Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
melindungi aura mati matian
"Nona Aura harus ikut bersama kami ke London malam ini juga..."
Aura membeku. Cengkeraman jemarinya di pinggang Devan makin erat, meremas kain jaket kulit yang lembap itu dengan seluruh sisa tenaganya.
Rasa takut yang amat sangat merayap cepat dari telapak kakinya naik ke dada, membuat napasnya terasa kaku dan sesak.
Devan tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan gerakan refleks yang sangat protektif, Devan menarik tubuh Aura ke belakang punggungnya, menjadikan tubuh tingginya sebagai benteng yang tak menembus.
Rahang Devan mengeras, urat-urat di lehernya menonjol tegang, dan matanya menyala dengan kilatan kemarahan yang begitu pekat dan mengerikan.
"Coba saja kalau berani," bisik Devan.
Suaranya tidak lagi keras dan dipenuhi ancaman mematikan yang sanggup membuat siapa pun merinding.
"Selama gue masih bernapas, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa menyentuh atau membawa Aura melangkah satu senti pun dari sini!"
pria bernama Marcus—hanya menatap Devan dengan wajah kaku tanpa ekspresi.
"Tuan Muda Devan, tolong jangan menyulitkan keadaan. Ini perintah langsung dari ayah Anda. Ini satu-satunya cara agar aset keluarga Alandra tidak disita Interpol dan nama Anda dibersihkan secara penuh."
"Gue nggak peduli sama aset Alandra! Gue nggak peduli sama nama bersih gue!" amuk Devan.
Suaranya menggelegar memecah kesunyian malam. "Kalian bisa ambil seluruh kekayaan itu! Ambil semuanya sampai nggak tersisa! Tapi jangan pernah coba-coba bawa Aura ke dalam lingkaran neraka kalian!"
"Devan..." panggil Aura lirih dari balik punggungnya. Suaranya bergetar hebat, air matanya menetes membasahi punggung tegap Devan.
Devan sedikit memiringkan kepalanya, namun matanya tetap mengunci gerakan dua anak buah Marcus di depannya.
"Jangan takut, Aura. Ada aku di sini. Aku nggak akan biarkan mereka menyentuh kamu... aku nggak akan pernah membiarkan kamu hilang dari hidup aku lagi."
Di sudut ruangan, Reno yang baru saja siuman dari pukulan keras merayap perlahan di atas tanah basah, mencoba menjangkau pistolnya yang terlempar dekat tumpukan semen. Wajahnya yang penuh memar memancarkan kekesalan luar biasa.
Marcus memberi isyarat pelan dengan lambaian tangannya. Dua pria berbadan tegap di belakangnya langsung melangkah maju, merogoh bagian dalam jas mereka untuk menarik tongkat pemukul besi berteknologi tinggi.
"Maafkan kami, Tuan Muda. Kami harus menjalankan perintah, bahkan jika kami harus melumpuhkan Anda terlebih dahulu," kata Marcus dingin.
Dua anak buah Marcus menerjang secara bersamaan!
"Aura, mundur ke sudut!" jerit Devan.
Devan melompat maju tanpa ragu sedikit pun. Di tengah fisiknya yang lelah, luka memar yang belum sembuh, dan perban di tangannya yang basah oleh darah, Devan bertarung bagaikan kesetanan.
Satu sabetan tongkat besi mengarah ke kepalanya. Devan mengelak cepat ke kiri, mencengkeram pergelangan tangan musuh, lalu menghantamkan lututnya keras-keras ke perut pria itu.
BUGH!
Suara benturan keras terdengar mendengung. Pria pertama tersungkur menekuk tubuhnya di tanah. Namun, pria kedua langsung memanfaatkan celah itu untuk mengayunkan tongkat besinya dari arah belakang, mengenai bahu kiri Devan dengan telak.
KREK!
"Aaghh!" erang Devan tertahan. Pukulan besi itu begitu keras hingga tubuh Devan terdorong ke depan, hampir saja roboh berlutut di tanah basah.
"DEVAN!" jerit Aura histeris, hendak berlari mendekati Devan.
"JANGAN MENDEKAT, AURA!" bentak Devan sekuat tenaga, menahan rasa nyeri luar biasa yang menyengat di bahunya.
Dengan sisa kekuatan dan dorongan rasa ingin melindungi yang tak terbatas, Devan bangkit kembali.
