Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Makan yang Dingin
Layar ponsel itu padam lagi, tetapi kalimatnya tertinggal di kepala Andien, berulang-ulang seperti gema di sumur. "Mas, aku tahu kamu berbohong. Besok kita bicara"
"Jadi Laras juga tahu? Atau setidaknya, Laras juga curiga". Perempuan berwajah tenang di foto pernikahan itu ternyata sedang terjaga di suatu tempat di kota ini, sama seperti dirinya, menatap kebohongan yang sama.
Andien menyelipkan kartu nama itu kembali ke bawah gulungan benang. Ia berjalan pelan ke ranjang dan berbaring di sisi Carlo, menjaga jarak sejengkal. Pria itu tidur nyenyak, napasnya berat dan teratur, tak tahu bahwa perempuan di sampingnya baru saja membaca pesan dari istrinya.
Andien memandangi langit-langit dalam gelap. Ia tidak memejamkan mata sampai azan subuh terdengar dari kejauhan.
* * *
Carlo bangun pukul lima pagi dengan perasaan seperti seseorang yang tidur di atas ranjau.
Ia meraih ponsel di meja rias dan membaca pesan itu sekali lagi, seolah kata-katanya mungkin berubah semalam. "Tidak. Mas, aku tahu kamu berbohong", "Besok kita bicara". Pesan itu Dikirim pukul dua dini hari. Laras selalu mengirim pesan penting saat orang lain terlelap, karena ia tahu itu cara paling efektif membuat lawannya tak bisa tidur.
Di sisi ranjang, Andien masih terpejam dengan napas teratur. Wajahnya damai, dan itu justru membuat dada Carlo terasa sesak. Ia menatap gadis itu sejenak, lalu bangkit tanpa suara.
Carlo tak melihat kelopak mata Andien bergerak sedikit pun. Padahal Andien tak tidur sedetik pun sejak pesan itu masuk.
Setelah langkah kaki Carlo menjauh dan suara mobil keluar dari halaman, Andien membuka mata dan menatap langit-langit lama.
Semalam, sebelum pesan itu masuk, ia masih ingin mendengar kebenaran dari mulut Carlo sendiri. Tapi pesan itu mengubah sesuatu. "Aku tahu kamu berbohong" Kalimat itu bukan ditulis oleh perempuan yang sedang merebut suami orang. Kalimat itu ditulis oleh perempuan yang juga sedang dibohongi.
Seketika Andien pun sadar kalau menunggu penjelasan dari Carlo sama saja dengan menunggu kebohongan berikutnya.
Ia bangkit, membuka laci, dan mengambil kartu nama dari bawah gulungan benang. "dr. Laras Prameswari, Sp.PD." Rumah Sakit Harapan Bangsa, Lantai 5.
"Bu Wati," panggilnya begitu keluar kamar. "Hari ini saya mau keluar."
Perempuan tua itu menjatuhkan lap di tangannya. "Mbak, Tuan Carlo..."
"Saya tahu." Suara Andien tenang, mengejutkan dirinya sendiri. "Saya tidak minta izin Ibu, Saya hanya memberi tahu."
* * *
Ditempat yang berbeda tepatnya di rumah megah berpagar tinggi di sisi lain kota, Laras sudah menunggu di ruang makan sejak subuh.
Meja panjang itu ditata rapi. Dua cangkir kopi, roti, buah potong. Seperti pagi-pagi lainnya, kecuali dua hal. Laras sudah berpakaian lengkap dengan blus abu-abu, Lalu di sebelah piringnya tergeletak sebuah map cokelat tipis. Isinya ia terima semalam dari kenalan lama yang ia hubungi beberapa hari lalu.
Carlo masuk dengan kemeja yang dikancing sampai leher. Ia langsung datang dari paviliun tanpa mampir ke mana pun, dan wajahnya sudah dirapikan sepanjang perjalanan. Ia mengecup pipi istrinya seperti kebiasaan. Laras pun membiarkannya, sama seperti ia membiarkan hal-hal lain selama dua tahun.
"Duduk, Mas."
"Aku buru-buru, ada rapat jam delapan..."
"Rapatmu bisa menunggu lima belas menit." Laras menuang kopi untuknya. "Ini bukan permintaan."
Carlo duduk. Ia mengamati map itu tanpa menyentuhnya. "Apa itu?"
"Hasil pemeriksaan." Laras menyesap kopinya perlahan. "Aku dokter, ingat? Kebiasaanku, kalau ada gejala yang tak jelas, aku cari penyebabnya."
"Laras..."
"Berbulan-bulan Mas hilang. Aku mencarimu ke mana-mana. Polisi, rumah sakit, bahkan kamar jenazah." Suaranya datar, tapi jemarinya yang memegang cangkir sedikit memutih. "Lalu Mas muncul di depan pintu, katanya baru pulih dari kecelakaan di luar negeri. Tapi paspor Mas tidak pernah dicap keluar negeri."
