Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terusir ke Kota dan Pelarian di Atas Pick-Up
Air Kali Garang yang dingin membasahi sarung robek Mamat hingga setinggi dada. Di bawah kegelapan malam yang pekat, tiga bayangan manusia merayap menyeberangi arus sungai sambil menahan napas rapat-rapt. Di seberang sana, suara teriakan warga Kampung Kalisari yang emosi dan dentuman kentongan pos ronda perlahan-lahan makin sayup, tergantikan oleh desir angin malam yang menyapu pepohonan tepi jalan raya.
"Hhh... hhh... Mat, berhenti dulu, Mat..." bisik Bowo sambil memegangi lututnya yang lemas begitu mereka berhasil memanjat tanggul sungai yang licin dan berlumpur.
Mamat merebahkan tubuh kerempengnya di atas rumput liar tepi jalan raya Semarang-Kendal. Wajahnya penuh coretan lumpur hitam, jubah sarung kusamnya sudah terkoyak melambai-lambai, dan Keris Bengkok Brajamukti masih terselip miring di pinggangnya bagaikan sisa senjata prajurit perang yang kalah telak.
Darto merangkak mendekat, mengusap wajahnya yang basah oleh air sungai. "Jancuk... Hampir saja aku kena pukul linggisnya Pak Harjo! Itu Pak Bintoro beneran pinter banget, kok bisa-bisanya nemu tempat semprotan racun nyamuk di bawah meja sajenmu, Mat?"
Mamat mengembuskan napas panjang, menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. " Namanya juga pensiunan tentara, To. Matanya tajam kayak elang. Tapi ndak apa-apa... Yang penting nyawa kita selamat dan modal usaha kita aman!"
Mamat merogoh saku celana pendeknya di balik sarung robek. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan gulungan uang lima juta rupiah pemberian Pak Hidayat yang agak basah di bagian pinggirnya. Darto juga merogoh sakunya, mengeluarkan uang dua juta rupiah hasil pendaftaran pasien di meja depan.
Total tujuh juta rupiah tunai terhampar di atas tanah rumput!
Bowo yang tadinya lemas mendadak melotot, matanya berbinar-binar menatap lembaran uang merah lima puluh dan seratus ribuan tersebut. "Gila... Banyak banget, Mat! Cuma modal racun nyamuk, kapur barus, sama gertakan keris bengkok, kita dapat uang sebanyak ini dalam dua hari!"
"Ini bukti bahwa di dunia ini, kebodohan orang itu adalah ladang bisnis paling menjanjikan," celetuk Mamat sambil tersenyum licik, membagi uang itu secara cepat. "Dua juta buat kamu To, dua juta buat Bowo, sisanya tiga juta buat aku sebagai bos dan pemilik merek dagang Ki Mamat Sastrogati."
"Setuju, Bos!" Darto dan Bowo menyambar bagian uang mereka dengan girang, lupa bahwasanya mereka baru saja kehilangan rumah dan menjadi buronan nomor satu di Kampung Kalisari.
Saat mereka sedang sibuk memasukkan uang ke dalam saku, sinar lampu sorot yang terang benderang mendadak menyambar wajah mereka dari arah tikungan jalan raya. Suara deru mesin diesel tua meraung kencang, diiringi decitan rem dari sebuah mobil pick-up bak terbuka penyangkut muatan sayur yang melaju pelan menuju arah pusat Kota Semarang.
"Mobil, Mat!" bisik Bowo panik. "Jangan-jangan warga Kalisari nyewa mobil buat ngejar kita!"
"Datar dulu, ojok panik!" potong Mamat cepat. Ia melihat ke arah bak belakang mobil pick-up tersebut yang dipenuhi tumpukan keranjang kosong dan tumpukan kubis sisa pasar.
Tanpa membuang waktu, Mamat memberi isyarat tangan. Tiga pemuda itu berlari mengendap-endap mengejar bagian belakang mobil pick-up yang sedang melambat di tanjakan jalan raya. Dengan lincah, Bowo memanjat bemper belakang, disusul Darto, dan Mamat yang menarik sarungnya ke atas melompat paling akhir.
BRUK!
Mereka bertiga berhasil menjatuhkan diri ke dalam bak belakang mobil pick-up, bersembunyi di antara tumpukan dedaunan kubis dan keranjang kayu kosong. Supir pick-up di depan sama sekali tidak menyadari bahwa bak belakangnya baru saja menampung tiga buronan dukun gadungan.
Mamat menyandarkan kepalanya pada keranjang kayu, memandangi gemerlap lampu-lampu Kota Semarang yang makin mendekat di kejauhan. Angin malam menampar wajahnya yang kotor, namun pikirannya justru terbang membayangkan petualangan baru di kota besar.