Matanya yang merah menyala menatap musuhnya tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Rasa sakit di tubuhnya seolah tak ada artinya dibanding ketakutannya akan kehilangan Aura. Ia pernah membiarkan Aura terancam, ia pernah membuat Aura menangis gara-gara sikap dinginnya, dan Devan bersumpah pada dirinya sendiri—malam ini, ia tidak akan pernah membiarkan cewek yang amat dicintainya itu terseret ke dalam kehancuran hidupnya.
"Gue udah pernah bilang..." kata Devan dengan napas memburu, menyapu darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan. "...siapa pun yang berani sentuh Aura... harus melangkahi mayat gue dulu!"
Devan menerjang pria kedua dengan pukulan kombinasi yang amat membabi buta. Pukulan mentahnya mendarat bertubi-tubi di wajah dan dada musuh tanpa memberi ampun sedikit pun, hingga tongkat besi itu terlepas dan pria tegap itu tumbang tak sadarkan diri di tanah.
Marcus yang menyaksikan ketangguhan nekat Tuan Mudanya hanya mendesah pelan. Ia menarik pistolnya sendiri, lalu mengarahkannya bukan ke Devan... melainkan tepat ke arah dada Aura yang berdiri gemetar di sudut ruangan!
"Tuan Muda Devan... berhenti sekarang juga," ancam Marcus dengan jari yang sudah menempel di pelatuk.
"Satu gerakan lagi dari Anda, dan gadis ini tidak akan pernah sampai ke London dalam keadaan bernapas."
Devan seketika membeku. Seluruh gerakannya terhenti total. Napas Devan memburu, matanya melotot tajam menatap moncong pistol yang mengincar jantung Aura.
"Marcus... bajingan lu..." bisik Devan dengan suara bergetar hebat.
Aura menatap Devan dari sudut ruangan. Menerima tatapan Devan yang dipenuhi keputusasaan dan keharuan yang luar biasa, Aura justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat lembut di tengah penderitaan itu.
"Devan... udah..." bisik Aura pelan, air matanya mengalir deras. "Jangan korbankan nyawa kamu lagi buat aku... Aku nggak apa-apa."
"Nggak, Aura! Nggak!" jerit Devan, suaranya pecah oleh rasa sakit yang luar biasa di dadanya.
"Aku nggak akan biarkan kamu dibawa!"
Tiba-tiba, dari arah luar bangunan tua, suara raungan belasan mesin motor besar yang sangat memekakkan telinga mendadak bergemuruh hebat!
Lampu-lampu sorot tajam dari puluhan motor sport membelah kegelapan malam, menerobos masuk lewat celah-celah dinding kayu yang bolong!
BAM!
Satu motor sport hitam menerobos masuk menabrak sisa-sisa pintu kayu hingga hancur berkeping-keping!
Bimo dan Rian melompat turun dari motor mereka, diikuti oleh belasan anggota geng motor Devan yang membawa balok kayu dan rantai besi!
"JANGAN SENTUH CEWEK SI BOS, BANGSAT!" teriak Bimo garang, langsung melayangkan pukulan ke arah Marcus hingga tembakan pistol Marcus melenceng menghantam atap seng!
DOR!
Kekacauan gila pecah seketika di dalam ruangan tua itu! Anak-anak geng motor Devan langsung mengeroyok anak buah Marcus dan membanting Reno yang mencoba melarikan diri.
Di tengah ricuhnya perkelahian, Devan berlari sekuat tenaga menghampiri Aura, merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya yang sangat erat dan hangat.
Devan menyembunyikan wajah Aura di dadanya, menepuk-nepuk pelan kepala gadis itu dengan jemarinya yang gemetar.
"Kamu aman, Aura... kamu aman..." bisik Devan berulang kali, suaranya sarat akan keharuan yang tak tervalidasi.
Aura memeluk erat pinggang Devan, hangat tubuh Devan yang menjadi satu-satunya tempat paling aman di dunia baginya.
Namun, di tengah keriuhan pertarungan antara geng motor dan pengawal ayahnya, Marcus yang terdesak mundur tiba-tiba menarik sebuah remote pemantik kecil dari saku jasnya. Wajah Marcus berubah menjadi gila dan dingin.
"Jika Tuan Muda menolak ikut..." kata Marcus dengan nada mengancam yang amat mengerikan, "...maka tidak ada satu pun dari kalian yang boleh keluar dari tempat ini hidup-hidup!"
Marcus menekan tombol merah pada remote tersebut!
BIP... BIP... BIP...
Suara hitungan mundur bom waktu yang terpasang di bawah pondasi bangunan tua itu mendadak menyala terang dengan durasi hanya 10 DETIK!
Seluruh orang di ruangan itu seketika membeku panik gila-gilaan!
Bersambung...