Suasana pagi itu tampak hening. Hanya jam dinding yang terpajang ditembok itu yang terdengar berdetak keras.
"Struk bensin dari kabupaten, empat jam dari sini, tertanggal hari-hari ketika Mas bilang masih terbaring di luar negeri. Catatan panggilan Mas yang menunjukkan menara sinyal di wilayah yang sama selama berminggu-minggu. Pembelian sepasang cincin kawin di toko emas kecamatan itu." Ia membuka map dan mengeluarkan selembar kertas terakhir. "Sebuah rumah putih di Jalan Palem Raja nomor dua belas. Rumah itu dibeli atas nama perusahaan kecil yang direkturnya Mas sendiri. Dihuni seorang perempuan muda yang dikenalkan sebagai keponakan pembantu. Namanya Andien."
Wajah Carlo tak berubah, dan itu justru yang paling menyakitkan bagi Laras. Pria itu terlatih. Bahkan ketika kebohongannya tertangkap basah, ia masih bisa menahan ekspresinya sempurna.
"Kamu menyelidikiku."
"Aku menyelidiki gejala." Laras akhirnya menatapnya langsung. "Katakan satu hal saja, Mas. Apakah ada perempuan lain?"
Detik demi detik berlalu. Di kepala Carlo, ratusan skenario berputar seperti mesin slot. Carlo berusaha menyangkal, mengalihkan, menyerang balik, mengaku sebagian. Ia telah menyelesaikan negosiasi bernilai triliunan rupiah dengan cara yang sama, memilih kebohongan paling kecil yang masih bisa dipertahankan.
"Tidak ada perempuan lain. Dia memang keponakan Bu Wati, Aku cuma membantu."
Laras mengangguk pelan. Lalu ia tersenyum, senyum yang belum pernah Carlo lihat sebelumnya, tipis, jernih, dan sangat dingin.
"Baik," katanya. "Kalau begitu aku salah."
Ia berdiri, merapikan blusnya, dan mengambil tasnya. Di ambang pintu ia berhenti tanpa menoleh.
"Mas tahu apa yang paling kubenci dari bohong?" suaranya halus. "Bukan karena sakit. Tapi karena Mas pikir aku cukup bodoh untuk percaya."
Laras berjalan ke arah luar rumah lalu menutup pintu itu dengan sangat pelan sedangkan Carlo duduk sendirian dengan kopi yang mendingin dan map yang tak berani ia sentuh.
* * *
Di tempat yang lain terlihat Andien turun dari taksi di depan Rumah Sakit Harapan Bangsa dengan kaki gemetar. Sepanjang perjalanan perutnya bergolak dan ia harus menahan mual berkali-kali.
Ia tak tahu apa yang akan ia katakan. Ia hanya tahu, jika terus bersembunyi di paviliun itu, ia akan perlahan menghilang menjadi bayangan yang disimpan di sudut rumah orang lain. Andien pu telah menolak menjadi bayangan sejak malam di tepi sungai itu, ketika ia memilih menolong seorang asing yang tak ia kenal.
Begitu Andien masuk rumah sakit itu, Andien pun tampak meminta Resepsionis untuk mengantarnya ke lantai lima, ke ruang praktik di ujung lorong. Namun ketika pintu dibuka, bukan dokter Laras yang ia temui, melainkan seorang perawat muda.
"Dokter Laras sedang tidak praktik hari ini Mbak, Tadi pagi beliau menelepon, tidak masuk."
Andien menelan ludah. "Apa Ibu tahu ke mana beliau pergi?"
"Maaf, saya tidak..."
"Ada apa, Rini?"
Suara itu terdengar datang dari arah belakang. Mendengar suara itu, Seketika Andien pun menoleh. Pada saat yang bersamaaan jantungnya terasa berhenti sesaat.
Laras terlihat berdiri di ujung lorong, masih mengenakan blus abu-abu yang sama, jas dokter terlipat di lengan. Ia tak sanggup tinggal di rumah itu lebih lama, jadi ia datang hanya untuk mengambil berkas dan menyendiri di ruangannya. Wajahnya sedikit pucat, matanya merah di sudut, seperti orang yang berusaha keras tidak menangis. Tetapi saat melihat Andien, sorot matanya berubah. Bukan terkejut, melainkan sesuatu yang lebih halus.
Seperti orang yang akhirnya menemukan potongan puzzle terakhir.
"Andien," katanya pelan.
Andien terpaku. Ia tak pernah menyebutkan namanya waktu itu. "Bu Dokter... tahu nama saya?"
"Jalan Palem Raja nomor dua belas." Laras menjawab datar, seolah sedang membacakan hasil laboratorium. Lalu matanya turun, mengamati wajah pucat Andien, bibirnya yang kering, tangannya yang tanpa sadar menekan perut. "Kamu hamil?"
"Ap... apa?"
