FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback Part 1_Kecelakaan
Raina mulai membersihkan permukaan meja-meja kecil di sudut ruangan. Namun, pandangan matanya secara tidak sengaja terlempar ke arah meja kerja utama Noah. Langkah kakinya seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata untuk mendekat.
Raina berdiri di samping meja kerja mahoni itu. Dengan tangan bergetar pelan, matanya menatap bingkai foto perak yang menghadap ke kursi. Raina menduga foto itu adalah foto keluarga atau foto pencapaian bisnis Noah.
Namun, ketika mata Raina berhasil melihat isi foto di dalam bingkai tersebut, jantungnya mendadak berhenti berdetak.
Foto itu bukan foto keluarga. Bukan pula foto acara penghargaan bisnis.
Foto itu adalah foto sesosok gadis muda bergaun putih sederhana yang sedang tersenyum lebar di sebuah taman bunga yaitu foto Raina sendiri lima tahun lalu, sebelum tragedi kebangkrutan itu menghancurkan segalanya.
Namun, bagian wajah Raina di foto itu telah dicoret kasar menggunakan tinta spidol hitam yang sangat pekat, seolah sang pemilik foto ingin menghapus paras itu namun enggan membuang kenangannya.
Air mata menetes di pipi mulus Raina tanpa bisa dicegah.
'Noah... kamu masih menyimpan foto ini?' batin Raina menjerit pedih.
'Kamu begitu membenciku sampai mencoret wajahku seperti ini... tapi kenapa foto ini tetap ada di meja kerja terdepanmu?' batinnya sedih.
"Raina? Kenapa melamun di depan meja Tuan Muda?" suara Mbok Sri tiba-tiba mengejutkan Raina dari belakang.
Dengan secepat kilat, Raina mengusap air matanya dan membalikkan badan, berpura-pura sedang mengelap pinggiran meja.
"Ah, tidak Mbok... Saya cuma mengagumi kerapian meja ini," kata Raina dengan suara serak yang dipaksakan biasa.
Mbok Sri menghela napas panjang seraya menghampiri Raina.
"Hati-hati, Na. Foto di bingkai itu... Mbok pernah tidak sengaja menggesernya sedikit waktu membersihkan meja bulan lalu, dan Tuan Muda langsung marah besar. Pria itu sangat sensitif kalau soal masa lalunya." ucap Mbok Sri mewanti-wanti
"Sensitif... kenapa, Mbok?" tanya Raina berbisik, memancing cerita.
Mbok Sri mendekat dan berbisik pelan. "Kata Mbok Sri yang dulu, Tuan Muda itu dulunya pria yang sangat hangat dan murah senyum. Tapi lima tahun lalu, dia dikhianati sama mantan pacarnya. Katanya perempuan itu meninggalkannya begitu saja demi pria kaya lain saat bisnis keluarga Rajendra lagi goyah. Sejak saat itu, Tuan Muda berubah total jadi dingin seperti es dan tidak percaya lagi sama wanita." seru Mbok Sri tanpa tahu bahwa penyebabnya adalah wanita di depannya itu.
Kata-kata Mbok Sri bagaikan belati yang menancap makin dalam di ulu hati Raina.
"Dikhianati..."
Raina memegang dadanya yang sesak luar biasa. Rasa bersalah yang teramat besar membakar jiwanya. Noah membencinya karena kebohongan yang Raina ciptakan sendiri. Kebohongan yang terpaksa Raina susun rapat-rapat demi menyelamatkan nama baik dan masa depan Noah saat itu.
"Sudah, jangan dipikirkan," Mbok Sri menepuk bahu Raina. "Ayo kita selesaikan pembersihan koridor luar, sebentar lagi sudah mau magrib."
"Iya, Mbok..." sahut Raina lirih.
Raina memberikan tatapan terakhirnya pada bingkai foto bernoda tinta hitam di atas meja kerja tersebut sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Dia tahu, berada di rumah ini akan menjadi siksaan batin yang luar biasa baginya. Namun, melihat betapa hangatnya perlakuan Nyonya Eleonora dan betapa dibutuhkannya biaya pengobatan Lio, Raina berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan dan tetap berada di balik bayang-bayang dan tak akan pernah membiarkan Noah tahu siapa sosok di balik apron abu-abu ini.
