NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Mendengar ucapan Anya, ruangan itu mendadak sunyi.

"Saya kan sudah tau saya kanker serviks, Suster. Tapi Dokter Rendra bilang apa ya setelah pemeriksaan lanjutan kemarin? Kondisi saya yang sekarang itu sebenarnya bagaimana ya, Suster?"

Kalimat itu meluncur pelan, tapi bagi Arhan yang duduk di kursi kayu dekat laptop, kalimat itu seperti palu yang menghantam dadanya.

Suster Lia yang sedang memegang buku catatan kecil itu menghentikan tulisannya. Ujung pulpennya berhenti di atas kertas. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Anya.

Perawat itu menatap Arhan.

Arhan yang duduk di kursi kayu membeku. Tangannya yang sejak tadi mencengkeram sandaran kursi semakin erat.

Suster Lia mengerti. Ia menarik napas kecil, lalu mengalihkan kembali tatapannya kepada Anya yang berbaring bersandar di bantal. Ia memasang senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. Senyum yang ramah, tenang, dan terlihat meyakinkan.

Lalu dia menjawab pertanyaan Anya.

"Kondisinya stabil, Bu Anya," kata Suster Lia dengan suara yang dijaga tetap lembut dan ringan. "Tadi saya cek tensi dan suhunya, semua masih dalam batas yang aman kok, Bu. Ibu tidak perlu khawatir."

Anya menatap Suster Lia, menatap matanya dalam-dalam, seolah mencari kebenaran lain di balik kalimat itu.

"Stabil ya, Suster?" tanya Anya lagi, suaranya pelan.

"Iya, Bu. Stabil," jawab Suster Lia, mengangguk. "Untuk hasil keseluruhan memang belum bisa dipastikan agar akurasinya terjamin, Bu. Jadi Dokter Rendra masih perlu waktu untuk melihat perkembangan Ibu beberapa hari ke depan di rumah. Makanya saya ditugaskan untuk cek harian seperti ini, Bu. Supaya datanya lengkap."

Itu kebohongan yang rapi. Kebohongan yang terdengar medis dan masuk akal. Hasil keseluruhan belum bisa dipastikan agar akurasinya terjamin. Kalimat itu cukup untuk membuat pasien tidak bertanya lebih jauh.

Arhan yang mendengar jawaban itu menghela napas pelan. Napas yang ia tahan sejak tadi akhirnya keluar sedikit. Ia mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke celananya.

Anya terdiam beberapa detik setelah mendengar jawaban itu. Ia menunduk, menatap selimut tipis yang menutupi kakinya. Jari-jarinya memainkan ujung selimut itu.

Lalu Anya menjawab.

"Semoga saya bisa membaik ya, Suster," kata Anya dengan suara yang kecil, hampir seperti bisikan. "Saya capek kalau harus di rumah sakit terus. Saya maunya di rumah saja sama Arhan."

Kalimat itu sederhana, tapi bagi Arhan yang mendengarnya dari kursi kayu, kalimat itu terasa seperti sembilu.

Suster Lia tersenyum, senyumnya kali ini terlihat sedikit lebih tulus karena merasa bersalah.

"Pasti bisa membaik, Bu. Ibu harus banyak istirahat, makan yang teratur, dan obatnya diminum tepat waktu ya," kata Suster Lia.

Suster Lia pun kembali mencatat semuanya di buku catatan kecilnya. Ia menulis dengan cepat. Tensi, suhu, nadi, keluhan pusing ringan di pagi hari, nafsu makan yang menurun. Semua ia tulis dengan tulisan tangannya yang rapi.

Setelah mencatat semuanya, ia merobek satu lembar kertas resep dari dalam tas medisnya. Kertas resep itu sudah ditandatangani oleh Dokter Rendra sehari sebelumnya.

"Ini resep dokter untuk tiga hari ke depan ya, Pak Arhan," kata Suster Lia sambil menyerahkan kertas resep itu kepada Arhan yang masih duduk di kursi kayu.

Arhan berdiri dan berjalan mendekat ke ranjang, mengambil kertas itu.

"Ini obat anti nyeri dan vitamin ya, Suster?" tanya Arhan sambil melihat kertas itu, padahal ia tidak benar-benar membaca tulisannya. Matanya berkaca-kaca.

"Iya, Pak. Sama seperti kemarin. Diminum setelah makan ya, Bu Anya," jawab Suster Lia sambil menatap Anya.

Anya mengangguk pelan. "Iya, Suster."

Setelah itu, Suster Lia membereskan semua alatnya. Ritsleting tas medis biru tua itu ia tarik sampai tertutup rapat.

Lia pun selesai.

"Saya pamit dulu ya, Bu Anya, Pak Arhan. Saya harus lanjut ke pasien lain. Besok saya datang lagi jam yang sama. Kalau ada apa-apa, telepon saya saja ya," kata Suster Lia sambil berdiri.