"Pucat, menahan mual, cemas." Laras mendekat, nadanya profesional, tetapi matanya mengamati Andien begitu lekat, seolah berusaha menemukan sesuatu. "Kamu datang karena itu?"
"Bukan, Bu. Saya..."
"Ikut saya."
Laras membuka pintu ruang kerjanya dan memberi isyarat. Andien melangkah masuk, dan pintu ditutup di belakangnya. Ruangan itu rapi, beraroma antiseptik dan teh melati. Di meja kerja Laras terlihat bingkai foto kecil, Itu adalah foto Laras dan seorang pria tersenyum di depan danau.
Andien menatap foto itu, lalu menatap lantai.
"Duduklah."
"Saya lebih baik berdiri."
Laras menghela napas pelan. Ia tak duduk juga. Mereka berdiri berhadapan di ruangan kecil itu, dua perempuan dengan jarak dua langkah dan satu pria di antara mereka.
"Aku tahu kenapa kamu datang," kata Laras tiba-tiba. Suaranya sangat tenang, tenang yang lahir dari rasa sakit yang sudah lama dipendam. "Aku sudah curiga sejak hari kamu hampir kutabrak. Cincin itu, Rumah itu, dan caramu menatapku seperti orang yang baru saja menemukan kebenaran dan takut mengatakannya."
Air mata Andien jatuh tanpa bisa ditahan. "Maafkan saya Bu, Saya tidak tahu. Demi Allah saya tidak tahu kalau Mas Carlo sudah..."
"Carlo."
Hanya satu kata, tetapi Andien mendengar seluruh luka dalam nada itu.
"Saya menolongnya Bu, Dia sekarat di tepi sungai di desa saya, penuh luka bacok. Saya rawat dia sampai lukanya sembuh. Setelah lukanya sembuh dia melamar saya. Dia bilang tidak punya keluarga. Dia bilang musuhnya akan mencelakai saya kalau pernikahan itu terbongkar." Kata-kata Andien tumpah tak terbendung. "Saya bodoh Bu, Saya percaya semuanya."
Laras tak langsung menjawab. Ia berbalik menghadap jendela, memunggungi Andien. Bahunya naik turun pelan, sekali, dua kali.
"Kamu tidak bodoh," katanya akhirnya, tanpa menoleh. "Kamu hanya dicintai oleh orang yang pandai berbohong. Aku pun tahu persis rasanya."
Andien menutup mulutnya, terisak.
Perlahan Laras berbalik. Matanya basah, tetapi suaranya mantap. "Aku tidak akan menyalahkan kamu, Andien. Bukan kamu yang berbohong pada kita berdua."
Ia mendekat dan menyodorkan sekotak tisu. Gerakan sederhana, tetapi Andien tersentuh sampai dadanya sakit. Perempuan yang berhak membencinya setengah mati justru memberinya tisu.
"Tapi aku butuh tahu satu hal," lanjut Laras pelan. "Luka bacok katamu? Padahal semua orang Carlo bilang itu kecelakaan. Siapa yang melukainya malam itu?"
Andien mengusap air matanya. "Saya tidak tahu Bu, Dia hanya bilang, orang-orang yang dia percaya mengkhianatinya."
"Siapa saja yang dia sebut?"
"Tidak ada nama Bu, Hanya..." Andien terdiam, mengernyit mengingat. "Waktu hampir sekarat, dia bilang, jangan percaya siapa pun. dan waktu pertama sadar, dia tanya apakah ada yang tahu dia di sana. Seperti takut ditemukan."
Laras mengangguk perlahan. Matanya menyipit, dan Andien melihat otak perempuan itu bekerja, merangkai potongan-potongan.
"Menarik," gumam Laras. "Karena orang yang paling sering mengurusi urusan keamanan Carlo sejak ia hilang adalah satu orang. orang itu sama sekali tidak terlihat khawatir mencari bosnya. Malah ia orang yang paling cepat membenarkan setiap alasan Carlo."
"Siapa, Bu?"
Laras tak menjawab. Ponsel di mejanya bergetar. Ia melirik layar, dan wajahnya mengeras.
Nama yang tertera di sana: Hendra Subroto — Direktur Operasional.
Laras menatap layar itu untuk waktu yang lama. Lalu, pelan-pelan, ia menekan tombol tolak dan meletakkan ponsel terbalik di meja.
"Andien," katanya, matanya kini setajam skalpel. "Kamu berani melakukan sesuatu yang berbahaya?"
"Untuk apa Bu?"
"Untuk menemukan siapa yang sebenarnya ingin Carlo mati. Untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan padanya setelah itu."
Andien menatap perempuan di hadapannya, istri sah dari pria yang ia cintai, yang kini mengulurkan tangan bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk membentuk sesuatu yang belum bernama. Lalu Andien pun terlihat menganggukkan kepala yang berarti setuju dengan rencana Laras.
Bersambung ke Bab 7...
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya