NovelToon NovelToon
PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Evolusi dan Mutasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
​Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
​Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: HARI PERTAMA JADI CEO

Pukul 08.00 pagi. Vantec Tower lantai 88. Ruang Rapat Utama.

Lima puluh direksi sudah duduk di kursi kulit hitam di meja panjang. Semua pria. Umur antara empat puluh sampai enam puluh tahun. Mereka adalah loyalis sisa-sisa Rian dan almarhum Gunawan. Dasi bermerek ngegantung di leher, perut buncit mendominasi, sorot mata penuh meremehkan.

Di ujung meja rapat sepanjang dua puluh meter itu, kursi CEO masih kosong melompong.

Pintu ruangan berderit terbuka.

Tidak satu pun direksi berdiri. Sengaja. Mereka mau kasih pelajaran ke CEO baru, sosok yang mereka dengar cuma mantan pengantin miskin yang beruntung dihamili Vion.

Yang masuk pertama adalah Vion Mahendra. Pakai jas hitam dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi ia tidak duduk di kursi CEO. Vion pilih duduk di kursi pojok ruangan, kursi khusus pengawas. Ia silang kaki jenjangnya, lalu awasi lima puluh direksi itu dengan mata dingin.

Yang menyusul di belakangnya adalah Alesha.

Ia tampil memukau pakai dress putih balut blazer CEO Chanel dua ratus juta, padu rok pensil hitam ketat dan hak tinggi Louboutin merah menyala lima belas senti. Rambut disanggul rapi. Walaupun kandungan Arka baru dua bulan jadi belum kelihatan, cincin berlian biru lima karat di jari manisnya pantulkan cahaya menyilaukan. Di belakangnya, Hendra tenteng koper besar dan satu map hitam tebal.

Alesha melangkah menuju kursi CEO.

Tidak ada yang berdiri sambut.

Tidak ada salam hormat.

Salah satu direksi senior bernama Pak Hartono, pria enam puluh tahun yang dulu tangan kanan Gunawan, bahkan sandaran santai di kursinya sambil bilang lantang, "Maaf, Nyonya. Kami kira yang datang tadi petugas OB. Ternyata CEO baru kita. Pantas saja tidak bisa bedain mana kursi CEO dan mana kursi pesuruh."

Lima puluh direksi langsung meledak ketawa bersamaan. Ha-ha-ha.

Vion yang duduk di sudut ruangan angkat sebelah alis. Kepalannya mengerat. Tapi ia pilih diam. Ia mau lihat bagaimana sang ratu bantai tikus-tikus kantor itu.

Alesha sama sekali tidak terpancing emosi. Ia justru senyum, senyum manis yang sama persis saat ia perintahkan Clarissa sikat kloset pribadi.

Ia duduk di kursi CEO dengan anggun. Tangannya buka map hitam tebal itu, lalu lempar begitu aja ke tengah meja rapat. Brak!

Map itu kebuka, pamer lembaran laporan audit keuangan.

"Selamat pagi, Bapak-Bapak direksi terhormat," sapa Alesha dengan suara lembut tapi gema sempurna di ruangan kedap suara itu. "Perkenalkan, saya Alesha Vion. CEO baru Vantec. Istri sah Vion Mahendra. Sekaligus ibu dari pewaris tunggal Vantec, Arka Vion Mahendra, yang kini ada di dalam rahim saya yang baru dua bulan."

Ia usap perut ratanya dengan lembut.

"Sebelum saya mulai kerja resmi, saya sudah perintahkan audit kilat atas pengeluaran perusahaan selama tujuh hari terakhir. Dan saya temukan beberapa hal yang sangat menarik."

Alesha tarik selembar kertas dari map itu dan bacakan.

"Pak Hartono, Direktur Keuangan. Bulan lalu, Anda cairkan dana sepuluh miliar untuk proyek fiktif pengadaan server. Dananya mengalir langsung ke rekening pribadi Anda di Singapura nomor akun 8849xxx. Benar begitu?"

Wajah Pak Hartono yang tadi sembunyi di balik tawa meremehkan seketika pucat pasi seperti kertas kosong.

"Pak Wijoyo, Direktur Pemasaran. Anda terbukti jual data rahasia seribu pelanggan Vantec ke Grup Mahardika senilai lima ratus juta. Bukti transfernya lengkap di sini."

"Pak Danu, Direktur Operasional. Anda kerahkan dua puluh karyawan Vantec untuk bangun rumah pribadi Anda di Puncak pada jam kerja."

"Dan Pak Surya dan Pak Bambang, Direktur SDM dan Logistik. Kalian berdua terima suap dua miliar dari vendor komputer untuk loloskan perangkat kualitas rendah yang bikin server kita kena virus kemarin."

Satu per satu, lima direksi yang namanya disebut terpaksa bangkit berdiri dengan tubuh banjir keringat dingin dan panik luar biasa.

