Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. "Roda Itu Berputar"
Jena menjerit makin kencang, tangannya berusaha menggapai-gapai tangan Valeska yang mencengkeram erat rambutnya. "VALESKA, LEPASIN! SAKIT, BANGSAT!"
"Lepasin?" Valeska tertawa sinis, malah makin menekan kepala Jena ke permukaan meja kayu. "Kemarin lo puas banget kan ngetawain gue dari lantai dua? Nyuruh gue pakai sunscreen, ngetawain gue pas pingsan? Sekarang mana tawa lo yang kencang itu, hah?!"
"Val, Val! Lepasin, Val! Ada guru!" seru salah satu teman Jena panik, tapi tidak ada yang berani mendekat karena aura Valeska benar-benar menakutkan saat ini.
Giselle yang menonton di samping meja cuma menyilangkan dada sambil bersedekap puas. "Makanya, kalau punya mulut tuh dijaga. Jangan sok keras kalau fisik lo cuma lembek begini!"
BRAK!
Pintu kelas mendadak terdorong kencang dari luar. Pak Bambang berdiri di ambang pintu dengan penggaris kayu panjang di tangannya. Matanya membelalak sempurna melihat keributan di dalam kelas.
"VALESKA! JENA! APA-APAAN INI?!" teriak Pak Bambang menggelegar, membuat seisi kelas seketika membisu.
Valeska langsung menghempaskan kepala Jena begitu saja, lalu mengibas-ibaskan tangannya santai seolah habis menyentuh barang kotor. Jena meringis kesakitan, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah sambil merapikan rambutnya yang sudah berantakan total.
"Dia duluan, Pak! Dia jambak saya tanpa alasan!" adu Jena histeris dengan mata berkaca-kaca, menunjuk Valeska penuh dendam.
"Bisa diam enggak?" potong Valeska tenang sambil merapikan lipatan seragamnya. "Pak Bambang lihat sendiri kan, saya cuma menyapa teman kelas yang mulutnya agak kurang terdidik."
"Kalian berdua! Ikut Saya ke ruang BK sekarang juga!" bentak Pak Bambang dengan muka memerah. "Tidak ada alasan! Valeska, Jena, jalan di depan Saya!"
Valeska cuma memutar bola matanya malas, mengambil tas mewahnya dengan santai, lalu melangkah keluar kelas tanpa rasa takut sedikit pun. Saat melintasi koridor menuju ruang BK, langkahnya kembali berpapasan dengan Elang, Marco, dan Leo yang baru saja selesai dari lapangan basket.
Elang menghentikan langkahnya, menatap Valeska yang berjalan dikawal Pak Bambang di belakangnya. Melihat rambut Jena yang acak-acakan dan raut wajah Valeska yang sangat santai, Elang menggeleng-gelengkan kepala.
"Baru juga sembuh dari pingsan, udah bikin rusuh lagi," gumam Elang pelan sambil bersedekap.
Valeska yang mendengar gumaman itu menghentikan langkahnya sejenak, melirik Elang dari balik kacamata hitamnya.
"Urus aja hidup lo sendiri, Kecoa," desis Valeska dingin, lalu melangkah pergi mendahului Pak Bambang tanpa memedulikan tatapan heran dari murid-murid di sepanjang koridor.
***
Ruang BK terasa dingin dan mencengangkan. Bu Retno, duduk di balik meja kerjanya sambil memijit pelipis. Di depannya, Valeska dan Jena berdiri bersebelahan dengan raut wajah yang bertolak belakang—Jena cemberut sambil memegangi kulit kepalanya yang masih perih, sementara Valeska berdiri tegap dengan pandangan lurus yang angkuh.
Pak Bambang yang berdiri di sudut ruangan masih menahan napas emosi. "Bu Retno, tolong ditindak tegas dua anak ini! Baru jam pertama sudah main jambak-jambakan di dalam kelas!"
Bu Retno menghela napas panjang, melepas kacamatanya, lalu mengibaskan tangan pelan ke arah Pak Bambang.
"Sudah, Pak Bambang. Terima kasih laporannya. Biar saya yang tangani mereka berdua," ujar Bu Retno dengan suara tenang tapi sarat akan tekanan.
Setelah Pak Bambang keluar dan menutup pintu, Bu Retno menatap Jena dingin. "Jena, kamu kembali ke kelas sekarang. Saya tahu kamu juga provokasi Valeska dari kemarin. Jangan sampai Saya panggil orang tua kamu ke sini."
Jena melotot kaget, tapi tidak berani membantah. "Tapi Bu, rambut saya—"
"Kembali ke kelas, Jena," potong Bu Retno tegas tanpa kompromi.
Dengan menghentakkan kaki kesal, Jena akhirnya keluar dari ruang BK, menyisakan Valeska sendirian di hadapan Bu Retno.
Valeska memutar bola matanya malas, mengira dia akan mendapatkan surat skorsing atau hukuman fisik lagi.
"Kalau mau kasih surat panggilan orang tua, kasih aja Bu. Paling yang datang juga cuma supir saya."
Bu Retno menatap Valeska dalam-dalam, pandangannya tidak menunjukkan rasa marah, melainkan rasa prihatin yang mendalam. Beliau tidak mengambil kertas hukuman sama sekali.
