kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN YANG MENYAKITKAN.
Pagi itu udara terasa berat banget. Gue, Arka, sama Sasa udah duduk di ruang kerja Ayah sejak sepagi tadi. Hening. Cuma suara detak jam dinding yang kedengaran. Ayah sama Bunda masuk, diikuti Daddy Arka. Wajah mereka serius banget, nggak biasa.
Sasa duduk tegak, tangan saling genggam di pangkuan. "Om, Tante... gue tahu gue nggak berhak minta apa-apa. Tapi gue mau dengar semuanya. Dari awal."
Ayah menghela napas panjang, lalu duduk di kursi seberang. Matanya menatap foto bertiga yang dulu—dia, Daddy Arka, dan Valerian.
"Baik," suaranya pelan tapi tegas. "Kalian berhak tahu."
Dia mulai bercerita. Dua puluh tahun lalu, mereka bertiga kayak saudara kandung. Bermimpi sama, kerja sama, percaya satu sama lain buta. Sampai satu proyek besar datang—bangun tempat yang bermanfaat buat banyak orang, bukan cuma kaya.
"Tapi di tengah jalan, ada yang salah," Ayah berhenti sebentar, menelan ludah. "Uang yang dipercayakan ke Valerian... hilang. Kami nggak tahu ke mana. Waktu kami tanya, dia marah, bilang kami nggak percaya. Malam itu kami bertengkar hebat. Terjadi kecelakaan mobil... Valerian hilang setelah itu. Kami kira dia pergi karena merasa bersalah."
Daddy Arka menyambung, suaranya berat: "Bertahun-tahun kami cari dia. Sampai akhirnya kami tahu—uang itu nggak hilang. Itu diambil orang lain, orang yang kami percaya. Tapi waktu kami tahu, Valerian sudah pergi jauh, dan dia yakin kami yang mengkhianatinya."
Sasa diam, matanya berkaca-kaca. "Jadi Ayah gue... dia nggak tahu?"
"Dia nggak pernah tahu kebenarannya," Bunda pelan pegang tangan Sasa. "Dan sayangnya, orang yang sebenarnya bersalah itu... masih bebas. Dia yang menanamkan kebencian ke Valerian selama ini."
"Siapa?" potong Arka cepat.
Ayah menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. "Seseorang yang kami anggap keluarga dekat. Namanya Gavindra. Dia paman dari pihak ibu Valerian. Dia yang mengatur semuanya."
Gue melotot. "Jadi Gavindra yang nyuruh Valerian balas dendam ke kita?"
"Dia yang mendorong semua ini," kata Daddy Arka. "Valerian cuma bonekanya tanpa sadar."
Tiba-tiba HP Sasa berbunyi. Pesan masuk, nama pengirimnya cuma satu huruf: G. Dia baca pelan, wajahnya pucat seketika.
"Kau sudah bicara pada mereka, bukan? Kalau begitu, datanglah ke tempat lama sendiri. Kalau kau tidak datang... Aluna dan Arka yang akan menanggung akibatnya."
"Sa?" gue langsung bangun.
"Dia tahu," suara Sasa gemetar. "Gavindra tahu kita udah tahu."
"Lo nggak pergi sendiri," Arka langsung berdiri, matanya tajam. "Gue ikut. Semua ikut."
"Arka, ini berbahaya—" cegah Ayah.
"Lebih berbahaya kalau kita diam saja," potong Arka tegas. "Dia ancam Aluna. Gue nggak bisa diam."
Siang itu rencana disusun cepat. Ayah sama Daddy Arka hubungi orang yang bisa dipercaya. Arka, Raka, Zian jaga di sekeliling tempat pertemuan—sebuah rumah tua di pinggir kota, tempat dulu mereka bertiga sering main. Gue sama Sasa masuk duluan, Arka nunggu di dekat pintu belakang.
Suasana di sana sunyi, berdebu, bau tua. Langit di luar makin gelap, mau hujan.
"Kau datang," suara berat terdengar dari arah tangga. Seorang pria tua turun pelan-pelan, senyumnya dingin banget. Itu Gavindra. "Dan kau bawa teman."
"Katakan yang sebenarnya ke Sasa," gue maju selangkah, nggak mau kelihatan takut. "Kau yang ambil uang itu, kau yang buat Valerian benci keluarga kami."
Gavindra tertawa pelan, suara seraknya bikin merinding. "Siapa bilang? Mereka yang bodoh, mudah ditipu. Valerian terlalu lemah untuk menyadari kebenaran. Dan kalian... kalian cuma anak-anak yang menghalangi jalan."
"Untuk apa semua ini?" tanya Sasa, suaranya bergetar tapi tegas. "Apa yang kau mau?"
"Segalanya," Gavindra menatap tajam. "Apa yang seharusnya jadi milikku sejak dulu."
Tiba-tiba Arka muncul dari samping, berdiri di samping gue. "Lo nggak akan dapat apa-apa."
Gavindra menatap Arka, lalu tersenyum sinis. "Anak Arga Danendra. Tumbuh besar ya. Tapi kau pikir kalian bisa hentikan aku?"
"Kami nggak sendirian," kata Arka tenang.
Saat itu pintu depan terbuka. Ayah, Daddy Arka, sama orang-orang yang dipercaya masuk. Gavindra mundur, wajahnya berubah pucat. Dia nggak menyangka.
"Permainan sudah selesai, Gavindra," kata Ayah tenang tapi tegas.
Pria tua itu menatap kami semua, sadar dia sudah terkepung. Napasnya berat, lalu dia tertawa pelan, tawa yang sedih sekaligus marah. "Kalian menang kali ini. Tapi ingat... kebencian itu sudah tertanam. Kalian nggak bisa menghapus begitu saja."
Dia menyerah tanpa perlawanan. Dibawa pergi, dan rumah tua itu akhirnya hening.
Sasa berdiri mematung di tengah ruangan. Air matanya jatuh pelan. "Ayah gue... dia nggak pernah tahu..."
Gue peluk dia erat. "Sekarang dia tahu. Dan kita akan cari dia, Sa. Kita bawa dia pulang."
Arka menepuk pundak Sasa pelan. "Benar. Kita cari Valerian. Kita jelaskan semuanya."
Sore itu hujan turun membasahi bumi, mencuci debu dan kesedihan yang sudah tertumpuk terlalu lama. Sesuatu berubah di antara kami—beban berat yang dipikul masing-masing, sekarang dipikul bersama.
Di jalan pulang, Arka pegang tangan gue erat banget. "Lo tahu, Aluna... hari itu lo berani banget."
Gue senyum ke arahnya. "Bukan gue yang berani.tapi Kita Bareng-bareng."
Arka tersenyum balik, senyum yang bikin dunia terasa lebih tenang. "Iya. Bareng-bareng."
Tapi di tempat lain, di jalan yang jauh, seseorang duduk di tepi jendela, menatap hujan. Mendengar kabar itu, Valerian diam lama. Lalu satu air mata jatuh. Dia tahu... dia sudah salah selama ini.