"Kita mau ke mana sekarang, Mat?" tanya Darto sambil mengunyah lembaran daun kubis sisa yang masih bersih demi menahan lapar.
Mamat membetulkan letak gagang keris bengkoknya. "Kita turun di sekitar Simpang Lima atau Pasar Johar. Di kota besar, orang-orangnya memang pinter, tapi tingkat stres mereka jauh lebih tinggi. Masalah mereka bukan cuma ayam hilang atau suami pulang malam, tapi soal karir, persaingan bisnis, sama asmara."
"Maksudmu... kita mau buka praktek dukun lagi di kota?" tanya Bowo ragu. "Ndak kapok kamu hampir digebuk Pak Bintoro?"
Mamat tertawa terkekeh-kekeh, tawa khasnya yang agak sengau. "Kapok? Dukun itu cuma salah satu sarana! Di kota besar, kita ndak usah pakai nama 'Ki Mamat' lagi. Kita bisa ubah taktik. Kita bisa jadi Consultant Spiritual, Master Aura, atau Pakai Trik Sulap Psikologis! Modal kita sudah ada tujuh juta, keris bengkok masih ada, dan otakku masih encer!"
Mobil pick-up pembawa kubis itu akhirnya melambat dan berhenti di dekat pinggiran kawasan Pasar Johar Semarang saat waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana pasar malam masih agak ramai oleh lalu lalang kincir pedagang dan kuli panggul.
Dengan perlahan dan hati-hati, Mamat, Darto, dan Bowo melompat turun dari bak belakang mobil tanpa ketahuan supirnya. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong gang di sekitar kawasan permukiman padat dekat pasar. Dengan modal uang tunai di tangan, urusan mencari tempat tinggal tidaklah sulit.
Melalui bantuan seorang calo kontrakan malam hari di sekitar pelabuhan kecil, Mamat berhasil menyewa sebuah rumah kontrakan sempit dua lantai di lorong perkampungan padat Gang Pinggir. Kontrakan itu beratap seng, ber dinding tembok mengelupas, tetapi posisinya sangat strategis: berada di tengah-tengah pemukiman pedagang, pengusaha toko, dan perantau kota.
Mamat membayar uang sewa kontrakan untuk tiga bulan ke depan secara tunai sebesar dua juta rupiah. Sisanya digunakan Darto untuk membeli baju-baju bekas yang layak di pasar kaget, sabun mandi, serta sarapan nasi kucing dan teh hangat lima bungkus.
Sore harinya, setelah mandi bersih dan berganti pakaian kemeja kusam tapi rapi, Mamat duduk di lantai dua kontrakan barunya yang menghadap ke lorong jalan raya kecil. Rambutnya sudah dirapikan, kumis tipisnya dicukur habis, dan penampilan "Mamat si dukun kerempeng" telah berganti menjadi sosok pemuda Kota yang tampak intelek namun misterius.
Di atas meja lipat plastik di hadapannya, tergeletak Keris Bengkok Brajamukti yang sudah dibersihkan dari karatnya menggunakan minyak kelapa, serta sebuah papan kayu kecil yang baru ditulis oleh Bowo menggunakan cat hitam.
Papan kayu itu bertuliskan: "KLINIK CONSULTANT AURA & SOLUSI BERSAMA - KANG MAMAT"
Darto yang baru masuk membawa segelas kopi hitam menatap papan kayu itu sambil mengerutkan dahi. "Kang Mamat? Kok ndak pakai gelar 'Ki' lagi, Mat?"
Mamat menyulut batang rokoknya, tersenyum sinis. "Orang kota itu alergi sama kata 'Dukun' atau 'Ki' karena takut dibilang musyrik atau ndak modern. Tapi kalau kita pakai kata 'Consultant Aura' atau 'Solusi Hidup', mereka bakal mikir ini adalah terapi psikologi modern bersensasi mistis! Taktik pemasaran harus menyesuaikan zaman, To!"
"Wuih... Bahasa organisasimu makin gaya saja, Mat!" puji Bowo yang sedang sibuk merapikan gorden merah di pintu depan. "Terus, trik racun serangga sama kapur barus kemarin masih dipakai ndak?"
"Ndak dipakai lagi!" tegas Mamat. "Di kota ini kita main cantik. Trik kita adalah BACA KARAKTER DARI BAJU DAN CARA BICARA! Kebanyakan orang yang datang berobat itu cuma butuh didengarkan, dipuji sedikit, lalu dikasih harapan palsu yang masuk akal. Keris bengkok ini cuma formalitas pajangan di meja biar mereka segan."
Belum sempat Mamat menyelesaikan penjelasannya, dari arah tangga bawah terdengar suara langkah kaki yang melangkah ragu-ragu.
Klek... klek... klek...
Pintu kontrakan lantai dua perlahan terdorong terbuka. Sosok tamu pertama mereka di Kota Semarang akhirnya muncul!