Anya tersenyum dari atas ranjang. "Iya, terima kasih banyak ya, Suster Lia."

Arhan mengangguk. "Terima kasih, Suster."

Kemudian Arhan menoleh ke arah Anya yang masih bersandar di ranjang. Ia meminta izin dengan suara yang pelan dan sopan.

"An, aku antar Suster Lia sampai depan pintu rumah dulu ya. Sebentar saja," kata Arhan.

Anya mengangguk. "Iya, Han. Tidak apa-apa."

Arhan pun berjalan mengantarkan Suster Lia keluar dari kamar, melewati ruang tamu kecil mereka, menuju pintu depan rumah. Langkah Arhan terasa berat. Langkah Suster Lia terasa pelan.

Saat di luar, Lia mengatakan sesuatu. Wajah ramahnya yang tadi ia pakai di dalam kamar kini berubah menjadi wajah yang serius dan prihatin.

"Pak Arhan," kata Lia pelan, suaranya dijaga agar tidak terdengar sampai ke dalam.

"Iya, Suster?"

"Sebaiknya jangan terlalu lama menyimpan kebohongan itu kepada Ibu Anya," kata Lia, menatap Arhan.

Arhan menunduk. Ia menatap lantai teras yang terbuat dari semen yang sudah agak retak. Kata-kata Suster Lia itu benar. Sangat benar. Tapi keberanian untuk jujur itu belum ia miliki.

"Saya tau, Suster," jawab Arhan dengan suara yang serak. "Saya minta waktu. Beri saya waktu sedikit lagi ya, Suster. Saya janji, saya akan bilang sendiri. Pelan-pelan."

Suster Lia menatap Arhan dengan tatapan kasihan. Ia mengangguk pelan.

"Saya mengerti, Pak. Saya tidak akan memaksa. Tapi jangan terlalu lama ya, Pak. Semakin lama Bapak tunda, akan semakin berat," kata Suster Lia.

Arhan menyanggupinya, tapi dia meminta waktu.

"Iya, Suster. Saya mengerti. Terima kasih sudah mengerti posisi saya."

Perawat itu pun pamit.

Arhan masih berdiri di depan pintu rumah. Ia tidak langsung masuk. Ia berdiri cukup lama di teras, menatap jalan yang sepi. Angin pagi berhembus pelan, menerbangkan debu-debu kecil di depan rumahnya.

Di tangannya, resep dokter itu ia remas pelan.

Ia merasa bersalah. Rasa bersalah yang sangat besar. Ia baru saja membohongi istrinya, ia baru saja meminta orang lain untuk ikut membohongi istrinya, dan istrinya tersenyum percaya karena kebohongan itu. Dadanya sesak.

Ia membuka pintu dan kembali masuk ke dalam rumah. Ia berjalan cepat ke kamar.

Di kamar, Anya masih dalam posisi yang sama, bersandar di bantal, menatap jendela yang tertutup gorden.

Arhan mencoba membuat suaranya terdengar ceria, meskipun suaranya masih bergetar.

"An," kata Arhan.

Anya menoleh.

"Bagaimana kalau kita keluar rumah sebentar? Kita beli obat ke apotek. Sambil cari sarapan di luar. Kamu mau makan apa? Aku belikan. Kita jalan-jalan sebentar biar tidak bosan di rumah terus. Mau ya?"

Anya menatap Arhan. Wajah Arhan terlihat pucat dan memaksakan diri untuk terlihat ceria. Anya tau suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi ia tidak mau bertanya lagi.

Lalu Anya pun setuju.

"Iya, mau, Han," jawab Anya dengan senyum kecil. "Jalan-jalan sebentar sepertinya enak."

Arhan sedikit lega mendengar itu. Ia mengambil jaket tipis Anya yang tergantung di belakang pintu kamar.

"Tapi, Han," kata Anya lagi, tiba-tiba. Suaranya pelan tapi jelas.

Arhan berhenti mengambil jaket. "Iya, An?"

Anya menatap Arhan dengan tatapan yang dalam. Tatapan yang sulit diartikan.

"Sebelum ke apotek, kita mampir ke toko bunga dulu ya," kata Anya.

Arhan terdiam. "Toko bunga?"

Anya mengangguk.

"Aku mau beli 30 bunga," kata Anya, suaranya terdengar ringan, seperti sedang meminta sesuatu yang sepele.

Arhan terkejut. Tangannya yang memegang jaket tipis itu langsung kaku.

"30 bunga?" ulang Arhan, suaranya hampir tidak keluar.

Itu sama dengan vonis Dokter Rendra kepada Anya. Tiga puluh. Tiga puluh hari.

Arhan menatap Anya dengan mata yang membelalak. Jantungnya berdegup sangat kencang. Darahnya berdesir.

Anya masih tersenyum, seolah tidak menyadari apa yang baru saja ia katakan.

"Iya, 30 bunga, Han. Mau aku taruh di vas di ruang tamu. Biar rumah kita wangi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!