Malam makin larut di mansion keluarga Rajendra. Di kamar paviliun belakang yang sunyi, suara derak jangkrik dan deru angin malam mengiringi tidur lelap Lio. Raina duduk di tepi ranjangnya, memeluk kedua lutut dengan tatapan mata yang menerawang menembus kegelapan jendela.
Aroma kayu cendana dari ruang kerja Noah di lantai dua seolah masih melekat di ujung pancainderanya. Bingkai foto bersalut tinta spidol hitam pekat itu terus membayangi pikirannya.
Raina menyandarkan kepalanya pada dinding kayu, memejamkan mata rapat-rapat. Dan seketika, pusaran waktu seolah menariknya kembali ke lima tahun yang lalu, ke masa-masa paling kelam dalam hidupnya, di mana seluruh dunianya hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan hari.
~Flashback On~
Lima tahun yang lalu...
Suara siren ambulans meraung-raung memecah keheningan koridor Rumah Sakit Permata malam itu. Raina Angela yang berusia dua puluh dua tahun, seorang mahasiswi semester delapan atau semester akhir jurusan Arsitektur di universitas swasta ternama sedang berlari heboh menyusuri lorong dingin bercat putih. Baju santai yang dikenakannya basah kuyup oleh keringat dingin.
"Suster! Papa sama Mama saya di mana?!" teriak Raina histeris di depan meja penjaga.
"Mbak, tenang dulu, Mbak. Pasien korban kecelakaan tol baru saja dibawa ke ruang ICU," jawab suster penuh keprihatinan.
Raina berlari tanpa peduli sandalnya yang hampir terlepas. Di depan pintu ruang operasi yang menyala merah, seorang pria berjas yang merupakan pengacara keluarga mereka berdiri dengan wajah pucat pasi.
"Pak Hendry! Papa sama Mama kenapa, Pak?!" tanya Raina dengan suara gemetaran hebat, kedua tangannya mencengkeram lengan jas sang pengacara.
Pria bernama Hendry itu menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata jernih Raina.
"Nona Raina... maafkan saya. Mobil Tuan Ardiansyah mengalami rem blong di tol saat hujan deras... Tuan dan Nyonya... tidak tertolong di tempat kejadian." ucap sang pengacara dengan berat hati memberitahukan kondisi terkini.
"Nggak! Nggak mungkin!" jerit Raina pecah. Tubuhnya lemas seketika, merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin.
"Papa... Mama... Nggak mungkin ninggalin Raina sama Lio! Papa janji mau datang ke acara seminar Raina esok hari! Papa janji!" seru sang gadis dengan tangisan yang begitu menyayat hati.
Namun, kemalangan tak berhenti di situ. Belum genap tiga hari jenazah kedua orang tuanya dimakamkan, badai lain yang jauh lebih besar menghantam hidupnya tanpa belas kasihan.
Beberapa pria berbadan tegap berjas hitam bersama para petugas pengadilan mendatangi rumah mewah keluarga Ardiansyah. Segel kuning dipasang di gerbang utama. Semua kendaraan, perhiasan, hingga rekening bank milik almarhum ayahnya dibekukan dan disita oleh negara.
"Nona Raina," ujar Pak Hendry dengan raut wajah sangat cemas saat mereka berbicara di sebuah kafe kecil di luar area perumahan yang sudah disita.
"Perusahaan Tuan Ardiansyah sebenarnya sudah mengalami krisis keuangan parah sejak enam bulan lalu karena ditipu oleh mitra bisnisnya. Untuk menutupi kerugian, beliau meminjam uang ratusan miliar rupiah ke lembaga pembiayaan dan... beberapa pihak ketiga yang berisiko tinggi." ucap Pak Hendry.
Raina yang sedang memangku Lio, kala itu masih berusia sembilan tahun dan terus menangis terbelalak kaget.
Flashback masih berlanjut >>>>>
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah