Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersin Pagi Hari, Susu Kacang Kedelai, dan Senyum Sempurna Sang Jenius
Pagi di Jiangcheng terasa lebih dingin dari biasanya setelah diguyur hujan badai semalaman. Kabut tipis masih menyelimuti lapangan upacara SMA Mingde, membuat sebagian besar murid memilih merapatkan jaket seragam mereka sambil berlari kecil menuju kelas.
Di dalam Kelas 11-3, suasana masih lumayan sepi. Hanya ada beberapa murid rajin yang sedang menyalin PR Matematika.
"Hatchi!"
Sebuah bersin keras memecah keheningan kelas. Lu Feng mengusap hidungnya yang sedikit memerah dengan punggung tangan, lalu kembali menenggelamkan wajahnya ke lipatan tangan di atas meja. Seragam *tracksuit*-nya hari ini ditarik resletingnya sampai menutupi leher.
Chen Hao, yang duduk di sebelahnya sambil sibuk memencet layar HP memainkan *game* RPG, melirik temannya itu dengan tatapan mengejek.
"Makanya, Bro. Sok jagoan sih lo kemarin nembus hujan," ledek Chen Hao tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. "Gue kan udah bilang, sistem imun lo itu level 1 kalau kena hujan musim gugur. Lagian, lo ngapain sih sok-sokan minjemin jaket ke si Ketua Kelas? Cari mati lo ya berurusan sama Ibu Negara?"
"Bacot lo, Hao. Gue cuma kasihan," gumam Lu Feng dengan suara bindeng dari balik lengannya. "Lagian dia cewek. Masa gue biarin dia lari hujan-hujanan bawa tas berat, sementara gue cowok berteduh kayak pengecut? Harga diri gue mau ditaruh di mana?"
"Halah, bilang aja lo modus," cibir Chen Hao, jari-jarinya menari cepat di atas layar. "Tapi jujur aja nih, nyali lo gede juga, Feng. Asal lo tahu aja, di sekolah ini belum ada satu cowok pun yang berani deket-deket apalagi sampai minjemin jaket ke Lin Xiao. Bukan cuma karena dia galak, tapi karena ada *boss monster* yang ngejagain dia dari jauh."
Lu Feng mengangkat kepalanya sedikit, mengerutkan kening. Hidungnya gatal, tapi rasa penasarannya lebih besar. "*Boss monster*? Siapa? Bapaknya kepala yayasan?"
"Bukan," bisik Chen Hao, sengaja memelankan suaranya. "Wang Yibo. Si peringkat satu paralel dari Kelas 11-1. Anak emasnya guru-guru. Mereka berdua itu udah deket dari SMP karena sering ikut olimpiade bareng. Anak-anak Mingde udah naruh *label* kalau Lin Xiao itu 'wilayah kekuasaannya' si Wang Yibo. Nggak ada yang berani nikung cowok sesempurna dia."
Lu Feng mendengus pelan, matanya menatap bosan ke arah papan tulis. "Peringkat satu doang. Emangnya dia dewa?"
"Di Mingde, nilai akademis itu segalanya, Bro. Dan Wang Yibo itu—"
Kata-kata Chen Hao terpotong saat pintu depan kelas bergeser terbuka.
Lin Xiao melangkah masuk. Seperti biasa, penampilannya tanpa cela. Seragamnya rapi, rambutnya diikat satu ke belakang, dan punggungnya tegak. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Cewek itu tidak langsung berjalan ke mejanya. Tangannya terlihat memegang sebuah kantong kertas kecil berwarna cokelat yang masih mengeluarkan uap tipis.
Saat Lin Xiao berjalan menyusuri lorong antar meja, matanya tanpa sengaja bersirobok dengan mata sayu Lu Feng.
Langkah Lin Xiao mendadak kaku. Memori tentang sore kemarin di bawah jaket biru, aroma *mint* cowok itu, dan seberapa dekat jarak wajah mereka, kembali menyerbu otaknya. Pipi Lin Xiao langsung memanas. Dia buru-buru memalingkan wajah, berusaha memasang ekspresi sedatar mungkin.
Lin Xiao berhenti di depan meja Lu Feng.
Tanpa mengatakan apa-apa, cewek itu meletakkan kantong kertas cokelat itu tepat di atas meja Lu Feng, menghasilkan bunyi *thump* pelan yang membuat Chen Hao langsung menekan tombol *pause* di *game*-nya saking kagetnya.
