinya berdiri siaga. "...kami bisa memanggil pihak berwenang untuk memeriksa ulang catatan pajak bengkel Anda yang mungkin belum lunas."

Ancaman halus itu efektif. Pak Choi menelan ludah, tangannya gemetar saat mengambil amplop itu. Ia membukanya sekilas, matanya membelalak melihat isi ceknya.

"Apa... apa yang ingin kalian ketahui?" bisik Pak Choi.

"Siapa yang terakhir kali menyentuh sistem rem mobil itu?" tanya Jihoon tajam. "Dan apakah ada orang asing yang datang malam-malam sebelum kecelakaan?"

Pak Choi menghela napas panjang, seolah beban berat akhirnya terlepas dari pundaknya. "Ada seseorang. Pria bertopi, memakai masker. Dia datang tengah malam, mengaku sebagai teman pemilik mobil. Dia meminta saya meninggalkan bengkel sebentar untuk membeli rokok. Saat saya kembali... dia sudah pergi. Dan besoknya, mobil itu dibawa oleh sopir resmi keluarga Anda."

"Apakah Anda melihat wajahnya?" desak Chen.

"Tidak. Tapi... dia meninggalkan sesuatu. Sebuah korek api perak dengan inisial KT terukir di sampingnya. Saya menyimpannya karena merasa curiga. Saya pikir itu mungkin penting suatu hari nanti."

Pak Choi membuka laci meja kerjanya yang berkarat dan mengeluarkan sebuah korek api perak tua. Inisial KT terlihat jelas di permukaannya.

Kwon Tae-woo.

Jihoon mengambil korek api itu dengan hati-hati, menggunakan sarung tangan plastik yang ia bawa. Ini adalah bukti fisik. Bukti yang menghubungkan Kwon Tae-woo langsung dengan lokasi kejadian.

"Terima kasih, Pak Choi," kata Jihoon sopan. "Anda baru saja membantu kami mendapatkan keadilan."

Ketiganya keluar dari gudang itu dengan perasaan campuran antara kepuasan dan ketakutan. Mereka punya bukti. Tapi sekarang, mereka juga menjadi target. Jika Kwon Tae-woo tahu mereka memiliki korek api itu, nyawa mereka dalam bahaya.

Sementara itu, di mansion Kim, suasana sama tegangnya. Kim Seokjin, yang sudah pulang dari rumah sakit dengan izin dokter (dan banyak bohong), duduk di ruang kerjanya bersama Chanyeol dan Yoongi. Layar komputer menampilkan data forensik digital yang sedang dianalisis oleh tim hacker bayaran Yoongi.

"Kami berhasil menembus firewall server pribadi Kwon Tae-woo," lapor Yoongi, wajahnya lelah namun puas. "Dia sangat berhati-hati, tapi ada satu folder terenkripsi yang lupa ia hapus dari cadangan cloud lamanya. Isinya adalah rencana pembayaran untuk 'pembersihan' beberapa hambatan bisnis sepuluh tahun lalu."

Chanyeol mencondongkan tubuh, membaca daftar nama di layar. Matanya menyipit saat melihat dua nama familiar: Lee Min-jun dan Park Soo-yeon.

"Dia membayar orang yang sama untuk kedua kasus itu," gumam Chanyeol. "Satu sindikat pembunuh bayaran profesional."

Jin merasa dadanya sesak. Bukan hanya karena penyakitnya yang kambuh-ia baru saja minum obat pereda nyeri diam-diam di bawah meja-tapi karena realitas kejam ini. Orang tuanya, dan orang tua teman masa kecilnya (yang kini menjadi musuh bebuyutannya), dibunuh oleh tangan yang sama demi keuntungan satu orang.

"Kita harus bertemu dengan Xiumin dan Chen," kata Jin tiba-tiba.

Chanyeol dan Yoongi menoleh kaget. "Apa? Hyung, mereka musuh kita. Mereka bisa menjebak kita."

"Mereka juga korban," kata Jin tegas, meski suaranya lemah. "Jika mereka menyelidiki hal yang sama, berarti mereka juga menerima petunjuk. Jika kita bekerja terpisah, Kwon Tae-woo akan mudah mengalahkan kita satu per satu. Tapi jika kita bersatu... kita punya sumber daya, informasi, dan motivasi yang cukup untuk menjatuhkannya."

Yoongi mengerutkan kening. "Itu risiko besar, Hyung. Kepercayaan mereka pada kita nol."

"Aku akan ambil risikonya," kata Jin, berdiri dengan usaha keras. Kakinya goyah, tapi ia menahannya. "Hubungi Jihoon. Katakan padanya... katakan bahwa aku punya bukti yang melengkapi teka-teki mereka. Dan ajak mereka bertemu di tempat netral. Malam ini."

Chanyeol menatap Jin dengan kekaguman dan kekhawatiran. Ia melihat betapa rapuhnya fisik Jin, tapi betapa besi kemauannya.

"Baik, Jin," kata Chanyeol akhirnya. "Aku akan mengatur pertemuannya. Tapi kau harus janji untuk tidak memaksakan diri. Jika kau pingsan di tengah pertemuan, rencana kita hancur."

Jin tersenyum tipis, senyuman yang penuh penderitaan. "Aku akan bertahan, Chanyeol-hyung. Demi Taehyung. Demi semua orang yang telah diambil dariku."

Di luar jendela, langit mulai gelap. Malam ini, dua kelompok yang saling membenci akan duduk di meja yang sama. Bukan untuk berdamai, tapi untuk berperang melawan monster yang lebih besar. Dan di tengah-tengahnya, Kim Seokjin berjuang melawan tubuhnya sendiri yang semakin dekat dengan ambang kehancuran.

🥀🥀🥀🥀🥀🥀

1
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!