Tamu itu adalah seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahun, mengenakan pakaian kantor rapi dengan rok span hitam dan kacamata berbingkai tipis. Wajahnya yang cantik tampak sangat layu, matanya sembap bekas menangis, dan jemarinya tak berhenti memilin-milin tali tas kulitnya.
Nama wanita itu adalah Mbak Siska, seorang karyawan swasta di perusahaan distributor yang sedang hancur hatinya gara-gara ditinggal tunangannya secara mendadak tiga hari sebelum hari pernikahan.
Mamat yang melihat kedatangan Mbak Siska langsung memasang raut muka tenang, teduh, dan penuh empati—sangat berbeda dengan gaya angkuh "Ki Mamat" saat di kampung dulu.
"Silakan masuk, Mbak... Duduklah dengan tenang," panggil Mamat dengan suara bernada lembut dan berwibawa.
Mbak Siska melangkah masuk, duduk canggung di atas karpet plastik di depan meja Mamat. Bau wangi parfum mahal dari tubuhnya seketika memenuhi ruangan kontrakan yang sempit itu.
"Apakah ini... tempat konsultasi Kang Mamat yang disaranin sama Bu Lina pedagang buah di pasar?" tanya Mbak Siska dengan suara serak menahan tangis.
Mamat mengangguk perlahan, merapikan letak Keris Bengkok di mejanya agar terlihat anggun. "Benar, Mbak. Di sini kita tidak bicara tentang klenik atau mistis jahat, tetapi tentang menyelaraskan kembali energi jiwa yang sedang retak."
Mbak Siska yang mendengar kata-kata selembut itu mendadak tidak sanggup menahan rasa sesaknya lagi. Air matanya meledak keluar bercucuran di pipinya.
"Kang Mamat... Tolong saya, Kang!" tangis Mbak Siska pecah. "Tunangan saya... tiba-tiba membatalkan pernikahan kami secara sepihak! Dia lari sama wanita lain! Padahal undangan sudah disebar dan gedung sudah dibayar! Saya malu sekali, Kang... Saya rasanya mau mati saja!"
Mamat menatap Mbak Siska dengan cermat. Otak kepepet Mamat yang kini beroperasi dengan mode "Konsultan Aura" langsung membaca situasi dalam hitungan detik: Wanita muda, emosional, butuh pembalasan dendam psikologis, dan tentu saja memiliki uang tabungan yang cukup dari gaji kantoran.
Mamat mendekatkan posisi duduknya, menatap mata Mbak Siska di balik kacamatanya dengan pandangan yang dalam.
"Jangan katakan mau mati, Mbak Siska," kata Mamat selembut mungkin, sambil pelan-pelan menyodorkan selembar tisu. "Pria itu bukan lari karena kamu tidak berharga. Dia lari karena aura jiwanya terlalu gelap untuk menampung keberuntungan besar yang ada di dalam tubuhmu."
Mbak Siska mendongak, tertegun menatap Mamat. "M-Maksud Kang Mamat bagaimana?"
Mamat menyunggingkan senyum misterius. Tangannya yang mengenakan batu akik merah besar perlahan mengusap permukaan Keris Bengkok Brajamukti.
"Pria itu telah ditutup matanya oleh energi negatif dari wanita selingkuhannya," bisik Mamat dengan nada yang sangat meyakinkan. "Tapi jangan khawatir... Dengan sarana Penyelarasan Aura Brajamukti, kita tidak hanya bisa membuat pria itu menyesal setengah mati telah membuangmu, tetapi juga akan menarik pria kaya yang jauh lebih tampan untuk berlutut di hadapanmu dalam waktu tiga puluh hari!"
Mata Mbak Siska seketika berbinar-binar di tengah genangan air matanya. Kata-kata Mamat menyambar tepat di pusat rasa harga dirinya yang sedang hancur.
"B-Beneran bisa bikin dia menyesal, Kang Mamat?!" tanya Mbak Siska penuh harapan yang meluap-luap. "Berapa pun biayanya, saya bayar, Kang! Asal nama baik saya dan keluarga saya kembali terangkat!"
Mamat menahan senyum kelicikannya yang hampir meledak di wajahnya. Trik "Konsultan Aura" di kota besar terbukti bekerja jauh lebih mulus, lebih elegan, dan tentu saja berpotensi menghasilkan uang yang jauh lebih melimpah daripada sekadar mengurus ayam hilang Pak RT di kampung.
Di tengah riuk penyesalan dan harapan palsu Mbak Siska di kontrakan baru itu, Mamat menyadari satu hal: Petualangan gila Ki Mamat Sastrogati baru saja memasuki babak anyar yang jauh lebih kaya, lebih rumit, dan penuh dengan kepalsuan tingkat tinggi di tengah belantara Kota Semarang.