Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Kedua — 02
Tiga hari berlalu sejak kejadian di malam itu, dan selama itu pula Karina tidak sekali pun melihat bayangan Mu Ran, seolah pemuda itu telah lenyap ditelan istana yang begitu luas ini.
Ia tidak berani mencari tau keberadaannya secara terang terangan.
Bertanya tentang seorang pangeran yang tengah dicari cari pihak istana hanya akan mengundang kecurigaan yang tidak perlu.
Ia telah belajar cukup banyak dari perjalanan perjalanannya yang lampau bahwa kesabaran adalah bekal paling berharga di tempat semacam ini.
Ia memilih untuk tetap menjalankan rutinitasnya sebagaimana biasanya sembari membuka telinga selebar lebarnya.
Dari cara itulah pada hari ketiga ia mendengar sebuah nama yang membuatnya berhenti sejenak di tengah pekerjaannya. Nyonya Su.
Nyonya Su, sejauh yang bisa dikumpulkan dari potongan potongan percakapan yang sengaja atau tidak sengaja terdengar olehnya adalah kepala pelayan istana bagian dalam.
Seorang wanita paruh baya yang telah mengabdi sejak masa pemerintahan Kaisar sebelumnya.
Dua tidak berpihak secara terbuka kepada faksi mana pun, namun justru karena itulah semua faksi berusaha mendekatinya, dan semua faksi pula yang mewaspadainya.
"Nyonya Su memanggil semua kepala paviliun sore ini." bisik salah satu dayang kepada temannya saat mereka melintas di dekat sumur tempat Karina sedang mencuci kain.
"Katanya ada pemeriksaan mendadak terkait racun yang dipakai untuk mencelakai Selir Mei."
"Pemeriksaan apa?" tanya yang lain debgan suara tertahan.
"Entahlah. Tapi kudengar Nyonya Su meminta catatan siapa saja yang keluar masuk dapur besar tiga hari terakhir ini."
Karina menajamkan pendengarannya tanpa mengubah sikapnya sedikit pun, seolah gosip itu sama sekali tidak menariknya.
“Tiga hari terakhir….? Apakah termasuk ketika aku bertemu Pangeran Ketujuh?” Batinnya.
Ia tidak tau apakah kehadirannya di taman malam itu tercatat di mana pun, namun kewaspadaan yang telah lama tertanam dalam dirinya membuatnya memutuskan untuk berjaga jaga.
...----------------...
Sore harinya, Karina dipanggil bersama beberapa dayang dan selir rendahan lainnya untuk menghadap di Aula Kecil, tempat pemeriksaan yang dimaksud rupanya akan diadakan.
Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa diraba, setiap orang berdiri kaku dengan pandangan tertunduk, tidak seorang pun berani saling bertatap mata.
Nyonya Su duduk di kursi tinggi di ujung ruangan, wajahnya tenang namun matanya menyapu setiap sudut dengan ketelitian seorang pemburu yang tidak pernah terburu buru.
Di sampingnya berdiri seorang Kasim tua yang memegang gulungan catatan, siap membacakan nama nama satu per satu.
"Yuan, dayang Paviliun Bunga Layu." Panggil Kasim itu.
Yuan melangkah maju, badannya sedikit gemetar. "Hamba, Kasim."
"Ke mana saja kau tiga malam terakhir?" Tanya Nyonya Su, suaranya datar, tidak menampakkan emosi apa pun yang bisa ditebak arahnya.
"Hamba... hamba selalu berada di paviliun setelah senja, Nyonya, kecuali mengantar makan malam kepada Selir Xue." jawabnya, suaranya masih bergetar.
Nyonya Su tidak menjawab, hanya mengangguk sekali, sebuah gestur sekecil apapun bisa berarti apa saja yang dapat menimbulkan krcurigaan.
"Selir Xue Lan dari Paviliun Bunga Layu." panggil Kasim itu selanjutnya.
Karina melangkah maju, menundukkan kepala sedalam yang sopan santun mengizinkan, kedua tangan terkatup di depan dada.
"Saya disini Tuan."
"Ke mana saja kau malam ketiga yang lalu, setelah lonceng malam berbunyi?"
Pertanyaan itu jatuh tepat pada malam yang ia khawatirkan.
Karina menjaga napasnya tetap teratur, mengingat kembali pelajaran yang telah ia pelajari dari dunia sebelumnya.
Sebuah kebohongan yang terlalu rapi terkadang justru akan mengundang kecurigaan, namun kejujuran yang terlalu polos juga dapat menjerat.
"Saya berjalan jalan sebentar di taman belakang paviliun, Nyonya." jawabnya, memilih untuk tidak menyembunyikan fakta yang mudah dipatahkan jika ada saksi lain.
"Udara di dalam kamar terasa pengap malam itu."
"Sendirian?"
"Sendirian, Nyonya." Suaranya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang di balik dadanya.
Nyonya Su menatapnya lebih lama. Sebuah jeda yang terasa seperti berabad abad bagi Karina, meskipjn hanya berlangsung beberapa detik.
Sorot mata wanita itu menggambarkan semacam penilaian yang lebih dalam daripada sekadar mencari kebohongan.