"I-itu..." suara Lin Xiao sedikit terbata, tangannya meremas ujung rok seragamnya. "Sebagai ganti karena kemarin kamu meminjamkan jaketmu. Aku... aku hanya tidak mau berutang budi padamu, Lu Feng. Jangan berpikir yang macam-macam."
Setelah memuntahkan kalimat itu secepat peluru, Lin Xiao langsung berbalik dan berjalan kaku menuju bangkunya sendiri di barisan depan, duduk, dan langsung membuka buku teks tebal seolah sedang membaca kalimat paling penting di dunia. Padahal, matanya sama sekali tidak fokus pada huruf-huruf itu.
Lu Feng terdiam. Dia menatap kantong kertas di depannya, lalu membukanya pelan.
Di dalamnya ada sekotak susu kacang kedelai hangat dan dua buah bakpao daging yang aromanya langsung menggodanya.
Sebuah senyum tertahan mengembang di bibir Lu Feng. Rasa pening dan hidung tersumbatnya mendadak terasa jauh lebih mendingan. Cowok itu mengambil kotak susu kedelai itu, merasakan kehangatannya mengalir di telapak tangannya.
"Gila..." gumam Chen Hao di sebelahnya, matanya membelalak lebar melihat kejadian barusan. "Gue nggak lagi halusinasi kan, Feng? Sang Ratu Es baru aja ngasih lo sarapan? Wah, *fix*, lo beneran pakai pelet ya?!"
"Pelet mata lo," Lu Feng menendang tulang kering sahabatnya dari bawah meja. "Ini namanya pesona. Lo mana paham."
Lu Feng menancapkan sedotan ke kotak susu itu dan meminumnya. Matanya terus menatap punggung Lin Xiao di depan sana. Telinga cewek itu terlihat sangat merah dari belakang. Lucu sekali.
Namun, momen manis itu tidak bertahan lama.
Menjelang bel istirahat pertama, suasana kelas mulai riuh. Lu Feng baru saja bersandar di kursinya, bersiap untuk tidur siang singkat, ketika sebuah sosok tinggi muncul di pintu kelas 11-3.
Seorang cowok dengan kacamata berbingkai tipis, kemeja putih yang disetrika tanpa kerutan sedikit pun, dan senyum yang terlihat begitu ramah namun entah mengapa terasa kalkulatif.
"Permisi, apakah Lin Xiao ada?" suaranya lembut dan berwibawa.
Seisi kelas langsung menoleh. Beberapa siswi perempuan mulai berbisik-bisik histeris.
"Itu Kak Wang Yibo!"
"Gila, ganteng banget! Dia pasti mau nyari Lin Xiao lagi buat bahas materi ujian."
Lu Feng perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung menajam. Jadi, ini yang namanya *boss monster*?
Lin Xiao yang sedang merapikan catatannya langsung berdiri dan berjalan menghampiri pintu. Raut wajah judesnya yang biasa ia tunjukkan pada Lu Feng sedikit memudar, digantikan oleh ekspresi hormat dan akrab yang membuat dada Lu Feng mendadak terasa tidak nyaman.
"Yibo? Ada apa ke sini?" tanya Lin Xiao, berdiri di ambang pintu.
Wang Yibo tersenyum hangat, mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul hitam dari lengannya. "Aku cuma mau mengembalikan buku catatan Biologi yang kupinjam darimu minggu lalu, Xiao. Catatanmu sangat rapi, seperti biasa. Aku menandai beberapa prediksi soal ujian dari guru-guru kelas satu untukmu di halaman belakang."
"Benarkah? Terima kasih banyak, Yibo! Ini sangat membantu," wajah Lin Xiao berbinar. Obsesinya pada nilai dan ujian selalu berhasil membuatnya antusias.
"Bukan masalah. Ngomong-ngomong..." Wang Yibo mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya dipelankan namun masih cukup keras untuk didengar oleh Lu Feng yang duduk tak jauh dari pintu. "Akhir pekan ini ada pameran buku di perpustakaan pusat kota. Kudengar ada diskon besar untuk buku-buku referensi GaoKao (ujian masuk universitas). Mau pergi bersamaku?"
