Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Tepat setelah nama itu diucapkan, gerakan tangan Hanum yang memegang selang air mendadak terhenti di udara. Suara gemericik air yang tadinya memenuhi taman mendadak senyap, hanya menyisakan deru napas tertahan dari rombongan Hanif di belakangnya.
Hanum tidak langsung berbalik. Dia justru dengan santai mengunci aliran air di selangnya, meletakkannya di atas meja marmer taman, lalu perlahan memutar tubuhnya.
Pemandangan yang tersaji di depan mata Hanif dan rombongannya cukup untuk membuat mereka terdiam sejenak. Hanum tidak mengenakan hijab. Rambut hitamnya yang panjang dan sehat dibiarkan tergerai sebahu dengan jepitan emas sederhana yang menyibak poni dari wajahnya. Dia mengenakan tunik linen cream yang longgar namun mahal, memancarkan aura CEO yang sedang menikmati waktu luang, bukan seorang istri yang sedang menunggu belas kasih suaminya.
Ibu Rahma adalah yang pertama memecah keheningan, matanya menyipit sinis melihat penampilan santai Hanum. "Wah, wah... lihat siapa ini. Masih bisa-bisanya kamu santai menyiram tanaman, Hanum? Pantas saja suamimu sampai berpaling, kamu sendiri saja tidak peduli dan tidak melayani suamimu dengan benar! Lihatlah, tanamanmu saja lebih kamu urus daripada kebutuhan batin suamimu sendiri!"
Hanum menyilangkan tangannya di depan dada, menatap Ibu Rahma dengan senyum tipis yang sarat akan penghinaan. "Oh, jadi sekarang tugas saya merawat tanaman atau merawat bangkai yang tidak tahu diri, Bu?"
"Hanum!" Hanif membentak, wajahnya merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak di depan ibu mertua dan istri mudanya. "Jaga bicaramu! Kamu tidak bisa bicara kurang ajar seperti itu pada Ibu!"
Hanum memutar bola matanya malas. Dia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma parfum mahal yang dia pakai menyeruak masuk ke indra penciuman Hanif dan Sarah.
"Kurang ajar?" Hanum tertawa sinis, suara tawanya terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan mereka. "Hanif, kamu datang ke rumahku, menginjak halaman yang sudah resmi menjadi hak anak-anakku, membawa perempuan lain yang entah dari mana asalnya dan kamu berani bicara soal sopan santun padaku?"
Hanum beralih menatap Sarah yang berdiri di belakang Hanif, mencoba memasang wajah terzalimi. "Dan kamu, Sarah. Kamu merasa menang? Kamu merasa sudah menjadi nyonya besar dengan menempel pada pria yang bahkan tidak punya rumah atas namanya sendiri?"
Ibu Rahma melangkah maju, membusungkan dada. "Cukup, Hanum! Kamu jangan sombong! Sarah ini sekarang juga Bunda bagi anak-anak Hanif. Kayla dan Kenzie butuh sosok ibu di rumah ini, dan Sarah sudah sepakat untuk menggantikan posisimu sebagai pendamping yang baik bagi cucu-cucuku!"
Ucapan itu langsung dipatahkan Hanum dalam hitungan detik. Hanum menatap tajam ke arah Ibu Rahma, tatapannya begitu dingin hingga membuat wanita tua itu refleks mundur selangkah.
"Bunda?" Hanum mengulang kata itu dengan nada jijik yang luar biasa. "Jangan pernah berani menyebut kata itu lagi. Kayla dan Kenzie hanya punya satu Bunda, dan itu saya. Kalian jangan bermimpi bisa menjadikan perempuan murahan ini sebagai ibu dari anak-anak saya. Di mata saya, dia hanya sampah yang tidak sengaja terbawa angin ke dalam rumah saya."
"Kamu keterlaluan, Hanum!" Sarah akhirnya angkat bicara dengan suara bergetar pura-pura menangis. "Aku datang ke sini dengan niat baik untuk..."
"Niat baik?" Hanum memotong dengan tajam. "Kamu datang untuk merampas? Kamu datang untuk mengemis tempat tinggal karena pria yang kamu nikahi ternyata sudah bangkrut dan tidak punya apa-apa?"
Ibu Rahma, yang tidak tahan melihat anaknya dipermalukan, mulai berceramah. "Hanum, sebagai istri tua, kamu seharusnya tahu diri! Kamu harusnya merangkul istri baru suamimu. Kamu harusnya berbagi kamar, berbagi fasilitas, berbagi kasih sayang! Itu yang namanya wanita sholehah!"