"Kau boleh mundur." ucapnya tanpa memberikan petunjuk apa pun tentang apa yang ada di balik pikirannya.
Karina mundur ke barisan belakang dengan dada yang masih berdebar, namun ia tidak membiarkan wajahnya menunjukkan kelegaan yang mungkin ia rasakan.
Di tempat seperti ini, raut wajah yang salah bahkan bisa menjadi bukti yang memberatkan.
Pemeriksaan berlanjut hingga seluruh dayang dan selir rendahan dari berbagai paviliun selesai diperiksa, tapi tidak ada satu pun jawaban yang tampaknya memuaskan Nyonya Su, atau mungkin memang itulah yang diinginkannya.
Membuat semua orang merasa diawasi tanpa perlu menuduh siapa pun secara langsung.
Ketika pemeriksaan usai dan semua orang diperbolehkan kembali ke paviliun masing-masing, seorang dayang tua yang selama ini jarang bicara mendekati Karina di lorong yang sepi, berjalan seiring dengannya seolah kebetulan menuju arah yang sama.
"Selir Xue." katanya pelan, tanpa menoleh.
“Sebaiknya berhati hati berjalan jalan sendirian di malam hari. Taman belakang paviliun bukan tempat yang aman belakangan ini."
Karina menoleh sedikit, tapi dayang tua itu sudah berbelok ke lorong lain menghilang secepat ia muncul dan meninggalkan Karina dengan berbagai pertanyaan.
Apakah itu peringatan tulus? Ataukah hanya sebuah isyarat bahwa seseorang mengetahui sesuatu tanpa ia sadari?
“Di tempat ini, bahkan kebaikan yang tampak tulus sekalipun bisa menyimpan maksud yang berlapis lapis.”
Ketika hendak beristirahat, terdapa sehelai daun bambu yang dilipat rapi yang terselip dicelah pintu pavilliunnya.
Di dalamnya tertulis beberapa aksara dengan tinta yang masih segar {Terima kasih atas kebaikan malam itu. Jangan mencari. Jangan bertanya. Waktu akan menjawab dengan sendirinya.}
Ia membakar lipatan daun bambu itu di atas lilin kamarnya, memastikan tidak ada jejak yang tersisa.
Pesan itu meskilun singkat tapi memberinya sedikit kelegaan digatinya, yang menandakan bahwa Pangeran Mu Ran masih hidup.
...----------------...
Keesokan harinya, Karina mendengar kabar lain.
Seorang menteri dari faksi militer, yang dikenal dekat dengan keluarga Jenderal Han, dikabarkan tiba tiba mengajukan permohonan cuti untuk kembali ke kampung halamannya.
Menurut rumir yang beredar, sangat tidak biasa mengingat kedudukannya yang tinggi dan tanggung jawabnya yang berat di ibu kota.
"Kudengar dia ketakutan." bisik seorang juru masak kepada rekannya, ketika Karina kebetulan berada di dekat dapur mengantarkan wadah kosong.
"Semenjak kematian Jenderal Han Wei, orang orang terdekatnya satu per satu mulai menyingkir, seolah takut menjadi yang berikutnya."
"Menyingkir dari siapa?" Yang ditanya hanya menggeleng, tidak berani melanjutkan.
Karina menyimpan informasi itu dalam dalam, menyusunnya bersama serpihan serpihan lain yang telah ia kumpulkan.
Kematian Jenderal Han Wei yang dicurigai bukan kecelakaan, racun yang menyerang Selir Mei, pemeriksaan mendadak yang menyasar malam pertemuannya dengan Mu Ran, dan kini seorang menteri yang memilih menghilang daripada tetap tinggal di ibu kota.
Semuanya seperti benang benang yang tersembunyi di balik kain yang sama tapi memiliki pola yang masih terlalu kabur untuk benar benar dipahami.
Di dalam kesunyian Paviliun Bunga Layu, Karina menatap layar tembus pandang yang muncul dengan pembaruan singkat.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 18.850 / 100.000.]
[Poin diberikan atas kehati hatian yang ditunjukkan pengguna dalam menghadapi pemeriksaan berisiko tinggi tanpa membahayakan diri sendiri maupun subjek.]
[Catatan: jaringan yang mengelilingi kematian Jenderal Han Wei tampaknya jauh lebih luas dari perkiraan awal yang melibatkan setidaknya satu pihak yang kini berusaha menghilang dari ibu kota.]
[Kewaspadaan ekstra disarankan: didunia ini, informasi yang diperoleh secara terburu buru dapat berakibat fatal, sementara informasi yang tidak dicari sama sekali dapat berakibat sama fatalnya.]
Karina menatap peringatan terakhir itu dengan perasaan berat, menyadari betapa tipisnya jalan yang harus ia tempuh.
“Sabar….” batinnya, mengingat kembali pesan singkat di daun bambu itu.
Ia kemudian memejamkan matanya mempersiapkan diri untuk hari hari berikutnya yang ia yakini akan menuntut kesabaran sekaligus keberanian dalam takaran yang harus diperhitungkan dengan sangat cermat.
buang aja,karina mati lagi aja