Chen Hao yang sedari tadi menguping langsung menyikut rusuk Lu Feng. "Mampus lo, Feng. Lawan lo langsung ngeluarin *ultimate skill*. Kencan berkedok belajar. Anak pinter mah beda mainnya."
Lu Feng mendecak sebal. Dia menatap interaksi dua murid teladan itu dengan perasaan gatal yang menjalar di hatinya. Apalagi saat dia melihat pipi Lin Xiao sedikit merona menerima ajakan itu. Sialan. Kemarin cewek itu malu-malu di bawah jaketnya, sekarang malah tersipu di depan cowok kacamata ini?
Lin Xiao tampak ragu sejenak. "Akhir pekan ini ya? Sepertinya aku—"
*BRAK!*
Suara kursi yang didorong kasar ke belakang membuat seisi kelas terlonjak, termasuk Lin Xiao dan Wang Yibo.
Lu Feng berdiri dari kursinya dengan raut wajah kelewat santai. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku *tracksuit*, lalu berjalan lambat menghampiri pintu kelas, tepat di mana Lin Xiao dan Wang Yibo berdiri.
Cowok berandal itu berhenti tepat di sebelah Lin Xiao, nyaris menyentuh bahu cewek itu, lalu menatap Wang Yibo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Permisi, numpang lewat. Pintu kelas ini kayaknya terlalu sempit buat nampung ego anak peringkat satu," celetuk Lu Feng santai, matanya memancarkan aura permusuhan yang sangat kental.
Wang Yibo tidak terpancing. Cowok berkacamata itu tetap mempertahankan senyum sempurnanya, namun kilat matanya berubah dingin saat menatap Lu Feng. Dia langsung tahu siapa cowok ini; berita tentang murid pindahan pembuat onar sudah menyebar ke telinganya.
"Kamu pasti Lu Feng. Anak pindahan yang sering tidur di kelas," ucap Yibo sopan, tapi kata-katanya penuh racun. "Kudengar nilai evaluasi awalmu sangat jauh di bawah rata-rata. Sebaiknya kamu fokus mengejar ketertinggalanmu daripada mengganggu ketua kelas kami."
Lu Feng tertawa kecil, tawa yang berat dan sinis. Dia maju satu langkah, mengabaikan tatapan panik Lin Xiao di sebelahnya.
"Nilai gue emang jelek. Tapi seenggaknya gue nggak butuh pameran buku buat nyari alasan ngajak jalan cewek yang gue suka," balas Lu Feng tajam, tanpa filter.
Seisi kelas menahan napas! Gila! Murid pindahan ini baru saja mendeklarasikan perang terbuka di depan sang penguasa akademis Mingde!
Lin Xiao membelalakkan matanya lebar-lebar. Wajahnya langsung semerah tomat matang. "Lu Feng! Jaga bicaramu! Apa yang—"
"Awas aja kalau lo sampai sakit kepala gara-gara kebanyakan belajar, Ketua Kelas," potong Lu Feng cepat, menoleh ke arah Lin Xiao dan tersenyum miring. Senyum yang sukses membuat jantung Lin Xiao kembali berdetak brutal.
Lu Feng lalu mengeluarkan kotak susu kacang kedelai kosong dari sakunya, dan melemparkannya tepat ke tempat sampah di dekat pintu dengan akurasi tiga poin yang sempurna.
"Makasih sarapannya. Susunya manis. Sama kayak yang ngasih," bisik Lu Feng tepat di telinga Lin Xiao, membuat cewek itu membeku seketika.
Tanpa melirik Wang Yibo lagi, Lu Feng berjalan keluar kelas menuju kantin, meninggalkan keheningan panjang di belakangnya.
Wang Yibo masih berdiri di ambang pintu, senyum sempurnanya masih bertengger di wajah, namun tangannya yang memegang tepi pintu mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Mata di balik kacamata itu menatap tajam punggung Lu Feng yang menjauh.
Sementara itu, Lin Xiao hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam, menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum yang mati-matian berusaha meledak. Hatinya kacau balau.
Sistem sekolah dan nilai akademis mungkin dikuasai oleh Wang Yibo. Namun hari ini, Lu Feng membuktikan bahwa cowok pindahan yang hobi bolos itu baru saja merebut kendali penuh atas detak jantung seorang Lin Xiao.
Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.