Hanum tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak bersahabat. "Berbagi? Ibu benar-benar kehilangan akal sehat ya. Saya sudah memanggil Pak Baskoro, pengacara saya. Kami sedang menyiapkan berkas tambahan untuk memastikan bahwa tidak ada satu inci pun tanah atau sepeser pun uang saya yang bisa dijamah oleh kalian."
Mendengar nama Pak Baskoro disebut, nyali Hanif yang tadi sempat terangkat sedikit, mendadak menciut hebat. Pria itu tahu persis siapa Pak Baskoro pengacara yang terkenal kejam dan tidak bisa disuap.
"Hanum, kumohon..." Hanif mulai memohon, suaranya melunak, berharap bisa meluluhkan hati istrinya. "Kita bicarakan ini baik-baik. Jangan libatkan pengacara..."
"Bicara baik-baik?" Hanum mendengus.
Kesabaran Hanum sudah benar-benar habis. Dia benci melihat wajah mereka semua, benci mendengar suara Ibu Rahma yang manipulatif, dan paling benci melihat Sarah berdiri di taman miliknya. Tanpa peringatan, Hanum berbalik dan menyambar ujung selang air yang tadi dia taruh di meja marmer.
Cklik!
Dia memutar katup pengatur tekanannya ke posisi maksimal.
"Hanum, apa yang mau kamu laku..."
WUSH!
Hanum menyemprotkan air dengan tekanan tinggi tepat ke wajah Hanif. Pria itu terbelalak, kaget bukan main, dan terdorong ke belakang karena kencangnya semprotan air itu.
"Ini untuk otakmu yang sudah tersumbat kotoran!" seru Hanum sambil mengarahkan air ke wajah Hanif yang kini basah kuyup dan tampak sangat menyedihkan.
"Hanum! Berhenti!" Ibu Rahma berteriak histeris, berusaha menutupi wajahnya dengan tas, namun Hanum tidak peduli. Dia mengarahkan selang air itu ke Ibu Rahma, membuat baju brokat ungu kebanggaannya basah kuyup, luntur, dan terlihat sangat norak saat terkena air.
"Dan ini untuk Ibu yang otaknya lebih kotor dari selokan!" teriak Hanum, menyemprotkan air ke tubuh Ibu Rahma hingga wanita itu berlari kocar-kacir dengan tumit tingginya yang licin.
Sarah dan ibunya menjerit histeris. Mereka berusaha lari, namun Hanum dengan cekatan mengejar mereka dengan semprotan airnya. Sarah yang tadinya tampak anggun dengan make-up tebalnya kini berubah menjadi wanita yang berantakan, maskara dan bedaknya luntur, membasahi wajahnya yang kini ketakutan setengah mati.
"Pergi! Pergi dari rumah saya sekarang juga!" Hanum berteriak, menyemprotkan air ke arah kaki mereka, membuat mereka harus berlari terbirit-birit melewati jalur taman menuju gerbang.
"Hanum, kamu gila! Kita akan bercerai kalau begini!" Hanif mencoba berteriak di tengah derasnya semprotan air yang menghantam wajahnya.
Hanum berhenti menyemprotkan air sejenak, menatap Hanif dengan senyum penuh kemenangan yang mengerikan. "Silakan. Saya justru menunggu hari itu tiba. Sekarang, angkat kaki kalian dari tanah saya sebelum saya panggilkan polisi untuk menuntut kalian atas dasar penerobosan paksa!"
Mereka semua benar-benar lari terbirit-birit. Hanif, Ibu Rahma, Sarah, dan ibunya tampak seperti rombongan badut yang baru saja diguyur hujan badai. Mereka berlari keluar gerbang, masuk ke dalam mobil dengan penuh rasa malu dan amarah yang meluap-luap, meninggalkan Hanum yang berdiri tenang di tengah taman.
Hanum meletakkan selang air itu kembali ke tempatnya. Dia melihat ke arah gerbang yang perlahan menutup. Dia mengatur napasnya yang tidak beraturan, lalu menyisir rambutnya yang sedikit basah terkena cipratan air ke belakang telinganya.
Di dalam hatinya, sebuah bisikan tenang namun tegas menggema.
Ini baru awal, "Hanif. Kalian baru saja merasakan sedikit cipratan air. Belum sampai ke ombak besar yang siap menenggelamkan kalian sepenuhnya."
Hanum menatap pantulan dirinya di kolam taman. Dia tidak akan membiarkan siapa pun lagi menginjak harga dirinya. Panggung sandiwara baru saja dimulai, dan kali ini, Hanum adalah satu-satunya sutradara yang menentukan siapa yang harus tumbang lebih dulu.
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....