Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Mantan Kekasih yang Kembali dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk lewat kaca jendela lantai sepuluh, menyinari meja kerja Vanesha yang tertata rapi. Suasana kantor tampak tenang, namun Vanesha sejak tadi tampak gelisah — sesekali melirik jam dinding, lalu kembali menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca apa pun yang tertulis di sana.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dengan ritme yang tegas, percaya diri, dan asing sekaligus. Bukan ketukan Dika yang lembut dan akrab.
"Masuk," ucap Vanesha pelan, namun suaranya sedikit bergetar.
Pintu terbuka. Di ambang pintu berdiri seorang pria berpenampilan sangat memukau — setelan jas abu-abu mahal, rambut tertata rapi, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya tampan, namun ada kilatan yang terlalu yakin di matanya.
"Selamat pagi, Vanesha," ucap pria itu, suaranya rendah dan berkarisma, melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. "Ternyata benar. Kamu masih sama cantiknya seperti dulu."
Vanesha berdiri perlahan, menatap pria itu tanpa berkedip. "Arga... apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vanesha, mencoba menegakkan wibawanya meski jantungnya berdegup tak menentu.
Arga tersenyum tipis, berjalan mendekati meja kerja Vanesha seolah tempat itu miliknya. "Sudah lima tahun kita tidak bertemu, dan sapaanmu cuma begitu?" jawab Arga santai, menaruh tas kerjanya di kursi tamu. "Saya pulang, Vanesha. Dan kali ini, saya tidak akan pergi lagi."
Di lorong luar, Dika berjalan membawa nampan berisi secangkir kopi hitam — satu sendok teh gula, persis seperti biasa. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara pria asing dari balik pintu ruangan yang terbuka sedikit. Matanya menyipit, naluri pengawalnya langsung siaga.
"Saya tidak mengundangmu, Arga," ucap Vanesha tegas, meski ada keraguan yang masih tersisa di nadanya. "Kita sudah selesai. Itu sudah lama sekali."
"Selesai?" sahut Arga pelan, melangkah selangkah lebih dekat. "Kita berpisah bukan karena tidak saling mencintai, Vanesha. Saya pergi karena harus menyelesaikan urusan keluarga di luar negeri. Sekarang saya sudah kembali. Dan semuanya bisa kembali seperti sedia kala."
Dika menarik napas panjang, mengetuk pintu pelan namun tegas. "Permisi, Nona Bos... eh, Vanesha," ucap Dika masuk, meletakkan nampan di meja dengan tenang, lalu berdiri di samping Vanesha. "Ada tamu?"
Arga menoleh, menatap Dika dari atas ke bawah dengan sebelah alis terangkat. "Dan ini siapa?" tanya Arga, nada bicaranya terdengar meremehkan. "Pengawal pribadi? Atau..." — dia berhenti sejenak, tersenyum sinis — "...pengganti sementara yang murah meriah?"
Dika tersenyum lebar, tidak terpancing emosi. "Saya Dika, pengawal pribadi sekaligus orang yang memastikan Vanesha tersenyum tiap hari. Bukan pengganti, bukan juga sementara," jawab Dika tenang namun tegas. "Dan Bapak siapa, kalau boleh tahu?"
"Saya Arga," jawab pria itu dengan bangga. "Mantan pacarnya. Dan sebentar lagi, saya kembali menjadi pasangannya."
Vanesha menarik napas panjang, menatap kedua pria di hadapannya. "Cukup, Arga. Dika bukan orang asing. Dia orang yang saya percayai sepenuhnya," ucap Vanesha tegas. "Dan soal kita... tolong jangan bawa-bawa lagi. Sudah berlalu."
Arga tertawa pelan, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kamu serius? Kamu memilih dia — satpam — daripada saya? Pria yang dulu pernah bersamamu, yang tumbuh besar bersamamu?" tanya Arga tak habis pikir.
"Status bukan ukuran hati, Arga," jawab Vanesha mantap. "Dika ada saat saya kesepian. Dika ada saat saya takut. Kamu... kamu pergi saat saya paling butuh."
Suasana di ruangan itu mendadak hening. Arga terdiam, kata-kata itu menembus kesombongannya. Dia menatap Vanesha, lalu ke arah Dika yang berdiri tegak, tenang, dan tak menunjukkan tanda ingin mundur sedikit pun.
"Saya tidak akan menyerah begitu saja," ucap Arga pelan, menatap tajam ke arah Dika. "Kamu belum tahu semuanya. Dulu saya pergi bukan tanpa alasan. Tapi saya akan buktikan — Vanesha akan kembali ke saya."
Arga berbalik melangkah keluar, menabrak bahu Dika pelan saat lewat. Dika tidak bergeming, matanya tetap menatap lurus ke depan, menjaga.
Setelah pintu tertutup, Vanesha menghela napas panjang, lalu duduk kembali di kursinya. Bahunya terasa turun beban yang berat.
"Dia... orang yang dulu kamu cintai?" tanya Dika pelan, mendekat sedikit.
Vanesha mengangguk pelan, menatap jendela. "Iya. Dulu kami berjanji akan membangun semuanya bersama. Tapi dia pergi tanpa pamit yang jelas, hilang lima tahun," jawab Vanesha lirih. "Dan sekarang dia kembali, seakan tidak pernah pergi."
Dika duduk di tepi meja, menatap wanita di hadapannya dengan lembut. "Kamu masih mencintainya?" tanya Dika jujur, meski hatinya berdebar takut mendengar jawabannya.
Vanesha menoleh, menatap mata Dika lekat-lekat. "Dulu... iya. Dulu saya pikir dia satu-satunya," jawab Vanesha pelan, lalu tersenyum tipis. "Tapi sekarang... saya tahu, yang saya cari bukan dia. Yang saya butuhkan ada di sini, di depan mata saya."
Dika tersenyum lega, meraih tangan Vanesha pelan. "Saya tidak akan pergi, Vanesha. Kalau dia mau kembali, biar dia lihat — tempat di hatimu sudah ada yang isi," ucap Dika tulus.
Vanesha menggenggam tangan itu erat, merasa aman kembali. "Terima kasih, Dika. Tetaplah di sini," bisik Vanesha.
Di luar, bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya hilang. Arga belum menyerah. Namun satu hal sudah jelas — hati Vanesha tidak lagi menunggu yang dulu pergi. Hatinya kini milik orang yang tetap tinggal, yang menjaga, yang tulus mencintainya tanpa syarat.