"Saya enggak akan hukum kamu hari ini, Valeska," kata Bu Retno pelan, membuat Valeska sedikit mengernyit heran. "Saya dan guru-guru lain sudah capek menghukum kamu. Mau dihukum berdiri, dipanggil orang tua, dijemur di lapangan... tidak ada yang mempan buat kamu."
Valeska menyilangkan dada, memasang senyum tipis yang meremehkan. "Bagus kalau Ibu sadar."
"Tapi ingat satu hal, Valeska," lanjut Bu Retno dengan nada suara yang amat serius, memotong keangkuhan cewek di depannya. "Dunia ini luas, dan hidup ini tidak selamanya ada di atas. Roda itu berputar."
Valeska membeku sebentar, tapi berusaha tetap terlihat tenang.
"Kamu pikir uang dan status sosial orang tua kamu bisa melindungi kamu selamanya?" cecar Bu Retno lembut namun menusuk tepat di ulu hati Valeska. "Hari ini kamu bisa buang teman kamu gara-gara dia susah. Kamu bisa injak-injak orang lain sesuka hati kamu. Tapi saat roda itu berputar ke bawah—dan percaya sama Saya, roda itu pasti akan berputar—kamu tidak akan punya siapa-siapa lagi di samping kamu."
Ruangan mendadak hening. Kata-kata Bu Retno menghantam bagian paling dalam dari pertahanan diri Valeska.
"Ubah tingkah kamu, Valeska. Ubah sebelum semuanya terlambat dan kamu sendirian meratapi kehancuran kamu sendiri," tutup Bu Retno pelan sambil merapikan berkas di mejanya. "Sekarang kamu boleh keluar."
Valeska tidak menjawab sepatah kata pun. Dengan bibir rapat dan raut wajah yang mengeras menahan gelombang emosi yang campur aduk, dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang BK tanpa mengucap sepatah kata pun.
Langkah kaki Valeska terasa begitu berat saat menyusuri koridor menuju kelasnya. Kata-kata Bu Retno tadi menyeruak masuk tanpa permisi, terus berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak.
“Roda itu berputar... saat kamu ada di bawah, kamu tidak akan punya siapa-siapa lagi.”
"Cih, sok tahu banget," gumam Valeska lirih, mencoba menepis rasa sesak di dadanya dengan tawa sinis yang hampa. Tangannya meremas tali tas mewahnya erat-erat.
Saat melewati belokan koridor menuju area perpustakaan, langkah Valeska mendadak terhenti. Dari jarak beberapa meter, dia melihat Elang sedang berdiri di depan teras perpustakaan bersama Caca. Cowok itu tampak mengembalikan sebuah buku ke tangan Caca sambil terkekeh pelan, tawa renyah yang tak pernah Elang perlihatkan sedikit pun saat berhadapan dengannya.
Mata Valeska menyipit. Ada rasa panas yang aneh merayapi dadanya saat melihat interaksi manis itu. Rasa benci dan kejahatan di dalam dirinya yang sempat tertidur usai diceramahi Bu Retno mendadak bangkit kembali, mencari pelampiasan.
"Oh... jadi cewek polos ini yang bikin si kecoa sibuk?" bisik Valeska pada dirinya sendiri, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman licik.
Dengan langkah yang disengaja dan angkuh, Valeska berjalan menghampiri mereka berdua. Suara high heels-nya menggelegar menembus kesunyian teras perpustakaan.
"Aduh, aduh... Romantis banget ya siang-siang begini," panggil Valeska dengan nada suara menyindir yang tajam.
Elang dan Caca mendadak menoleh. Raut wajah tenang Elang seketika berubah keruh dan dingin begitu melihat sosok Valeska yang berdiri di depan mereka. Elang secara refleks melangkah setengah tindak, memposisikan dirinya sedikit di depan Caca seolah ingin melindungi cewek itu.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Elang dingin, menatap Valeska dengan pandangan penuh kewaspadaan. "Bukannya lo baru dari ruang BK?"
"Suka-suka gue dong, sekolah ini kan bukan punya nenek moyang lo," balas Valeska santai. Matanya melirik ke arah Caca yang berada di balik punggung Elang dengan tatapan merendahkan dari atas ke bawah. "Jadi ini cewek yang sering lo bangga-banggain di depan temen-temen lo? Manis sih... tapi mukanya kelihatan gampang dibodoh-bodohin ya."
Mendengar ucapan pedas itu, Caca tersentak dan menundukkan kepalanya, wajahnya berubah pucat.
"Valeska, jaga mulut lo," desis Elang penuh ancaman, matanya berkilat marah. "Jangan pernah bawa-bawa dia ke dalam masalah lo yang enggak jelas itu."
Valeska terkekeh pelan, menepuk tangannya sekali dengan raut penuh drama. "Duh, takutnya! Pahlawan kesiangan lagi beraksi nih! Inget ya, Elang... lo itu cuma cowok miskin sok suci di sekolah ini. Jangan mimpi tinggi-tinggi bisa ngelindungin siapa pun kalau diri lo sendiri aja cuma remahan di mata gue."
Valeska memajukan wajahnya sedikit ke arah Elang, berbisik dengan nada penuh racun.
"Dan buat lo, cewek polos..." mata Valeska melirik Caca tajam. "Mending lo jauh-jauh dari cowok ini kalau enggak mau hidup tenang lo di SMA Nusantara gue bikin hancur."
Setelah melayangkan ancaman itu, Valeska memutar badannya dan melangkah pergi sambil tertawa puas, meninggalkan Elang yang mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah yang membakar dada.