Suasana ruang rapat yang tadinya penuh tawa kini berubah jadi senyap mencekam. Empat puluh lima direksi lain nunduk sedalam-dalamnya, tidak berani sedikit pun lihat ke arah Alesha.

Alesha bangkit dari kursi kebesarannya. Ketukan hak merahnya bunyi nyaring di lantai marmer. Tuk. Tuk. Tuk.

Ia berhenti tepat di depan Pak Hartono yang gemetar ketakutan.

"Pak Hartono, Anda tadi bilang saya tidak bisa bedain kursi pesuruh dan kursi CEO. Izinkan saya tunjukkan bedanya sekarang."

Alesha jentikkan jarinya sekali.

Pintu ruang rapat terdorong terbuka. Sepuluh pengawal berbadan kekar masuk ke ruangan.

"Bedanya adalah, kursi pesuruh buat mereka yang kerja jujur. Sedangkan kursi CEO adalah tempat bagi seseorang yang punya wewenang untuk singkirkan para pengkhianat yang tidak mau kerja benar. Dan Anda berlima... resmi saya pecat. Detik ini juga. Tanpa pesangon sepeser pun. Dan laporan hukum atas penggelapan dana akan langsung kami serahkan ke polisi."

"ANDA TIDAK BERHAK! SAYA SUDAH MENGABDI DUA PULUH TAHUN DI VANTEC! SAYA REKAN DEKAT GUNAWAN!" teriak Pak Hartono histeris.

Alesha senyum dingin, lalu lirik ke arah Vion di sudut ruangan.

"Tuan Vion, sebagai CEO, apa saya punya wewenang pecat direksi korup ini?"

Vion yang dari tadi menyimak akhirnya bangkit. Ia melangkah dekati Alesha, lalu rangkul pinggang istrinya dari belakang dengan penuh kepemilikan.

"Ratuku, jabatan mu sebagai CEO kasih kamu kuasa mutlak untuk pecat siapa pun. Bahkan kalau kamu niat pecat aku dari hati mu kalau aku berulah, itu pun hak mu. Apalagi cuma sampah-sampah ini."

Vion menatap lima direksi itu dengan sorot mata yang bikin nyali mereka ciut seketika.

"Seret mereka keluar. Masukkan nama mereka ke daftar hitam nasional. Pastikan tidak ada satu perusahaan pun di negeri ini yang mau terima mereka kerja. Dan bekukan semua rekening luar negeri mereka. Saya sudah hubungi OJK pagi ini."

Sepuluh pengawal langsung bertindak tegas, seret lima direksi yang meronta-ronta itu keluar dari ruang rapat lantai 88 di depan ratusan karyawan yang nonton dari balik dinding kaca koridor.

Alesha kembali melangkah ke kursi CEO dan duduk. Ia tatap empat puluh lima direksi sisa yang kini berdiri tegak dengan kepala tertunduk patuh.

"Baiklah, Bapak-Bapak yang masih loyal. Kita lanjutkan agenda rapat hari ini. Agenda pertama: Peluncuran sistem AleshaOS. Inovasi yang akan dongkrak nilai saham kita tiga ratus persen. Bagi siapa yang keberatan, silakan pakai pintu keluar di sebelah sana, menyusul rekan Anda sebelumnya."

Empat puluh lima direksi itu langsung tepuk tangan serentak. Sangat keras. Sangat panjang. Penuh ketakutan.

Di sudut ruangan, Vion pandang Alesha dengan kagum yang sangat dalam.

Sang ratu bukan cuma cantik fisik. Bukan cuma lagi hamil darah dagingnya. Melainkan punya ketegasan dan kecerdasan bisnis yang setara dengan dirinya.

"Bagaimana, Tuan Pengawas? Apakah CEO baru ini layak?" bisik Alesha manis ke arah Vion.

Vion melangkah dekati meja CEO di depan puluhan direksi, lalu tanpa ragu mendaratkan kecupan hangat cukup lama di kening Alesha di depan bawahannya.

"Sangat layak, Ratuku. Kau bahkan jauh lebih kejam dari aku. Dan aku semakin tergila-gila sama kamu."

Empat puluh lima direksi itu serentak nunduk makin dalam, tidak berniat sedikit pun lihat kemesraan antara CEO dan pengawas mereka.

Di luar ruang rapat, tepat di pantri pesuruh, Clarissa yang kembali pakai seragam OB abu-abu tampak saksikan lima direksi korup itu digelandang pengawal dengan wajah sepucat mayat. Ia membatin, "Alesha... dia... dia bukan lagi Alesha yang dulu... dia benar-benar sudah jadi ratu sejati..."

Hari pertama Alesha duduki singgasana CEO, lima direksi langsung dilibas habis.

Dan hari pertama di mana Arka Vion Mahendra yang baru dua bulan di kandungan menyaksikan ibunya bantai para petinggi korup tanpa ampun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!